ADA yang menarik perhatian saya akhir-akhir ini. Pada bulan September nanti akan tayang 4 drama Korea female centric di Netflix dan platform streaming lainnya. Yang membuat saya tertarik karena 4 drama ini memiliki satu kesamaan benang merah yaitu narasi yang berpusat pada perempuan.
Pertama, drama Aema yang berkisah tentang dunia aktris pada tahun 1980 dengan segala intriknya, kemudian You and Everything Else, sebuah kisah persahabatan di tengah kondisi sakit parah. Lalu ada A Hundred Memories yang bercerita tentang kisah hangat persahabatan dua kondektur bus di tahun 1980, dan ada Project Y, drama dengan genre aksi noir perihal dua sahabat yang bertekad mencuri emas 80 miliar won untuk mengubah nasib.
Fenomena di atas membuat saya melakukan refleksi bahwa satu bulan setelah kemerdekaan Indonesia dan Korea, empat drama di atas tayang seolah menjadi simbol sebuah perjuangan yang juga penting, yaitu kemerdekaan perempuan di layer kaca. Korea dengan lingkungannya yang sangat patriarki dan misoginis, adanya drama female centric ini seperti menjadi harapan bahwa industri sinema di Korea telah berhasil berubah, tidak lagi berfokus pada laki-laki sebagai tumpuan utama.
Beberapa tahun terakhir Korea Selatan telah menunjukkan perubahan di industri hiburan mereka. My Name yang dibintangi Han So Hee sebagai gangster tangguh dan The Glory yang dibintangi Song Hye Kyo yang merencakan pembalasan dendam tanpa ada sosok lelaki sebagai pahlawan. Ada juga Little Women yang berfokus pada kisah 3 kakak beradik perempuan.
Munculnya drama-drama di atas bukan sekadar tren, namun respons atas meningkatnya kesadaran akan isu sosial dan gender di Korea Selatan. Penonton cenderung lebih kritis, menginginkan cerita yang kompleks, berani dan inspiratif. Penonton ingin perempuan adalah sebuah pribadi yang bisa menentukan nasibnya sendiri. Laku kerasnya drama tersebut dan pujian dari kritikus membuktikan bahwa narasi yang berpusat pada perempuan memiliki pasar luas dan menguntungkan.
Dari kasus di atas otomatis saya terpikir pada industri hiburan di Indonesia. Kita memiliki film Yuni karya Kamila Andini yang menjadi contoh film female centric, di mana ia tidak hanya menempatkan Yuni sebagai karakter utama, namun juga menggunakan perspektif yang mengkritik norma sosial yang membatasi kemerdekaan perempuan. Ada juga film seperti Athirah dan Kartini dengan nada serupa.
Namun jika dibandingkan dengan jumlah produksi di Korea Selatan, Indonesia terasa masih berada di tahap awal. Masih banyak karakter perempuan di film atau sinetron Indonesia yang terjebak stereotip, seperti ibu yang berkorban, istri tersakiti atau objek nafsu. Dominasi narasi laki-laki masih sangat rekat, terutama di genre aksi. Perempuan sering hanya menjadi gadis yang harus diselamatkan laki-laki.
***
Saya jadi melakukan refleksi kenapa Indonesia masih di posisi itu padahal kemerdekaan kita dan Korea hanya beda berapa hari. Saya merunut beberapa alasan yang menurut saya menjadi faktor dari fenomena tersebut yaitu pertama, resistensi pasar. Produser ragu untuk membuat karya female centric, karena takut tidak laku. Formula lama seperti film horor atau romansa laki-laki dan aksi laki-laki masih dianggap menjual di pasar Indonesia.
Padahal Korea sudah menunjukkan keberanian eksperimen genre telah berhasil membuka pasar baru. Kedua, minimnya perempuan di balik layar. Memang Indonesia mengalami pertambahan jumlah perempuan di industri hiburan, namun representasinya masih tetap kecil dibanding laki-laki. Cerita yang lahir dari perspektif laki-laki akan membatasi kedalaman karakter perempuan. Akhirnya narasi perempuan akan dangkal dan penuh stereotip.
Kemerdekaan kita setiap Agustus bijaknya dimaknai tidak hanya sebagai kebebasan dari penjajahan fisik, namun juga sebagai momentum untuk membebaskan dari belenggu stereotip gender. Di industri film dan serial, artinya bisa menempatkan perempuan di ruang sebagai subjek utama yang menggerakkan narasi bukan hanya pelengkap.
Banyaknya representasi perempuan dan cerita tentang perempuan, seperti perempuan yang memiliki ambisi di Aema, perempuan yang merayakan persahabatan di You and Everything Else dan A Hundred Memories serta perempuan yang melangkah penuh keberanian mengambil risiko sepeti di Project Y. Karya tersebut tidak hanya menghibur namun juga menginspirasi. Bukti bahwa perempuan adalah pribadi yang kompleks, memiliki banyak sisi dan kisah mereka layak diceritakan.
Semoga refleksi dari industri Korea ini menjadi cambuk bagi sineas dan produser di Indonesia. Sudah saatnya kita memberikan lebih banyak kemerdekaan untuk perempuan di layar kaca—bukan hanya sebagai bintang, tapi juga sebagai pencerita, penulis, dan sutradara yang bisa menyuarakan narasi autentik tentang pengalaman perempuan. Dengan begitu, layar kaca kita tidak hanya akan menjadi cermin dari realitas yang ada, tapi juga jendela menuju masa depan yang lebih setara. [T]
Penulis: Syfa Amelia
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:


























