INDUSTRI sinema di Indonesia terkenal sebagai industri sarat modal dan dinasti di mana hanya yang memiliki modal besar serta berasal dari lingkar dalam sineas yang bisa bertahan di industri sinema Indonesia. Hal tersebut bisa membuat produksi dan distribusi film, terutama film pendek dan independen terhambat oleh biaya yang tinggi, akses terbatas atas peralatan profesional serta jejaring pasca produksi yang sulit ditembus oleh “muggle.”
Dengan adanya terobosan baru platform audio visual seperti TikTok dan Instagram membuat terjadinya revolusi di industri sinema, membuka pintu lebar untuk sineas independen maupun pemula, tidak hanya untuk produksi tetapi juga dalam proses distribusi karya mereka tanpa batasan platform tradisional yang berbiaya tinggi. Fenomena ini menunjukkan kemunculan era baru demokratisasi sinema yang telah signifikan berdampak pada inklusivitas dan keragaman suara dalam narasi visual.
Salah satu poin penting demokratisasi ini adalah biaya produksi yang sangat rendah. Di era dahulu, pembuatan film membutuhkan satu set peralatan yang mahal, besar dan susah dimobilisasi, belum lagi juga editing software yang mahal serta rumit, sehingga hanya profesional yang kebanyakan bisa melakukan editing film.
Sekarang dalam segenggam smartphone yang compact, harga terjangkau dan mudah dibawa ke mana-mana, kemampuan kamera yang baik sudah cukup untuk memproduksi film pendek berkualitas layak. Aplikasi TikTok dan Reels Instagram sendiri juga menyediakan beragam fitur editing yang mudah digunakan serta menunjang estetika film pendek tersebut seperti efek visual, cut film, serta pilihan musik komersil maupun suara diagetik yang luas serta gratis. Adanya fitur tersebut di dalam aplikasi sosmed sudah menurunkan kebutuhan software editing profesional yang mahal dan rumit. Faktor-faktor di atas menyebabkan siapa saja yang memiliki ide kreatif dan keberanian untuk memulai bisa menjajaki industri sinema di Indonesia tanpa perlu investasi finansial yang besar.
Dengan minimnya biaya produksi, platform sosial media tersebut juga menawarkan akses yang mudah kepada audiens internasional. Beda halnya dengan festival film serta saluran distribusi tradisional yang terbatas geografis, selektif dan membutuhkan modal besar, TikTok dan Reels sudah memiliki algoritma tersendiri yang bisa mempertemukan kreator dengan jutaan penonton dengan ketertarikan yang sama dari seluruh dunia dalam hitungan detik, satu klik setelah video diunggah.
Sebuah film pendek yang dibuat di Yogyakarta bisa langsung tersebar di penjuru dunia tidak hanya di Indonesia. Sebutkanlah film “Walid” dari Malaysia yang viral di sosmed hingga ke Indonesia atau film “Tilik” yang memanfaatkan platform YouTube sebagai media screening mereka. Kemudahan distribusi ini memecah monopoli gatekeeper industri sinema sehingga memungkinkan filmmaker independen menjangkau audiens yang lebih luas dan beragam.
Platform media sosial audio visual telah berhasil menumbuhkan komunitas filmmaking online yang dinamis dan inklusif. Kreator bisa saling belajar, memberikan umpan balik, berkolaborasi dan juga membuat tren sinematik baru. Tantangan film pendek, penggunaan suara yang sama untuk narasi yang berbeda, adanya trend video TikTok dan Reels Instagram berkontribusi pada ekosistem kolaboratif komunitas online yang mempercepat pembelajaran dan inovasi. Komunitas ini nantinya akan menjadi inkubator bagi pemain-pemain baru dan menyediakan dukungan moral yang seringkali hilang di jalur industri tradisional.
Viralitas adalah kunci kesuksesan baru dalam formula pembuatan tren film pendek atau independen. Film pendek di TikTok dan Reels Instagram tidak diukur dari pencapaian nominasi di festival film, jumlah penonton di bioskop maupun berdasarkan rating Nielsen, melainkan dari seberapa viral, cepat ia tersebar di media sosial tersebut, atau mudahnya bagaimana konten film tersebut bisa masuk ke FYP medsos.
Viralitas yang kuncinya masih belum bisa terumuskan dengan presisi nyatanya memberikan peluang besar bagi sineas baru untuk mendapatkan pengakuan, menarik perhatian production house atau menjadi batu loncatan untuk proyek yang lebih besar selanjutnya. Kasus tersebut sangatlah kontras dengan bagaimana sulitnya distribusi film independen tradisional yang biasanya hanya berakhir di screening festival-festival kecil atau event screening bersama.
Kesimpulannya, TikTok dan Reels Instagram telah bisa melakukan perannya lebih dari sekedar platform media sosial namun juga menjadi panggung revolusioner yang mendemokratisasikan sinema. Menghapus batasan tradisional dan memberikan panggung yang sebelumnya sulit ditembus bagi filmmaker baru dan memberikan pilihan cerita-cerita baru yang beragam untuk audiens internasional. [T]
Penulis: Syfa Amelia
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:


























