6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ibuku, Darahku, Tanah Airku: Senandung Duka Lagu “Kebaya Merah”

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
August 19, 2025
in Esai
Ibuku, Darahku, Tanah Airku: Senandung Duka Lagu “Kebaya Merah”

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dengan Canva

LAGU “Kebaya Merah” yang dinyanyikan oleh Iwan Fals,  rilis pada tahun 1991 dalam album kedua SWAMI, kelompok supergrup yang berdiri pada 1989, beranggotakan Iwan Fals, Sawung Jabo, Naniel Yakin, Nanoe, Innisisri, Jockie Suryoprayogo, Totok Tewel, dan disponsori oleh pengusaha Setiawan Djodi. Sebagian besar kelompok ini sebenarnya adalah anggota kelompok musik Sirkus Barock yang didirikan di Yogyakarta pada tahun 1970-an dan dimotori oleh Sawung Jabo, mereka adalah Naniel Yakin, Nanoe, dan Innisisri (Wikipedia).

 “Kebaya Merah” dalam lagu ini menjadi simbol dari kondisi bangsa Indonesia, yang mungkin terlihat baik-baik saja (beludru), namun menyimpan duka dan pertanyaan mendalam tentang apa yang sedang terjadi. Gambaran tentang Ibu Pertiwi tanah air tercinta yang kaya sumber daya alam segalanya ada, namun masih banyak menyimpan duka, anak-anak Ibu Pertiwi belum dapat menikmati sepenuhnya seperti tersirat dalam lirik , “wajahmu seperti menyimpan duka padahal kursimu dilapisi beludru, Ada apakah, Ibu?”

Lirik lagu ini mengandung pertanyaan kepiluan seorang ibu simbolisasi Ibu Pertiwi, seperti “Ada apakah, Ibu?”, yang mencerminkan rasa penasaran dan keprihatinan terhadap situasi yang terjadi di Indonesia. Sederhananya dapat kita pahami pertanyaan “ada apakah Ibu?” misalnya “kue hasil ikhtiar Ibu Pertiwi”, tidak rata terbagi untuk putra putri Ibu Pertiwi, yang tinggal di berbagai sudut tanah air, ini yang membuat sedih duka yang sangat terasa.

Meskipun putra putri Ibu Pertiwi masih ada yang perduli dengan kesedihan dukanya, seperti terdeskripsi dalam lirik, “Ceritalah seperti dulu, duka suka yang terasa percaya pada anakmu tak terpikir ′tuk tinggalkan dirimu, Ibuku, darahku, tanah airku Tak rela kulihat kau seperti itu, Ada apakah, Ibu? Wajahmu seperti menyimpan duka padahal kursimu dilapisi beludru Ada apakah?”

Keprihatian penulis lirik lagu ini, kemungkinan pada sakit yang tak kunjung sembuh, sakit yang diderita negeri dan anak negeri ini. Penyakit serakah mengambil sesuatu yang bukan haknya, mengeksploitasi hutan, gunung, lautan, tambang,lembah, danau, sungai, padang rumput milik Ibu Pertiwi, yang tidak dikembalikan sepenuhnya kepada pemiliknya yaitu, putra-putri Ibu Pertiwi.

Ibu Pertiwi cukup mengenakan pakaian seadanya, karena yang menjadi bebannya adalah masih banyak putra-putri Ibu Pertiwi yang belum dapat terpenuhi kebutuhan sandang, papan, pangannya yang berkualitas, kesehatan, pendidikan serta kenyamanan bekerja,  seperti tersirat dalam lirik, “Kebaya merah kau kenakan, Anggun walau nampak kusam, Kerudung putih terurai, Ujung yang koyak tak kurangi cintaku”. Ibu pertiwi rela untuk tidak bermewah-mewah meskipun kursinya beralas beludru.

