4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Keributan di Pura Merupakan Wujud Disonansi Sosial

I Ketut Suar Adnyana by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2025
in Esai
Keributan di Pura Merupakan Wujud Disonansi Sosial

Ilustrasi tatkala.co

PURA dalam konteks masyarakat Hindu Bali bukan sekadar tempat ibadah, melainkan merupakan pusat spiritual, sosial, dan budaya yang menyatukan seluruh dimensi kehidupan umat. Pura menjadi wadah pertemuan antara dunia sakral dan profan, tempat di mana manusia tidak hanya bersembahyang, tetapi juga membangun kesadaran kolektif akan keseimbangan hidup. Dalam ajaran Tri Hita Karana, pura memegang peran fundamental sebagai simbol keharmonisan antara manusia dengan Tuhan (Parahyangan), manusia dengan sesama manusia (Pawongan), dan manusia dengan lingkungan (Palemahan). Ketiganya membentuk satu kesatuan nilai yang menjadi dasar filosofi hidup masyarakat Bali.

 Dengan demikian, setiap tindakan di area pura semestinya mencerminkan sikap penuh hormat, kesucian, dan rasa solidaritas sosial. Pura bukan tempat untuk menunjukkan kekuasaan, ego, atau kepentingan pribadi, melainkan ruang untuk memurnikan diri dan meneguhkan kebersamaan. Ketika seseorang memasuki pura, ia seharusnya menanggalkan segala bentuk nafsu duniawi dan mengedepankan niat tulus untuk ngewangi yadnya (berpartisipasi dalam persembahan suci) dengan hati yang bersih.

Namun, realitas sosial  memperlihatkan adanya pergeseran makna terhadap kesucian pura. Maraknya keributan atau konflik yang terjadi di area pura akhir-akhir ini, menunjukkan terjadinya degradasi nilai spiritual dan sosial. Tindakan semacam itu bukan hanya menodai kesucian tempat ibadah, tetapi juga melukai jati diri masyarakat Bali yang selama ini dikenal menjunjung tinggi nilai harmoni dan toleransi. Lebih memprihatinkan lagi, ketika peristiwa tersebut direkam dan disebarkan melalui media sosial, kesuciannya semakin ternodai oleh eksploitasi digital yang menempatkan konflik sebagai tontonan publik. Fenomena ini menjadi cerminan betapa rapuhnya rasa solidaritas dan kontrol diri masyarakat di tengah arus modernisasi dan budaya digital yang serba instan.

Pada titik ini, keributan di pura tidak lagi dapat dipandang sebagai peristiwa insidental, melainkan sebagai gejala sosial yang mengindikasikan lunturnya nilai-nilai menyama braya yaitu rasa persaudaraan dan kebersamaan yang menjadi roh masyarakat Bali. Ketika solidaritas digantikan oleh egoisme dan kepentingan pribadi, kesucian pura pun kehilangan makna spiritualnya.

Analisis Sosiologis dan Moral

Konflik di pura menjadi cermin bahwa solidaritas sosial yang dahulu menjadi fondasi kehidupan adat dan keagamaan mulai terkikis oleh ego kelompok dan kepentingan pribadi.           Fenomena ini juga menandakan terjadinya disonansi antara nilai ideal dan perilaku nyata masyarakat. Secara ideal, umat Hindu Bali diajarkan untuk selalu menjaga kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan sesuai ajaran Tri Kaya Parisudha. Namun dalam praktiknya, banyak individu yang gagal mengendalikan emosi dan kehilangan kesadaran spiritual, bahkan di ruang suci seperti pura. Keributan, teriakan, atau tindakan fisik yang mencederai kesakralan pura menunjukkan lemahnya kontrol diri (tattwa dharma) dan menurunnya moralitas kolektif. Ketika amarah lebih diutamakan daripada kedamaian, maka spiritualitas pun kehilangan maknanya.

Dari sisi moral, tindakan mengunggah atau menyebarkan video keributan di pura ke media sosial memperburuk situasi. Alih-alih menjadi sarana introspeksi, media digital justru menjadikan konflik sebagai tontonan sensasional yang mengundang komentar dan perdebatan publik. Tindakan ini jelas bertentangan dengan nilai susila dan etika bermedia. Dalam konteks Tri Hita Karana, perilaku demikian merusak keseimbangan antara manusia dengan sesama (Pawongan) dan bahkan dengan Tuhan (Parahyangan), karena mencemarkan kesucian tempat persembahyangan.

Rendahnya Kesadaran Spiritual

Pura dalam ajaran Hindu Bali bukan sekadar bangunan tempat melakukan persembahyangan, melainkan ruang sakral yang merepresentasikan hubungan vertikal manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Parahyangan). Pura adalah simbol penyatuan antara unsur sekala (dunia nyata) dan niskala (dunia spiritual), tempat di mana manusia menyucikan diri dari segala bentuk kekotoran lahir dan batin. Ketika umat memasuki pura, sejatinya mereka sedang memasuki wilayah kesadaran tertinggi—sebuah proses spiritual untuk menenangkan pikiran, menundukkan ego, dan mendekatkan diri pada sumber kebenaran dan kedamaian sejati.

