6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Begadang Filmmaking Competition 9 Tahun, Antara Batas Waktu dan Imajinasi

Dian Suryantini by Dian Suryantini
September 15, 2025
in Ulas Film
Begadang Filmmaking Competition 9 Tahun, Antara Batas Waktu dan Imajinasi

Satu adegan dalam film “The First 9 Months of Loving You” | Foto: Dian

MEMBUAT film pendek dalam waktu 34 jam bukan sekadar lomba adu kreativitas, tetapi juga adu stamina, strategi, dan ketepatan eksekusi. Begadang Filmmaking Competition, yang tahun ini memasuki edisi ke-9, kembali membuktikan diri sebagai salah satu ajang paling ekstrem sekaligus menantang di ajang Minikino Film Week 11, Bali International Short Film Festival, yang diselenggarakan oleh Minikino, Denpasar.

Tantangan yang diberikan pun bukan main-main. Setiap film wajib memasukkan elemen-elemen khusus. Ada 4 elemen yang harus ada dalam film yang diproduksi. Di antaranya, garis komposisi yang membelah layar dalam tiap adegan, sunyi sebagai konsep suara, hubungan tokoh dengan angka 9, serta alur cerita yang bergerak mundur—dimulai dari akhir menuju awal. Hanya dengan syarat-syarat itu, peserta ditantang menembus batas imajinasi sekaligus disiplin teknis.

Dari 53 tim produksi yang mendaftar, 43 tim berhasil menyelesaikan film mereka tepat waktu. Delapan karya kemudian dipilih sebagai hasil terbaik tahun ini, dengan empat di antaranya masuk nominasi utama. Deretan film ini tidak hanya menampilkan kreativitas di bawah tekanan, tetapi juga mencerminkan wajah sinema eksperimental Indonesia yang sedang mencari ruang baru untuk berbicara.

Suasana menonton di Kedai DeKakiang Singaraja | Foto: Dian

Film-film terpilih itu diputar serangkaian ajang Minikino Film Week 11 di Kedai DeKakiang, Singaraja, Minggu malam, 14 September 2025. Pemutaran di Kedai DeKakiang ini terselenggara atas kerjasama Minikino dan Komunitas Singaraja Menonton.

“Sepuluh” – Ivan Padak Demon

Film “Sepuluh” karya Ivan Padak Demon dengan durasi 2 menit 47 detik, memiliki premis sederhana, namun menyimpan ironi. Film ini menyoal seorang anak bernama Titan yang besok akan merayakan ulang tahunnya ke-10, justru ingin menyelesaikan “daftar keinginan sembilan tahun”-nya yang belum tercapai.

Film ini mengangkat isu eksistensial dengan bahasa visual minimalis. Penggunaan garis komposisi dalam tiap adegan terasa presisi, membelah layar seolah menunjukkan perbedaan antara harapan dan kenyataan. Meski durasinya singkat, “Sepuluh” sukses memadatkan keresahan seorang anak yang beranjak dewasa terlalu cepat.

“Perihal Jam Kosong” – Jevi Adhi Nugraha

Dari Yogyakarta, hadir “Perihal Jam Kosong” karya Jevi Adhi Nugraha. Film ini membawa kita ke 9 September pukul 09.00, waktu yang menjadi luka paling traumatis bagi tokoh Nava. Keterlambatan menstruasi selama tiga bulan lebih menjadi simbol tekanan, ketakutan, dan stigma sosial yang masih menghantui perempuan muda. Narasi ini begitu lugas menyorot persoalan tubuh perempuan yang kerap dianggap tabu untuk dibicarakan.

Di tengah keterbatasan waktu produksi, Jevi berani mengeksekusi isu sensitif dengan pendekatan visual yang dingin, senyap, dan menghantam perasaan. Sunyi sebagai konsep suara benar-benar dimanfaatkan untuk menekankan rasa yang disembunyikan oleh tokoh Nava. Jika diterjemahkan secara sederhana, film ini menceritakan seorang gadis yang (mungkin) hamil 3 bulan tanpa diketahui oleh siapapun.

“We Are Okay?” – Dwi S. Kadarusman & Agus Marwan

Berbeda dengan dua film sebelumnya, “We Are Okay?” karya Dwi S. Kadarusman bersama Agus Marwan bermain di ranah kontemporer digital. Ceritanya tentang Irul, seorang streamer yang terdampak setelah perayaan live stream mencapai 190 ribu subscribers.

Dengan durasi 3 menit 51 detik, film ini menyelipkan kritik terhadap obsesi validasi sosial di era media digital. Angka 9 muncul sebagai simbol pencapaian sekaligus kehampaan. Namun, meski premisnya relevan, eksekusi film ini terasa agak tergesa. Unsur garis komposisi memang hadir, tetapi tidak sekuat penggunaan senyap yang justru memberi tekanan emosional.

“Judecca” – Laurent Sindhu & Rae Fadilah

Salah satu karya paling mencuri perhatian adalah “Judecca” karya Laurent Sindhu dan Rae Fadilah dari Banten. Dengan latar mall terbengkalai, film ini menampilkan seorang pria yang perlahan “pecah” dalam ruang kosong yang bergema.

Imaji visualnya tajam, atmosfer mencekam, dan eksekusi teknis terasa matang meski lahir dari tekanan waktu 34 jam. Film ini masuk nominasi 4 besar, dan tidak mengherankan. “Judecca” berhasil membuktikan bahwa horor eksistensial bisa lahir dari ruang sunyi, dengan angka 9 sebagai simbol perjalanan batin yang menuju kehancuran.

