TANGGAL 18 Juli lalu diperingati sebagai Hari Mendengarkan Sedunia. Tapi saya yakin para pembaca yang budiman tentu melewatkannya. Tidak merayakannya. Ya sebenarnya tidak apa. Tapi tunggu dulu, kita mungkin perlu mengetahui hal ini agar bisa memetik refleksi dari hari yang indah itu. Ini bukan soal mendengarkan curhatan kawan baik, nasihat emak, atau kuliahan dosen yang kebanyakan kasih tugas. Yang hadir di sini adalah ajakan, yang lebih tepatnya adalah tamparan halus, untuk kita agar berhenti sejenak dari hingar-bingar dunia, lalu benar-benar mendengarkan.
Hari Mendengarkan Sedunia pertama kali diperingati pada tahun 2010, dan diinisiasi oleh World Listening Project, sebuah organisasi internasional yang mempromosikan suatu pemahaman lebih dalam pada dunia, lingkungan, budaya dan alam sekitar dengan cara mendengar.
Peringatan Hari Mendengarkan Sedunia bukan hanya suatu ajang romantisasi mendengarkan suara alam atau ajakan yang sok-sok mindfulness. Sebenarnya tujuan utamanya adalah membuat kita sadar bahwa lingkungan suara, baik yang dari hutan, kota, atau kamar tetangga, semua itu penting dan layak diperhatikan. Ini soal nguping dengan etika, alias mendengarkan aktif, bukan hanya asal mendengar, macam orang mendengarkan musik sambil scroll TikTok.
Hari tersebut juga menjadi momen untuk kita menyoroti polusi suara yang makin kacau dan dampaknya yang diam-diam menyiksa, baik ke manusia maupun makhluk lain yang butuh oksigen. Dan terakhir, ini juga merupakan ruang ekspresi, artinya bagaimana suara bisa menjadi karya, entah lewat rekaman, musik nyeleneh, atau seni eksperimental yang membuat orang jadi mikir, “Oh, ternyata dunia ini kedengaran juga, ya.”
Tapi kali ini saya ingin mengajak kita semua untuk “mendengar”, bukan hanya mendengar dalam arti suara masuk ke telinga, tapi mendengarkan secara sadar. Hadir utuh, ada di sana, untuk mendengar suara lain yang bukan suara kita sendiri. Nah, sayangnya, kita hidup di zaman yang nyaris mustahil untuk itu. Kok bisa?
Begini, selain anak muda yang lalu lalang di depan gang dengan knalpot brong dan suara tahu bulat yang berkumandang sampai malam, sosial media juga telah menciptakan budaya yang luar biasa bising. Story demi story, status demi status, notifikasi, reminder, pop-up. Semua orang punya mikrofon, semua orang punya panggung. Kalau perlu, bikin panggungnya sendiri. Dan tiap orang seperti berseru, “Tolong dengar aku, ni lho!”,
Ya memang,tidak salah ingin didengar. Tapi kalau semua orang bicara pada saat yang sama, terus, siapa yang mendengarkan? Dalam dunia seperti itu, mendengarkan menjadi tindakan yang langka, bahkan bisa dibilang radikal. Sosiolog Sherry Turkle dalam bukunya “Reclaiming Conversation” (2015), menulis bahwa generasi kita makin sulit membangun koneksi mendalam karena terlalu terbiasa berinteraksi tanpa kehadiran. Kita mendengar untuk membalas, bukan untuk memahami. Lalu, di mana letak makna mendengarkan?
Diam yang Penuh Makna
Hari Mendengarkan Sedunia alias World Listening Day, diperingati setiap 18 Juli untuk mengenang R. Murray Schafer. Ia seorang komponis dan pencetus konsep “soundscape” atau lanskap suara, dan dia percaya bahwa cara manusia mendengarkan dunia mencerminkan cara mereka hidup di dalamnya.
Jadi, kalau kita tidak bisa lagi mendengar angin, air, burung, atau rintik hujan, bisa jadi itu artinya kita juga kehilangan koneksi dengan dunia alami. Karena mendengarkan suara lingkungan bukan sekadar latihan telinga, tapi juga suatu bentuk latihan kesadaran. Kita dipaksa berhenti jadi pusat, dan memberi ruang bagi suara yang selama ini kita abaikan. Suara apa pun. Termasuk suara-suara alam, suara minoritas, suara hati, dan bahkan, yang makin pudar, adalah suara nurani.
