25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

Early NHS by Early NHS
September 10, 2025
in Esai
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

People do not make revolution eagerly any more than they do war. … A revolution takes place only when there is no other way out. … The masses advance and retreat several times before they make up their minds to the final assault.—Leon Trotsky dalam “The Art of Insurrection” (1930)

JUMAT, 29 Agustus 2025, di depan Polda Metro Jaya berkumpul massa dari berbagai latar belakang dan usia, mereka mewakili ragam kepentingan, serta punya berbagai macam alasan. Beberapa ada di sana karena peduli pada keadaan negeri, beberapa muak terhadap kelakuan aparat dan elit Senayan, beberapa FOMO (ikut-ikutan), bahkan saat mengobrol, sejumlah dari mereka mengutarakan alasan klasik warga Nusantara ketika melihat kerumunan: “Pengen ‘nonton ‘aja, Bang.”

Apa pun itu, demonstrasi dan kekacauan yang terjadi di negeri ini tidak datang dari ruang kosong, bukan pula bencana alam yang berada di luar kontrol manusia; musabab dan jejaknya tampak, ada alasan masuk akal di baliknya. Maka itu, banyak orang waras melibatkan diri dalam protes di jalanan dan media sosial.

Sayangnya, di tengah orasi dan nyanyian para demonstran di Polda Metro Jaya sore itu, sesekali terdengar teriakan sekelompok kecil orang: “Revolusi! Revolusi! Revolusi!” Saat itu, sulit untuk memastikan apakah seruan itu datang dari provokator atau tulus dari hati orang yang peduli pada negeri. Pertanyaan pun muncul: “Apakah sudah waktunya revolusi digaungkan di Indonesia?”

Revolusi Bukan Saja Puisi, Revolusi Adalah Seni

“Revolusi!”, kata tersebut barangkali terdengar indah di telinga sebagian orang, tetapi saya—seperti banyak orang lain—menolak kata itu diserukan hari-hari ini. Dan kalimat Trotsky pada awal tulisan menjadi alasannya, bahwa teriakan “Revolusi!” seharusnya menjadi jalan terakhir ketika tak ada lagi pilihan, ketika keadaan mengharuskan. Sebab, “harga” revolusi itu mahal, dan lagi, pihak yang akan membayar “harga” itu adalah rakyat Indonesia sendiri.

Agam Wispi, seorang ‘Sastrawan Kiri’, pernah menggambarkan situasi revolusi dalam puisi berjudul “Revolusi” (1957):

kupancing kau masuk hutan
kau ikuti aku seperti
bayangan tinggal pantai
hilang lautan
bertimbun bangkai di kota rebutan

Larik keempat puisi di atas, “bertimbun bangkai di kota rebutan”, melukiskan bagaimana nyawa orang bisa saja seharga gorengan pada masa revolusi; selain itu, nasib jutaan manusia akan menjelma selembar daun di tengah samudera, dan nyala api yang membarakan bangunan akan jadi pemandangan sehari-hari.

Beberapa hari pasca unjuk rasa di Polda Metro Jaya, bahkan ketika revolusi itu belum terjadi, kematian, penjarahan, dan pembakaran sudah terlihat di sekian tempat. Siapa yang salah? Pertanyaan ini sulit dijawab, mengingat psikologi massa yang marah tidak beroperasi sebagaimana logika individu yang rasional.

Sejalan dengan itu, larik pertama dan kedua puisi Wispi, “kupancing kau masuk hutan/kau ikuti aku seperti bayangan”, melukiskan laku manusia dalam situasi revolusi, orang-orang akan menjadi semacam bayangan bagi yang lain, mudah tersulut, dan ikut-ikutan; ketika satu orang melakukan, yang lain akan mengekor. Dan saat itu terjadi, akan terlihat hal-hal paling brutal yang sulit terjangkau pikiran.

Merenungkan kembali situasi yang belakangan terjadi, bahkan ketika revolusi itu belum terjadi, sudah ada “harga” yang harus dibayar rakyat. Karena alasan itu, revolusi pada hari ini harus ditolak, sebab kata “Revolusi” pada nyatanya tak seindah rima para penyair Lekra.

Kemudian, apabila merujuk pada tulisan para pemikir yang mengulas tentang revolusi, aksi, atau pemberontakan massa,  seperti Trotsky dan Tan Malaka, revolusi adalah sesuatu yang sakral, revolusi adalah seni yang perlu dikaryakan oleh seniman politik yang tepat, pada saat yang tepat. Revolusi yang berhasil mewujudkan cita-cita mulia rakyat memerlukan sejumlah prasyarat, beberapa di antaranya adalah kedewasaan pikiran, kematangan rencana, serta keahlian pemimpin lapangan, bukan hanya keberanian sesaat untuk melakukan kekerasan.

