6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Avidya: Ketidaktahuan yang Dijalin dari Berbagai Kemungkinan —  Catatan Reflektif Pameran Avidya di Tat Art Space, Denpasar

Made Chandra by Made Chandra
July 20, 2025
in Esai
Avidya: Ketidaktahuan yang Dijalin dari Berbagai Kemungkinan —  Catatan Reflektif Pameran Avidya di Tat Art Space, Denpasar

Pameran seni rupa di Tat Art Space, Denpasar

KITA hendaknya tahu bahwa fetish para seniman di era kontemporer adalah gejolak untuk mendobrak sesuatu, serta menghadirkan satu sensasi sebagai pemantik awal sebuah diskusi. Kemapanan adalah satu hal yang nihil, tentu dalam seni kontemporer peristiwa terus harus dirangkai sebagai sesuatu yang bergerak dan tak memiliki titik pemberangkatan yang juga pula pasti. Ia bisa ditafsirkan dari berbagai sisi, baik senimannya, karyanya, mediumnya hingga peristiwanya.

Ketika Pak Gede Jaya Putra (Dekde) menghubungi saya untuk ikut hadir dalam sebuah acara pameran yang akan ia gagas beberapa minggu ke depan, ia menawarkan sebuah  pengalaman dalam melihat praktik eksperimentasi artistik yang berakar dari singgungan antara karya seni rupa dan peristiwa pertunjukan.

Gagasan tersebut ia bingkai dalam satu terma baru: “Mempertunjukkan Seni Rupa”— sebuah istilah yang nampaknya ingin bermain-main dalam membongkar dan merekonstruksi sebuah format konvensional dalam memproduksi dan mengelola peristiwa seni.

Terma tersebut sekilas nampak seirama dengan apa yang sudah kita ketahui tentang seni performatif. Keduanya memang sama-sama berupaya mengaburkan batas-batas antara seniman, seni, dan karya seni. Namun, jika seni performatif lahir dari para perupa yang menjadikan tubuh dan aksinya sebagai medium utama dalam penciptaan peristiwa seni, maka “Mempertunjukkan Seni Rupa” justru bekerja sebaliknya: ia adalah upaya untuk bertolak dari objek seni rupa yang sudah ada, lalu membuka kemungkinan bagaimana objek tersebut dapat hidup kembali melalui respon tubuh, gestur, suara, dan laku para seniman pertunjukan.

Dengan kata lain, karya seni rupa tidak lagi diperlakukan sebagai benda mati yang terpancang pasif dalam ruang galeri yang steril dan diam. Sebaliknya, ia ditantang untuk hadir sebagai partitur, sebagai mitra kolaboratif dalam produksi makna. Inisiatif ini adalah upaya untuk mengaktifkan ruang persentasi sebagai medan laku, bukan semata ruang pajang—sebuah pendekatan yang mencoba menjawab kebekuan yang kerap melekat dalam konvensi sebuah peristiwa seni rupa.

Mungkin terdengar seperti lelucon yang tengah menggelitik isi pikiran kita, tentang bagaimana ini bisa dihadirkan sebagai apa yang kita bisa sebut sebagai “ peristiwa seni”, dan apa yang membedakan dengan peristiwa-peristiwa seni lainnya? Tentu saya sendiri tak boleh larut dalam apa yang menjadi gagasan ideal dalam pameran ini, ada celah-celah yang masih berbekas sebagai sebuah pertanyaan, ketika hadir dan menyaksikan bagaimana gagasan itu dapat terwujud dalam pameran berjudul “Avidya” yang dilaksanakan di Tat Art Space, Sabtu 19 Juli 2025.

Pameran ini sendiri menghadirkan lima kelompok yang menghadirkan karya rupa kolaboratif yang kemudian direspon dan dihadirkan sebagai media baru oleh para seniman pertunjukan. Masing-masing kelompok  memiliki karya dan kecenderungannya masing-masing dalam menerjemahkan gagasan dan idealisasi konsep dari pameran yang bertajuk Avidya ini.

Ketidaktahuan menjadi semacam jargon utama dalam peristiwa ini. Para seniman dan koresponden saling berupaya menerjemahkan pengalaman dengan versi mereka masing-masing: ada yang merespon sebuah patung dengan jalinan bunyi dan gerak yang saling bersilangan, ada juga yang berpuisi sembari baju yang dilumuri lelehan cat,  pun versi lain mempertunjukan sebuah taman penuh sampah yang menganggu persepsi kita tentang keindahan seni. Berbagai versi tersebut terbagi dalam tiga konteks kecenderungan yang menjadi ranah utama capaian gagasan ini, baik (kolaborasi) yang berkutat pada ranah negosiasi yang berimbang antara para seniman, karya rupa dan peristiwa, atau tegangan yang terjadi antara salah satu unsur (dominasi), hingga usaha dalam membangun ulang kembali batasan-batasan dalam mendefinisikan sebuah peristiwa seni (dekonstrusksi).