Hari ini, kita bisa mendengar lagu dari seluruh penjuru dunia, suara dari Mars, atau di youtube suara dari alam kubur, bahkan giberlink yang merupakan obrolan antar kecerdasan buatan. Tapi ironisnya, kita gagal mendengar suara adik kita sendiri di kamar sebelah yang mungkin sedang ingin curhat. Carl Rogers, bapak terapi humanistik, menyebut mendengarkan sebagai bentuk paling murni dari penghargaan terhadap manusia lain. Tapi siapa sih yang masih piawai melakukannya hari ini? Orang di sekitar kita lebih sibuk scrolling daripada observing, lebih suka share daripada care. Dalam dunia seperti ini, diam memang kemudian menjadi bentuk sikap yang mencerminkan keberanian.
Sekolah Ikut Bising
Ada juga yang lebih gawat, dunia pendidikan kita ikut-ikutan ribut. Guru sibuk menyampaikan, murid sibuk mencatat, semua berlomba menyelesaikan kurikulum. Kejar tayang kejar target, tapi nampaknya kita tidak benar-benar mengajak siswa mendengarkan.Bukan mendengarkan guru, tapi mendengarkan dunia sekitar, bukan juga mendengarkan jawaban, tapi lebih ke mendengarkan pertanyaan. Sepertinya makin hari makin jarang ada pengajaran untuk mendengarkan. Padahal itu dasar dari empati, dialog, dan perdamaian.
Coba bayangkan kegiatan sederhana di mana anak-anak diajak ke luar kelas, diminta duduk diam 10 menit, lalu menceritakan suara apa saja yang mereka dengar. Lalu mereka bisa berdiskusi suara mana yang membuat tenang, mana yang membuat risau, dan suara mana yang terasa manusiawi. Dari situ, kita bisa masuk ke pembelajaran lintasbidang, mulai dari IPA, seni, agama, hingga pendidikan karakter. Karena sesungguhnya, mendengarkan adalah jembatan menuju kebijaksanaan.
Mendengarkan Adalah Tindakan Politis
Banyak hal penting di dunia ini yang tidak berteriak nyaring. Kadang mereka itu, dalam bahasa puitisnya, hanya berbisik. Dan kita melewatkannya, karena sudah terlalu sibuk dengan speaker dalam diri kita sendiri. “Suara” hutan yang ditebang habis, laut yang tercemar, petani yang kehilangan lahan, buruh yang dipotong upah, anak yang ditinggal seharian kerja orang tuanya, lansia yang kesepian. Nah, suara alam dari Halmahera sekarang juga makin samar, kan. Mereka tidak viral, tidak juga trending, kadang memang sengaja dibungkam. Tapi suara-suara itu nyata. Semua ini akhirnya menyoal keadilan dan juga keberpihakan. Ini soal memilih untuk tidak tuli sosial.
Filsuf Perancis, Jacques Rancière, pernah berkata, “Siapa yang diizinkan bicara dan siapa yang didengar adalah bentuk paling dasar dari politik.” Kalau begitu, mendengarkan sebenarnya adalah tindakan politis. Sebab dengan menentukan arah telinga kita, kita bisa memilih untuk menjadi bagian dari sistem yang hanya mendengar mereka yang punya kuasa, atau melawan dengan cara membuka telinga bagi mereka yang tak pernah didengar.
Mari Mencoba Hening
Hari Mendengarkan Sedunia adalah momen penting untuk kita semua. Tidak hanya penting untuk para aktivis lingkungan, seniman suara, atau guru seni budaya. Tapi untuk siapa saja di antara kita yang masih punya telinga dan hati. Coba dulu, luangkan waktu sebentar. Kita taruh HP, matikan notifikasi. Lalu kita dengarkan suara-suara kecil di sekitar kita, macam suara angin, jam dinding, atau bahkan suara detak hati sendiri yang udah lama kita abaikan.
Dengarkan juga orang-orang yang kita sayangi, sebelum satu-satunya yang tersisa kelak hanya chat yang tak sempat terbaca. Berani juga untuk mendengarkan mereka yang pikirannya berbeda, yang pandangannya kadang bikin sebel, tapi siapa tahu justru di situlah pelajaran hidup bisa diperoleh. Dan, kalau sudah cukup berani, mari coba dengarkan suara dari dalam diri kita sendiri. Suara yang malah paling sering kita matikan demi validasi likes atau views. Karena di zaman yang semuanya berlomba tampil dan teriak, diam bisa jadi justeru menjadi hal yang dibutuhkan.
Hari Mendengarkan Sedunia bukan hari seremoni. Tapi, mari kita peringati sebagai ajakan untuk merebut kembali kepekaan kita sebagai manusia. Agar kita bisa hadir, bukan hanya tampil, agar kita bisa nyambung, bukan sekadar online. Karena yang dunia butuhkan hari ini bukan lebih banyak pembicara, tapi lebih banyak pendengar. Bisa jadi, itu bentuk cinta paling mahal yang bisa kita berikan, pada orang lain, pada keluarga, dan pada diri sendiri. Tabik. [T]
Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole
BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI


























