TERASA hangat diskusi anak-anak pada acara peluncuran buku cerita anak berjudul Cerita Made karya Mandy Fessenden Brauer” serangkaian Singaraja Literary Festival 2025 di Museum Buleleng, Bali, Sabtu, 26 Juli.
Saat mengenalkan bukunya, Mandy Fessenden Brauer atau biasa dipanggil Mandy, tampak sangat senang karena anak-anak yang hadir dalam diskusi itu begitu antusias mendengarkan. Peserta yang datang sebagian besar adalah anak-anak bersama orang tua mereka.
Anak-anak itu duduk di kursi, ada juga lesehan di gundukan berumput di bawah teduh daun-daun pepohonan. Mereka menyimak dengan baik tentang bagaimana buku cerita anak Cerita Made itu dibuat.


Anak-anak antusias mengikuti acara peluncuran buku Cerita Made di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF 2025
“Saya mengerjakan buku itu dengan banyak orang, terutama dalam proses ilustrasi dan terjemahan,” kata Mandy bercerita tentang proses pengerjaan bukunya.
Mandy dibantu Desi Wulandari untuk ilustrasinya, dan Anak Agung Anitya Dewi, Dewa Gede Agung Oka Sukawati dan Sheena Monaghan untuk terjemahannya.
Dalam proses pengerjaan ilustrasinya, pertama, Mandy memberikan (semacam) draft naskah ceritanya per bagian kepada Desi. Kemudian Desi membuatkan ilustrasinya sesuai bagian-bagian cerita yang sudah dikirim.
“Terus dibuat sketnya dulu, lalu didiskusikan dengan Mandy. Jika tidak cocok, kembali dibuat ulang dan didiskusikan dan terus begitu. Sampai jadi,” kata Desi Wulandari ilustrator buku cerita anak Cerita Made.
Pada proses pembuatan ilustrasi itu dengan diskusi terbuka, Mandy merasa bebas dan lebih nyaman karena ia tahu di penerbit lain tidak bisa seintens itu, tidak bisa berdiskusi lebih dekat dan lebih lama.
“Karena jika di perusahaan, hal semacam itu sangat kaku,” kata Mandy Ia mengaku senang bukunya diilustrasikan Desi Wulandari dengan cara dilukis langsung.
Dalam ilustrasi, Mandy menghindarkan diri pada cerita dengan ilustrasi yang tak masuk akal, misalnya, seorang anak menunggangi buaya di sebuah sungai. Karena imajinasi semacam itu lebih berisiko untuk mengajarkan si anak berimajinasi liar yang tak masuk akal.
Sebab, buaya bisa makan orang, buaya bisa makan anak-anak jika mereka menirukannya pergi ke sungai lalu mencari buaya untuk ditunggangi.
Di buku Cerita Made, itu berbeda, tokoh Made berenang di pantai, dan ia ditemani oleh orang tuanya sebagai pengawasan. Hal itu penting menurut Mandy, anak-anak mesti diawasi agar tidak celaka.
Sehingga ilustrasi dan cerita (teks), tidak ngawang-ngawang. Cerita itu memberikan edukasi, bukan yang liar tak masuk akal.
Sekilas tentang buku itu, ada dua cerita dari dua tokoh yang memiliki kehidupan berbeda—sebagai perbandingan sosial dan kultur, yang memperkaya buku Cerita Made menjadi unik untuk dikonsumsi anak-anak, juga para orang tua untuk anaknya.
Yaitu Cerita Made dan Putu. Made tinggal di kota, dan Putu tinggal di desa.
Kisah Made membawa kita ke kehidupan seorang anak perempuan Bali yang memiliki seorang kakak laki-laki bernama Wayan, dan tinggal di Denpasar.