Ibuku, darahku, tanah airku, Tak rela kulihat kau seperti itu Ada apakah? Wajahmu seperti menyimpan duka, Padahal kursimu dilapisi beludru, Ada apakah? Dari bait tersebut penulis lagu ini secara lahir bathin sangat tidak rela dan terima Ibu Pertiwi terus menerus dilukai hati, lahir dan batinnya padahal negeri ini sangat kaya, tapi Ibu Pertiwi terus berduka melihat polah tingkah putra-putrinya yang tidak pernah berterimakasih pada yang melahirkannya di tanah yang penuh berkah seperti untaian mutu manikam.

Ibarat Zambrud di Katulistiwa yang membentang dari ujung Sabang sampai sudut terluar Merauke. Sebuah negeri yang gemah ripah loh jinawi suatu kalimat ungkapan untuk menggambarkan keadaan Bumi Pertiwi yang memiliki kekayaan alam yang berlimpah.

***

Dongeng tentang negeri `Gemah Ripah Loh Jinawi’ menggambarkan betapa tentram dan makmur serta suburnya tanah Ibu Pertiwi, seperti sering didongengkan kakek nenek moyang kita. Semua hasil alam melimpah-ruah seakan tidak mungkin tanah air kita menjadi tanah miskin yang kekurangan.

Namun rakyat masih tidak merdeka dan berdaulat dalam beberapa bidang, seperti pekerjaan, penghasilan, kebutahan pokok, kesehatan masih barang mahal. Ini ketidakrelaan penulis lagu “Kebaya Merah” dikatakannya dengan tegas dalam lirik, ”Ibuku, darahku, tanah airku Tak rela kulihat kau seperti itu Ada apakah?”

Apalagi kemarin melihat sebuah postingan para anggota parlemen berjoget jingkrak ria mendengar gaji penghasilannya akan dinaikkan, tidak rela, Ibu dilukai kembali oleh suatu keputusan yang kurang memihak pada putra-putri Ibu Pertiwi yang memiliki tingkat pengabdian luar biasa untuk menjaga Ibu Pertiwi agar dapat tersenyum, yaitu para guru di pelosok, penjaga perbatasan, para penyuluh lapangan, nelayan, petani, dan lain-lain. 

Menurut Bung Karno, tidak ada kemerdekaan tanpa keadilan sosial. Gagasan Ratu Adil yang disemboyankan oleh Bung Karno itu untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil makmur gemah ripah loh jinawi.

Gagasan Ratu Adil disemboyankan oleh Bung Karno di tahun 1920-an saat Indonesia masih di bawah penjajahan Belanda. Bung Karno mengutip istilah yang disampaikan oleh Raja Kediri Jayabaya mengenai kehidupan masyarakat yang gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja untuk membangkitkan semangat rakyat dalam memperoleh kemerdekaan. Sebuah gagasan  masyarakat yang tidak dibelenggu oleh kemiskinan.

Namun kekayaan alam yang berlimpah belumlah membuat Ibu Pertiwi tersenyum, semoga segera dapat berdaulat dalam bidang pangan, gas minyak, dan juga pekerjaan bangsanya, di usia yang sudah cukup tua ini. Ibuku, darahku, tanah airku, tak rela kulihat kau seperti itu Ada apakah? Wajahmu seperti menyimpan duka padahal kursimu dilapisi beludru. Semoga kita dapat segera membawa dan membuat Ibu Pertiwi tersenyum. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AHMAD SIHABUDIN
Pesan tentang Kebebasan Dalam Lirik “Bohemian Rhapsody”
Musik Legendaris untuk Kita Tetap Waras
Merenungkan Musik; Sukatani, Perlawanan, dan Penguasa
Tags: ibuIwan Falslagumusik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Karakter dan Nilai-Nilai Luhur “The Mask of Buleleng” — Catatan dari Pembukaan Bulfest 2025

Next Post

Ketika Nyoman Paul Bernyanyi di Pembukaan Bulfest 2025, Para Remaja Putri Tak Henti-henti Berteriak…

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Ketika Nyoman Paul Bernyanyi di Pembukaan Bulfest 2025, Para Remaja Putri Tak Henti-henti Berteriak…

Ketika Nyoman Paul Bernyanyi di Pembukaan Bulfest 2025, Para Remaja Putri Tak Henti-henti Berteriak...

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co