Namun, ketika di tempat suci terjadi keributan, pertengkaran, atau perilaku tidak pantas, hal itu menunjukkan menurunnya kesadaran spiritual masyarakat. Pura yang seharusnya menjadi ruang kontemplasi berubah menjadi arena konflik duniawi. Fenomena ini merupakan bentuk nyata dari degradasi moral dan spiritual, di mana nilai kesucian tergantikan oleh amarah, kesombongan, dan kepentingan pribadi. Tindakan semacam ini menandakan bahwa sebagian umat telah kehilangan kemampuan untuk mengendalikan diri, padahal pengendalian diri adalah inti dari ajaran dharma dan jalan menuju kebijaksanaan.

Dalam pandangan filsafat Hindu, seseorang yang tidak mampu mengendalikan amarah berarti dikendalikan oleh sifat tamas (kegelapan batin). Ketika tamas mendominasi, pikiran menjadi keruh, perkataan menjadi kasar, dan perbuatan kehilangan arah moral. Tindakan negatif di pura bukan hanya melanggar norma sosial dan agama, tetapi juga menodai hubungan suci antara manusia dengan Tuhan.

Secara spiritual, perbuatan yang mencemari kesucian pura diyakini menimbulkan leteh atau kekotoran niskala yang mengganggu keseimbangan energi di tempat tersebut. Dalam ajaran tatwa dharma, setiap tindakan manusia memiliki konsekuensi moral (karmaphala). Maka, keributan di pura tidak hanya membawa papa karmaphala (buah karma buruk) bagi pelakunya, tetapi juga dapat mengganggu harmoni spiritual masyarakat sekitar. Pura yang seharusnya menjadi sumber vibrasi positif dan ketenangan justru berubah menjadi tempat dengan energi negatif akibat perilaku tidak terkendali.

Lebih jauh, hilangnya kesadaran spiritual seperti ini menandakan adanya disorientasi nilai di kalangan umat. Spiritualitas yang sejatinya menjadi kekuatan batin untuk menata kehidupan berubah menjadi sekadar formalitas ritual tanpa makna mendalam. Orang datang ke pura mungkin untuk memenuhi kewajiban sosial, bukan untuk menumbuhkan kesadaran ilahi. Akibatnya, ibadah kehilangan makna transendentalnya, dan pura sebagai pusat spiritual pun kehilangan fungsi mendidiknya bagi umat.

Erosi Solidaritas dan Etika Sosial

Keributan di pura juga menyingkap realitas sosial yang lebih dalam, yakni menurunnya rasa solidaritas dan empati antaranggota masyarakat. Dalam falsafah Hindu Bali, prinsip tatwam asi (aku adalah kamu ) mengajarkan bahwa setiap individu sejatinya adalah bagian dari kesatuan universal. Menghormati orang lain sama artinya dengan menghormati diri sendiri. Namun, ketika konflik muncul di tempat suci, nilai ini tampak terabaikan.

Alih-alih mengedepankan dialog dan kesabaran, sebagian masyarakat justru memilih jalan konfrontatif. Hal ini menunjukkan terjadinya pergeseran orientasi nilai sosial dari komunal ke individualistik. Keributan di pura menjadi cermin bahwa keharmonisan sosial yang selama ini dibanggakan mulai rapuh, dan masyarakat lebih mudah tersulut oleh perbedaan kecil daripada mencari solusi bersama.

Etika sosial dalam kehidupan beragama sesungguhnya menuntut kedewasaan emosional dan kepekaan spiritual. Orang yang benar-benar memahami makna beragama tidak akan mencederai kesucian, sebab dia menyadari bahwa pura adalah ruang simbolik yang mempersatukan umat dalam semangat bhakti dan kebersamaan.

Pengaruh Media Sosial terhadap Konflik Sosial

Dalam era digital, media sosial memiliki kekuatan besar dalam membentuk persepsi publik dan memengaruhi dinamika sosial. Sayangnya, penyebaran video keributan di pura justru memperparah situasi. Peristiwa yang seharusnya ditangani secara bijak melalui mekanisme adat atau lembaga keagamaan malah dijadikan konsumsi publik yang sensasional. Ketika video konflik disebarkan tanpa etika, kesucian pura bukan hanya ternoda secara fisik, tetapi juga secara simbolik di ruang digital.

Fenomena ini memperlihatkan rendahnya literasi digital dan lemahnya pemahaman masyarakat tentang etika bermedia. Dalam ajaran Tri Kaya Parisudha, setiap tindakan harus mencerminkan kesucian pikiran (manacika), perkataan (wacika), dan perbuatan (kayika). Mengunggah konten yang menampilkan konflik di tempat suci jelas bertentangan dengan ketiga prinsip ini. Pikiran yang tidak jernih mendorong niat untuk mencari perhatian, perkataan yang kasar menimbulkan perpecahan, dan perbuatan yang tidak pantas mengundang dosa moral.

