25 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Reinkarnasi Perilaku Baik melalui Momen Hari Saraswati

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
September 6, 2025
in Esai
Reinkarnasi Perilaku Baik melalui Momen Hari Saraswati

Banten Gebogan Karya Siswa/Foto Dok.: SMKN 1 Petang

HARI Saraswati yang jatuh pada Sabtu, 6 September 2025, seyogianya bukan sekadar ritual tahunan bagi umat Hindu. Ia adalah momen sakral untuk meneguhkan diri, mereinkarnasi perilaku baik, dan menghidupkan kembali karma yang suci dalam kehidupan kita. Kitab-kitab suci, lontar, dan ilmu pengetahuan yang dihaturkan bunga, canang, serta puja bukan benda mati yang hanya dipuja secara simbolik. Ia adalah sumber cahaya yang menuntun manusia agar tidak tersesat dalam kegelapan perilaku.

Saraswati, sebagai personifikasi ilmu pengetahuan suci, mengingatkan kita bahwa belajar bukan sekadar menghafal. Belajar adalah upaya menapaki jejak karma baik. Hal ini penting agar pengetahuan yang kita serap menjadi suluh bagi kehidupan. Lalu, apa gunanya hidup, bila kita gagal mewarisi perilaku yang baik dan suci, baik sebagai umat, sebagai anak bangsa, apalagi sebagai generasi muda yang kelak mewarisi negeri ini?

Pertanyaan itu semakin terasa relevan ketika kita menyaksikan hiruk pikuk demokrasi belakangan ini. Di berbagai daerah, di ibu kota, di panggung politik nasional, kita kerap melihat perilaku yang “melewati batas kewajaran”. Demokrasi seolah hanya pesta suara, bukan lagi perayaan adab. Padahal, Hindu telah sejak lama mengajarkan Tatwamasi—“aku adalah engkau, engkau adalah aku”—sebuah pengingat bahwa manusia adalah cermin satu sama lain.

Dalam hukum alam, kita mengenal aksi dan reaksi, stimulus dan respons. Namun, apakah setiap reaksi harus berupa kemarahan, hujatan, atau arogansi? Tidak. Semua semestinya tetap dalam koridor kemanusiaan yang menjunjung adab. Adab itu bersumber dari ajaran leluhur, yang diwariskan sejak berabad-abad sebagai kompas moral. Di sinilah kita perlu kearifan untuk menyelami makna sesungguhnya dari perayaan Saraswati, yakni membasuh diri, menenangkan pikiran, dan membaharui tekad untuk menjaga keluhuran budi.

Saraswati tidak hanya mengajarkan kita menulis dengan aksara, tetapi juga menulis perilaku dengan tinta kebaikan. Tidak hanya membaca kitab, tetapi juga membaca kehidupan dengan hati yang terang. Di tengah gempita efek demokrasi yang kadang kebablasan, mari kita jadikan Saraswati sebagai titik balik, bahwa ilmu pengetahuan sejati bukan hanya alat untuk cerdas, melainkan juga jalan untuk beradab. Karena tanpa adab, ilmu hanyalah pedang tanpa sarung; ia bisa melukai siapa saja, termasuk diri kita sendiri.

Banten Gebogan Karya Siswa/Foto Dok.: SMKN 1 Petang

Enam bulan lalu, dalam perayaan Saraswati sebelumnya, saya menulis bahwa Saraswati bukanlah sekadar mantenin buku—baik cetak maupun elektronik. Saraswati adalah harinya Sang Hyang Aji Sastra, hari ketika kita diajak kembali merenungi hakikat sastra sebagai pencerahan hidup. Ilmu pengetahuan yang sejatinya dipancarkan secara adil, merata, dan tanpa putus waktu, semestinya memberi keleluasaan bagi manusia untuk terus belajar sepanjang hayat.

Di sini, kita kembali pada hakikat sastra. Ada sastra tulis dan ada sastra lisan. Sastra tulis memang lahir belakangan, tetapi jauh sebelum itu manusia sudah ditempa oleh sastra lisan—kisah-kisah yang dituturkan dari mulut ke telinga, dari kakek-nenek ke cucu-cicit. Cerita rakyat, mitologi, petuah leluhur, semua itu adalah suluh pengetahuan yang menyinari jalan hidup. Sastra lisan tidak sekadar hiburan; ia sarat nilai moral, spiritual, dan etika sosial. Dari sinilah lahir leluhur Bali yang unggul, yang meninggalkan peradaban luhur hingga kini.

