6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Film Pendek “Can You Hear Me?” : Saat Wi-Fi Putus, Luka Lama Tersambung

Dian Suryantini by Dian Suryantini
September 18, 2025
in Ulas Film
Film Pendek “Can You Hear Me?” : Saat Wi-Fi Putus, Luka Lama Tersambung

Film Pendek "Can You Hear Me?" diputar di Minikino Film Week 2025

FILM pendek Can You Hear Me karya Anastazja Naumenko berdiri di antara dua ranah yang kerap kita anggap terpisah. Teknologi yang dekat dan luka batin keluarga yang nyaris tak pernah selesai.

Dengan premis sederhana—Natasia yang sedang memberi pelajaran via Zoom kepada ibunya tentang cara menggunakan laptop, lalu terganggu oleh internet yang tidak stabil—film ini justru menyingkap sesuatu yang jauh lebih pelik. Trauma keluarga yang diam-diam terselip di balik layar, muncul tanpa aba-aba, dan mengacaukan ritme hidup layaknya koneksi Wi-Fi yang suka putus-nyambung.

Bagi banyak orang, Zoom identik dengan kerja jarak jauh, kuliah online, atau sekadar obrolan kaku yang penuh “halo, suaranya putus-putus tuh.” Naumenko menjadikan aplikasi ini sebagai panggung intim, seakan ruang keluarga virtual bisa menjelma jadi kursi terapi kolektif.

Pertanyaan Natasia yang mestinya teknis—“klik di sini, Ma, jangan di situ”—berbelok menjadi pemicu percakapan yang lebih personal. Gangguan jaringan bukan lagi sekadar masalah teknis, melainkan metafora tentang komunikasi keluarga sering terdistorsi, tersendat, atau bahkan hilang sama sekali.

Zoom yang semula instrumen netral mendadak tampil sebagai cermin rapuh. Kamera laptop menangkap wajah, tapi tak mampu menangkap luka. Mikrofon mengirim suara, tapi tidak menjamin maksud tersampaikan. Dan di sinilah film ini bersinar. Teknologi jadi alat dramatisasi, bukan sekadar latar.

Film Pendek “Can You Hear Me?” saat diputar dalam MFW11

Unstable connection adalah jargon digital paling membosankan yang kita dengar saban hari. Namun dalam film ini, ketidakstabilan itu diterjemahkan menjadi kondisi emosional. Putusnya suara, delay gambar, hingga layar yang membeku, semuanya paralel dengan ketegangan antara ibu dan anak. Trauma lama—yang entah berupa konflik masa kecil, kekecewaan, atau ketidakmampuan saling memahami—ikut terpotong-potong seperti suara robotik di Zoom.

Naumenko seakan ingin berkata, komunikasi keluarga tak kalah rentan dari koneksi internet. Perbedaan generasi, bahasa, hingga luka yang tak pernah tuntas membuat percakapan tersendat. Lucunya, Natasia bisa mengajari sang ibu cara menggunakan laptop, tapi apakah ia bisa “menginstal ulang” cara berhubungan dengan ibunya sendiri? Pertanyaan ini menggantung, tak pernah dijawab tuntas, dan justru membuat film terasa relevan.

Di balik cerita personal, film ini juga memotret realitas lebih luas. Pandemi, misalnya, mengubah cara kita berhubungan. Orang tua yang gagap teknologi dipaksa belajar cepat, sementara anak-anak jadi tutor dadakan. Ketegangan tak terelakkan. Naumenko menangkap kondisi ini dengan jenaka sekaligus getir.

Kita diajak tertawa melihat ibu yang salah klik tombol, lalu tiba-tiba hening karena Zoom freeze. Tapi tawa itu segera tercekik saat percakapan meluncur ke trauma keluarga. Perpindahan nada ini luwes, tidak terasa dipaksakan. Di sinilah kepekaan sutradara diuji. Mengolah hal yang biasa-biasa saja menjadi refleksi sosial.

Internet tak stabil bukan hanya soal kabel atau provider, melainkan simbol betapa rapuhnya fondasi komunikasi manusia modern. Film ini mengingatkan bahwa di balik layar komputer, ada manusia yang membawa luka bertahun-tahun.

Salah satu daya tarik Can You Hear Me adalah cara Naumenko meramu humor gelap. Situasi absurd—anak mengajari ibu Zoom sambil bersitegang soal masa lalu—terasa ironis sekaligus realistis. Kita mungkin tertawa saat melihat Natasia kehilangan kesabaran, tapi tawa itu pahit, karena kita tahu betapa dekatnya adegan ini dengan pengalaman sehari-hari.

Humor di sini bukan sekadar bumbu, melainkan pintu masuk agar penonton berani menyentuh isu berat. Trauma keluarga yang kerap disembunyikan. Seperti halnya meme tentang internet putus di tengah meeting, film ini memanfaatkan “kekonyolan” digital untuk mengupas kegagapan emosional manusia.

