DI Kabupaten Tabanan ada pergelaran seni budaya yang mempertemukan pemerintah, seniman, budayawan, dan masyarakat. Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon hadir dalam kegiatan itu, dan langsung menyaksikan pergelaran sekaligus membuka ruang dialog strategis mengenai pengembangan budaya Indonesia di kancah global.
Acara ini digagas Empu Drs. I Gusti Nengah Nurata, M.Sn., dengan dukungan penuh Pemerintah Kabupaten Tabanan. Kegiatan itu menghadirkan pengalaman budaya yang memikat melalui tabuhan gamelan, tarian klasik, pembacaan puisi, dan pameran seni rupa—sebuah perayaan taksu, semangat hidup khas Bali.
Tabanan: Simbol Kehidupan dan Tradisi yang Berkelanjutan
Kegiatan dibuka di Jero Tengah, Banjar Tegal Belodan, dalam suasana sakral yang menegaskan kesinambungan lintas generasi. Anak-anak, remaja, dan orang dewasa berbaur dalam tabuhan gamelan, menandai bahwa tradisi tetap hidup dan diwariskan.
Tari Kebyar Duduk karya maestro I Ketut Marya dibawakan penuh penghayatan oleh I Putu Gede Raka Anggara Guna. Sementara pembacaan puisi Tabanan dalam Untaian Kata dan Rasa disampaikan I Gusti Ayu Putu Mahindu Dewi dan penyair Putu Bawa Samar Gantang. Semua itu menjadi jembatan harmonis antara tradisi dan kontemporer.

Menbud Fadli Zon dalam acara seni budaya di Tabanan | Foto: Surya Darma
Dalam sambutannya, Menteri Fadli Zon mengatakan, dari pengalaman kunjungannya ke lebih dari 100 negara menunjukkan bahwa keanekaragaman seni dan budaya Indonesia jauh melampaui banyak bangsa lain. Tabanan, menurutnya, bukan sekadar menyimpan warisan sejarah, tetapi juga memiliki energi baru untuk mengembangkan budaya kontemporer yang berpijak pada tradisi—modal penting agar Indonesia sejajar dengan pusat kebudayaan dunia.
Pameran Seni Rupa: Dari Bali untuk Dunia
Di Gedung Kesenian I Ketut Maria, berlangsung pameran seni rupa dari Maha Rupa Batukaru bertajuk Aneka Warna Gaya di Kota Pelangi, yang terselenggara berkat dedikasi pengurus Maha Rupa Batukaru: Nyoman Wijaya, Wayan Naya, dan I Wayan Susana. Dalam waktu singkat, mereka berhasil menghadirkan karya dari 30 seniman lokal, lengkap dengan katalog pameran, dan didukung sepenuhnya oleh Pemerintah Kabupaten Tabanan. Pameran ini menjadi wujud nyata komitmen komunitas seni dan pemerintah daerah dalam mendorong pertumbuhan seni rupa lokal.

Sastrawan Putu Bawa Samar Gantang baca puisi | Foto: Surya Darma
Pembukaan pameran ditandai dengan penaburan bunga sandat oleh Menteri Kebudayaan, diiringi lagu “Bungan Sandat” ciptaan I Gusti Agung Ketut Wira Sutha. Hadir pula tokoh penting, antara lain Ida Cokorda Anglurah Puri Agung Tabanan, Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya, dan I Putu Supadma Rudana, MBA (Presiden The Rudana Art Gallery and Museum, Ketua Umum Asosiasi Seni Indonesia).
Karya-karya yang dipamerkan menyingkap denyut agraris Tabanan, menampilkan seni rupa modern dan kontemporer yang mencerminkan dinamika zaman. Bali terbukti tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga melahirkan inovasi yang relevan secara global.
Temu Wicara Budaya: Repatriasi Artefak dan Masa Depan Museum
Diskusi dilanjutkan dengan Temu Wicara Budaya, menghadirkan tokoh masyarakat, akademisi, budayawan, dan keluarga besar Puri Arya Kenceng. Tema utama adalah repatriasi artefak Puputan Tabanan dan Puputan Badung dari Belanda ke Indonesia.
Forum dipandu Empu Drs. I Gusti Nengah Nurata, M.Sn., dengan narasumber Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Bupati Sanjaya, dan I Putu Supadma Rudana, MBA.
Dalam forum ini, Putu Supadma Rudana menegaskan museum bukan sekadar ruang penyimpanan, melainkan mercusuar peradaban. Kehadiran museum bertaraf internasional di Bali akan memperkuat posisi Indonesia di peta kebudayaan dunia, sekaligus menjadi pusat edukasi, apresiasi, dan diplomasi budaya.
“Artefak yang baru dipulangkan harus ditempatkan dalam ruang yang bermartabat, menjadi inspirasi dan kebanggaan generasi mendatang,” kata Supadma Rudana.

Menbud Fadli Zon di pameran lukisan | Foto: Surya Darma
Menteri Fadli Zon menambahkan, visi Putu Supadma Rudana sejalan dengan misi Kementerian Kebudayaan. “Melalui Dana Indonesiana, yang memanfaatkan Dana Abadi Kebudayaan LPDP, kami mendukung fasilitas budaya strategis yang mengangkat citra Indonesia di mata dunia,” kata Fadli Zon.
Forum ini menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha dalam membangun infrastruktur budaya berkelas dunia.
Harapan Pelaku Seni, Pariwisata, dan Investasi
Seniman dan pelaku pariwisata I Gede Made Surya Darma menyampaikan aspirasi strategis melalui tulisan di media ini: Tabanan membutuhkan museum dan ruang pameran bertaraf internasional. Bali, yang menerima lebih dari 16,4 juta wisatawan per tahun, memiliki potensi besar menjadikan fasilitas ini pusat kebudayaan sekaligus peluang investasi strategis.
“Seni adalah napas Bali. Museum internasional di Tabanan akan mengangkat karya seniman lokal ke panggung global dan menjadi magnet baru pariwisata budaya. Pemerintah dan investor seharusnya melihat ini sebagai warisan sekaligus peluang emas bagi Bali dan Indonesia,” kata Surya Darma.

Foto bersama para seniman Tabanan | Foto: Surya Darma
Para seniman menyoroti manfaat konkret museum dan galeri bertaraf internasional, yakni menjadi ruang diplomasi budaya Indonesia di tingkat global, menjadi daya tarik baru pariwisata budaya berbasis pengalaman, memberikan nilai tambah ekonomi melalui industri kreatif, dan emperkuat posisi Bali sejajar dengan pusat seni dunia seperti Venice Biennale, Art Basel, dan Art SG di Singapura.
Dengan terwujudnya museum dan ruang pameran bertaraf internasional di Tabanan, Bali akan semakin memperkuat branding sebagai destinasi seni dan budaya dunia, sekaligus menjadi hub inovasi kreatif dan diplomasi budaya yang menarik investor nasional maupun internasional. [T]
Penulis: I Gede Made Surya Darma
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:



