Kini menucul pertanyaan: mengapa kita, generasi hari ini, sering gagal memaknainya? Mengapa nilai-nilai luhur itu terkadang berhenti sekadar cerita, tidak menjelma perilaku? Inilah pentingnya introspeksi. Hari Saraswati seharusnya bukan hanya upacara simbolik, melainkan momen perenungan untuk mereinkarnasi kembali karma baik leluhur, agar Bali tidak sekadar bangga dengan warisan budaya, tetapi mampu menghidupinya di tengah tantangan zaman.

Saraswati mengingatkan kita, bahwa pengetahuan tidak boleh menjauh dari kehidupan. Ia harus hadir dalam demokrasi, dalam politik, dalam pendidikan, bahkan dalam keseharian paling sederhana sekalipun. Di tengah derasnya arus zaman, kita memerlukan Tatwamasi—aku adalah engkau, engkau adalah aku—sebagai landasan moral. Dengan begitu, perayaan Saraswati bukan hanya tentang menghaturkan sesajen pada buku dan lontar, tetapi tentang bagaimana kita menjaga adab, memperbaiki perilaku, dan mewariskan karma baik pada generasi berikutnya.

Melestarikan Tradisi/Foto Dok.: SMKN 1 Kintamani

Hari Saraswati adalah panggilan. Sebuah panggilan untuk kembali pada inti: bahwa ilmu pengetahuan sejati adalah cahaya yang menuntun, bukan bara yang membakar. Maka, Saraswati bukan hanya perayaan seremonial, melainkan sebuah pengingat keras: bahwa ilmu tanpa adab hanyalah ilusi, dan adab tanpa ilmu hanyalah kebodohan. Keduanya harus menyatu, agar cahaya pengetahuan benar-benar mampu menuntun kita menuju kehidupan yang lebih suci dan beradab.

Sebagaimana ajaran Rsi Markandeya yang tercatat dalam Markandeya Purana bahwa “Pengetahuan adalah air suci; ia membersihkan kegelapan hati dan memberi kesuburan pada budi.” Tanpa pengetahuan yang benar, manusia akan terjerumus pada kegelapan batin dan kehilangan arah moral. Oleh karena itu, Hari Saraswati mestinya menjadi titik balik untuk menyalakan cahaya pengetahuan agar karma baik terus bersemi dalam kehidupan. (Markandeya Purana,  terjemahan dan kisah dalam lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul).

Sejalan dengan itu, Ir. Soekarno dalam pidatonya yang dihimpun dalam Di Bawah Bendera Revolusi (1959) pernah mengingatkan, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang beradab, bukan semata-mata bangsa yang besar bangunannya. Pembangunan tanpa adab hanyalah meninggikan tembok peradaban tanpa fondasi yang kokoh.” Pesan Bung Karno ini terasa sangat relevan di tengah euforia demokrasi hari ini, ketika perilaku politik seringkali melampaui batas kewajaran.

Maka dari itu, Hari Saraswati bukan hanya perayaan simbolik terhadap buku, lontar, atau literasi pengetahuan. Lebih jauh merupakan momentum moral ketika kita mewarisi laku bijak leluhur, menghidupkan kembali ajaran adab, serta mereinkarnasi karma baik agar Bali – dan bangsa Indonesia – tetap tumbuh dengan cahaya ilmu yang suci. [T]

Tags: Hari SaraswatihinduPendidikanSMKN 1 Kintamani
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jambore GenRe Kota Denpasar 2025: Dua Hari Satu Malam Penuh Canda, Solidaritas, dan Harapan

Next Post

Puisi-puisi Rizan Panda | Sa Lhéë Sa Duwa

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

by Sugi Lanus
August 25, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

Read moreDetails

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Rizan Panda  |  Sa Lhéë Sa Duwa

Puisi-puisi Rizan Panda | Sa Lhéë Sa Duwa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co