5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Reinkarnasi Perilaku Baik melalui Momen Hari Saraswati

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
September 6, 2025
in Esai
Reinkarnasi Perilaku Baik melalui Momen Hari Saraswati

Banten Gebogan Karya Siswa/Foto Dok.: SMKN 1 Petang

HARI Saraswati yang jatuh pada Sabtu, 6 September 2025, seyogianya bukan sekadar ritual tahunan bagi umat Hindu. Ia adalah momen sakral untuk meneguhkan diri, mereinkarnasi perilaku baik, dan menghidupkan kembali karma yang suci dalam kehidupan kita. Kitab-kitab suci, lontar, dan ilmu pengetahuan yang dihaturkan bunga, canang, serta puja bukan benda mati yang hanya dipuja secara simbolik. Ia adalah sumber cahaya yang menuntun manusia agar tidak tersesat dalam kegelapan perilaku.

Saraswati, sebagai personifikasi ilmu pengetahuan suci, mengingatkan kita bahwa belajar bukan sekadar menghafal. Belajar adalah upaya menapaki jejak karma baik. Hal ini penting agar pengetahuan yang kita serap menjadi suluh bagi kehidupan. Lalu, apa gunanya hidup, bila kita gagal mewarisi perilaku yang baik dan suci, baik sebagai umat, sebagai anak bangsa, apalagi sebagai generasi muda yang kelak mewarisi negeri ini?

Pertanyaan itu semakin terasa relevan ketika kita menyaksikan hiruk pikuk demokrasi belakangan ini. Di berbagai daerah, di ibu kota, di panggung politik nasional, kita kerap melihat perilaku yang “melewati batas kewajaran”. Demokrasi seolah hanya pesta suara, bukan lagi perayaan adab. Padahal, Hindu telah sejak lama mengajarkan Tatwamasi—“aku adalah engkau, engkau adalah aku”—sebuah pengingat bahwa manusia adalah cermin satu sama lain.

Dalam hukum alam, kita mengenal aksi dan reaksi, stimulus dan respons. Namun, apakah setiap reaksi harus berupa kemarahan, hujatan, atau arogansi? Tidak. Semua semestinya tetap dalam koridor kemanusiaan yang menjunjung adab. Adab itu bersumber dari ajaran leluhur, yang diwariskan sejak berabad-abad sebagai kompas moral. Di sinilah kita perlu kearifan untuk menyelami makna sesungguhnya dari perayaan Saraswati, yakni membasuh diri, menenangkan pikiran, dan membaharui tekad untuk menjaga keluhuran budi.

Saraswati tidak hanya mengajarkan kita menulis dengan aksara, tetapi juga menulis perilaku dengan tinta kebaikan. Tidak hanya membaca kitab, tetapi juga membaca kehidupan dengan hati yang terang. Di tengah gempita efek demokrasi yang kadang kebablasan, mari kita jadikan Saraswati sebagai titik balik, bahwa ilmu pengetahuan sejati bukan hanya alat untuk cerdas, melainkan juga jalan untuk beradab. Karena tanpa adab, ilmu hanyalah pedang tanpa sarung; ia bisa melukai siapa saja, termasuk diri kita sendiri.

Banten Gebogan Karya Siswa/Foto Dok.: SMKN 1 Petang

Enam bulan lalu, dalam perayaan Saraswati sebelumnya, saya menulis bahwa Saraswati bukanlah sekadar mantenin buku—baik cetak maupun elektronik. Saraswati adalah harinya Sang Hyang Aji Sastra, hari ketika kita diajak kembali merenungi hakikat sastra sebagai pencerahan hidup. Ilmu pengetahuan yang sejatinya dipancarkan secara adil, merata, dan tanpa putus waktu, semestinya memberi keleluasaan bagi manusia untuk terus belajar sepanjang hayat.

