DESA Adat Ubud kembali menggelar upacara Pitra Yadnya Ngaben Massal yang bertajuk Atiwa Tiwa Kertha Masa Kinembulan. Sebuah upacara besar dan suci yang melibatkan puluhan sawa dari empat Banjar di Desa Adat Ubud.
Persiapan dan prosesi upacara ini berlangsung selama lebih dari sebulan, dengan puncaknya jatuh pada hari Sabtu Saniscara Pon Matal, 5 Juli 2025. Terakhir upacara seperti ini dilakukan pada tahun 2022, kala itu dilangsungkan dalam suasana pandemi Covid 19.
Kondisi pandemi telah memaksa timbulnya berbagai macam penyesuaian, pembaharuan dan alternatif baru dalam pelaksanaan ngaben masal maupun tradisi ngaben di Desa Ubud. Hal ini kemudian tercermin dalam ngaben massal tahun 2025, yang tetap berfokus pada esensi ritual ngaben.
Penyelenggaraan upacara ngaben massal di Desa Adat Ubud dibagi dalam empat kelompok dengan mengacu pada empat banjar adat yang ada di Desa Adat Ubud, yaitu Kelompok Banjar Adat Ubud Kaja, Ubud Kelod, Sambahan dan Ubud Tengah. Setiap kelompok menyiapkan segala keperluan upacara atau upakara di Bale Banjar atau Bale Adat masing-masing.
Kelompok Banjar Adat Ubud Kaja, di bawah koordinasi Prajuru Banjar Adat, Prajuru Desa Adat Ubud Kaja, Kelihan Penangga, bersama Penangga dan Krama Banjar Adat Ubud Kaja telah memulai persiapan upacara sejak awal Juni 2025.

Ngatur Piuning di Pura Dalem Desa Adat Ubud | Dokumen: Tim Media Ubud Kaja, 2025
Persiapan diawali dengan mengadakan paruman adat atau pertemuan adat yang membahas segala persiapan serta membentuk panitia yang akan membantu prajuru dan penangga dalam mengerjakan hal-hal yang dibutuhkan. Pengerjaan berbagai sarana upacara dan lain-lain dipusatkan di Bale Banjar Adat Ubud Kaja di Jalan Kajeng Ubud.
Rangkaian prosesi upacara dimulai pada Saniscara Umanis Medangkungan, Sabtu 28 Juni 2025, ditandai dengan ritual Nanceb Karya atau “memulai karya”. Nanceb karya merujuk pada tahap awal dalam rangkaian upacara besar yang bertujuan untuk memohon kelancaran dan kesuksesan pelaksanaan upacara kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa. Ritual ini dilaksanakan oleh para penangga (keluarga pemilik sawa), dipimpin oleh pemangku adat.
Buda Kliwon Matal, Rabu 2 Juli 2025, di bawah naungan awan mendung yang setia menghiasi langit Ubud, tidak menyurutkan semangat para penangga dan semeton (keluarga penangga) bersiaga sejak pagi menyongsong ritual suci yang disebut ngewangun.

Ngewangun di Setra Desa Adat Ubud | Dokumen: Tim Media Ubud Kaja, 2025
Melalui momen upacara ini mereka akan berkesempatan bersua kembali, menatap dan menyentuh tubuh anggota keluarga yang telah mendahului. Di dalamnya terdapat rangkaian acara yang dimulai dari ritual Nunas Tirta dan Ngatur Piuning ke Pura Dalem dan Pura Prajapati Desa Adat Ubud, yang bermakna permohonan ijin kepada Ida Bethara Dalem agar roh sang pitara dapat diupacarai.
Dilanjutkan dengan ritual Ngeplugin dan Ngedetin, sebuah ritual sakral untuk memanggil dan menarik kembali roh yang telah meninggal oleh sanak keluarga. Ritual ini dilakukan untuk mereka yang masih dikubur (mekingsan ring pertiwi) maupun yang telah dibakar (mekingsan ring geni).
Khusus sawa yang masih dikubur akan dilakukan prosesi Ngagah Taulan-penggalian jenazah. Pada kesempatan ini keluarga akan berkesempatan melihat jasad yang telah terkubur lebih dari setahun. Ritual ini akan menghadirkan ragam emosi, haru, sedih dan bahagia terkumpul menjadi satu.
Kelompok Banjar Ubud Kaja menyertakan 18 sawa dalam upacara ngaben massal 2025. Dengan rincian 14 sawa mekingsan ring pertiwi dan sisanya telah mekingsan ring Geni. Dalam prosesi Ngagah Taulan, prajuru adat melibatkan krama banjar yang dibagi dalam 14 kelompok sesuai dengan jumlah sawa yang mekingsan ring pertiwi. Krama banjar adat diminta untuk membantu penangga dan semeton untuk menggali dan mengangkat jenazah sawa yang ada di dalam kuburan.

