PERTANYAAN menyoal posisi Bali dalam percaturan Seni Rupa Indonesia selalu menjadi topik yang tak kunjung bosan untuk dibicarakan. Ia yang menjadi anomali, tumbuh dengan pergulatan sosial dan wacana yang berdiri paralel seakan tak linear dengan apa yang selalu dinarasikan tentang Seni Rupa Indonesia.
Melihat Skena under 2000-an
Tahun 30-an manifesto jiwo ketok S. Sudjojono mulai diluncurkan—merangsek untuk mengambil alih kemudi untuk menentukan arah seni rupa Indonesia selanjutnya. Bersamaan dengan itu, di pulau seberang, organisasi yang membawa misi besar dengan bernahkodakan dua orang pelukis asing, Walter Spies dan Rudolf Bonnet berdiri dengan julukan Pita Maha.
Sebuah organisasi atas patronisasi Kolonial dan Kerajaan mencoba membawa angin baru bagi prilaku artistik para pelukis Bali pada era itu, struktur anatomis dan pencahayaan ala Barat mulai menghinggapi sebagian besar pelukis-pelukis tradisi, terutama yang berdiam di Ubud dan sekitarnya.

Rudolf Bonnet | Foto: Documentation of Troopen Museum at www.sejarahbali.com.
Lompat ke tahun 70-an, muncul beberapa seniman muda berbekal pendidikan akademis yang mendirikan salah satu kelompok besar bernama Sanggar Dewata Indonesia, yang sejak kemunculannya memberikan pengaruh yang cukup dominan pada cara pandang dalam melihat seniman dan arah Seni Rupa Bali era itu.
Kelompok yang digawangi oleh 3 pembesarnya yakni I Wayan Sika, Made Wianta, dan I Nyoman Gunarsa mencoba menawarkan sebuah gagasan baru tentang seni lukis modern yang bernafaskan tradisi Bali.
Ketiga seniman ini merintis ruang penting bagi para mahasiswa seni asal Bali, khususnya mereka yang menempuh pendidikan di ISI Yogyakarta. Melalui upaya mereka, terjadi alih pengetahuan seni modern Barat yang melibatkan dua kecenderungan utama: kecenderungan ‘formalis’ kuasi-abstrak yang dibubuhi simbol-simbol budaya, dan pendekatan yang lebih ‘dekoratif-naif’—yang keduanya sering kali saling bertautan dalam praktiknya.
Pengaruh SDI melahirkan varian seni rupa modernis yang khas Bali, yang berkembang dengan irama dan lintasannya sendiri. Dengan berpindah ke Jawa, banyak seniman muda Bali—kebanyakan berasal dari latar budaya agraris dan lokal—mengalami keterputusan budaya yang mendalam.
Bali, yang sebelumnya dipandang sebagai pusar bhuwana (pusat dunia), kini terasa seperti hanya serpihan kecil di peta Indonesia, bahkan hanya titik pada panggung global. Identitas kebalian mereka pun bergeser dari pengalaman yang naluriah dan menyatu, menjadi sikap yang lebih reflektif—yang didefinisikan dalam relasi, dan kerap dalam kontras, dengan kelompok etnis lain.
Pengaruh SDI tidak hanya pada kehadirannya di pulau Jawa, para punggawanya yang memilih untuk tinggal di Bali, menjadi semacam hegemoni yang menjamuri segala praktik artsitik berkulit modernis Barat.
Masuknya wacana post-modern ke Bali pun seakan larut dengan senyap, hingga lompatannya dalam praktik era kontemporer pada tahun 90-an, dengan diawali oleh munculnya galeri seni kontemporer pertama di Bali, yakni Sika Contemporary Art Gallery yang tentu dimiliki oleh I Wayan Sika yang sadar bahwa gelombang wacana kontemporer telah merambah ke segala lini perbincangan di antara pegiat seni.
Sejak saat itu muncul berbagai artis inisiatif ditambah dengan mahasiswa lulusan STSI Denpasar yang membentuk kelompok-kelompok kecil yang berenang dengan kaki kecil di tengah lautan pergulatan medan seni rupa.
Galang Kangin mungkin salah satunya yang menjadi wadah teman-teman muda di era tumbuhnya ruang-ruang baru saat itu, serta munculnya kelompok bernama Seniwati yang beranggotakan para seniman wanita yang semakin menambah riak dalam pertumbuhan ekosistem seni rupa di Bali.