Beragam dan luasnya medan tafsir yang dihadirkan dalam pameran ini layaknya  pisau bermata dua—menjadi keuntungan sekaligus kelemahan yang patut dicermati secara kritis. Di satu sisi, keluasan interpretasi memberi keleluasaan bagi para seniman untuk mengeksplorasi ide, medium, dan pendekatan artistik secara lebih personal dan eksperimental. Ini memungkinkan hadirnya karya-karya segar, yang tidak terbatasi oleh tema yang terlalu sempit atau arahan kuratorial yang kaku.

Namun, di sisi lain, kebebasan ini juga dapat menjadi jebakan. Ketika kerangka konseptual dibaca dan dipahami dengan terlalu longgar, para seniman berisiko kehilangan arah dalam menafsirkan gagasan yang diusung, sehingga karya yang dihasilkan bisa melenceng dan terlihat banal dari substansi diskursus yang ingin dibangun. Dalam kondisi tersebut, “kebebasan” justru dapat berubah menjadi “kelatahan”. Dengan demikian, tantangan terbesar dari medan tafsir yang luas bukanlah kebebasan itu sendiri, melainkan bagaimana kebebasan tersebut dikelola dan dipertanggungjawabkan secara estetis dan konseptual, baik oleh seniman dengan pemahaman kerangka kuratorialnya.

Hal ini menjadi penting ketika sebuah gagasan dimaksudkan untuk terbaca sebagai sebuah pemahaman baru, sehingga terhindar dari kebanalan. Tentu kita perlu mencermati bagaimana sebuah gagasan diartikulasikan dalam medium, konteks, dan relasi antar karya, agar ia dapat melampaui persepsi klise atau pengulangan estetika semata. Dengan demikian, pemahaman baru yang ditawarkan bukan hanya segar secara visual, tetapi juga signifikan dalam memperluas horizon berpikir penonton.

 pada akhirnya, tentu untuk melakukan hal yang ideal pada eksperimen perdana adalah hal yang tidak mungkin, namun dengan adanya medan kritik untuk melihat apa yang dihasilkan sebagai sebuah wujud konkret, dapat sejalan dengan apa yang menjadi tujuan dari gagasan tersebut, kita bisa melihat sejauh apa proses dan kemungkinan baru yang dapat diolah dalam peristiwa-persitiwa mempertunjukan seni rupa selanjutnya. Hingga idealisasi bentuk dan format yang akan tercipta pada percobaan-percobaan lainnya akan lebih mudah untuk dicapai.

Memperjuangkan sesuatu yang tidak terbayangkan sebelumnya adalah keberanian yang tak boleh luput dari ruang apresiasi, jarangnya kubangan diskursus yang menegosiasikan hal-hal yang sering kali dianggap sebagai hal yang tidak penting, menjadi tantangan tersendiri bagi para penggiatnya, tak terkecuali teman-teman pada pameran ini, yang mencoba bereksperimen dalam sebuah laboratorium bernama Avidya. Ia adalah ketidaktahuan yang lahir dari berbagai kemungkinan, ia harus dialami, dirasakan, dan dirumuskan. [T]

Penulis dan Foto-foto: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis MADE CHANDRA

Pakem: Miskonsepsi yang Berujung pada Stagnasi Seni Tradisi
Melihat Lapisan Skena Seni Rupa Bali: Dari Under-Upper 2000-an, hingga Post-Pandemic
Study of Mechanical Reproduction: Melihat Kembali Peran Fotografi Sebagai Karya Seni yang Terbebas dari Konvensi Klasik
I ❤ Bali : Masyarakat Bali yang Merasa Asing di Tanahnya Sendiri
Bali Berkisah : Apa yang Bisa Dibicarakan tentang Seni Rupa di Bali?
Tags: Pameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

KOSAKATA: Rumah Baru bagi Kata dan Suara di Jakarta Barat

Next Post

PEDOMAN ORANG BALI DALAM BERTEMAN

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

PEDOMAN ORANG BALI DALAM BERTEMAN

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co