Pembakaran Jenazah di Setra Desa Adat Ubud | Dokumen: Tim Media Ubud Kaja, 2025
Langit yang sempat mendung di pagi hari syukur tidak sampai menurunkan hujan lebat, hanya rintik sekejap yang meneduhkan suasana. Menjelang siang semeton dan krama adat sudah siaga di pusaran kuburan sanak keluarga masing-masing. Proses penggalian dilakukan dengan alat sederhana seperti cangkul dan sekop yang telah diupacarai.
Setiap anggota keluarga dan krama banjar yang didominasi para pria bergiliran menggali, mencangkul, membedah kuburan. Pekikan bergemuruh menggema diselingi dengan teriakan bahagia ketika ujung cangkul mereka menyentuh kain kafan pembungkus tubuh jenazah keluarga. Tanda tubuh sanak keluarga tercinta ditemui. Dengan hati-hati mereka menarik dan memindahkan jenazah ke atas tikar yang sudah disiapkan. Seekor anak ayam dilepas ke liang lahat sebagai gantinya.
Semua jenazah yang telah diangkat, hanya menyisakan tulang belulang. Sudah menjadi kesadaran dan kesepakatan di Desa Ubud, krama yang meninggal setelah setahun menjelang ngaben massal, maka jenazah mereka harus dibakar atau mekingsan ring geni. Sehingga ketika pelaksaan ritus ngewangun jenazahnya tidak menimbulkan bau. Tulang belulang jenazah setiap keluarga, dibersihkan untuk kemudian akan dilakukan prosesi pembakaran.

Ritual Melaspas dan Mebumi Suda di Setra Desa Adat Ubud | Dokumen: Tim Media Ubud Kaja. 2025
Sore hari menjelang, Krama Desa Adat Ubud dan semeton hadir di Bale Petak untuk melaksanakan prosesi Nusang atau Nyiramin Layon. Ritual ini dipandu oleh walaka dan dipuput pemangku. Ritual nyiramin layon ini dilakukan pada panusan, bale-bale kecil dengan atap kain kafan yang disebut leluwur, bertiang empat yang dihias dengan kain motif poleng khas Banjar Ubud Kaja.
Satu persatu sawa yang disimbolkan dengan pengadeg (berupa gambar wajah pada sebidang kayu cendana) dibersihkan, dilengkapi dengan baju dan kain serta dihias dengan bunga dan wewangian.
Setelah itu, seluruh keluarga memanjatkan doa dan penghormatan terakhir kepada leluhur mereka. Menjelang malam prosesi dilanjutkan dengan ritual Ngayab Saji Tarpana, dipimpin oleh Ida Pedanda Gede Putra Jungutan Gria Peling Padang tegal. Prosesi ini merupakan simbol bhakti keluarga kepada leluhur yang telah mendahului, dengan menghaturkan persembahan saji tarpana.
Wrespati Umanis Matal, 3 Juli 2025, kegiatan dilanjutkan di lokasi Petak. Upacara dimulai pada siang hari dengan melakukan ritual Muserin Bendusa dan Ngulapin Tumpang Salu. Dalam ritual ini sawa dilinggihkan atau ditempatkan di tumpang salu.

