14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Kintamani Tak Mau Ketinggalan Kereta: Catatan Pendidikan dari SMKN 1 Kintamani

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
August 27, 2025
in Esai
Ketika Kintamani Tak Mau Ketinggalan Kereta: Catatan Pendidikan dari SMKN 1 Kintamani

Alat praktik perhotelan/Foto: Dok. SMKN 1 Kintamani

KINTAMANI dikenal sebagai daerah subur, sejuk, dan penuh pesona. Alamnya yang dingin membentuk budaya agraris yang kuat, kehidupan spiritual yang kental, serta masyarakat yang komunal. Namun, di tengah itu semua, denyut pariwisata pelan-pelan merambah ke setiap sudut. Sayangnya, geliat pariwisata di Kintamani saat ini lebih banyak digerakkan oleh investor luar. Sementara masyarakat lokal, termasuk anak mudanya, masih banyak seperti penonton yang setia di pinggir arena.

Di sinilah pentingnya pendidikan. Pertanyaan pun mengemuka: pendidikan seperti apa yang mampu membuat Kintamani berdiri tegak di panggungnya sendiri? Jawabannya adalah pendidikan vokasi.

Tidak mengherankan jika di Kintamani berdiri tiga SMK negeri yang menjadi benteng harapan. Penduduknya banyak. Untuk ukuran Pilkada saja, dengan meraih suara mayoritas di Kintamani, kesuksesan sang Calon tak terbantahkan lagi.

Kembali ke pembicaraan kita tentang dunia pendidikan tadi. Dari tiga SMK Negeri, dua di antaranya telah lama membuka bidang pariwisata, terutama perhotelan. Sementara satu lagi, SMK Negeri 1 Kintamani, baru saja memberanikan diri melangkah ke jalur yang sama.

Ironisnya, meski merupakan sekolah tertua, SMKN 1 Kintamani ini justru tampak paling lamban mengambil langkah. Apakah mereka tidak berani mengambil Keputusan? Atau menunggu saat yang tepat untuk menyerang? Mereka terlalu bertahan pada tiga jurusan lama: Desain Komunikasi Visual (DKV), Agribisnis Ternak Ruminansia (ATR), dan Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian (APHP). Ternyata, setelah diuji dengan pengalaman yang ada, mereka akhirnya sadar. Bertahan saja tidak cukup, apalagi ketika arus minat generasi muda semakin condong ke dunia pariwisata.

Alat praktik perhotelan/Foto: Dok. SMKN 1 Kintamani

Akhirnya, dengan dukungan sumber daya yang ada, SMKN 1 Kintamani mulai membuka diri. Mereka telah benar-benar sadar. Kalau terlalu lama berdiam diri, mereka akan tertinggal kereta. Melalui perencanaan kecil di internal sekolah, ide membuka jurusan perhotelan pun perlahan menggelinding. Dukungan komite sekolah, tokoh masyarakat, hingga perbekel pun dirangkul.

Prosesnya nyaris menyerupai kampanye politik. Penggalangan massa dimulai dari sosialisasi, pendekatan, hingga meyakinkan masyarakat tentang pentingnya jurusan baru ini. Dan hasilnya cukup mengejutkan: pada penerimaan siswa baru 2025, 30 siswa lulusan SMP setempat langsung mendaftarkan diri pada jurusan perhotelan yang masih berupa embrio. Jumlah ini sekaligus mencetak rekor baru, walau masih jauh dari rekor MURI. Dari jumlah siswa baru, Jurusan Perhotelan mengalahkan tiga jurusan yang ada.

Di bawah komando kepala sekolah yang berstatus Plt., untuk jurusan baru, langkah-langkah strategis dijalankan. Perizinan segera diurus, tim kecil bekerja senyap sekaligus massif dalam menyiapkan bukti dukung persyaratan.

Hingga akhirnya, Tim Verifikasi Disdikpora Provinsi Bali turun langsung menilai kelayakan jurusan baru tersebut. Pada titik inilah semangat “jengah” benar-benar hidup dan terjadi. SMKN 1 Kintamani menolak sekadar jadi penonton. Mereka ingin ikut menikmati lezatnya kue pariwisata dengan berdiri di atas kaki sendiri.

Pengajuan izin KK perhotelan di Disdikpora Bali/Foto: Dok. SMKN 1 Kintamani

Namun ternyata, perjuangan baru saja dimulai. Fondasi jurusan perhotelan memang sudah dipancang, tetapi bangunan itu harus dirawat dan disangga agar kokoh di tengah persaingan yang kian sengit.

Yang dikhawatirkan banyak pihak tidak boleh terjadi. Jangan sampai euforia mendirikan jurusan baru membuat mereka lupa pada jurusan lama yang sudah lebih dulu berdiri. Jangan sampai DKV, ATR, dan APHP membeku dalam dingin angin pegunungan Kintamani, lalu terabaikan oleh rayap waktu. Jika keseimbangan ini dijaga, maka Kintamani benar-benar tidak akan ketinggalan kereta, melainkan ikut menjadi lokomotif yang membawa warganya ke masa depan yang lebih cerah.