Dengan demikian, sudah sewajarnya rakyat Indonesia menolak revolusi pada hari ini. Andaikata revolusi dadakan dipaksakan, sangat mungkin kita hanya membantu sekelompok mafia baru mengganti mafia lama sebagai penguasa negeri.

Lebih dari semua itu, akal sehat banyak orang mengatakan bahwa keadaan Indonesia hari ini belum memerlukan revolusi, masih ada cara lain untuk menyelesaikan prahara yang mengasali semua kekacauan ini.

Mencegah Revolusi dengan “Sadar Diri”

Sikap rakyat yang terwujud dalam tindakan massa belakangan ini bukanlah aksi yang sekonyong-konyong terjadi. Itu semua adalah reaksi terhadap aksi para elit yang meremehkan rakyat, mereka yang saya sebut ‘buta demokrasi’. Mereka pura-pura tidak tahu bahwa di negara demokrasi, kedaulatan sesungguhnya ada di tangan rakyat, bahwa rakyat tidak semata-mata objek kebijakan, melainkan subjek sekaligus aktor utama yang harus terus dilibatkan dalam proses bernegara.

Tentu saja, negeri ini punya laksa masalah yang bisa dianalisis dengan ratusan teori, dan penyebab kemarahan rakyat beberapa hari terakhir juga tidak serta-merta bisa direduksi menjadi satu masalah pokok. Namun, satu hal yang perlu disorot dalam prahara ini adalah krisis legitimasi yang disebabkan oleh ‘keangkuhan’, baik keangkuhan institusi maupun keangkuhan pribadi. Dan konsep political decay (pembusukan politik) yang dikembangkan Samuel P. Huntington (1965) dan Francis Fukuyama (2014), relevan untuk menjelaskannya, sebab situasi Indonesia telah menunjukkan gejala pembusukan politik tersebut.

Pada dasawarsa 1960-an, Huntington menggunakan konsep political decay untuk menjelaskan ketidakstabilan tatanan politik di banyak negara pasca Perang Dunia II. Saat itu, modernisasi sosial-ekonomi di sejumlah negara berkembang mengakibatkan peningkatan kesadaran dan partisipasi politik masyarakat, sayangnya institusi politik di negara-negara itu tidak mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut. Hal ini menciptakan krisis legitimasi penguasa di mata rakyat karena kepentingan atau aspirasi publik tidak terakomodasi. Konsep ini kemudian dikembangkan oleh Fukuyama (2014), menurutnya ada dua sebab terjadinya political decay, yaitu: (1) institutional rigidity (kekakuan insitusi); (2) repatrimonialization (repatrimonialisasi).

Tentang institutional rigidity, analisis Huntington dan Fukuyama tentang political decay pada dasarnya berangkat dari konteks dan perspektif yang berbeda, meski begitu dua orang guru-murid itu sepakat bahwa salah satu gejala pembusukan politik adalah kekakuan (rigidity) serta kegagalan institusi politik seperti lembaga eksekutif, legislatif, dan partai politik untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Sementara itu, repatrimonialization merupakan istilah khas yang dikembangkan oleh Fukuyama, yang berarti kecenderungan dikembalikannya praktik politik patrimonialisme oleh penguasa dalam proses bernegara, yaitu praktik politik yang mengutamakan hubungan darah, kerabat, golongan, pendukung, loyalis, dan penjilat.

Lebih lanjut, analisis Fukuyama yang lebih dekat konteks Indonesia hari ini menyatakan bahwa negara demokrasi dengan rakyat yang semakin sejahtera secara ekonomi tidak berarti negara itu akan bebas dari political decay, justru demokrasi dapat menjadi sumber pembusukan tersebut. Dan kabar buruknya, ketika negara demokrasi dan institusinya dikelola dengan prinsip patrimonialisme kronis yang memperkecil kemungkinan reformasi institusi untuk melayani kepentingan rakyat, maka kekerasan (revolusi) adalah satu-satunya cara untuk mengobatinya. Dalam “Political Order and Political Decay”, Fukuyama menulis:

This problem is not solved once a society becomes rich and democratic. Indeed, democracy itself can be the source of decay (Fukuyama, 2014; Ch. 31). … Decay occurs when incumbent political actors entrench themselves within a political system and block possibilities for institutional change. Oftentimes these actors are so powerful that they can be eliminated only through violent means (Fukuyama, 2014; Ch. 36).

