22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pemimpin dan Ajaran Bhaerawa: Memimpin dengan Kesadaran, Bukan Sekadar Jabatan

Raka Prama Putra by Raka Prama Putra
September 7, 2025
in Esai
Pemimpin dan Ajaran Bhaerawa: Memimpin dengan Kesadaran, Bukan Sekadar Jabatan

acara Bedah Buku *Bhaerawa Jnana* karya Ida Dukuh Celagi

TULISAN ini lahir dari perenungan yang mendalam setelah saya berkesempatan menjadi moderator dalam acara Bedah Buku *Bhaerawa Jnana* karya Ida Dukuh Celagi. Buku ini membuka tabir Bhaerawa yang menekankan bahwa pembebasan dari penderitaan dapat dicapai melalui pelenyapan ego, keinginan, dan ketakutan.

Diskusi dalam acara tersebut membuka pandangan saya: bahwa ajaran Bhaerawa—yang selama ini kerap dipersepsikan ekstrem, gelap, atau bahkan mistis—justru menyimpan nilai-nilai yang luhur yang bisa menjadi pedoman kepemimpinan. Nilai-nilai yang relevan dan sangat kontekstual dengan tantangan zaman, bahkan untuk konteks sosial-politik masa kini.

Ajaran Bhaerawa tidak hanya menguraikan jalan spiritual secara personal, tetapi juga menunjukkan bagaimana kekuatan batin, keberanian moral, dan kedalaman kesadaran bisa menjadi fondasi kuat dalam menjalankan roda pemerintahan maupun kepemimpinan sosial.

Di tengah tantangan zaman yang kompleks, —krisis moral, ekonomi, ketimpangan sosial, kerusakan lingkungan, hingga polarisasi politik—muncul pertanyaan mendasar: seperti apakah pemimpin yang ideal? Bukan hanya cerdas dan tegas, seorang pemimpin sejati juga harus matang secara spiritual dan emosional.

Tulisan ini mencoba merefleksikan bagaimana nilai-nilai Bhaerawa bisa dihayati oleh pemimpin masa kini, sekaligus menelusuri jejak historis para pemimpin Nusantara—termasuk di Bali—yang pernah menapaki jalan ini dengan gagah dan bijak.

Jejak Bhaerawa dalam Sejarah Kepemimpinan Nusantara

Ajaran Bhaerawa merupakan bagian dari khazanah Tantrayana Hindu-Buddha yang dikenal berani, nonkonvensional, dan transformatif. Ajaran ini tidak sekadar berkembang di India atau Tibet, tetapi juga berakar kuat dalam sejarah Nusantara.

Di Jawa, ajaran ini pernah menjadi fondasi spiritual dan ideologis pemerintahan Raja Kertanegara dari Kerajaan Singhasari. Ia dikenal sebagai pemimpin dengan visi besar, keberanian luar biasa, dan keterbukaan spiritual—ciri khas pemimpin Bhaerawa.

Di Bali, ajaran ini juga dipercaya dianut oleh Ratu Mahendradatta, istri Raja Udayana Warmadewa dan ibu dari Raja Airlangga. Beberapa peninggalan arkeologis, seperti arca Bhaerawa di Pura Kebo Edan, menjadi saksi bagaimana ajaran ini menjadi bagian dari tradisi kerajaan dan spiritualitas elite pada masa lalu.

Para pemimpin tersebut bukan hanya penguasa politik, tetapi juga praktisi spiritual yang menghayati kekuasaan sebagai sarana pelayanan, bukan dominasi.

Ajaran Bhaerawa dalam Konteks Kepemimpinan

Secara esoterik, Bhaerawa adalah aspek Tuhan (Siwa) dalam manifestasi yang tegas, keras, bahkan destruktif terhadap ilusi, ketidakseimbangan, dan kebodohan. Namun, hal ini sebenarnya merupakan manifestasi kasih yang lebih tinggi.

Bhaerawa tidak mengajarkan lari dari kegelapan, melainkan menaklukkannya dari dalam. Dalam konteks kepemimpinan, ajaran ini menekankan:

•⁠  ⁠Penguasaan atas ego dan nafsu pribadi

•⁠  ⁠Ketegasan terhadap ketidakadilan

•⁠  ⁠Kemampuan mentransformasi krisis menjadi peluang

•⁠  ⁠Kepemimpinan yang berlandaskan kesadaran spiritual

Dengan penggalian ajaran ini, pemimpin tidak boleh hanya menyukai yang indah dan terang, tetapi harus mampu memasuki dan menaklukkan kekacauan, penderitaan, dan sisi gelap kekuasaan, agar dapat diubah menjadi kekuatan yang menyejahterakan.

