SIAPA sangka, seorang anak yang dulu dikenal pemalu dan mudah cemas kini tumbuh menjadi sosok muda yang penuh percaya diri dan inspiratif. Dialah Vinsensius Domi Pondeng, akrab disapa Vicky, mahasiswa Program Studi Bisnis Digital di Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia (INSTIKI) Denpasar, yang saat ini berusia 20 tahun.
Di usianya yang masih muda, Vicky telah menorehkan banyak prestasi dan aktif di berbagai organisasi, dengan kemampuan public speaking yang menonjol dan jiwa kepemimpinan yang kuat.
Saat ditemui di Renon, Vicky tersenyum hangat ketika mengenang masa kecilnya. Ia mengaku bahwa masa kecilnya tidak terlalu berkesan.

“Saya dulu sering di-bully karena penakut dan mudah cemas,” ujar Vicky sambil menatap jauh, mengenang masa SMP yang penuh tekanan batin dan tekanan keluarga.
Namun, semuanya berubah ketika ia bergabung dengan organisasi NGO Youth Voice Now — organisasi pertama yang membuka jalannya menuju perubahan besar.
“Di sanalah saya mulai belajar tentang leadership dan komunikasi. Orang-orang mulai mengagumi kemampuan saya berbicara di depan umum,” katanya sambil tersenyum bangga.
Sejak saat itu, ia fokus mengembangkan keterampilan komunikasi yang menjadi bagian penting dari dirinya hingga kini.
Perjalanan hidup Vicky semakin berwarna ketika ia tinggal di Asrama Don Bosco di Kabupaten Sikka, NTT. Di bawah bimbingan Romo Fidel, ia dipercaya menjadi ketua asrama putra. Pengalaman tersebut mengajarkannya banyak hal tentang disiplin, tanggung jawab, dan kemandirian.
“Saya belajar bangun pagi, rajin ke gereja, hidup mandiri, dan jauh dari orang tua. Itu pengalaman yang benar-benar membentuk karakter saya,” ungkapnya.

Kini, Vicky tengah menempuh pendidikan di bidang Bisnis Digital dengan tujuan yang mulia: membangun potensi daerah asalnya, Desa Lewomada, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, NTT, melalui pemberdayaan UMKM.
“Saya ingin para pemuda di desa saya bisa menjadi role model dan berkontribusi bagi kemajuan daerah,” katanya penuh semangat.
Perjalanan menuju posisinya sekarang tentu tidak mudah. Vicky mengaku tantangan terbesarnya adalah melawan rasa malas dan keinginan untuk cepat berhasil.
“Kadang saya ingin langsung ahli seperti orang lain, tapi saya sadar semuanya butuh proses,” ujarnya jujur.
Prinsip hidupnya sederhana: “Tidak apa berjalan pelan, yang penting bisa sampai di garis finis.”

Buah dari kerja kerasnya kini terlihat jelas. Vicky pernah dipercaya menjadi Penasehat Bupati Sikka (2023), Duta Inisiatif Indonesia (2024), Duta KWI Indonesia (2024), serta Delegasi Indonesia Youth Advisory di Yogyakarta.
Ia juga menjabat sebagai Ketua UKM Jurnalistik Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia (INSTIKI), Ketua Duta Aksi Sosial Indonesia Bali (2025), dan Wakil Ketua Komunitas Pasar Modal INSTIKI.
Tak hanya aktif berorganisasi, Vicky juga dikenal sebagai penulis muda berbakat. Ia telah menerbitkan buku berjudul “Derai Air Mata Mempertegas Jarak Kita”, dan kini tengah menulis buku keduanya yang masih dalam proses penyusunan.
Dalam kehidupan sehari-hari, Vicky berpegang pada nilai sederhana namun bermakna: “Setiap orang bisa berubah dan tumbuh, asal mau belajar dan tidak menyerah.”


Ia menjadikan Najwa Shihab sebagai sosok panutan dalam gaya komunikasi dan keberanian berpendapat. Untuk menjaga keseimbangan antara kuliah, organisasi, dan kehidupan pribadi, Vicky menerapkan teknik manajemen waktu Eisenhower Matrix, agar semua aspek hidupnya berjalan seimbang dan produktif.
Melihat perkembangan dunia digital saat ini, Vicky menilai bahwa penguasaan keterampilan digital adalah kunci penting bagi generasi muda.
“Kita harus terus upgrade skill, terutama di bidang digital marketing dan media sosial. Dunia digital membuka dua peluang besar: bisa bekerja di bidang digital, atau membuka bisnis sendiri,” jelasnya.
Di akhir wawancara, Vicky menatap penuh keyakinan. Dengan senyum optimis yang merekah di wajahnya, ia berkata pelan,
“Saya ingin menjadi businessman sukses dan pemimpin yang membawa perubahan. Sukses bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga agar bisa bermanfaat bagi masyarakat dan daerah asal saya,” ujarnya. [T]
- Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co
Penulis: Maria Frangela Suriti Sangu
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:



























