6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Digital Detox” sebagai Revolusi Eksistensial: Upaya Kembali ke Diri Sendiri di Tengah Era “Overconnectivity”

Isran Kamal by Isran Kamal
August 9, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

DI tengah banjir informasi, notifikasi, dan algoritma yang seolah tahu segalanya tentang kita, muncul satu kebutuhan mendesak yang sering diabaikan, diam sejenak. Menjauh dari layar, mematikan ponsel, dan berhenti scrolling bisa terdengar sepele, bahkan tidak produktif. Tapi dalam konteks kehidupan modern, tindakan sederhana seperti ini bisa menjadi bentuk perlawanan paling radikal. yaitu perlawanan terhadap keterasingan, terhadap kelelahan mental, dan terhadap hilangnya makna.

Digital detox, secara harfiah berarti puasa dari perangkat digital, yang semakin relevan dalam masyarakat dengan ketergantungan pada teknologi. Tapi artikel ini tidak sekadar mengajak detoks demi “kesehatan mental” yang seringkali dikomersialisasi. Kali ini kita akan melihat digital detox sebagai bagian dari revolusi eksistensial. Sebuah usaha untuk kembali menjadi manusia seutuhnya, yang hadir secara otentik, merdeka berpikir, dan terhubung secara genuine, bukan hanya online.

Hidup di Era Overconnectivity

Media sosial menjanjikan koneksi tanpa batas. Kita bisa tahu kabar teman lama, mengikuti influencer idola, atau membaca opini siapa pun bahkan orang yang belum pernah kita temui. Tapi ironisnya, semakin terhubung kita secara digital, semakin terasa kosong secara emosional. Kita menjadi overconnected, oversharing, tapi semua bersifat trivial. Kita berbagi makanan, outfit, atau highlight reel kehidupan, namun jarang menyentuh lapisan terdalam dari pengalaman manusia yang nyata seperti rasa kesepian, kehilangan, keraguan, atau pencarian makna.

Inilah paradoks zaman kita saat ini, dikelilingi notifikasi, tapi kesepian. Menerima ratusan “like”, tapi tetap merasa tidak valid. Sebab koneksi yang dibentuk algoritma bukan koneksi yang autentik, melainkan simulasi koneksi. Semua ini menumpuk di permukaan, tapi tak pernah menembus kedalaman dan menyentuh sisi manusia kita. Dan justru di sinilah kelelahan mental muncul  bukan dari keterasingan digital, tapi dari keterhubungan palsu yang terus-menerus menuntut perhatian kita.

Absennya Diri di Dunia Digital

Filsuf eksistensialis seperti Kierkegaard dan Heidegger pernah mengingatkan kita soal bahaya hidup yang “tidak autentik”. Hidup yang tidak dijalani dengan kesadaran penuh, melainkan sekadar mengikuti arus, rutinitas, dan harapan orang lain. Dunia digital memperkuat kecenderungan ini dimana kita kehilangan keheningan, kehilangan kesendirian, dan pada akhirnya kehilangan kesadaran atas diri sendiri.

Kita menjadi hadir di mana-mana, tapi absen dari diri sendiri. Pikiran kita terpencar ke feeds, reels, threads, atau for you page. Kita jarang bertanya, “apa yang benar-benar penting?” karena waktu habis untuk menanggapi apa yang sedang trending. Akibatnya, kita kehilangan kemampuan untuk mendengar suara hati kita sendiri. Sesuatu yang oleh eksistensialis disebut sebagai dasar kebebasan sejati.

Digital detox menjadi penting bukan karena teknologi itu jahat, melainkan karena kita butuh ruang kosong agar kesadaran bisa kembali bernapas. Kita perlu berhenti sejenak dari keramaian buatan agar bisa mendengar kembali suara yang paling sunyi tapi paling jujur, suara dari diri kita sendiri.

Merawat Kewarasan di Tengah Era Kecanduan

Dalam artikel sebelumnya, kita membahas konsep cognitive offloading, suatu kecenderungan manusia modern untuk menyerahkan fungsi berpikir kepada teknologi. Ketika kita terlalu sering mencari jawaban lewat Google, terlalu mengandalkan AI untuk menyusun pikiran, dan terlalu bergantung pada algoritma untuk memilihkan konten, maka kita berhenti melatih kapasitas berpikir reflektif dan kritis.