Berangkat dari argumen di atas, segera terlihat kesesuaian kondisi Indonesia hari ini dengan uraian Huntington dan Fukuyama. Semuanya terang, tidak perlu penjelasan panjang lebar terkait gejala political decay yang sedang dialami bangsa ini. Pertama, institutional rigidity, saat ini masyarakat Indonesia semakin terdidik sebagai manusia politik abad ke-21, tetapi institusi politik di negara ini masih bekerja dengan cara-cara Orde Baru kala dipimpin Soeharto. Sedangkan gejala repatrimonialization, satu nama yang mewakilinya: Gibran Rakabuming Raka.

Dengan demikian, jawaban sesungguhnya untuk meredam eskalasi aksi massa adalah kesadaran penguasa dan para elit politik, bahwa institusi politik di negara ini perlu dikelola secara demokratis, dengan rakyat sebagai objek sekaligus subjek kebijakan, bahwa jauh lebih bijaksana para elit — eksekutif dan legislatif — tahu diri daripada terus membuka jalan terjadinya revolusi.

Akan tetapi, saya ragu, apakah bisa kita berharap gerombolan pengecut pragmatis tanpa harga diri warisan rezim sebelumnya yang sedang menguasai hampir semua institusi di negara ini berani merendahkan hati lantas mendengar suara rakyat? Ataukah mereka paling tidak bersedia menjadi kesatria yang bertanggung jawab setelah semua kekacauan ini? Entahlah. Kartu sedang berada di tangan Kepala Negara, sayangnya sampai hari ini kartu tersebut belum dibuang ke atas meja, reformasi institusi negara belum juga menunjukkan tanda baik.

Kata Penghabisan

Kenaikan pajak, tunjangan ugal-ugalan anggota DPR, ucapan Sahroni, dan pembantaian Affan Kurniawan oleh Polisi hanya tangga-tangga kecil yang mungkin akan jadi jalan bagi kemarahan rakyat menemui revolusi di puncak tangga itu. Dan satu dari sekian penyebab sesungguhnya kemarahan rakyat belakangan ini adalah keangkuhan para elit yang menciptakan pembusukan politik dalam tata kelola bangsa ini. Untuk itu, perlu kesadaran para elit agar pembusukan politik tersebut tidak semakin parah sehingga revolusi yang banyak orang takuti itu tidak pernah terjadi.

Akhir kata, membaca kondisi Indonesia saat ini, di mana kekuatan politik di belakang pemerintah sangat kuat serta tidak adanya kekuatan politik penanding, kemungkinan revolusi di Indonesia dalam waktu dekat memang sangat kecil. Namun, besar-kecilnya kemungkinan itu tidak boleh dianggap sepele, lebih-lebih, jauh lebih baik berlebihan dalam pencegahan saat tidak penyakitan daripada berdoa dengan tangis darah selama masa pengobatan.

Revolusi memang tidak tampak akan terjadi hari ini, tapi jika rakyat dibiarkan menunggu dalam ketidakpastian, tak dihiraukan, dan ketidakadilan terus-menerus tampak, bukan tidak mungkin revolusi yang tidak dipersiapkan itu akan tiba besok, lusa, bahkan mungkin nanti sore. Dan ujungnya, rakyat Indonesia sekali lagi akan membayar “harga revolusi” sekaligus menjadi saksi bagaimana darah para martir politik menjadi sia-sia karena kita hanya bisa melihat satu mafia mengganti mafia lain sebagai penguasa tanah yang kita sebut Indonesia. (Ciao!)[T] 

Penulis: Early NHS
Editor: Jaswanto

Tags: Agam WispidemonstrasiFrancis FukuyamaLeon TrotskyrevolusiSamuel P. Huntington
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bali Bike Festival 2025, Padukan Olahraga, Seni, Kuliner, dan Musik—Dimulai dengan Turing ke Bali Utara

Next Post

Luh Mas Sri Diana Wati, Merawat Prestasi dengan Dendam, Meraih Medali Emas Muaythai Porprov Bali 2025

Early NHS

Early NHS

Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Pembangunan Nasional Veteran (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Luh Mas Sri Diana Wati, Merawat Prestasi dengan Dendam, Meraih Medali Emas Muaythai Porprov Bali 2025

Luh Mas Sri Diana Wati, Merawat Prestasi dengan Dendam, Meraih Medali Emas Muaythai Porprov Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co