PAGI yang sedikit mendung, namun sinar matahari tetap menang. Genangan air masih tampak di jalan menuju Gang Mawar, Dusun Wanasari, Dauh Puri Kaja, Denpasar. Anak-anak pun sudah berani bermain di pinggir kali karena air terlihat mengalir tenang. Orang dewasa masih sibuk membersihkan perabotan maupun pakaian yang berantakan akibat banjir bandang 10 September lalu.
Banyak barang seperti kasur, buku, tampak menumpuk menyatu dengan lumpur di dekat kali. Sebanyak 8 rumah di lingkungan tersebut hancur dan tembok-tembok pembatas kos roboh.
Sabtu 20 September 2025, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mengunjungi lokasi. Saat itu disalurkan bantuan sosial (bansos) berupa sembako kepada warga yang terdampak banjir. Penyerahan sembako kepada warga langsung dari Rektor UPMI Bali, Prof. Dr. Drs. I Made Suarta, S.H., M.Hum. beserta jajaran dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).
“Saya sama sekali tidak menyangka kalau tidak datang ke lokasi, kami dari Universitas PGRI Mahadewa Indonesia Bali turut merasakan kedukaan teman-teman di sini,” ujar Rektor UPMI Bali ketika turun langsung melihat situasi pascabanjir di Dusun Wanasari, Desa Dauh Puri Kaja, Denpasar Utara.

Kurwati, salah satu warga di Gang Mawar, menceritakan bagaimana banjir bandang membuatnya kaget dan trauma. Ini kali pertama ia merasakan bencana besar setelah 7 tahun tinggal di Bali. Kini, ketika terjadi hujan turun deras, ia akan terjaga bersama dengan tetangga lainnya.
Setelah beberapa hari diterjang banjir lalu surut, kesibukannya adalah membereskan rumah agar kotorannya tidak menempel di lantai maupun di dinding rumah, banyak yang gotong royong dari atas sampai ke bawah. Ia sampai tidak bisa apa-apa, hanya diam ketika banjir menerjang rumahnya, ia bersyukur tidak ada yang sakit.
Saat banjir lalu, ibu satu anak ini memilih menyelamatkan diri ketimbang mengangkat barang berharga saat air kali tiba-tiba meluap. Dengan posisi rumah yang dibangun di tanah mereng. Ia menyelamatkan barang seperti pakaian, kulkas, blender, tungku kompor sisa satu ke tempat yang lebih tinggi. Awalnya ia mengira air di kali tidak akan naik meluap karena biasanya tidak meluap saat hujan deras turun. Ia menambahkan, biasanya air naik satu tingkat di bawah saja dekat kali.
Ia mengatakan temboknya pernah jebol tapi tidak sampai separah ini. Waktu hujan deras yang mneyebabkan banjir, 10 September itu, ia sangat kaget, semua pun lari ke tempat yang lebih tinggi, bahkan ada yang pingsan juga. Biasanya air di kali mengalir tenang, tapi kali ini debu naik sampai tembok tenggelam, rumah rata.
Mereka semua kaget sambil lari ke atas, hanya bisa menangis. Satu hari ia mengungsi di atas sampai tidak pulang, takut, lalu ketika sudah dua hari, belum beres menguras air tapi ia tetap tempatkan pakai sarung dengan selimut yang dicuci di kamarnya, meski kotor karena banjir. Bahkan ia tidak makan satu hari satu malam.

Wanita asal Sampang, Jawa Timur ini sudah 4 hari tidak jualan bakso setelah diterjang banjir. Selama 7 tahun ini mata pencahariannya memang berjualan bakso. Kadang ia menggunakan gerobak terkadang keliling juga naik motor.
“Ini banjir paling parah. Saya sampai trauma,” katanya dengan suara sedikit bergetar.
Ketika ditanya apa yang paling dibutuhkan warga saat ini, Kurwati hanya menjawab singkat. “Yang penting aman kita sehat semua dan kita jualan seperti biasa, nggak ada musibah lagi,” harapnya.
Cerita lain datang dari Muhammad Rokib. Pria yang menjadi Ketua RW ini menceritakan, saat bencana, yang bisa ia selamatkan yaitu dua tabung gas elpiji. Diceritakan, sekitar jam 3 pagi mulai naik ke atas air di kali sampai setinggi atap-atap rumah.
”Dari RT 1 sampai RT 9 itu semuanya terdampak dan yang terparah itu RT 1, RT 6, RT 7, RT 3, serta RT 8 memang kalinya ada 2 lalu semua yang di pinggiran kali ini semua terdampak. Total hancur ini termasuk tetangga kami orang Bali, hancur semua. Kalau masalah jiwa selamat semua di Wanasari. Cuma ada salah warga menyatakan selain barang, uang 5 juta hasil kerjanya, bahkan 7 juta hingga ada yang 10 juta hilang, hanyut,” tuturnya.

Amat, warga lainnya menyampaikan, setelah bencana banjir, sekarang terasa sekali jualannya sepi, sekarang langganannya banyak terdampak banjir hingga jarang ada yang membeli sate. Sebelumnya, Pak Amat berjualan sate lumayan ramai. Hal ini sudah 30 tahun ia lakoni.
Berbagai kisah tersebut mewakili luka dan trauma yang masih membekas di hati warga Wanasari. Namun di balik kesedihan mereka, terselip semangat gotong royong dan solidaritas. Bencana bukan akhir dari segalanya, melainkan titik tolak untuk kembali bangkit.
Harapan sederhana warga, yaitu bisa sehat, bekerja seperti biasa dan hidup tanpa rasa takut pada banjir. Pulau Bali yang biasanya dikenal indah pun bisa terluka, namun kekuatan warganya justru menjadi “cahaya” pascabencana.[T]
- Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co
Penulis: Ni Komang Sariasih
Editor: Jaswanto



























