5 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Reinkarnasi Perilaku Baik melalui Momen Hari Saraswati

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
September 6, 2025
in Esai
Reinkarnasi Perilaku Baik melalui Momen Hari Saraswati

Banten Gebogan Karya Siswa/Foto Dok.: SMKN 1 Petang

HARI Saraswati yang jatuh pada Sabtu, 6 September 2025, seyogianya bukan sekadar ritual tahunan bagi umat Hindu. Ia adalah momen sakral untuk meneguhkan diri, mereinkarnasi perilaku baik, dan menghidupkan kembali karma yang suci dalam kehidupan kita. Kitab-kitab suci, lontar, dan ilmu pengetahuan yang dihaturkan bunga, canang, serta puja bukan benda mati yang hanya dipuja secara simbolik. Ia adalah sumber cahaya yang menuntun manusia agar tidak tersesat dalam kegelapan perilaku.

Saraswati, sebagai personifikasi ilmu pengetahuan suci, mengingatkan kita bahwa belajar bukan sekadar menghafal. Belajar adalah upaya menapaki jejak karma baik. Hal ini penting agar pengetahuan yang kita serap menjadi suluh bagi kehidupan. Lalu, apa gunanya hidup, bila kita gagal mewarisi perilaku yang baik dan suci, baik sebagai umat, sebagai anak bangsa, apalagi sebagai generasi muda yang kelak mewarisi negeri ini?

Pertanyaan itu semakin terasa relevan ketika kita menyaksikan hiruk pikuk demokrasi belakangan ini. Di berbagai daerah, di ibu kota, di panggung politik nasional, kita kerap melihat perilaku yang “melewati batas kewajaran”. Demokrasi seolah hanya pesta suara, bukan lagi perayaan adab. Padahal, Hindu telah sejak lama mengajarkan Tatwamasi—“aku adalah engkau, engkau adalah aku”—sebuah pengingat bahwa manusia adalah cermin satu sama lain.

Dalam hukum alam, kita mengenal aksi dan reaksi, stimulus dan respons. Namun, apakah setiap reaksi harus berupa kemarahan, hujatan, atau arogansi? Tidak. Semua semestinya tetap dalam koridor kemanusiaan yang menjunjung adab. Adab itu bersumber dari ajaran leluhur, yang diwariskan sejak berabad-abad sebagai kompas moral. Di sinilah kita perlu kearifan untuk menyelami makna sesungguhnya dari perayaan Saraswati, yakni membasuh diri, menenangkan pikiran, dan membaharui tekad untuk menjaga keluhuran budi.

Saraswati tidak hanya mengajarkan kita menulis dengan aksara, tetapi juga menulis perilaku dengan tinta kebaikan. Tidak hanya membaca kitab, tetapi juga membaca kehidupan dengan hati yang terang. Di tengah gempita efek demokrasi yang kadang kebablasan, mari kita jadikan Saraswati sebagai titik balik, bahwa ilmu pengetahuan sejati bukan hanya alat untuk cerdas, melainkan juga jalan untuk beradab. Karena tanpa adab, ilmu hanyalah pedang tanpa sarung; ia bisa melukai siapa saja, termasuk diri kita sendiri.

Banten Gebogan Karya Siswa/Foto Dok.: SMKN 1 Petang

Enam bulan lalu, dalam perayaan Saraswati sebelumnya, saya menulis bahwa Saraswati bukanlah sekadar mantenin buku—baik cetak maupun elektronik. Saraswati adalah harinya Sang Hyang Aji Sastra, hari ketika kita diajak kembali merenungi hakikat sastra sebagai pencerahan hidup. Ilmu pengetahuan yang sejatinya dipancarkan secara adil, merata, dan tanpa putus waktu, semestinya memberi keleluasaan bagi manusia untuk terus belajar sepanjang hayat.