Artists of Seniwati Gallery, circa 1990s | Foto: Documentation of Indonesian Visual Art Archive (IVAA)
Skena Upper 2000-an
Sampai pada awal tahun 2000-an, pengaruh SDI dan meledaknnya boom seni rupa menjadi awal dari kemapanan sekaligus kemandekan bagi pergulatan wacana seni di Bali.
Ditengarai berbagai hal tersebutlah pada Februari tahun 2001 muncul sebuah gerakan “Mendobrak Hegemoni”, sebuah embrio yang melatari terbentuknya Klinik Seni Taxu yang hadir untuk mengisi kekosongan dalam pewacanaan Bali sebagai ekosistem seni rupa, dengan anggota yang terdiri dari berbagai disiplin, terutama didominasi oleh para mahasiswa seni rupa ISI Denpasar. Di antaranya adalah Seriyoga Parta, Mahendra yasa, Wayan Suja, Ngakan Ardana, Made Bayak, Dodit artawan, Ngurah Suryawan, Wayan Arsana, Moniarta dan beberapa eksponen lainnya pada waktu itu.
Kehadiran Taxu menjadi antitesis di antara gemerlapnya pasar dan hegemoni kuasi abstrak yang menjamur di sebagian seniman senior. Para angkatan muda ini didominasi oleh para seniman dan penulis, yang sebagian besar dihinggapi oleh ideologi realisme sosialis, mereka dalam tanda kutip menolak kuasi abstrak yang menggambarkan identitas Ke-Bali-an melalui simbol-simbol yang terkesan latah.
Taxu memilih jalan lain, yakni perubahan radikal dan mencari peta-peta pemikiran baru tentang kesenian dan kebudayaan Bali, terutama seni rupa itu sendiri.

Exhibition of Klinik Seni Taxu, ‘Cooking History’, 2004, at Cemeti Art House | Foto: Documentation of Indonesian Visual Art Archive (IVAA)
Bagi mereka, untuk menjadi Bali tidaklah harus dengan latah memunculkan simbol-simbol yang lumrah dan berakhir pada eksotisme belaka. Hal yang terpenting bagi mereka adalah proses berbalik dan melihat berbagai permasalahan nyata yang hadir di Bali, baik peristiwa sosial hingga politik industri.
Selain berkarya, Taxu juga menyebar pemikirannya melalui sebuah buletin seni rupa yang dinamai KITSCH, yang mewadahi pemikiran alternatif di antara para anggota Kelompok Klinik Seni Taxu.
Di tengah-tengah itu juga hadir komunitas street art yang mulai lahir dari pergesekan tersebut, yaitu The Pojoks, sebuah komunitas yang berbasis di Denpasar dan telah melakukan banyak sekali pergerakan, salah satunya adalah Bali Yang Binal, sebuah acara street art movement yang berfokus untuk menjadi tandingan dan mengkritisi Bali Biennale (2005) yang dipandang terkesan elitis dan mapan.
Acara itu menjadi penting karena kehadirannya telah mencapai edisinya yang ke-9, berbanding terbalik dengan acara yang dikritisi yaitu Bali Biennale, yang hanya berlangsung pada gelaran pertamanya saja.
Berselang beberapa tahun eksistensi Taxu sebagai sebuah kelompok dan produser manifesto mulai kehilangan arah, hingga berujung pada kembali senyapnya ombak wacana di wilayah seni rupa. Gaungan tersebut mulai kembali terdengar pada tahun 2013, era yang cukup penting bagi ekosistem seni rupa Bali ke depannya.
Dipicu pasar seni rupa yang mulai surut, banyak seniman yang dahulu berjaya kini merintih dalam langkahnya yang terseok-seok. Di tengah kevakuman tersebutlah, menjelang akhir tahun 2013, diadakan satu inisiasi untuk mengupayakan satu pergerakan dalam mengatasi surutnya dunia seni rupa, inisasi tersebut bernama Bali Act (Art in Culture Tradition), sebuah even di mana kurang lebih 100 artspace mengadakan exhibition showcase, baik museum, gallery, establish studio, bahkan beberapa di antaranya diisi oleh ruang-ruang alternatif yang menjadi artist initiative.
Tak menjelang lama dari gelaran event tersebut, para punggawa yang berkutat pula dalam menggelar Bali Act, lalu membentuk satu komunitas yang kini sangat melekat di telinga kita hari ini, yaitu Gurat Institute. Sebuah komunitas yang sangat berperan penting dalam pembaharuan dalam memberikan angin segar bagi dunia seni rupa Bali, baik dari segi pewacanaan, peremajaan, dan penelitian berbasis riset yang komprehensif.
Komunitas ini dirikan oleh Seriyoga Parta, Susanta Dwitanaya, Dewa Purwita, dan Wayan Nuriarta. Ke empat founder tersebut hingga kini masih terus aktif dan mendorong dalam terbentuknya sebuah komunitas berbasis kolektif, hingga munculnya generasi baru yang kini ikut bergerak dalam kapal yang sama.
Di tahun yang sama secara paralel muncul pula sebuah kelompok yang diinisiasi oleh beberapa seniman yang berfokus pada penggalian kemungkinan-kemungkinan baru dalam seni lukis Bali, kelompok tersebut bernama Neo-Pitamaha. Seniman yang terlibat dalam kelompok ini adalah Mahendra Yasa, Kemalezedine, Moniarta, dan Tang Adimawan.
Dengan mengusung nama Neo-Pitamaha, gagasan awal terbentuknya kelompok yang bermuara menjadi gerakan ini adalah bayangan akan bagaimana seni lukis Bali jika dilihat tidak melalui alur yang bersinggungan dengan Pita Maha, yang digagas oleh Rudolf Bonnet dan Walter spies.
Mereka berbalik dan mulai melihat seni rupa tradisional Bali, yang memiliki berbagai kemungkinan dalam menghadirkan kredo estetik drawing sebagai upaya mereka dalam memunculkan paradigma baru dalam melihat seni rupa tradisi. Usaha mereka dalam mengagas pemikiran tersebut, membawa mereka ke berbagai ruang presentasi, bahkan hingga di luar Bali sekalipun.

