Jika geguritan atau kidung Bali bisa digubah menjadi novel, mengapa tidak menggubah novel menjadi geguritan atau kidung?
Ide itu tiba-tiba saya lontarkan ketika menjadi penguji pada ujian promosi doktor sastra di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Jumat, 18 Juli 2025. Yang ujian promosi doktor waktu itu adalah I Wayan Juliana, dosen Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja, yang mempertahankan disertasi berjudul Wacana Satya Lintas Genre: Transformasi Ideologi Kesetiaan Kidung Jerum Kundangdia dalam Novel Jerum. Yang hadir saat ujian itu cukup banyak. Selain mahasiswa S3 FIB Unud, juga dosen-dosen sahabat Juliana dari IAHN Mpu Kuturan.

Ujian promosi doktor sastra I Wayan Juliana di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Jumat, 18 Juli 2025
Alih wahana, objek kajian disertasi itulah, menjadi sumber inspirasi. Oka Rusmini mengadaptasi Kidung Jerum Kundangdia—sebuah karya puisi naratif tradisional Bali yang ditulis dalam bentuk kidung—menjadi novel berjudul Jerum yang diterbitkan pada 2020 oleh Grasindo. Kidung Jerum terdiri atas 325 bait pupuh, seluruhnya menggunakan pupuh Jerum, dan ditulis dalam bahasa Kawi. Geguritan atau puisi naratif ini memuat lapisan-lapisan nilai religius, etis, dan sosial yang khas Bali.
Dalam versi novelnya, Oka Rusmini mentransformasikan karya tersebut menjadi narasi sepanjang 186 halaman, berbentuk novel, berbahasa Indonesia, menjadikannya lebih mudah diakses oleh pembaca modern tanpa kehilangan kekayaan simbolik dan filosofis dari versi kidung. Alih wahana ini menjadi contoh bagaimana warisan sastra klasik bisa dihidupkan kembali melalui pendekatan sastra modern. Pembaca yang tidak paham bahasa Bali pun bisa menikmati cerita ini dalam versi novel.

Dari geguritan ke Novel Tantri, Perempuan yang Bercerita karya Cok Sawitri
Sebelumnya, Cok Sawitri juga melakukan alih wahana dengan mengadaptasi cerita Geguritan Ni Dyah Tantri, yang berasal dari tradisi sastra Jawa dan Bali atau mirip kisah berbingkai Seribu Satu Malam, menjadi novel modern berjudul Tantri: Perempuan yang Bicara (2003). Novel ini mentransformasikan kisah klasik penuh alegori pelecehan perempuan oleh raja tersebut menjadi narasi yang lebih reflektif dan berorientasi pada kesadaran perempuan dalam masyarakat kontemporer. Alih wahana ini tidak hanya mengubah bentuk naratif dari lisan atau geguritan ke prosa modern, tetapi juga menyesuaikan sudut pandang dan ideologi sesuai konteks zaman.
Dalam kajian sastra, istilah alih wahana merujuk pada proses pengalihan atau transformasi sebuah karya dari satu bentuk media ke bentuk media lainnya, tanpa menghilangkan inti atau makna utama karya tersebut. Secara etimologis, “alih” berarti memindahkan, sedangkan “wahana” berarti sarana atau media. Dengan demikian, alih wahana adalah bentuk adaptasi kreatif dari satu medium ke medium lain, misalnya dari teks ke visual, dari tulisan ke audio, atau dari narasi menjadi pertunjukan. Pengertian alih wahana bisa diperluas menjadi penggubahan bentuk geguritan menjadi novel; dari bentuk tradisional ke bentuk modern.
Kalau geguritan atau kidung bisa diadaptasi menjadi novel yang menarik, mestinya novel juga bisa digubah ke dalam geguritan atau kidung. Jika ide ini mendapat sambutan, terbayang bagaimana novel Sukreni Gadis Bali atau I Swasta Setahun di Bedahulu, keduanya karya Panji Tisna, akan lahir menjadi Geguritan Sukreni Gadis Bali atau Kidung I Swasta Setahun di Bedahulu. Kita juga mungkin akan melihat Geguritan Tarian Bumi sebagai alih wahana dari novel Tarian Bumi (2000) karya Oka Rusmini, atau Geguritan Katemu ring Tampaksiring gubahan atas cerita pendek berbahasa Bali karya I Made Sanggra. Novel-novel klasik yang diterbitkan oleh Balai Pustaka dan Pustaka Jaya, juga bisa diadaptasi menjadi geguritan seperti Siti Nurbaya karya Marah Rusli atau Bila Malam Bertambah Malam karya Putu Wijaya.
Secara teknis, alih wahana ini tidak sulit. Secara estetik, tentu tergantung pada kemampuan penggubah. Yang jelas, prosesnya mungkin lebih mudah karena sudah tersedia pakem pupuh dengan aturan padalingsa yang ketat, tinggal penggubah mematuhi ketentuan itu. Alih wahana prosa ke dalam geguritan bukan hal baru. Geguritan Sampik Ing Tay adalah salah satu contoh. Cerita rakyat Cina yang mengisahkan percintaan tragis antara Sampik dan Ing Tai ini pertama kali disadur dari prosa bahasa Mandarin ke dalam bahasa Melayu oleh Boen Sing Hoo pada tahun 1885. Saduran prosa naratif ini kemudian diadaptasi dan disesuaikan ke dalam bentuk geguritan oleh Ida Ketut Sari dari Desa Sanur pada tahun 1915.
Meskipun demikian, tidak ada konsensus mengenai siapa yang pertama kali menulis Geguritan Sampik ini dalam bahasa Bali. Beberapa sumber menyebutkan bahwa pengarangnya anonim, sementara yang lain menyebut Ida Ketut Sari sebagai penggubahnya. Yang jelas, cerita ini sangat terkenal di Bali, dan telah dialihwahanakan ke dalam pertunjukan drama gong maupun diadaptasi ke dalam lagu pop Bali, salah satunya dinyanyikan oleh Widi Widiana.

