Sebagai orang yang hidup di negara dunia ketiga dengan konteks kehidupan masyarakat sub-urban, film dengan genre romance merupakan hiburan bagi manusia yang hidup dalam keterasingan akibat modernisasi. Hal inilah yang membuat bagaimana sinetron romance yang cenderung cheesy masih banyak diminati oleh khalayak ramai. Meskipun secara penulisan cerita masih cenderung monoton dan repetitif dengan alur yang sangat mudah untuk ditebak. Tapi tidak dapat dipungkiri juga bahwa film dan sinetron cheesy romance masih mendapatkan “ruang” di pasar perfilman Indonesia.
Terlepas dari kontroversi film A Business Proposal (2025)yang sempat viral di sosial media, saya memutuskan untuk menonton film yang merupakan adaptasi dari series Korea Selatan dengan judul yang sama ini di Netflix. Saya rasa film ini memang masih belum matang secara sempurna, baik dari segi penulisan maupun eksekusi. Namun, yang menjadi catatan penting adalah tulisan saya di sini tidak berniat untuk menjatuhkan pihak tertentu, melainkan untuk membangun sinema Indonesia agar dapat bersaing di pasar global.
Plot dan Story Beat yang Monoton
Hal pertama yang membuat saya menganggap bahwa formula yang digunakan dalam film ini merupakan formula film romantis yang sudah usang ialah penggunaan story beat dan penulisan struktur cerita yang kuno sehingga terkesan drama romantis dalam sinetron dan FTV di Indonesia. Inilah yang membuat film garapan Rako Prijanto ini terkesan cheesy layaknya roman picisan belaka. Beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan dalam film romance adalah poin meet cute dan titik kulminasi dalam cerita.
Poin pertemuan kedua karakter yang dapat saya katakan sebagai inciting incident dalam film ini terjadi karena tokoh Sari, yang diperankan oleh Ariel Tatum, harus menggantikan sahabatnya, Yasmin (diperankan oleh Caitlin Halderman) untuk bertemu dengan laki-laki yang dipilih oleh ayah Yasmin sebagai jodohnya, yakni Utama (diperankan oleh Abidzar Al-Ghifari). Dari momen inilah Business Proposal terjadi karena permintaan Yasmin kepada Sari. Pertemuan yang tidak terduga ini terjadi juga karena diperkuat dengan tawaran dari Yasmin yang akan membayar Sari dengan uang yang cukup besar jumlahnya.
Sari yang memiliki kendala hutang keluarga karena adiknya, Reza (diperankan oleh Fatih Unru), yang bermain judi online dan menyebabkan hutang yang banyak bagi keluarganya tergoda dengan tawaran Yasmin dan bersedia untuk menggantikan Yasmin bertemu dengan Utama.
Business Proposal yang ditawarkan oleh Yasmin inilah yang menjadi inciting incident dari film ini. Dan pertemuan yang tidak sengaja antara Sari dan Utama merupakan momen meet cute dari film ini. aspek meet cute yang dipakai dalam cerita film ini cenderung masih klise layaknya sinetron ataupun FTV, atau mungkin lakorn (sinetron Thailand).
Titik kulminasi dalam cerita film ini juga cenderung monoton. Di mana titik kulminasi hanya memperlihatkan dilema yang dialami oleh Utama antara melepaskan Sari atau tidak. Dan pada akhirnya Utama mau menerima Sari setelah mengetahui latar belakangnya dan bersedia membantu dia. Hal ini tidak ada bedanya dengan cerita-cerita picisan yang cheesy seperti FTV maupun Sinetron.
Sebenarnya saya tidak mempermasalahkan cerita dalam film ini akan dikembangkan seperti apa, perlu diingat juga bahwa film ini merupakan adaptasi dari Series dengan judul yang sama. Namun, mengetahui film ini sempat memasuki peringkat 1 di Netflix yang membuat saya berefleksi dan mempertanyakan bagaimana sebenarnya selera film dari masyarakat Indonesia itu? Apakah mungkin roman picisan seperti inilah yang benar-benar dicari oleh masyarakat Indonesia?
Plot yang Cenderung Misoginistik
Hal lain yang saya perhatikan dalam plot film ini ialah penulisan cerita yang terkesan menggambarkan princess trope dan damsel in distress. Di mana kedua aspek ini merupakan model cerita yang banyak terdapat di dalam dongeng-dongeng klasik yang menggambarkan karakter “tuan putri” dan sosok “pangeran”. Dapat dikatakan bahwa sosok tuan putri disini merupakan sosok yang inferior dan menunggu sosok pangeran yang datang sebagai penyelamat bagi dirinya, sehingga sosok pangeran disini digambarkan sebagai sosok yang superior. Pola seperti ini banyak ditemukan dalam cerita-cerita disney’s princess era klasik dan juga dongeng-dongeng era Victorian.
