KADEK Bayu Suteja, atau biasa disapa Bayu itu, berhasil bertarung dengan baik di pertandingan kedua cabang olahraga Muaythai pada Kejuaraan Porprov Bali 2025, di Denpasar, 4 September.
Pukulan, siku atau elbow, dan tendangan kakinya berhasil masuk ke wajah lawannya hingga merobek kulit. Ketika itu, Bayu mewakili Buleleng melawan Kadek Angga, Denpasar, setelah dua hari sebelumnya menang melawan Wisnu asal Jembrana.
Di ronde ketiga, ronde terakhir, menjadi momentum Bayu sebagai atlet yang berhasil menumpahkan kemenangan selain darah. Ia pandai memanfaatkan situasi lawannya (Kadek Angga), yang mulai terkuras energinya setelah melepas semua tendangan-pukulan di awal-tengah ronde.
Tinjuan Bayu cukup lincah masuk ke wajah lawan di ronde terakhir. Siku masuk ke wajah, tendangan masuk ke paha-ke dada, dan terakhir masuk ke pelipis mata. Lawan berdarah di bagian itu. Bayu kembali menatapnya di ujung sudut, mengatur napas dan berpikir siasat di sela wasit melerai.
Lonceng berbunyi. Ketika ia bergeliat-lanjut kembali bertarung dengan semua pukulan dilepaskan sekuat tenaga hingga berhasil memojokkan lawan ke pembatas ring, segera wasit menghentikan pertandingan dan menjatuhkan Bayu pada kemenangan.
“Saya masuk ke babak selanjutnya, final, melawan Baim (sapaan akrab lawannya) dari Badung,” kata Kadek Bayu Suteja, ketika ditemui tatkala.co di Kampus Undiksha di Jinengdalem, Singaraja, Senin, 8 September, 2025.
Tapi di pertandingan ketiga itu pada babak final di ronde kedua, kata Bayu, ia justru kecolongan siasat dan banyak defensif sampai ronde terakhir. Yang dianggapnya energi lawan sudah mau habis, ternyata masih ada dan banyak mengeluarkan pukulan, tendangan dan elbow secara brutal ke wajah ke dadanya.
Tapi di babak berikutnya, berganti Bayu jual-beli pukulan karena mengingat itu adalah hari terakhir, dan proses yang sudah dilaluinya juga sangat panjang, ia menuntaskannya dengan kalap.

Kadek Bayu Suteja (paling tengah) raih medali emas di cabor Muaythai Porprov Bali 2025 | Foto: Ist
“Saya menang dengan rasa cape yang tinggi,” kata Bayu saat bercerita tentang pertandingan yang membuatnya kwalahan adalah babak final.
Di Bali, Kadek Bayu Suteja, kelahiran Kalibukbuk, 21 Juni 2004 itu, memang bukan nama sembarang, bukan sebagai atlet muda bau kencur. Nyalinya sudah teruji di lomba-lomba bergengsi sebelumnya, pernah meraih emas selain pada Porprov Bali di tahun sekarang.
Di awal tahun 2018, Bayu pernah sabet Juara 1 Laga Tanding Muaythai Putra dengan berat 45 kg pada ajang Kejurnas, di Jawa Timur. Menyusul Juara 3 pada laga dan ajang yang sama di Jakarta Selatan, akhir tahun 2018.
Lanjut Juara 2 Laga Muaythai 51 kg putra Exbhition Porprov Bali (2019), Juara 1 Laga Muaythai 51 kg putra di Mai Duel (2021), Juara 2 Laga Muaythai 48 kg putra di Bupati Cup Klungkung 1 (2022), Juara 1 Laga Muaythai 48 kg putra Porprov Bali (2022), Juara 2 Laga Muaythai 51 kg putra di Bupati Cup Klungkung 2 (2023), dan winner rumble night promotion 51 kg putra di Denpasar (2025).
Kadek Bayu Suteja, Atlet Muda Muaythai yang Dilatih Sampai Muntah
Proses emas Kadek Bayu Suteja yang dilakoninya beberapa tahun terakhir itu, juga tahun sekarang, tidak terlepas dari pengalamnnya dulu. Pengalaman dirinya pernah mencicipi silat, tapi gagal karena tubuhnya gendut, juga menyisakan satu jurus; menendang.
“Saya dulu, waktu kelas 4 SD, saya pernah ikutan silat, latihan di bapak saya, tapi saya tidak lanjut karena ukuran tubuh saya gendut,” kata Bayu humor.

Kalung medali emas untuk Bayu | Foto: Ist
Agak cukup lama ia berhenti di dunia persilatan karena menganggap dirinya tak lincah. Tapi saat itu, ia pernah ikut latihan cukup panjang. Beberapa jurus sederhana dari silat itu, juga pernah dikuasainya, tapi mundur sebelum tahu betul dunia persilatan.
“Tapi setidaknya saya bisa menendang. Haha,” ucap Bayu humor.
Menginjak umur remaja, tepatnya saat SMP tahun 2017, Bayu ikut masuk ke dunia Muaythai dilatih sang bapak. Saat itu, perguruan Walet Putih aliran silat lokal milik bapaknya Gede Sudarma atau dikenal sebagai Pak Buda, berubah menjadi Walet Fighter Club di Lovina dengan aliran Muaythai.
“Saya masuk Muaythai itu tahun 2017, dilatih oleh Bapak disuruh oleh Ibu,” aku Bayu.
Di Muaythai, pun Bayu tidak lupa pada ibunya yang menyuruhnya untuk mencoba beladiri Muaythai. Setelah silat dirasa kurang cocok untuknya berprestasi, ternyata pilihan ibunya membuahkan proses panjang dengan hasil yang puas.
Bayu adalah anak kedua dari pasangan Gede Sudarma dan Luh Parmita. Bayu memiliki kakak bernama Gede David Subrata, yang juga seorang atlet bela diri dan pernah juara di Porprov Bali 2019 dengan cabang olahraga Wushu Sandha. Keluarga mereka adalah petarung dengan ibu penyayang, bapak pendidik yang baik.


Proses latihan Bayu Suteja | Foto: Ist
Selama proses latihan pada ajang Porprov Bali 2025, Bayu digenjot habis-habisan oleh sang bapak. Tak mengenal anak atau siapapun, sang bapak melatihnya dengan sungguh-sungguh.
Empat bulan dari Mei-Agustus, Bayu digembleng hingga muntah dan berdarah, juga menangis sebelum bertanding.
“Proses latihan yang cukup keras ada di bagian fisik. Karena kata bapak, bagian fisik itu penting dibentuk agar tahan saat dipukul dan ditendang,” kata Bayu menjelaskan proses latihannya sangat ekstra.
Sampai di situ, ia juga menjelaskan, Bapak mengajarkan mental yang kuat dengan cara muridnya diadu, alias sparing partner. Tentu, apa-apa yang dilakukan sang bapak ketika latihan, sebanding dengan hasilnya; Juara 1 Muaythai Laga Putra 48 kg di Porprov Bali 2025.
Selamat Kadek Bayu Suteja. Semoga emas mengalir selalu di tubuhmu. Hehe. Merdeka. [T]
Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:



