Novel karya Marah Rusli dan Pandji Tisna
Jika alih wahana novel ke geguritan atau kidung bisa terjadi, niscaya karya-karya tersebut dapat memperkaya khazanah sastra Indonesia dan sastra Bali, serta memperkuat karakteristik heterogenitas sastra di Bali. Selain itu, kita akan mulai bisa—dan lama-lama terbiasa—mendengarkan kidung Gita Shanti di acara ritual Bali, Geguritan I Swasta di Bedahulu atau Geguritan Sukreni Gadis Bali, dan Geguritan Siti Nurbaya yang nilai pendidikan dan moralnya tak kalah dari geguritan lain. Tergantung kemampuan juru artos (penafsir) dalam gita shanti.
Pendek kata, alih wahana atau adaptasi novel (sastra modern) ke bentuk kidung atau geguritan (sastra tradisional Bali), akan memberikan empat keuntungan berikut:
- Menjaga api apresiasi sastra, karena adaptasi karya pasti diawali dengan membaca dan menikmati karya sastra yang akan dijadikan target adaptasi.
- Menjaga semangat kreativitas, karena adaptasi adalah kegiatan kreatif. Makin banyak yang tertarik melakukannya, semangat kreativitas akan makin kuat dan memberikan hasil yang memikat.
- Menambah kuantitas khazanah teks Gita Shanti. Bukan saja karya tradisional memperkaya sastra modern, tetapi karya modern pun dapat memperkaya sastra tradisional.
- Menyediakan variasi kisah dalam penembangan ritual, tak hanya berkutat pada Geguritan Jayaprana-Layonsari, Cupak-Grantang, Lubdaka, atau Ni Dyah Tantri, tetapi juga Geguritan Sukreni Gadis Bali atau mungkin Geguritan Siti Nurbaya.
Salam sastra, salam kreatif. [T]
Penulis: I Nyoman Darma Putra
Editor: Adnyana Ole
BACA artikel lain dari penulis I NYOMAN DARMA PUTRA







![Mengenang Joko Pinurbo [2-Tamat]: Sore Hari Bersama Sang Penyair](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/05/wicaksono-adi.-foto-jokpin2-1-360x180.jpg)
![Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/05/wicaksono-adi.-foto-jokpin-360x180.jpeg)


