Exhibition of Neo-Pitamaha, Platform 3, Bandung, 2015. Left to right: Tang Adimawan, Agung Hujatinika, Rizki Zaelani, Mahendra Yasa, Kemal Ezedine, Asmudjo Jono Irianto, Rifky Effendy, Ketut Moniarta
Pandemi dan Inkubasi Kreativitas
Tumbuhnya ruang dan pemikiran-pemikiran baru terkait seni rupa Bali, mengawali sebuah perjumpaan dengan titik balik perkembangan Bali sebagai sebuah ekosistem yang mandiri, hingga hal tersebut berlanjut pada tahun-tahun berikutnya sampai kemudian pandemi Covid-19 meguncang dunia, tak terkecuali Bali sebagai melting pot para wisatawan asing.
Art Bali yang digagas sebagai perpanjangan Artjog kandas pada perhelatan keduanya setelah dihempas oleh badai pandemi pada akhir 2019.
Pandemi ini menjadi pukulan telak bagi segala industri terutama industri kreatif. Banyak mahasiswa asal Bali yang akhirnya pulang akibat kebimbangan situasi dunia, pandemi layaknya ruang inkubasi yang memaksa kita untuk tiarap.
Namun di tengah situasi tersebut, ternyata muncul semangat baru akan reflektivitas berkesenian dengan munculnya sebuah ruang insiatif kolektif bernama Suksma Bali yang digagas oleh Ketut Nugi, sebuah geliat yang tumbuh akibat kurangnya saluran yang hadir pada masa pandemi.
Semangat baru itu menghadirkan berbagai acara di sepanjang era pandemi seperti Graffiti kepupungan, Megibung, hingga (Se)Pekan Grafis Bali yang hadir oleh inisiasi con-temporary Gallery, sebuah ruang temporer inklusif yang memunculkan dan memamerkan berbagai praktik seni dari berbagai lintas disiplin baik skena street art, grafis hingga Komunitas prasi.
Kolektif temporer ini mencoba membawa percakapan seni sebagai buah perlawanan dari pandemi yang telah mengurung aktivitas dunia hari itu dan menjadi salah satu titik balik ruang baur antarberbagai lapisan elemen generasi muda, baik yang berdiam di Bali mapun luar Bali.

Suksma Bali on Temporary Gallery, Discovery Mall, Kuta 2022 \ Foto: Documentation of Suksma Bali.
Hingga sampai pada post-pandemic yang menjadi masa di mana generasi baru mulai muncul dengan semangat dan gagasan baru. Luapan kreativitas bermuara pada terbitnya para seniman, penulis, serta kurator muda baru yang mengisi relung-relung dan celah pada ekosistem seni rupa Bali selanjutnya.
Inisiatif seperti Bali Emerging Artist oleh Sika Gallery serta residensi penulisan dan kuratorial pada Acara DenPasar oleh Cush-cush Gallery memberi ruang tumbuh bagi para stakeholder baru yang akan mengisi kekosongan peran pada pewacanaan seni rupa Bali beberapa tahun ke belakang.
Kini, kesadaran berkesenian para perupa muda mulai memunculkan arus perkembangan pada melihat kembali praktik tradisi sebagai media olah tanpa batas di tengah era kontemporer global estetik hari ini.
Hal itu dipertebal dengan kehadiran Lano Art Project dengan wacananya Post-Tradisi yang mencoba melihat kembali singgungan antara modernitas yang masih membawa nilai-nilai tradisi di dalamnya. Kecenderungan ini menjadi perluasan dalam melihat arah praktik seni rupa yang berkembang di Bali ke depannya.
Pada akhirnya, melihat berbagai lapisan yang terjadi dalam pergulatan skena seni rupa Bali seakan menampik anggapan bahwa Bali tak punya arah yang jelas dalam pembacaan seni rupa Indonesia.
Menyadari hal tersebut mungkin kita tak perlu selalu menitik-beratkan pembacaan linear pada berbagai kecenderungan Seni Rupa Indonesia hari ini. Kompleksitas yang dihadirkan Bali sebagai sebuah ekosistem seni rupa, menjadi bukti bahwa semua tempat dapat menjadi pusat pada kelokalannya msing-masing. Mungkin tak seperti linearitas yang membentang seperti garis lurus, namun boleh jadi bejajar paralel dan memperkaya keluwesan seni rupa Indonesia kita hari ini.
Panjang umur seni rupa![T]
NB: Tulisan ini bersumber pada riset dan penulisan “Legacies in Flux: Timeline In progress” yang dikompilasi oleh Farah Wardani dan Made Chandra. Pada perhelatan event seni rupa Ubud Art Ground yang masih berlangsung dari tanggal 12 Juni hingga 10 Agustus 2025.
Penulis: Made Chandra
Editor: Jaswanto


























