KITA hendaknya tahu bahwa fetish para seniman di era kontemporer adalah gejolak untuk mendobrak sesuatu, serta menghadirkan satu sensasi sebagai pemantik awal sebuah diskusi. Kemapanan adalah satu hal yang nihil, tentu dalam seni kontemporer peristiwa terus harus dirangkai sebagai sesuatu yang bergerak dan tak memiliki titik pemberangkatan yang juga pula pasti. Ia bisa ditafsirkan dari berbagai sisi, baik senimannya, karyanya, mediumnya hingga peristiwanya.
Ketika Pak Gede Jaya Putra (Dekde) menghubungi saya untuk ikut hadir dalam sebuah acara pameran yang akan ia gagas beberapa minggu ke depan, ia menawarkan sebuah pengalaman dalam melihat praktik eksperimentasi artistik yang berakar dari singgungan antara karya seni rupa dan peristiwa pertunjukan.
Gagasan tersebut ia bingkai dalam satu terma baru: “Mempertunjukkan Seni Rupa”— sebuah istilah yang nampaknya ingin bermain-main dalam membongkar dan merekonstruksi sebuah format konvensional dalam memproduksi dan mengelola peristiwa seni.

Terma tersebut sekilas nampak seirama dengan apa yang sudah kita ketahui tentang seni performatif. Keduanya memang sama-sama berupaya mengaburkan batas-batas antara seniman, seni, dan karya seni. Namun, jika seni performatif lahir dari para perupa yang menjadikan tubuh dan aksinya sebagai medium utama dalam penciptaan peristiwa seni, maka “Mempertunjukkan Seni Rupa” justru bekerja sebaliknya: ia adalah upaya untuk bertolak dari objek seni rupa yang sudah ada, lalu membuka kemungkinan bagaimana objek tersebut dapat hidup kembali melalui respon tubuh, gestur, suara, dan laku para seniman pertunjukan.

Dengan kata lain, karya seni rupa tidak lagi diperlakukan sebagai benda mati yang terpancang pasif dalam ruang galeri yang steril dan diam. Sebaliknya, ia ditantang untuk hadir sebagai partitur, sebagai mitra kolaboratif dalam produksi makna. Inisiatif ini adalah upaya untuk mengaktifkan ruang persentasi sebagai medan laku, bukan semata ruang pajang—sebuah pendekatan yang mencoba menjawab kebekuan yang kerap melekat dalam konvensi sebuah peristiwa seni rupa.
Mungkin terdengar seperti lelucon yang tengah menggelitik isi pikiran kita, tentang bagaimana ini bisa dihadirkan sebagai apa yang kita bisa sebut sebagai “ peristiwa seni”, dan apa yang membedakan dengan peristiwa-peristiwa seni lainnya? Tentu saya sendiri tak boleh larut dalam apa yang menjadi gagasan ideal dalam pameran ini, ada celah-celah yang masih berbekas sebagai sebuah pertanyaan, ketika hadir dan menyaksikan bagaimana gagasan itu dapat terwujud dalam pameran berjudul “Avidya” yang dilaksanakan di Tat Art Space, Sabtu 19 Juli 2025.

Pameran ini sendiri menghadirkan lima kelompok yang menghadirkan karya rupa kolaboratif yang kemudian direspon dan dihadirkan sebagai media baru oleh para seniman pertunjukan. Masing-masing kelompok memiliki karya dan kecenderungannya masing-masing dalam menerjemahkan gagasan dan idealisasi konsep dari pameran yang bertajuk Avidya ini.
Ketidaktahuan menjadi semacam jargon utama dalam peristiwa ini. Para seniman dan koresponden saling berupaya menerjemahkan pengalaman dengan versi mereka masing-masing: ada yang merespon sebuah patung dengan jalinan bunyi dan gerak yang saling bersilangan, ada juga yang berpuisi sembari baju yang dilumuri lelehan cat, pun versi lain mempertunjukan sebuah taman penuh sampah yang menganggu persepsi kita tentang keindahan seni. Berbagai versi tersebut terbagi dalam tiga konteks kecenderungan yang menjadi ranah utama capaian gagasan ini, baik (kolaborasi) yang berkutat pada ranah negosiasi yang berimbang antara para seniman, karya rupa dan peristiwa, atau tegangan yang terjadi antara salah satu unsur (dominasi), hingga usaha dalam membangun ulang kembali batasan-batasan dalam mendefinisikan sebuah peristiwa seni (dekonstrusksi).

Beragam dan luasnya medan tafsir yang dihadirkan dalam pameran ini layaknya pisau bermata dua—menjadi keuntungan sekaligus kelemahan yang patut dicermati secara kritis. Di satu sisi, keluasan interpretasi memberi keleluasaan bagi para seniman untuk mengeksplorasi ide, medium, dan pendekatan artistik secara lebih personal dan eksperimental. Ini memungkinkan hadirnya karya-karya segar, yang tidak terbatasi oleh tema yang terlalu sempit atau arahan kuratorial yang kaku.
Namun, di sisi lain, kebebasan ini juga dapat menjadi jebakan. Ketika kerangka konseptual dibaca dan dipahami dengan terlalu longgar, para seniman berisiko kehilangan arah dalam menafsirkan gagasan yang diusung, sehingga karya yang dihasilkan bisa melenceng dan terlihat banal dari substansi diskursus yang ingin dibangun. Dalam kondisi tersebut, “kebebasan” justru dapat berubah menjadi “kelatahan”. Dengan demikian, tantangan terbesar dari medan tafsir yang luas bukanlah kebebasan itu sendiri, melainkan bagaimana kebebasan tersebut dikelola dan dipertanggungjawabkan secara estetis dan konseptual, baik oleh seniman dengan pemahaman kerangka kuratorialnya.
Hal ini menjadi penting ketika sebuah gagasan dimaksudkan untuk terbaca sebagai sebuah pemahaman baru, sehingga terhindar dari kebanalan. Tentu kita perlu mencermati bagaimana sebuah gagasan diartikulasikan dalam medium, konteks, dan relasi antar karya, agar ia dapat melampaui persepsi klise atau pengulangan estetika semata. Dengan demikian, pemahaman baru yang ditawarkan bukan hanya segar secara visual, tetapi juga signifikan dalam memperluas horizon berpikir penonton.
pada akhirnya, tentu untuk melakukan hal yang ideal pada eksperimen perdana adalah hal yang tidak mungkin, namun dengan adanya medan kritik untuk melihat apa yang dihasilkan sebagai sebuah wujud konkret, dapat sejalan dengan apa yang menjadi tujuan dari gagasan tersebut, kita bisa melihat sejauh apa proses dan kemungkinan baru yang dapat diolah dalam peristiwa-persitiwa mempertunjukan seni rupa selanjutnya. Hingga idealisasi bentuk dan format yang akan tercipta pada percobaan-percobaan lainnya akan lebih mudah untuk dicapai.
Memperjuangkan sesuatu yang tidak terbayangkan sebelumnya adalah keberanian yang tak boleh luput dari ruang apresiasi, jarangnya kubangan diskursus yang menegosiasikan hal-hal yang sering kali dianggap sebagai hal yang tidak penting, menjadi tantangan tersendiri bagi para penggiatnya, tak terkecuali teman-teman pada pameran ini, yang mencoba bereksperimen dalam sebuah laboratorium bernama Avidya. Ia adalah ketidaktahuan yang lahir dari berbagai kemungkinan, ia harus dialami, dirasakan, dan dirumuskan. [T]
Penulis dan Foto-foto: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole
BACA artikel lain dari penulis MADE CHANDRA


