Sekilas, film ini tentang anak muda yang sabar (atau tidak sabar) mengajari ibunya menggunakan teknologi. Namun semakin jauh, justru sebaliknya. Sang ibu tanpa sadar “mengajari” anaknya soal keberanian menghadapi luka lama. Ada semacam pertukaran peran. Natasia yang merasa paling paham, ternyata justru kewalahan ketika percakapan keluar jalur.

Relasi ibu-anak dalam film ini tak dibungkus manis. Tidak ada pelukan haru di akhir, tidak ada resolusi utuh. Yang tersisa hanya fragmen komunikasi yang tersendat, sama seperti jaringan internet. Dan justru di situlah kekuatannya. Kejujuran bahwa hubungan keluarga seringkali berakhir di tengah kalimat, tanpa tanda titik.

Namun tentu saja, film ini tidak tanpa kelemahan. Ada risiko bahwa penggunaan Zoom sebagai medium cerita bisa terasa gimmicky. Jika tidak ditopang naskah yang kuat, penonton mungkin hanya melihat, “Oh, ini film eksperimen gaya pandemi lagi.” Untungnya, Naumenko menghindari jebakan itu dengan menghadirkan lapisan emosional.

Yang membuat Can You Hear Me menggoda adalah kedekatannya dengan keseharian kita. Hampir semua orang pernah kesal karena internet lemot. Hampir semua anak pernah frustrasi mengajari orang tua soal teknologi. Dan hampir semua keluarga punya trauma yang lebih mudah disembunyikan ketimbang diucapkan.

Film Pendek “Can You Hear Me?” saat diputar dalam MFW11

Film ini menggabungkan tiga hal itu menjadi satu paket yang singkat, tajam, dan menggelitik. Tidak butuh efek spesial, tidak butuh lokasi megah, cukup satu laptop, koneksi internet, dan keberanian membuka luka lama.

Pada akhirnya, judul Can You Hear Me bukan sekadar tentang suara yang terputus di Zoom. Itu pertanyaan eksistensial. Bisakah kita benar-benar mendengar satu sama lain? Bisakah seorang anak mendengar ibunya, bukan hanya instruksi klik tombol? Bisakah seorang ibu mendengar anaknya, bukan hanya suara kesal yang keluar dari headset?

Naumenko meninggalkan kita dengan kegelisahan. Film ini tidak menjanjikan rekonsiliasi, tapi menghadirkan kejujuran. Bahwa mendengar—baik lewat internet maupun hati—selalu sulit, rentan putus, dan kadang menyakitkan.

Dengan durasi singkat, Can You Hear Me berhasil menancapkan ironi. Di zaman ketika semua orang bisa terhubung, justru komunikasi paling intim sering gagal tersambung. Dan mungkin, kita semua adalah Natasia, berteriak ke layar, “Can you hear me?”—sambil diam-diam berharap ada yang benar-benar menjawab. [T]

Penulis: Dian Suryantini
Editor: Adnyana Ole

Tags: film pendekMinikinoMinikino Film WeekMinikino Film Week 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Bawah Dukungan Sang Ibu, Oky Septiani Sabet Medali Emas Woodball Porprov Bali 2025

Next Post

Film Pendek “Passarinho” (2024): Darah Pertama, Rencana Pertama, dan Impian yang Hampir Terlunta

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails

Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

by Jaswanto
December 18, 2025
0
Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

ADA sebuah komentar dari netizen―yang saya lupa entah di mana―tentang drama Korea (drakor) berjudul “Taxi Driver”. Komentar itu begini, “Seandainya...

Read moreDetails

Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

by Vivit Arista Dewi
December 2, 2025
0
Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

Film Agak Laen kembali hadir dengan langkah yang jauh lebih berani dari sebelumnya. Setelah sukses mengacak-acak rumah hantu, kini mereka...

Read moreDetails

Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

by Bayu Wira Handyan
November 13, 2025
0
Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

SEDIKIT film di Indonesia yang berani menampilkan kemiskinan sebagaimana adanya—banal, kasar, tanpa romantisasi. Sebagian besar memilih jalan aman, menjadikan kemiskinan...

Read moreDetails

The Long Walk (2025): Ritus Kekejaman di Jalan Panjang Tak Berujung

by Bayu Wira Handyan
November 7, 2025
0
The Long Walk (2025): Ritus Kekejaman di Jalan Panjang Tak Berujung

ADA sesuatu yang menakutkan tentang jalanan yang lurus. Ia tidak menjanjikan sebuah tujuan, tetapi yang ia berikan adalah cakrawala yang...

Read moreDetails
Next Post
Film Pendek “Passarinho” (2024): Darah Pertama, Rencana Pertama, dan Impian yang Hampir Terlunta

Film Pendek "Passarinho" (2024): Darah Pertama, Rencana Pertama, dan Impian yang Hampir Terlunta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co