2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pemimpin dan Ajaran Bhaerawa: Memimpin dengan Kesadaran, Bukan Sekadar Jabatan

Raka Prama Putra by Raka Prama Putra
September 7, 2025
in Esai
Pemimpin dan Ajaran Bhaerawa: Memimpin dengan Kesadaran, Bukan Sekadar Jabatan

acara Bedah Buku *Bhaerawa Jnana* karya Ida Dukuh Celagi

TULISAN ini lahir dari perenungan yang mendalam setelah saya berkesempatan menjadi moderator dalam acara Bedah Buku *Bhaerawa Jnana* karya Ida Dukuh Celagi. Buku ini membuka tabir Bhaerawa yang menekankan bahwa pembebasan dari penderitaan dapat dicapai melalui pelenyapan ego, keinginan, dan ketakutan.

Diskusi dalam acara tersebut membuka pandangan saya: bahwa ajaran Bhaerawa—yang selama ini kerap dipersepsikan ekstrem, gelap, atau bahkan mistis—justru menyimpan nilai-nilai yang luhur yang bisa menjadi pedoman kepemimpinan. Nilai-nilai yang relevan dan sangat kontekstual dengan tantangan zaman, bahkan untuk konteks sosial-politik masa kini.

Ajaran Bhaerawa tidak hanya menguraikan jalan spiritual secara personal, tetapi juga menunjukkan bagaimana kekuatan batin, keberanian moral, dan kedalaman kesadaran bisa menjadi fondasi kuat dalam menjalankan roda pemerintahan maupun kepemimpinan sosial.

Di tengah tantangan zaman yang kompleks, —krisis moral, ekonomi, ketimpangan sosial, kerusakan lingkungan, hingga polarisasi politik—muncul pertanyaan mendasar: seperti apakah pemimpin yang ideal? Bukan hanya cerdas dan tegas, seorang pemimpin sejati juga harus matang secara spiritual dan emosional.

Tulisan ini mencoba merefleksikan bagaimana nilai-nilai Bhaerawa bisa dihayati oleh pemimpin masa kini, sekaligus menelusuri jejak historis para pemimpin Nusantara—termasuk di Bali—yang pernah menapaki jalan ini dengan gagah dan bijak.

Jejak Bhaerawa dalam Sejarah Kepemimpinan Nusantara

Ajaran Bhaerawa merupakan bagian dari khazanah Tantrayana Hindu-Buddha yang dikenal berani, nonkonvensional, dan transformatif. Ajaran ini tidak sekadar berkembang di India atau Tibet, tetapi juga berakar kuat dalam sejarah Nusantara.

Di Jawa, ajaran ini pernah menjadi fondasi spiritual dan ideologis pemerintahan Raja Kertanegara dari Kerajaan Singhasari. Ia dikenal sebagai pemimpin dengan visi besar, keberanian luar biasa, dan keterbukaan spiritual—ciri khas pemimpin Bhaerawa.

Di Bali, ajaran ini juga dipercaya dianut oleh Ratu Mahendradatta, istri Raja Udayana Warmadewa dan ibu dari Raja Airlangga. Beberapa peninggalan arkeologis, seperti arca Bhaerawa di Pura Kebo Edan, menjadi saksi bagaimana ajaran ini menjadi bagian dari tradisi kerajaan dan spiritualitas elite pada masa lalu.

Para pemimpin tersebut bukan hanya penguasa politik, tetapi juga praktisi spiritual yang menghayati kekuasaan sebagai sarana pelayanan, bukan dominasi.

Ajaran Bhaerawa dalam Konteks Kepemimpinan

Secara esoterik, Bhaerawa adalah aspek Tuhan (Siwa) dalam manifestasi yang tegas, keras, bahkan destruktif terhadap ilusi, ketidakseimbangan, dan kebodohan. Namun, hal ini sebenarnya merupakan manifestasi kasih yang lebih tinggi.

Bhaerawa tidak mengajarkan lari dari kegelapan, melainkan menaklukkannya dari dalam. Dalam konteks kepemimpinan, ajaran ini menekankan:

•⁠  ⁠Penguasaan atas ego dan nafsu pribadi

•⁠  ⁠Ketegasan terhadap ketidakadilan

•⁠  ⁠Kemampuan mentransformasi krisis menjadi peluang

•⁠  ⁠Kepemimpinan yang berlandaskan kesadaran spiritual

Dengan penggalian ajaran ini, pemimpin tidak boleh hanya menyukai yang indah dan terang, tetapi harus mampu memasuki dan menaklukkan kekacauan, penderitaan, dan sisi gelap kekuasaan, agar dapat diubah menjadi kekuatan yang menyejahterakan.

