“Dasar otak busuk!” Teriakan semacam itu mungkin pernah kita dengar dari orang tua yang sedang jengkel, atau dari teman saat bercanda. Busuk di sini artinya jahat, niatnya jelek. Tapi, siapa sangka, istilah yang dulu terdengar kasar itu kini punya gaung baru. Dari Barat datang istilah keren: Brain Rot. Rupanya, leluhur kita jauh lebih cepat menemukan padanannya: otak busuk.
Bedanya, kalau dulu otak busuk dituduhkan pada orang yang niatnya tidak baik, sekarang otak busuk benar-benar bisa terjadi. Bukan dalam arti moral, tapi karena kebiasaan sehari-hari kita. Gara-gara terlalu sering main ponsel, gara-gara otak dijejali terus-menerus oleh hal-hal sepele yang kita anggap penting.
Kita menyebutnya scrolling. Bahasa gampangnya: menyapu layar tanpa tujuan. Kadang seperti refleks saja. Jari telunjuk seakan punya hidupnya sendiri: naik, turun, geser, lagi dan lagi. Kadang, setelah lima belas menit, kita bahkan lupa apa yang sebenarnya kita cari.
Saya sering merasakannya sendiri. Misalnya, sedang duduk berdua dengan pasangan, ingin ngobrol santai. Baru mulai bicara, eh, matanya sudah tertarik ke layar. Kesal? Iya. Tapi lebih kesal lagi ketika sadar saya pun sering melakukan hal yang sama. Rasanya aneh: kami duduk bersebelahan, jarak fisik cuma sejengkal, tapi seolah ada dinding transparan setebal ratusan kilometer. Suara notifikasi lebih cepat mencuri perhatian dibandingkan suara saya.
Fenomena ini gampang kita temui. Lihat saja di jalan: pedagang keliling yang seharusnya sibuk memanggil pembeli, malah lebih sering menunduk ke ponsel. Di warung makan, orang-orang membalas pesan ketimbang mengobrol. Anak-anak yang dulu ramai bermain bola di lapangan, sekarang duduk diam, wajahnya diterangi cahaya biru layar.
Begitu kuat sihir media sosial. Kita jadi pengikut setia tanpa sadar. Seolah dunia akan runtuh kalau sehari saja kita tidak membuka Instagram, TikTok, atau WhatsApp. Ketakutan itu bahkan punya istilah keren: FOMO—Fear of Missing Out. Takut ketinggalan sesuatu. Padahal, yang kita takutkan ketinggalan itu sering kali hanya gosip artis, video receh, atau tren yang usianya tidak lebih dari seminggu.
Data pun menunjukkan betapa dalam kita terjerat. Menurut laporan We Are Social 2025, orang Indonesia rata-rata menghabiskan lebih dari tujuh jam sehari di internet. Itu hampir sama dengan waktu kerja satu hari penuh. Saya jadi bertanya-tanya, kapan sebenarnya kita benar-benar hidup di dunia nyata?
Masalahnya, tujuh jam itu tidak membuat kita lebih pintar. Justru membuat kita makin gampang lupa, makin sulit fokus, dan makin cepat marah. Otak kita terbiasa dengan informasi singkat, potongan-potongan, yang membuat kita malas berpikir panjang. Seperti perut yang kebanyakan makan camilan—kenyang, tapi tak pernah benar-benar bernutrisi. Kita hanya kuat menelan remah, tapi tidak sanggup mengunyah roti utuh.
Saya sendiri sering merasa jantung berdebar hanya karena pesan belum terbaca. Atau merasa bersalah ketika sadar sudah dua jam habis untuk menonton video kucing dan resep masakan yang ujung-ujungnya tidak pernah saya praktikkan. Kalau dipikir, inilah otak busuk versi modern.
Yang paling bikin saya khawatir adalah anak-anak. Banyak orang tua, supaya anaknya tenang, memberikan ponsel sejak kecil. Anak-anak yang dulu tumbuh dengan dongeng atau cerita sebelum tidur, sekarang ditemani layar YouTube. Mereka terbiasa menatap cahaya biru, bukan wajah orang tuanya. Kalau sejak kecil sudah akrab dengan layar, apa jadinya mereka ketika dewasa?
Saya membayangkan generasi baru ini tumbuh seperti zombie. Berjalan, bicara, tertawa, tapi matanya kosong. Bisa cepat mengikuti tarian viral, tapi bingung ketika diminta merenung. Bisa tertawa keras melihat video singkat, tapi kaku saat diajak mengobrol langsung. Inilah Brain Rot paling nyata: otak yang kehilangan daya hidupnya.
Namun, tentu saja, menyalahkan teknologi saja tidak adil. Ponsel pintar, internet, media sosial—semua itu hanya alat. Sama seperti kopi: secangkir bisa bikin segar, tapi kalau kebanyakan bisa bikin gemetar. Internet pun begitu. Bisa memberi ilmu, menyambung kawan lama, memperkaya wawasan. Tapi kalau berlebihan, ia bisa mengikis daya hidup kita.
Seorang teman pernah berkata: “Teknologi itu tidak bisa kita lawan. Yang bisa kita lakukan cuma mengatur jaraknya.” Kalimat sederhana, tapi terasa pas. Kita tidak mungkin hidup tanpa internet sekarang. Tapi kita bisa belajar menjaga jarak. Tidak usah muluk-muluk: mematikan ponsel sejam sebelum tidur, tidak membawa ponsel ke meja makan, atau memilih satu hari dalam seminggu untuk libur dari dunia maya.
Saya percaya otak manusia punya daya pulih. Sama seperti tanah yang bisa kembali subur setelah musim kering, otak pun bisa segar kembali kalau diberi waktu bernapas. Kita hanya perlu memberi jeda, memberi ruang kosong, memberi kesempatan untuk diam.
Saya tidak ingin jadi budak layar. Tidak ingin percakapan dengan pasangan diganggu notifikasi. Tidak ingin kebersamaan dengan teman diganti emoji. Tidak ingin tawa anak-anak tergantikan suara dering aplikasi. Dunia maya memang menggoda, tapi dunia nyata jauh lebih layak diperjuangkan.
“Brain Rot” atawa otak busuk adalah momok zaman ini. Tapi pilihan tetap ada di tangan kita. Mau membiarkan otak kita menghitam pelan-pelan, seperti pisang yang kelamaan di sudut dapur? Atau menjaga otak tetap segar; dengan jeda, dengan percakapan nyata, dengan tawa yang lahir dari tatap muka, bukan dari emoji? [T]
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:


