Selain itu, penyebaran konflik di media sosial dapat memperlebar jurang sosial dan memunculkan stigma negatif terhadap kelompok tertentu. Media digital yang seharusnya digunakan sebagai sarana edukasi dan spiritualitas, justru berubah menjadi arena penghakiman sosial. Oleh karena itu, masyarakat perlu mengembangkan etika bermedia berbasis nilai-nilai Hindu bahwa setiap unggahan hendaknya membawa manfaat, kedamaian, dan kebajikan, bukan memperburuk keadaan.

Dampak Sosial dan Religius

Keributan di pura bukan sekadar persoalan individu atau konflik internal kelompok, melainkan persoalan yang memiliki implikasi sosial dan religius yang luas. Ketika kesucian itu ternodai oleh tindakan tidak pantas seperti keributan, masyarakat luar (baik di tingkat nasional maupun internasional) dapat menafsirkan bahwa nilai-nilai spiritual dan etika sosial masyarakat Hindu Bali telah mengalami kemerosotan. Pandangan semacam ini tentu merugikan, karena Bali selama ini dikenal sebagai pulau yang menjunjung tinggi harmoni, toleransi, dan spiritualitas mendalam.

Dari sisi sosial, peristiwa keributan di pura dapat memunculkan disonansi sosial atau keguncangan dalam tatanan hubungan antarwarga. Konflik yang terjadi di tempat suci berpotensi memperlebar jarak sosial di antara kelompok masyarakat, baik karena perbedaan pandangan, loyalitas adat, maupun kepentingan pribadi. Rasa saling percaya (trust) yang menjadi fondasi kehidupan sosial masyarakat Bali mulai terkikis. Akibatnya, semangat gotong royong dan menyama braya yang menjadi ciri khas budaya Bali melemah, digantikan oleh rasa curiga, saling menyalahkan, dan perpecahan internal. Jika hal ini dibiarkan, maka kohesi sosial yang selama ini menjaga kestabilan komunitas adat akan mengalami disintegrasi secara perlahan.

Secara religius, keributan di pura menimbulkan dampak spiritual yang lebih dalam. Pura bukan hanya tempat fisik untuk beribadah, tetapi juga simbol keterhubungan antara manusia dan alam semesta, antara bhuwana alit (dunia kecil – manusia) dan bhuwana agung (dunia besar – alam semesta). Ketika terjadi keributan di dalamnya, kesucian niskala (aspek tak kasatmata) ikut terganggu. Umat yang menyaksikan atau mendengar peristiwa semacam itu dapat merasakan kegelisahan batin, karena kesakralan yang seharusnya membawa ketenangan justru berubah menjadi sumber konflik. Dalam kepercayaan Hindu Bali, tindakan yang mencemari tempat suci dapat menimbulkan leteh (kotor secara spiritual) yang memerlukan upacara penyucian (pemarisuda) agar keseimbangan kembali pulih.

Keributan di pura juga berpengaruh secara  psikologis. Generasi muda yang melihat atau membaca peristiwa tersebut di media sosial dapat kehilangan rasa hormat terhadap kesucian pura dan bahkan terhadap nilai-nilai adat dan agama. Nilai spiritual yang seharusnya diwariskan secara turun-temurun menjadi tereduksi oleh tontonan konflik yang bersifat profan. Hal ini sangat berbahaya, karena dapat melemahkan proses regenerasi nilai dan mengancam keberlanjutan identitas budaya Bali yang berlandaskan spiritualitas.

Dalam jangka panjang, keributan di pura bukan hanya persoalan pelanggaran etika, tetapi juga ancaman terhadap ketahanan budaya dan moral masyarakat Bali. Oleh karena itu, setiap peristiwa yang terjadi  dipandang sebagai panggilan moral untuk melakukan introspeksi kolektif. Umat Hindu Bali, melalui lembaga adat dan keagamaan, harus bersatu untuk memulihkan kesucian pura dan memperkuat kembali rasa solidaritas serta kesadaran spiritual di tengah derasnya arus modernisasi dan digitalisasi yang sering menggeser nilai-nilai luhur leluhur. [T]

Penulis: Ketut Suar Adnyana
Editor: Jaswanto

  • BACA artikel lain dari penulis SUAR ADNYANA
Kesulitan dalam Pendokumentasian Tradisi Lisan
Tags: hinduHindu BaliPuraPura Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jro Mangku Sudanta, Barong Keris Dance, dan Nyala Taksu di Desa Guwang

Next Post

“Chaos Theory”: Kekacauan Kadang Diperlukan Juga

I Ketut Suar Adnyana

I Ketut Suar Adnyana

Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. adalah Wakil Rektor I Universitas Dwijendra, Denpasar

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Jangan Retak Perahu Negeriku, Jatuh ke Penguasa Tidak Amanah

“Chaos Theory”: Kekacauan Kadang Diperlukan Juga

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co