Di sini, kita kembali pada hakikat sastra. Ada sastra tulis dan ada sastra lisan. Sastra tulis memang lahir belakangan, tetapi jauh sebelum itu manusia sudah ditempa oleh sastra lisan—kisah-kisah yang dituturkan dari mulut ke telinga, dari kakek-nenek ke cucu-cicit. Cerita rakyat, mitologi, petuah leluhur, semua itu adalah suluh pengetahuan yang menyinari jalan hidup. Sastra lisan tidak sekadar hiburan; ia sarat nilai moral, spiritual, dan etika sosial. Dari sinilah lahir leluhur Bali yang unggul, yang meninggalkan peradaban luhur hingga kini.

Kini menucul pertanyaan: mengapa kita, generasi hari ini, sering gagal memaknainya? Mengapa nilai-nilai luhur itu terkadang berhenti sekadar cerita, tidak menjelma perilaku? Inilah pentingnya introspeksi. Hari Saraswati seharusnya bukan hanya upacara simbolik, melainkan momen perenungan untuk mereinkarnasi kembali karma baik leluhur, agar Bali tidak sekadar bangga dengan warisan budaya, tetapi mampu menghidupinya di tengah tantangan zaman.

Saraswati mengingatkan kita, bahwa pengetahuan tidak boleh menjauh dari kehidupan. Ia harus hadir dalam demokrasi, dalam politik, dalam pendidikan, bahkan dalam keseharian paling sederhana sekalipun. Di tengah derasnya arus zaman, kita memerlukan Tatwamasi—aku adalah engkau, engkau adalah aku—sebagai landasan moral. Dengan begitu, perayaan Saraswati bukan hanya tentang menghaturkan sesajen pada buku dan lontar, tetapi tentang bagaimana kita menjaga adab, memperbaiki perilaku, dan mewariskan karma baik pada generasi berikutnya.

Melestarikan Tradisi/Foto Dok.: SMKN 1 Kintamani

Hari Saraswati adalah panggilan. Sebuah panggilan untuk kembali pada inti: bahwa ilmu pengetahuan sejati adalah cahaya yang menuntun, bukan bara yang membakar. Maka, Saraswati bukan hanya perayaan seremonial, melainkan sebuah pengingat keras: bahwa ilmu tanpa adab hanyalah ilusi, dan adab tanpa ilmu hanyalah kebodohan. Keduanya harus menyatu, agar cahaya pengetahuan benar-benar mampu menuntun kita menuju kehidupan yang lebih suci dan beradab.

Sebagaimana ajaran Rsi Markandeya yang tercatat dalam Markandeya Purana bahwa “Pengetahuan adalah air suci; ia membersihkan kegelapan hati dan memberi kesuburan pada budi.” Tanpa pengetahuan yang benar, manusia akan terjerumus pada kegelapan batin dan kehilangan arah moral. Oleh karena itu, Hari Saraswati mestinya menjadi titik balik untuk menyalakan cahaya pengetahuan agar karma baik terus bersemi dalam kehidupan. (Markandeya Purana,  terjemahan dan kisah dalam lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul).

Sejalan dengan itu, Ir. Soekarno dalam pidatonya yang dihimpun dalam Di Bawah Bendera Revolusi (1959) pernah mengingatkan, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang beradab, bukan semata-mata bangsa yang besar bangunannya. Pembangunan tanpa adab hanyalah meninggikan tembok peradaban tanpa fondasi yang kokoh.” Pesan Bung Karno ini terasa sangat relevan di tengah euforia demokrasi hari ini, ketika perilaku politik seringkali melampaui batas kewajaran.

Maka dari itu, Hari Saraswati bukan hanya perayaan simbolik terhadap buku, lontar, atau literasi pengetahuan. Lebih jauh merupakan momentum moral ketika kita mewarisi laku bijak leluhur, menghidupkan kembali ajaran adab, serta mereinkarnasi karma baik agar Bali – dan bangsa Indonesia – tetap tumbuh dengan cahaya ilmu yang suci. [T]

Tags: Hari SaraswatihinduPendidikanSMKN 1 Kintamani
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jambore GenRe Kota Denpasar 2025: Dua Hari Satu Malam Penuh Canda, Solidaritas, dan Harapan

Next Post

Puisi-puisi Rizan Panda | Sa Lhéë Sa Duwa

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Rizan Panda  |  Sa Lhéë Sa Duwa

Puisi-puisi Rizan Panda | Sa Lhéë Sa Duwa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co