Di sini, kita kembali pada hakikat sastra. Ada sastra tulis dan ada sastra lisan. Sastra tulis memang lahir belakangan, tetapi jauh sebelum itu manusia sudah ditempa oleh sastra lisan—kisah-kisah yang dituturkan dari mulut ke telinga, dari kakek-nenek ke cucu-cicit. Cerita rakyat, mitologi, petuah leluhur, semua itu adalah suluh pengetahuan yang menyinari jalan hidup. Sastra lisan tidak sekadar hiburan; ia sarat nilai moral, spiritual, dan etika sosial. Dari sinilah lahir leluhur Bali yang unggul, yang meninggalkan peradaban luhur hingga kini.

Kini menucul pertanyaan: mengapa kita, generasi hari ini, sering gagal memaknainya? Mengapa nilai-nilai luhur itu terkadang berhenti sekadar cerita, tidak menjelma perilaku? Inilah pentingnya introspeksi. Hari Saraswati seharusnya bukan hanya upacara simbolik, melainkan momen perenungan untuk mereinkarnasi kembali karma baik leluhur, agar Bali tidak sekadar bangga dengan warisan budaya, tetapi mampu menghidupinya di tengah tantangan zaman.

Saraswati mengingatkan kita, bahwa pengetahuan tidak boleh menjauh dari kehidupan. Ia harus hadir dalam demokrasi, dalam politik, dalam pendidikan, bahkan dalam keseharian paling sederhana sekalipun. Di tengah derasnya arus zaman, kita memerlukan Tatwamasi—aku adalah engkau, engkau adalah aku—sebagai landasan moral. Dengan begitu, perayaan Saraswati bukan hanya tentang menghaturkan sesajen pada buku dan lontar, tetapi tentang bagaimana kita menjaga adab, memperbaiki perilaku, dan mewariskan karma baik pada generasi berikutnya.

Melestarikan Tradisi/Foto Dok.: SMKN 1 Kintamani

Hari Saraswati adalah panggilan. Sebuah panggilan untuk kembali pada inti: bahwa ilmu pengetahuan sejati adalah cahaya yang menuntun, bukan bara yang membakar. Maka, Saraswati bukan hanya perayaan seremonial, melainkan sebuah pengingat keras: bahwa ilmu tanpa adab hanyalah ilusi, dan adab tanpa ilmu hanyalah kebodohan. Keduanya harus menyatu, agar cahaya pengetahuan benar-benar mampu menuntun kita menuju kehidupan yang lebih suci dan beradab.

Sebagaimana ajaran Rsi Markandeya yang tercatat dalam Markandeya Purana bahwa “Pengetahuan adalah air suci; ia membersihkan kegelapan hati dan memberi kesuburan pada budi.” Tanpa pengetahuan yang benar, manusia akan terjerumus pada kegelapan batin dan kehilangan arah moral. Oleh karena itu, Hari Saraswati mestinya menjadi titik balik untuk menyalakan cahaya pengetahuan agar karma baik terus bersemi dalam kehidupan. (Markandeya Purana,  terjemahan dan kisah dalam lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul).

Sejalan dengan itu, Ir. Soekarno dalam pidatonya yang dihimpun dalam Di Bawah Bendera Revolusi (1959) pernah mengingatkan, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang beradab, bukan semata-mata bangsa yang besar bangunannya. Pembangunan tanpa adab hanyalah meninggikan tembok peradaban tanpa fondasi yang kokoh.” Pesan Bung Karno ini terasa sangat relevan di tengah euforia demokrasi hari ini, ketika perilaku politik seringkali melampaui batas kewajaran.

Maka dari itu, Hari Saraswati bukan hanya perayaan simbolik terhadap buku, lontar, atau literasi pengetahuan. Lebih jauh merupakan momentum moral ketika kita mewarisi laku bijak leluhur, menghidupkan kembali ajaran adab, serta mereinkarnasi karma baik agar Bali – dan bangsa Indonesia – tetap tumbuh dengan cahaya ilmu yang suci. [T]

Tags: Hari SaraswatihinduPendidikanSMKN 1 Kintamani
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jambore GenRe Kota Denpasar 2025: Dua Hari Satu Malam Penuh Canda, Solidaritas, dan Harapan

Next Post

Puisi-puisi Rizan Panda | Sa Lhéë Sa Duwa

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Rizan Panda  |  Sa Lhéë Sa Duwa

Puisi-puisi Rizan Panda | Sa Lhéë Sa Duwa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co