Jadi, di era modern, nilai-nilai Bhaerawa tetap sangat relevan. Meski tanpa atribut spiritual formal, intisari ajarannya adalah kepemimpinan yang berani, rendah hati, dan transformatif.

Relevansi Ajaran Bhaerawa untuk Pemimpin Masa Kini

Berikut adalah nilai-nilai dari ajaran Bhaerawa yang bisa dijadikan prinsip kepemimpinan masa kini:

1. Empati dalam Kekuasaan

Pemimpin Bhaerawa hadir dalam penderitaan rakyat, bukan sekadar tampil dalam seremonial, bukan hanya dalam kemewahan.

Ia memahami bahwa kekuasaan adalah sarana untuk melayani, bukan menikmati. Ini relevan dalam menghadapi krisis ekonomi dan sosial. Pemimpin mesti turun tangan, bukan lepas tangan.

2. Berani Mengambil Keputusan Sulit

Layaknya Bhaerawa yang tidak ragu menghancurkan kejahatan, pemimpin ideal harus berani menindak korupsi, membela yang tertindas, dan menegakkan keadilan. Pemimpin ideal berdiri membela yang lemah, meski harus melawan arus.

3. Mengendalikan Nafsu Pribadi dan Citra

Dalam era pencitraan dan hedonisme dewasa ini, pemimpin Bhaerawa tidak butuh panggung atau pengakuan. Ia bekerja dalam keheningan, namun hasilnya berdampak nyata. Ia tidak “flexing”, tidak haus pujian, dan tidak memanipulasi kekuasaan untuk kepentingan pribadi.

4. Menjaga Keseimbangan Sakala dan Niskala

Pemimpin bukan hanya seorang birokrat, tetapi juga pemelihara nilai. Ia harus bisa mengatur dunia fisik (sakala) sembari menjaga kesucian, etika, dan spiritualitas masyarakat (niskala).

Kepemimpinan: Jalan Ke Dalam, Bukan Sekadar Naik ke Atas

Dalam dunia yang semakin bising oleh popularitas semu, ajaran Bhaerawa menjadi pengingat bahwa kekuatan sejati berasal dari kedalaman kesadaran, bukan sorotan kamera. Seorang pemimpin sejati adalah ia yang mampu menaklukkan dirinya sendiri, sebelum mencoba mengatur orang lain.

Kekuasaan sejati tidak terletak pada posisi, melainkan pada kekuatan batin untuk bertanggung jawab, melayani, dan bertransformasi demi kebaikan bersama. Keberanian menghadapi tantangan-tantangan yang ada untuk membebaskan masyarakat dari penderitaan.

Bhaerawa mengajarkan bahwa keberanian, empati, dan kedalaman jiwa jauh lebih penting daripada gelar, popularitas, atau pengaruh. Di sinilah pemimpin sejati lahir—bukan dari ambisi, tetapi dari kesadaran.

Di tengah dunia yang gaduh oleh ego dan citra, kita butuh lebih banyak pemimpin yang sunyi, namun bekerja dengan kekuatan sejati—seperti semangat Bhaerawa yang tak gentar menghadapi gelap, demi menghadirkan terang. Di titik inilah, ajaran Bhaerawa kembali menemukan relevansinya—bukan sebagai dogma, tapi sebagai jiwa kepemimpinan sejati.

Semoga tulisan ini menginspirasi para pemimpin—baik di lingkup pemerintahan, organisasi, maupun komunitas—untuk melihat kepemimpinan bukan sebagai tangga kekuasaan, tetapi sebagai jalan pelayanan spiritual yang mulia. [T]

Kemenuh, 6 September 2025
Rahajeng rahina Saraswati lan Banyupinaruh. Rahayu

Penulis: Raka Prama Putra
Editor: Jaswanto

Tags: bhaerawaBukukepemimpinanpemimpin
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Tatapan Rangga ke “Screenshot” Kekerasan: Transformasi Ruang Sosial Remaja dalam Sinema Indonesia (2002 – 2022)

Next Post

Rawon, Rujak, Mi

Raka Prama Putra

Raka Prama Putra

Nama lengkapnya I Putu Gede Raka Prama Putra. Penulis, wartawan

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Rawon, Rujak, Mi

Rawon, Rujak, Mi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co