APAKAH Anda pernah mendengar Tralalelo Tralala? Tung Tung Sahur? Ballerina Cappuccina? Selamat! Jika Anda tidak pernah mendengar hal tersebut, maka Anda sudah bukan generasi muda. Atau mungkin Anda adalah generasi milenial yang sudah memiliki anak generasi Alpha. Coba tanyakan kepada anak Anda yang aktif bermain gadget, apakah mereka mengetahui hal ini?
Jika mereka tahu, maka bisa dipastikan anak Anda sudah “terkontaminasi” dengan anomali AI. Namun, apakah anomali AI itu? Dilansir detik.com, anomali AI adalah tren yang menampilkan karakter-karakter absurd hasil kombinasi AI dengan elemen manusia, hewan, dan objek sehari-hari dalam visual yang nyeleneh. Contohnya adalah Tralalelo Tralala, karakter hiu yang memakai sepatu biru Nike. Karakter ini berasal dari Italia. Indonesia pun memiliki karakter AI bernama Tung Tung Sahur — kentongan pos ronda yang memiliki mata bulat dan sering digunakan masyarakat untuk membangunkan sahur.

Tralalelo Tralala
Anomali AI sejatinya dapat “merusak otak”, atau dalam istilah zaman sekarang disebut brain rot. Kita tidak dapat mengelak bahwa gadget adalah bagian dari kehidupan generasi mana pun saat ini. Tak ayal, orang tua memberikan gawai kepada anaknya agar “kalem”. Namun demikian, orang tua sepatutnya mengawasi konten yang dikonsumsi anak mereka. Salah satunya adalah konten anomali AI yang dapat merusak otak anak. Durasi video yang pendek membuat mereka terus scrolling, mirip seperti orang yang kecanduan kokain.
Bahkan yang lebih mengejutkan, terdapat konten yang memperlihatkan Tung Tung Sahur tidur dengan Ballerina Cappuccina — karakter secangkir cappuccino yang menjadi balerina — dan akhirnya hamil. Namun, Tung Tung Sahur menuduh Br Br Patapim — anomali AI yang mencampurkan kepala bekantan dengan pohon — yang menghamili Ballerina Cappuccina. Akhirnya Br Br Patapim ditangkap oleh polisi dan masuk penjara. Benar-benar adegan yang luar biasa, seperti FTV SCTV namun dibalut dengan karakter AI.
Jika mereka menerapkan hal ini di dunia nyata, maka mereka dapat menganggap bahwa mereka dapat melemparkan tanggung jawab kepada orang lain atas kesalahan yang mereka lakukan. Dikutip dari ABC News, Cheryl Eskin, terapis pernikahan dan keluarga di Teen Line Didi Hirsch, sebuah organisasi dukungan kesehatan mental, mengatakan bahwa jika jenis konten ini terus-menerus dikonsumsi, maka anak-anak akan sulit untuk fokus, suasana hati menjadi mudah berubah, atau mudah gelisah.

Ballerina Cappucina
Oleh karena itu, sebagai orang tua, kita harus memiliki bekal mengenai literasi media. Hal ini bukan hanya soal mengetahui penggunaan media, namun juga memahami makna konten di media. Sebagai contoh, orang tua perlu memahami konten mana yang membawa dampak positif ataupun negatif kepada anak. Dengan memahami hal tersebut, orang tua dapat memberikan arahan kepada anaknya, apakah mereka boleh mengonsumsi konten tersebut atau tidak. Sebagai bantuan untuk orang tua, penggunaan handphone untuk anak dapat diatur di pengaturan atau mengubah akun YouTube menjadi YouTube Kids.
Tidak hanya memahami konten, orang tua juga perlu mengetahui efek psikologis dari konten yang ditonton anak. Jika anak sudah kecanduan atau overstimulasi terhadap gadget, orang tua harus membatasi penggunaannya. Ajak anak bermain di dunia nyata, bukan hanya menatap layar terus-menerus. Apabila anak semakin tantrum meskipun orang tua sudah membatasi gadget, ayah dan bunda dapat meminta bantuan dari psikolog atau psikiater.
Orang tua setidaknya harus mengetahui tren yang sedang populer saat ini. Contohnya seperti anomali AI yang cukup unik, baik dari segi karakter maupun jalan ceritanya. Jika orang tua mengetahui hal ini, maka mereka dapat memberikan informasi apakah ini misinformasi atau hoaks. Bahkan, sebagai orang tua, kita juga harus menanamkan pikiran kritis pada anak-anak.
Dengan komunikasi yang baik antara anak dan orang tua, diharapkan anak-anak tidak mengalami brain rot dan ikatan keluarga semakin kuat. Jadi, apakah sekarang Anda tahu Bombardino Crocodilo? [T]
Penulis: Deanda Dewindaru
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:


























