MEMBACA sajak-sajak Georg Trakl seperti memasuki lorong jiwa yang tak berujung. Lahir pada 3 Februari 1887 di Salzburg, Austria, Trakl tumbuh dalam keluarga yang keras. Ia berkonflik dengan ayahnya dan menjalin hubungan kompleks dengan saudari kandungnya, Grete, yang oleh banyak penafsir diyakini membekas kuat dalam puisinya. Sejak muda ia sudah bersentuhan dengan morfin dan kokain.
Perang Dunia I menjadi titik balik. Sebagai apoteker militer, ia menyaksikan luka, darah, dan tubuh-tubuh yang hancur. Trauma peperangan memperburuk gejolak batinnya yang memang rapuh. Pada 1914, di sebuah rumah sakit jiwa di Kraków, Trakl meninggal karena overdosis kokain. Banyak yang menduga itu bunuh diri. Usianya baru 27 tahun.
Salah satu sajaknya yang terkenal, “Malam Musim Dingin”, memperlihatkan betapa Trakl membangun lanskap batin dengan citraan keras dan dingin; kebekuan hitam, tanah keras, udara pahit, langkah membatu dekat rel kereta, hingga serigala merah dicekik malaikat.
Puisi itu seakan menghadirkan dunia yang dingin dan kejam, di mana manusia berjalan seperti mesin, wajah membatu, dan salju menjadi lambang kebekuan jiwa. Kutipan berikut adalah penggalan puisinya dalam terjemahan Indonesia:
……………………..
Kebekuan hitam. Tanah keras, udara pahit di lidah.
Bintang-bintangmu mengatup jadi pertanda buruk.
Dengan langkah membatu kau menderap dekat rel kereta, dengan
Mata bulat bagai prajurit yang menyerang benteng hitam. Avanti!
Pahit salju dan bulan!
Serigala merah dicekik malaikat. Kakimu melangkah
gemerincing bagai es yang biru. Senyum sarat duka dan
keangkuhan membatukan wajahmu, dan dahimu memucat oleh
berahi kebekuan;
atau dahi itu membungkuk bisu di atas lelap penjaga yang
rebah di gubug kayu.
…………………………………………………
(Malam Musim Dingin, Hal.65)
Membaca baris-baris itu, kita seperti diseret masuk ke dalam halusinasi yang getir. Trakl tidak hanya menulis puisi, ia menyalin denyut jiwanya yang retak.
Tema paling kuat dalam sajak Trakl adalah kegelapan, kesepian, dan kematian. Puisinya mencatat perjalanan menuju senja, di mana kematian selalu hadir sebagai bayangan yang setia menunggu. Alam muram—musim gugur, musim dingin, salju, senja—tidak sekadar latar, melainkan metafora bagi jiwa yang terasing.
Trakl juga kerap menyinggung simbol religius, yakni, salib, Gethsemane, malaikat. Namun alih-alih menjadi sumber harapan, simbol-simbol itu muncul sebagai lambang doa yang tak sampai, iman yang tertikam putus asa. Relasi keluarga, kata “saudara” atau “anak”, sering menyembunyikan rahasia gelap, menegaskan luka batin yang tak pernah pulih.
Estetika Ekspresionisme
Secara estetik, Trakl ditempatkan dalam arus ekspresionisme Jerman-Austria. Puisinya padat, fragmentaris, penuh warna kontras, seperti, hitam, merah, biru. Bahasanya kerap menyerupai mimpi atau halusinasi. Ia menulis spontan, lalu kadang merevisi keesokan hari, sehingga puisinya sering terdiri dari fragmen-fragmen.
Bagi Trakl, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan ruang untuk memproyeksikan kegelisahan batin. Dari kehancuran jiwa lahirlah bahasa puisi yang unik, tak tertandingi oleh penyair lain sezamannya.
Kondisi skizofrenia Trakl memberi pengaruh besar pada karya-karyanya. Puisi baginya menjadi catatan jiwa yang gelisah, potret pikiran yang sulit terurai, sekaligus pelarian dari beban mental yang ia pikul. Membaca Trakl hari ini, pembaca modern terutama yang pernah bersentuhan dengan trauma atau gangguan mental akan menemukan resonansi mendalam.