“Imam and His 9 Friends” – Deru Ibnu Ghifari

Dari Lampung, Deru Ibnu Ghifari menghadirkan “Imam and His 9 Friends” berdurasi 3 menit 20 detik. Film ini mengisahkan seorang bocah kecil yang mempertaruhkan nyawanya demi sembilan teman imajiner.

Cerita ini seolah metafora tentang kesepian anak-anak, yang menciptakan dunia khayalan untuk bertahan hidup. Sentuhan dramatis terasa kuat, dan penggunaan sunyi benar-benar menekan rasa kehilangan. Tidak heran film ini juga berhasil masuk nominasi 4 besar.

“9entayangan” – Salman Maulana & Jovan Ardiansyah

Film berikutnya, “9entayangan” dari Jawa Tengah, dengan durasi 5 menit 2 detik, menghadirkan pertanyaan filosofis. Bagaimana jika yang gentayangan bukan orang mati, melainkan orang hidup yang ditinggalkan semua orang yang dicintai?

Satu adegan dalam film 9entayangan | Foto: Dian

Pertanyaan itu menjelma dalam atmosfer horor eksistensial yang menggetarkan. Sunyi di sini menjadi medium ketakutan paling efektif. Film ini berhasil masuk nominasi 4 besar, membuktikan bahwa horor bisa lebih menakutkan ketika berbicara tentang keterasingan manusia, bukan sekadar hantu.

“The First 9 Months of Loving You” – Azalia Muchransyah

Azalia Muchransyah dari Banten hadir dengan karya puitis berjudul “The First 9 Months of Loving You”, berdurasi 2 menit 45 detik. Film ini lebih seperti puisi visual tentang perjalanan melalui momen-momen tak terlihat dari proses mencintai. Kesederhanaan dan keberanian memilih nada berbeda, film ini lolos ke nominasi 4 besar.

“The Second Plate” – Fata Hayan & Dimas Rahmaddika

Film terakhir adalah “The Second Plate” dari Jawa Timur dengan durasi 5 menit 21 detik. Ceritanya tentang ayah dan anak yang terjebak dalam ilusi cinta yang dibangun atas dasar kontrol, dipicu ideologi NKKBS.

Premisnya kuat, menyodorkan kritik sosial-politik yang tajam. Namun sayang, meski memiliki durasi paling panjang, film ini gagal masuk nominasi 4 besar. Bisa jadi karena pengolahan alur mundurnya terasa kurang padat, sehingga tensi dramatis tidak setajam kandidat lainnya.

Bermain dengan Konsep Ekstrem

Dari delapan film ini, terlihat para sineas muda Indonesia berani bermain dengan konsep ekstrem, mengeksplorasi angka 9 sebagai simbol yang lentur—bisa berarti usia, waktu, kesepian, hingga keruntuhan eksistensial. Penggunaan sunyi sebagai konsep suara justru memperkaya lapisan emosional, menghadirkan intensitas yang tak bisa dihadirkan lewat musik atau dialog berlebihan.

Satu adegan dalam film 9entayangan

Empat film yang masuk nominasi utama—“Judecca,” “Imam and His 9 Friends,” “9entayangan,” dan “The First 9 Months of Loving You”— layak mendapatkan tempat itu karena keberanian mereka mengeksekusi ide dengan ketepatan teknis dan kedalaman emosional.

Pada akhirnya, Begadang Filmmaking Competition bukan hanya soal siapa yang menang. Begadang Filmmaking Competition bisa dikatakan sebagai laboratorium kolektif yang membuktikan bahwa keterbatasan waktu justru bisa menjadi mesin pendorong kreativitas. Dalam sunyi, garis komposisi, dan angka 9, para sineas muda ini sedang menulis bab baru dalam eksperimen sinema. [T]

Penulis: Dian Suryantini
Editor: Adnyana Ole

Tags: film pendekMinikinoMinikino Film WeekMinikino Film Week 2025Singaraja Menonton
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

BALI MENGALAMI STROKE

Next Post

Warung Badak, Sajikan Kuliner Tradisional di Tengah Kota Denpasar

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails

Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

by Jaswanto
December 18, 2025
0
Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

ADA sebuah komentar dari netizen―yang saya lupa entah di mana―tentang drama Korea (drakor) berjudul “Taxi Driver”. Komentar itu begini, “Seandainya...

Read moreDetails

Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

by Vivit Arista Dewi
December 2, 2025
0
Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

Film Agak Laen kembali hadir dengan langkah yang jauh lebih berani dari sebelumnya. Setelah sukses mengacak-acak rumah hantu, kini mereka...

Read moreDetails

Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

by Bayu Wira Handyan
November 13, 2025
0
Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

SEDIKIT film di Indonesia yang berani menampilkan kemiskinan sebagaimana adanya—banal, kasar, tanpa romantisasi. Sebagian besar memilih jalan aman, menjadikan kemiskinan...

Read moreDetails

The Long Walk (2025): Ritus Kekejaman di Jalan Panjang Tak Berujung

by Bayu Wira Handyan
November 7, 2025
0
The Long Walk (2025): Ritus Kekejaman di Jalan Panjang Tak Berujung

ADA sesuatu yang menakutkan tentang jalanan yang lurus. Ia tidak menjanjikan sebuah tujuan, tetapi yang ia berikan adalah cakrawala yang...

Read moreDetails
Next Post
Warung Badak, Sajikan Kuliner Tradisional di Tengah Kota Denpasar

Warung Badak, Sajikan Kuliner Tradisional di Tengah Kota Denpasar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co