Princess trope syndrome dan damsel in distress dalam plot (karakter laki-laki yang mempersonifikasikan sosok “pangeran” yang menyelamatkan sosok tuan putri yang inferior) A Bussiness Proposal nampak dalam karakter Sari dan Utama. Sari disini digambarkan sebagai sosok yang inferior karena kendala yang dialaminya dan Utama hadir sebagai sosok “pangeran” penyelamat yang hadir ke dalam kehidupan Sari. Saya menyebut ini sebagai pola damsel ini distress karena karakter Sari di sini digambarkan sebagai sosok yang powerless, sedangkan Utama digambarkan sebagai sosok yang mempunyai power paling tinggi dalam cerita film ini. Film ini seakan-akan ingin menggambarkan bahwa jika Utama tidak hadir dalam kehidupan Sari, maka kehidupan Sari akan “berakhir”.
Saya melihat bahwa film ini hanyalah bentuk variasi dari berbagai cerita-cerita putri fantasy di zaman dahulu. Yang di mana cerita tersebut menunjukkan karakter perempuan yang tidak berdaya dan diselamatkan oleh sosok “pangeran” yang akhirnya membuatnya jatuh cinta hingga akhirnya mereka berpacaran. Sehingga film ini pun tidak lebih daripada cerita dengan gaya Victorian klasik seperti naskah-naskah drama milik Shakespeare yang coba disesuaikan dengan konteks Indonesia. Maka bukanlah suatu hinaan jika saya mengatakan cerita di film ini cenderung cheesy dan mencoba menggambarkan perempuan sebagai sosok yang inferior.
Visual, Warna, dan Wardrobe yang non-Simbolik
Hal terakhir yang menggelitik saya ketika menonton film ini ialah penggunaan visual dan warna yang minim statement dan motivasi. Mungkin dapat saya katakan bahwa visual dan warna dalam film ini bersifat non-simbolik. Ketika saya menonton film ini, saya hanya melihat bahwa karakter Sari disini dalam banyak adegan menggunakan warna earth tone, dan karakter Utama menggunakan warna gelap dan biru. Tapi yang saya pertanyakan ialah apa makna dari pemilihan warna ini? apa motivasinya? Bukankah seharusnya pemilihan warna dapat mendukung segi pembangunan cerita, bahkan menyiratkan apa yang tersembunyi dibalik setiap karakter. Sehingga saya melihat kurangnya aspek simbolik pada bagian pemilihan warna di dalam film ini.
Pemilihan properti dan pembangunan set juga hal yang saya perhatikan di dalam film ini. Yang coba saya kritisi ialah karakter Sari dalam film ini. karakter ini digambarkan sebagai karakter yang sedang berjuang untuk melunasi hutang keluarganya, dan hal inilah yang membuatnya mau untuk melakukan segala hal demi uang. Namun, yang menggelitik saya ialah penampilan Sari bukan seperti orang yang sedang terlilit hutang dan kesusahan jika diperhatikan barang-barang yang dimilikinya dan busananya. Saya mengacu pada Hierarchy of Needs yang digagas oleh Abraham Maslow.

Dapat dilihat bahwa jika orang yang belum terpenuhi kebutuhan dasarnya, ia tidak akan mencari kebutuhan akan rasa aman hingga kebutuhan aktualisasi diri. Hal ini nampak dari karakter Sari yang menunjukkan bahwa ia akan melakukan segalanya demi uang karena kebutuhan dasarnya belum terpenuhi, sehingga ia tidak memikirkan mengenai rasa aman hingga aktualisasi diri.
Namun properti yang digambarkan seperti barang-barang yang dimiliki Sari (mulai dari motor, gawai, hingga busana) menunjukkan bahwa Sari dapat memenuhi kebutuhan aktualisasi dirinya. Saya melihat hal ini sebagai bentuk ketidak-konsisten-an yang ada di dalam film ini sehingga ini menjadi salah satu dari sekian banyak lubang yang ada di dalam film ini. Mungkin memang hal ini hanyalah hal sepele. Namun, jika pengembangan dalam film ini memperhatikan aspek Hierarchy of Needs, saya yakin film ini akan menjadi film yang cukup matang sebagai film layar lebar.
Dari keseluruhan tulisan ini, saya hanya mencoba untuk memberikan kritik dan saran agar di film-film selanjutnya setiap aspek yang ada dapat diperhatikan. Terlepas dari fakta bahwa film ini merupakan adaptasi, bagi saya, film ini masih banyak memiliki lubang yang harus ditambal. Kembali lagi pada pesan saya di awal, tujuan saya dalam tulisan ini bukan untuk menjatuhkan pihak tertentu, melainkan agar sinema Indonesia dapat berkembang dengan lebih baik dan bisa bersaing di pasar global. [T]
Penulis: Heski Dewabrata
Editor: Adnyana Ole



