Jadi, di era modern, nilai-nilai Bhaerawa tetap sangat relevan. Meski tanpa atribut spiritual formal, intisari ajarannya adalah kepemimpinan yang berani, rendah hati, dan transformatif.

Relevansi Ajaran Bhaerawa untuk Pemimpin Masa Kini

Berikut adalah nilai-nilai dari ajaran Bhaerawa yang bisa dijadikan prinsip kepemimpinan masa kini:

1. Empati dalam Kekuasaan

Pemimpin Bhaerawa hadir dalam penderitaan rakyat, bukan sekadar tampil dalam seremonial, bukan hanya dalam kemewahan.

Ia memahami bahwa kekuasaan adalah sarana untuk melayani, bukan menikmati. Ini relevan dalam menghadapi krisis ekonomi dan sosial. Pemimpin mesti turun tangan, bukan lepas tangan.

2. Berani Mengambil Keputusan Sulit

Layaknya Bhaerawa yang tidak ragu menghancurkan kejahatan, pemimpin ideal harus berani menindak korupsi, membela yang tertindas, dan menegakkan keadilan. Pemimpin ideal berdiri membela yang lemah, meski harus melawan arus.

3. Mengendalikan Nafsu Pribadi dan Citra

Dalam era pencitraan dan hedonisme dewasa ini, pemimpin Bhaerawa tidak butuh panggung atau pengakuan. Ia bekerja dalam keheningan, namun hasilnya berdampak nyata. Ia tidak “flexing”, tidak haus pujian, dan tidak memanipulasi kekuasaan untuk kepentingan pribadi.

4. Menjaga Keseimbangan Sakala dan Niskala

Pemimpin bukan hanya seorang birokrat, tetapi juga pemelihara nilai. Ia harus bisa mengatur dunia fisik (sakala) sembari menjaga kesucian, etika, dan spiritualitas masyarakat (niskala).

Kepemimpinan: Jalan Ke Dalam, Bukan Sekadar Naik ke Atas

Dalam dunia yang semakin bising oleh popularitas semu, ajaran Bhaerawa menjadi pengingat bahwa kekuatan sejati berasal dari kedalaman kesadaran, bukan sorotan kamera. Seorang pemimpin sejati adalah ia yang mampu menaklukkan dirinya sendiri, sebelum mencoba mengatur orang lain.

Kekuasaan sejati tidak terletak pada posisi, melainkan pada kekuatan batin untuk bertanggung jawab, melayani, dan bertransformasi demi kebaikan bersama. Keberanian menghadapi tantangan-tantangan yang ada untuk membebaskan masyarakat dari penderitaan.

Bhaerawa mengajarkan bahwa keberanian, empati, dan kedalaman jiwa jauh lebih penting daripada gelar, popularitas, atau pengaruh. Di sinilah pemimpin sejati lahir—bukan dari ambisi, tetapi dari kesadaran.

Di tengah dunia yang gaduh oleh ego dan citra, kita butuh lebih banyak pemimpin yang sunyi, namun bekerja dengan kekuatan sejati—seperti semangat Bhaerawa yang tak gentar menghadapi gelap, demi menghadirkan terang. Di titik inilah, ajaran Bhaerawa kembali menemukan relevansinya—bukan sebagai dogma, tapi sebagai jiwa kepemimpinan sejati.

Semoga tulisan ini menginspirasi para pemimpin—baik di lingkup pemerintahan, organisasi, maupun komunitas—untuk melihat kepemimpinan bukan sebagai tangga kekuasaan, tetapi sebagai jalan pelayanan spiritual yang mulia. [T]

Kemenuh, 6 September 2025
Rahajeng rahina Saraswati lan Banyupinaruh. Rahayu

Penulis: Raka Prama Putra
Editor: Jaswanto

Tags: bhaerawaBukukepemimpinanpemimpin
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Tatapan Rangga ke “Screenshot” Kekerasan: Transformasi Ruang Sosial Remaja dalam Sinema Indonesia (2002 – 2022)

Next Post

Rawon, Rujak, Mi

Raka Prama Putra

Raka Prama Putra

Nama lengkapnya I Putu Gede Raka Prama Putra. Penulis, wartawan

Related Posts

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails
Next Post
Rawon, Rujak, Mi

Rawon, Rujak, Mi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co