Memindahkan petulangan ke Bale Pebasmian di Setra Desa Adat Ubud | Dokumen: Tim Media Ubud Kaja. 2025
Menjelang malam riutal Ngayab Saji Tarpana kembali dilaksanakan yang dipuput oleh Ida Bagus Adnyana Wijaya Gria Peling Padangtegal. Pada malam hari menjelang tengah malam dilakukan upacara Masalin, sebuah ritual sakral yang menyertai tahapan transformasi roh.
Sukra Paing Matal, tanggal 4 Juli 2025, warga dan keluarga melaksanakan iring-iringan Ngening ke Beji Jungut untuk memohon toya ning, air suci yang akan digunakan untuk menyucikan sawa. Meskipun hujan cukup deras membasahi bumi, tidak menghalangi jalannya prosesi ngening.
Tempat sumber mata air yang dimohonkan untuk air suci upacara ngaben berada di sungai sebelah selatan SD 1 Ubud. Perjalanan dari petak melalui kepadatan lalul lintas Ubud, melewati perempatan dan bencingah puri Ubud, untuk kemudian ke Selatan menuju wates desa adat Ubud di Muwa.
Sepulang dari sana, prosesi dilanjutkan dengan Ngreka Kajang yang dipuput oleh Ida Pedanda Istri Rai Jungutan, dan kemudian Upadesa (Ngaskara) yang melibatkan seluruh keluarga dan krama adat yang dipuput oleh dua sulinggih yaitu Ida Pedanda Gde Putra Jungutan Gria Peling Padangtegal dan Ida Pedanda Gde Jelantik Gria Gunung Sari. Tengah malam, sejumlah perwakilan keluarga melaksanakan ritual Nunas Toya Penembak di Temuku Aya di Banjar Ambengan Desa Peliatan.
Puncak upacara berlangsung Sabtu Saniscara Pon Matal, 5 Juli 2025. Sejak dini hari telah dilaksanakan ritual-ritual, dimulai dengan prosesi Mapralina yang dilaksanakan di Bale Petak. Ritual ini dilakukan sebagai simbol penyucian badan kasar sang pitara. Dilanjutkan dengan Mebumi Suda di Setra, dipuput oleh Ida Pedanda Putra Jungutan, sebagai simbol pembersihan spiritual tempat pembakaran.
Di Catus Pata, perempatan agung Desa Adat Ubud, dilaksanakan matur piuning oleh para penangga untuk memohon restu kelancaran upacara. Menjelang siang, dilakukan melaspas petulangan, penyucian wadah jenazah berbentuk lembu hitam dan singa bersayap yang dipimpin oleh Ida Peranda Mangesrami Sidemen Gria Mangasrami Ubud.
Selanjutnya digelar prosesi caru penglamuk yang dipuput oleh pemangku Pura Prajapati, disusul dengan iring-iringan pengadeg, petulangan dan berbagai perlengkapan lainnya dari lokasi bale petak menuju setra. Iring-iringan melakukan ritual prasawiya, yaitu mengelilingi petulangan dan tempat ritual dengan arah kiri ke kanan atau berlawanan arah jarum jam sebanyak tiga kali.

Iring-iringan sawa menuju Setra | Dokumen: Tim Media Ubud Kaja, 2025
Setelah itu, dilaksanakan prosesi pengiriman yang dipuput oleh Ida Pedanda Gde Jungutan Manuaba. Pengadeg sebagai simbol sang sawa, kemudian diambil dari kobaran api untuk dilakukan prosesi Nguyeg (mengumpulkan dan menghaluskan sisa pembakaran), dan dilanjutkan dengan Nganyut (penghanyutan sisa tulang ke Sungai Campuhan).
Ritual nganyut di sungai Campuhan dipuput oleh Ida Pedanda Putu Peling Gria Peling Batubulan. Menjelang malam, seluruh rangkaian ditutup dengan ritual Mepegat, simbolis pemutusan ikatan antara keluarga dan roh leluhur, dipimpin oleh pemangku Pura Prajapati.
Upacara Ngaben Massal di Desa Adat Ubud bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan cermin hidupnya nilai-nilai adat, spiritualitas tinggi, dan gotong royong antargenerasi. Pelibatan seluruh unsur masyarakat – krama banjar, pemangku, sulinggih, walaka, hingga anak cucu – menjadikan upacara ini bukan hanya bentuk penghormatan kepada leluhur, tetapi juga warisan budaya tak ternilai yang terus dijaga di tengah arus modernitas. [T]
Penulis: Agus Eka Cahyadi
Editor: Adnyana Ole



