Moderator Putu Putik Padi (kiri) dan Mandy Fessenden Brauer, penulis buku Cerita Made | Foto: Dok. SLF 2025
Cerita Made dikuatkan secara ilustrasi tentang kehidupan sehari-hari anak perempuan Bali yang tinggal di sebuah kota, mengunjungi kakek-neneknya yang tinggal di pegunungan dan memulai bisnis kecilnya sambil tetap bersenang-senang.
Sedang pada kisah (tokoh) Putu, memperkenalkan seorang anak laki-laki Bali yang tinggal di pedesaan, tempat padi ditanam dan membagikan dunianya kepada kita dan adik laki-lakinya yang bernama Kadek.
Di Balik (Proses) Pembuatan Cerita Made
“Ketika saya pertama datang ke Bali, saya bertemu dengan teman yang sudah punya anak berusia dua tahun, dan si anak itu gak pernah melihat bule seperti saya. Dia ketakutan hingga menjerit sangat kencang,” kata Mandy.
Agar anak itu tidak merasa ketakutan atas kehadirannya karena kulit berserat dan rambut yang dibiarkan bebas, Mandy, memberikan pemahaman sangat halus, bahwa hewan memiliki banyak macam bentuk dan warna, begitupun dengan manusia. Ia ada banyak jenis soal warna kulit dengan ras berbeda-beda pula.
Lebih tegas Mandy menjelaskan pada para peserta yang dihadiri anak-anak itu, bahwa manusia itu beragam. Tak mestilah takut perbedaan rupa atau warna. Manusia adalah makhluk yang unik. Harus saling mengenal untuk memperindah kehidupan.
Dan itu, buku pertamanya Mandy yang dibuat sekaligus dengan dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dengan gambar-gambar yang kuat sebagai ilustrasi cerita.
Setelah diskusi, Mandy mengajak penonton untuk mendengar pembacaan cerita oleh moderator Putu Putik Padi (bahasa Indonesia) dan Made Puspa (Bahasa Inggris).
Putik Padi :
Namaku Made. Aku Tinggal di sebuah pulau di Indonesia yang bernama Bali. Aku tinggal bersama ayah, ibu, dan kakak laki-lakiku, Wayan.
Made Puspa :
My Name is Made. I live in Indonesia on the island of Bali with my father, mother, and older brother, Wayan.
Putik Padi :
Dari rumahku di Denpasar, ibu kota provinsi Bali, aku bisa melihat banyak bangunan tinggi, beberapa ekor sapi, sekumpulan ayam, dan banyak anjing. Kami punya seekor anjing yang kami beri nama Doggie dan seekor kucing yang kami panggil Dida yang baru saja melahirkan empat anaknya.
Made Puspa :
From our home in Denpasar, the capitol Bali, I See big buildings, a few cows, chikens, and many dogs. We have a dog named Doggie and a cat named Dida. Dida has four kittens.
Di sela pembacaan itu, Mandy berdiri dan terus mengangkat halaman buku Cerita Made sesuai pembacaan Putik dan Made ke arah peserta agar bisa dinikmati ilustrasinya.
Setelah pembacaan itu selesai, di akhir sesi, Mandy ingin menunjukkan kepada anak-anak Bali, bahwa mereka bisa berimajinasi dengan mengambil sisi unik kehidupan sehari-hari, atau yang biasa ditemukan di sekitar rumah.
Bercecer Cerita-cerita kecil di Bali
Ada banyak cerita unik yang didapatkan Mandy ketika datang ke Bali lima belas tahun lalu. Ya, ia asalnya dari Amerika, dan melalui buku pertamanya itu, Mandy ingin menunjukkan ke semua orang yang berlayar ke Bali, bahwa ada banyak hewan-hewan di Bali.
Juga dia ingin menunjukkan ke orang-orang itu, maksudnya para turis seperti dia, bahwa Bali sangat indah dan masyarakat lokal begitu indah hidup di Bali. Ada keramahan. Ada kesejukan.
Cerita Putu dan Made, misalnya, sama-sama memiliki orang tua kakek nenek dan saudara masing-masing.
Dia juga pengen anak-anak di Bali membaca buku tentang anak-anak Bali, tentang dirinya sendiri.

Moderator Putu Putik Padi (kiri) dan Mandy Fessenden Brauer, penulis buku Cerita Made | Foto: Dok. SLF 2025
Cerita Putu di buku itu, seorang anak yang tinggal di daerah persawahan. Sedang Made dengan suasana rumah yang lebih kompleks di perkotaan dengan kemacetan jalan luar biasa. Kedua orang tua mereka dua-duanya bekerja. Keluarga mereka memiliki keunikannya tersendiri.
Mandy tinggal di Bali sudah cukup lama, cerita itu sangat terekam jelas diingatannya walaupun umurnya sudah 84 tahun.
Dia juga mengingat betul bagaimana teman-temannya di Bali, memiliki gaun-gaun banyak sekali. Dia juga mengingat, bahwa dunia anak kecil di Bali, sangatlah ceria, dan ada banyak cerita.
Mandy berharap, semua anak-anak bisa bercerita seperti dirinya di buku itu, tentang Bali, dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris menceritakan hal-hal apa saja dan mendiskusikannya dengan teman yang akrab.
Ia juga berpesan pada orang tua yang hadir ketika itu, untuk menuangkan idenya tentang imajinasi cerita anak atau apa saja untuk menuliskannya dalam bentuk buku, karena di Bali sangat kaya akan cerita-cerita unik yang sayang jika dilewatkan begitu saja.
Satu waktu, Mandy pernah pergi berjalan-jalan dan ia melihat segerombolan anak-anak melakukan gerak jalan untuk acara kemerdekaan di bulan Agustus.
Di salah satu mereka, satu anak dengan sepatunya lebih besar dari ukuran kakinya, dan ketika berjalan itu, ia terlihat sangat kesulitan saat melangkah. Mandy tertawa. Lantas ia bertanya pada temannya, apakah anak itu membutuhkan ukuran sepatu lebih besar dari kakinya, untuk bisa bergerak? [T]
Reporter/Penerjemah: Putu Putik Padi
Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:



