Bila ini berhasil, Kintamani yang subur, yang dibalut hawa dingin dan keindahan alam, akan menghantarkan masyarakatnya hidup dalam budaya agraris, spiritualitas yang kental, serta tradisi komunal yang kuat, bernuansa pariwisata.

Namun, langkah ini sejatinya bukan sekadar membuka pintu baru. Dengan mendirikan jurusan perhotelan, SMKN 1 Kintamani sesungguhnya telah memukul genderang perang. Keluar, mereka harus siap menghadapi kompetisi dengan SMK lain di Kintamani yang sudah lebih dulu mapan dalam bidang yang sama. Itu berarti publik harus benar-benar diyakinkan: masyarakat sekitar, SMP pengumpan, tokoh masyarakat, dunia usaha hingga pemerintah yang memberi restu. Kepercayaan tidak boleh dikhianati.

Ke dalam, tantangan justru lebih berat. Bagaimana memastikan tiga jurusan lama tetap hidup dan tidak tersisih? Sebab alangkah naifnya bila mendirikan jurusan baru justru mematikan jurusan lama. Dari DKV, ATR, dan APHP telah lahir banyak alumni sukses yang menorehkan jejak di dunia kerja. Dari sana pula tercipta rekam cerita tentang pengabdian guru-guru yang puluhan tahun menjaga bara semangat pendidikan.

Dan jangan lupa, ada keluarga mereka di rumah yang menanti gaji dan tunjangan profesi guru (TPG) yang menopang hidup. Harapan para guru sederhana: jurusan yang mereka rawat tetap kokoh, beriringan dengan jurusan baru yang sedang digarap.

Paparan Kabid PSMK Disdikpora Provinsi Bali semakin mempertegas arah ini. Bila sebuah sekolah berani membuka jurusan baru maka konsekuensinya adalah harus siap pula dengan berbagai bentuk dan jenis kegiatan yang tentu lebih banyak.

Jurusan lama tidak boleh suram, dan semua pihak dituntut bekerja lebih keras agar program sekolah berjalan dengan baik. Di atas segalanya, sekolah ditantang untuk membangun karakter positif semua siswa, agar alumni benar-benar siap kerja, siap berwirausaha, sekaligus siap melanjutkan pendidikan.

Pengarahan Kabid PSMK/Foto: Dok. SMKN 1 Kintamani

Sinergitas antarjurusan pun menjadi kata kunci. Tidak boleh ada jurusan yang merasa lebih penting, melainkan semuanya harus saling menopang. Untuk menjaga animo siswa, diperlukan inovasi di masing-masing jurusan—baik dalam tematik kurikulum, metode pembelajaran, maupun kerja sama yang lebih erat dengan industri maju. Hanya dengan cara inilah SMK bisa tumbuh sebagai sekolah vokasi yang bukan sekadar ikut-ikutan, melainkan benar-benar menjadi lokomotif kemajuan daerah.

Ini pulalah pekerjaan besar yang menanti para pendidik di Kintamani. Mereka tidak hanya mengejar agar tidak ketinggalan kereta, melainkan harus siap menjadi masinis yang mengarahkan gerbong masa depan anak-anak bangsa menuju stasiun kejayaan.

Inilah tugas besar insan pendidikan di SMKN 1 Kintamani. Berani menabur benih berarti harus siap menuai hasil, dan hasil itu tentu tidak boleh setengah-setengah. Alih-alih hanya berlomba agar tidak ketinggalan kereta, mereka harus mampu membesarkan semua aset yang diwariskan pendahulu.

Ada tanggung jawab moral untuk menjaga keseimbangan, agar jurusan baru tumbuh subur tanpa membuat jurusan lama layu. Jika pikiran baik ini terus dipelihara, Kintamani bukan sekadar ikut naik kereta, melainkan mampu menjadi lokomotif yang membawa bangsanya sendiri menuju masa depan.[T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Jaswanto

Tags: PariwisataPendidikanperhotelanSMKN 1 Kintamani
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

The 11th Urban Social Forum: Ajang Berkumpul Warga untuk Menyuarakan Aspirasi Kota yang Lebih Adil, Manusiawi, dan Lestari

Next Post

DPRD Buleleng Dukung Serius “Widyalaya” dan “Pasraman” untuk Mendorong Pelaksanaan Pendidikan Berbasis Karakter Hindu

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
DPRD Buleleng Dukung Serius “Widyalaya” dan “Pasraman” untuk Mendorong Pelaksanaan Pendidikan Berbasis Karakter Hindu

DPRD Buleleng Dukung Serius "Widyalaya" dan "Pasraman" untuk Mendorong Pelaksanaan Pendidikan Berbasis Karakter Hindu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co