Akibatnya, otak kehilangan kelenturan. Kita menjadi pembaca pasif, bukan pemikir aktif. Dan lambat laun, hal ini bukan hanya melemahkan kecerdasan, tapi juga membahayakan kesehatan mental. Muncul fenomena seperti doomscrolling, digital fatigue, bahkan digital brainrot, istilah yang menggambarkan kemunduran kualitas berpikir karena konsumsi digital yang pasif dan berlebihan.

Digital detox, dalam konteks ini, bukan sekadar istirahat dari layar. Digital detox juga menjadi terapi preventif untuk menjaga kesehatan otak, menjaga kewarasan emosi, dan menjaga jarak yang sehat antara manusia dan mesin. Digital detox adalah momen untuk kembali menggunakan otak sebagaimana mestinya,  berpikir, merenung, mempertanyakan, dan merasakan secara utuh.

Menemukan Diri, Membangun Koneksi Sejati

Detoks digital bukanlah pelarian dari dunia, melainkan jalan masuk kembali ke kehidupan yang lebih autentik. Saat kita mencabut diri dari ponsel, kita memberi ruang untuk hadir secara penuh di hadapan diri sendiri. Kita mulai mengenali kembali rasa sepi, rasa bosan, rasa gelisah, semua emosi yang selama ini kita redam dengan scrolling tanpa henti.

Dan inilah paradoks menariknya, justru dengan mengenali diri sendiri, kita bisa membangun koneksi yang lebih tulus dengan orang lain. Sebab kita tidak lagi hadir sebagai persona digital yang dikurasi, melainkan sebagai manusia utuh yang bisa merasakan, bertanya, dan mendengarkan.

Filsuf eksistensialis seperti Jean-Paul Sartre mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang “terlempar ke dunia” dan harus menentukan makna hidupnya sendiri. Dalam konteks hari ini, “terlempar ke dunia” berarti terlempar ke dalam arus teknologi yang tak henti-henti. Maka tugas kita bukan melawan teknologi, tapi menemukan kembali arah, makna, dan kebebasan di tengah teknologi itu.

Mari Kita Hening Sejenak

Barangkali inilah saatnya kita bertanya ulang: siapa yang mengendalikan hidup kita hari ini? Apakah kita masih berpikir, merasa, dan memilih dengan sadar? Ataukah kita sekadar mengikuti apa yang muncul di layar, satu demi satu, hingga tanpa sadar hari-hari berlalu?

Digital detox tidak harus ekstrem. Hal ini bisa dimulai dari hal kecil seperti satu jam tanpa ponsel, satu sore membaca buku fisik, atau satu hari jalan kaki tanpa mendengarkan apa pun. Tapi yang lebih penting adalah niatnya, niat untuk hadir, untuk menyadari, untuk menjadi manusia.

Sebab di tengah keramaian digital yang terus membisingkan pikiran, diam bisa menjadi bentuk kebijaksanaan. Dan menjauh dari layar bisa menjadi langkah awal untuk kembali ke ruang paling sunyi,  ruang tempat kita bertemu kembali dengan diri kita sendiri. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Cognitive Offloading”: Saat AI Mempermudah, Tapi Mengikis Ketajaman Berpikir
Mikir Terus, Capek Sendiri: Memahami Ruminasi dan Cara Keluar dari Perangkap Pikiran
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Tags: digitaldigital detoxPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kajeng Kliwon | Cerpen Made Sugianto

Next Post

Dari Halaman Buku ke Denyut Kota: Percakapan Patjarmerah, SLF, dan UWRF di Singaraja Literary Festival 2025

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Dari Halaman Buku ke Denyut Kota: Percakapan Patjarmerah, SLF, dan UWRF di Singaraja Literary Festival 2025

Dari Halaman Buku ke Denyut Kota: Percakapan Patjarmerah, SLF, dan UWRF di Singaraja Literary Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co