Trakl mengingatkan kita bahwa di balik gangguan jiwa ada suara manusia yang tetap bisa bersuara, meski dengan bahasa yang sulit dimengerti. Suara yang tidak hadir sebagai solusi, melainkan sebagai kesaksian.
Trakl di Indonesia
Nama Trakl masuk ke Indonesia lewat buku Mimpi dan Kelam Jiwa, dterbitkan pertama kali pada 2012, oleh penerbit Komodo Books bekerja sama dengan Goethe-Institut Indonesien. Agus R. Sarjono dan Berthold Damshäuser sebagai penerjemah berupaya menjaga kepadatan bahasa dan aura kemuraman Trakl. Mereka tidak hanya mengalihbahasakan kata, tetapi juga nuansa—tugas yang berat mengingat puisi Trakl sarat metafora kompleks dan struktur fragmentaris.
Peluncuran buku itu mendapat sorotan media. Trakl diterima sebagai suara asing yang justru terasa akrab, sebab masyarakat kita juga hidup di zaman penuh trauma sosial, alienasi, dan keterasingan batin.
Pada sebuah sore di Semarang, Februari 2013 silam, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang (FBS Unnes) kedatangan seorang tamu dari Jerman, Berthold Damshäuser, dosen Universitas Bonn. Ia hadir bukan untuk mengajar kelas, melainkan membuka lorong gelap sastra Eropa, memperkenalkan Georg Trakl.
Acara itu bertajuk ”Peluncuran Jilid ke-VII Seri Puisi Jerman, Kumpulan Puisi Karya Georg Trakl “Mimpi dan Kelam Jiwa”, hasil kerja sama Goethe-Institut Indonesien, Rumah Buku Dunia Tera, dan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS Unnes. Diskusi dimoderatori penyair Dorothea Rosa Herliany, dengan lantunan pembacaan puisi oleh Timur Sinar Suprabana.
“Trakl selalu membicarakan penderitaan. Kritiknya terhadap peradaban modern disampaikan dalam bahasa yang khas,” ujar Berthold. Ia menambahkan, Trakl telah lama diakui sebagai penyair besar abad 20, meski hidupnya singkat dan tragis. “Sayangnya ia meninggal di usia 27 tahun,” katanya. (Sumber: Berita FBS Unnes, 2013)
Kajian tentang Trakl memang terbatas di Indonesia, tetapi tetap ada. Beberapa esai menyoroti bagaimana metafora dan simbolisme Trakl tetap hidup dalam terjemahan Indonesia. Ada pula pengamat sastra yang melihat gema Trakl dalam puisi kontemporer Indonesia, termasuk karya-karya yang menyuarakan kegelisahan eksistensial dengan citraan muram.
Di ranah internasional, para akademisi sudah lama membaca Trakl sebagai penyair trauma. Jurnal Modern Austrian Literature menulis bahwa puisi Trakl adalah “rekaman psikis dari tubuh yang pecah oleh sejarah, sekaligus tubuh yang mencari keselamatan melalui bahasa.” Penelitian lain, seperti yang diterbitkan di German Studies Review, mengaitkan puisinya dengan “trauma kolektif awal abad 20” yang lahir dari perang dan industrialisasi.
Dalam buku Georg Trakl: Poetry and Silence karya James Wright, disebutkan bahwa keheningan dalam sajak Trakl bukanlah ketiadaan, melainkan gema dari sesuatu yang tak terkatakan—sebuah suara batin yang terlalu rapuh untuk diucapkan, tetapi juga terlalu penting untuk diabaikan.
Membaca Trakl akhirnya adalah membaca paradoks: dari jiwa yang hancur lahir bahasa yang kuat, dari penderitaan pribadi tercipta puisi yang abadi, dari kegelapan muncul cahaya yang tetap menyinari sastra dunia. Warisan Georg Trakl adalah keberanian untuk menyuarakan kelam jiwa, agar manusia lain tak merasa sendirian di dalamnya. Membaca Trakl, kita belajar bahwa penderitaan, seaneh apa pun bentuknya, dapat menjadi bahasa yang melintasi waktu dan benua. [T]
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole







![Mengenang Joko Pinurbo [2-Tamat]: Sore Hari Bersama Sang Penyair](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/05/wicaksono-adi.-foto-jokpin2-1-360x180.jpg)
![Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/05/wicaksono-adi.-foto-jokpin-360x180.jpeg)


















