Pantai Mertasari Sanur di pagi itu, begitu semarak. Belum munculnya matahari, ratusan jukung tradisional sudah berbaris rapi di tepai pantai berpasir putih itu. Alat transportasi tradisonal melalui jalur laut itu bukannya datang dari melaut, tetapi justru baru akan melaut. Nelayan, orang yang mencari ikan ini bukannya melaut pada sore atay malam hari dan pulang pada pagi hari, tetapi justru mencari ikan di pagi hari.
Itulah suasana ajang “Sanurian Fishing Tournament 2025”, kompetisi memancing yang menjadi bagian dari rangkaian Sanurian Festival. Festival kali pertama ini digagas Kelurahan Sanur itu diikuti sebanyak 363 pemancing dari berbagai daerah di Indonesia bahkan luar negeri. Satu jukung mengajak tiga pemancing ke laut bebas. Setelah diberi aba-aba mulai, ratusan jukung tradisional itu berlayar sejak pukul 05.00 Wita dari Pantai Mertasari.
“Pesertanya ada dari berbagai daerah di Indonesia, seperti dari Makasar, Sulawesi, Jawa dan daerah lain juga. Mereka yang diinformasikan dari teman-temannya, ikut ambil bagian dalam lomba mancing laut terbesar di Pulau Dewata ini. Masing-masing perahu beranggotakan tiga orang pemancing, dan memang diwajibkan menggunakan jukung tradisional,” kata Ketua Panitia Kadek Armita, atau akrab disapa Dexster disela-sela lomba, Minggu 5 Oktober 2025.
Laut Sanur menjadi semarak pagi itu. Sepanjang mata memandang, hanya tampak dengan nelayan yang siap melempar umpannya ke laut. Walau demikian, lomba digelar di zona mancing seluas 15 mil dari pesisir Sanur menuju utara Nusa Penida. Wisatawan yang sedang menikmati suasana pagi, mendapatkan atraksi tambahan, sehingga wajib mengeluarkan kamera untuk mengabadikannya.

Para peserta dalam lomba itu juga dilindungi dengan asuransi untuk membuat rasa aman dan nyaman. Ansuransi itu, di biayai dari pendaftaran, dan sudah termasuk mendapat kopi, snack, dan nasi jinggo. “Selain menjadi ajang silaturahmi para pemancing, lomba ini juga memperebutkan hadiah total puluhan juta rupiah, dengan berbagai kategori seperti ikan terberat, spesies tertentu, dan kapten terbaik,” imbuh Dexter senang.
Melihat aksi mereka di tengah laut, tidak tampak jelas antara pemancing profesional ataupun yang amatiran. Semua pemancing tampak bersemangat untuk menjadi pemenang. Setelah Hasil akhir, I Made Ari Wiratmaja berhasil meraih Juara Umum dengan tangkapan ikan Ruby Snapper seberat 11,70 kg. Posisi kedua diraih peserta dengan jenis ikan sama seberat 11,45 kg, dan Juara 3 I Gusti Nyoman Ari Setiawan dengan ikan Amberjack 10,25 kg.
Untuk kategori spesies terberat, I Ketut Jamrud menjuarai lewat ikan Queen Snapper 7,50 kg, sementara predikat Kapten Terbaik diraih berturut-turut oleh Firau Putu Gundul, Ketut Gara, dan Ketut Sumatera.
Dengan antusiasme yang begitu tinggi, panitia berencana menjadikan Sanurian Fishing Tournament sebagai agenda tahunan berskala internasional. “Animonya luar biasa. Tahun depan kami ingin tingkatkan menjadi festival internasional agar lebih banyak komunitas pemancing dunia ikut menikmati keindahan laut Sanur,” tutup Dexster penuh semangat.

Lurah Sanur, Ida Bagus Made Windhu Segara yang hadir pagi itu, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung kegiatan ini. “Festival ini lahir dari semangat warga Sanur. Selain fishing tournament, juga digelar fun run, lomba mewarnai, dan hiburan musik lokal di panggung malam hari,” ujarnya.
Kemeriahan Sanurian Festival juga didukung dengan Sanurian Sunrise Run 5K. Lomba lari yang dibuka Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa itu diikuti seklitar 1.770 peserta yang lari menyambut matahari pagi. Pesertanya dari berbagai kalangan, baik masyarakat lokal Bali, wisatawan domestik maupun mancanegara mengikuti ajang lari sehat itu. Sanurian Sunrise Run 5K dipusatkan di Parkir Station Hyatt Regency Sanur, dengan rute menyusuri jogging track dan keindahan pesona Pantai Sanur. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole



























