6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Balik Embun dan Senjakala Pertanian Bali: Dilema Generasi dan Jejak Penanam Terakhir

Teguh Wahyu Pranata, by Teguh Wahyu Pranata,
May 7, 2025
in Esai
Di Balik Embun dan Senjakala Pertanian Bali: Dilema Generasi dan Jejak Penanam Terakhir

Menanam padi | Foto: Teguh Pranata

PAGI-pagi sekali, pada pertengahan April menjelang Hari Raya Galungan, saya bersama Bapak dan Paman melakukan sesuatu yang bagi saya sangat asyik; ngabut bulih (mencabut bibit padi yang siap tanam). Hawa dingin daerah Bangli seakan menyayat tulang.

Di antara balutan embun pagi kami mendiskusikan isu pertanian masa kini, salah stunya tentang mahalnya biaya yang dikeluarkan petani untuk bertani dan ketidakpastian nasib menjadi seorang petani.

”Saatang ragane, Ngah, wak sing ngelah tongos kene!” ujar Paman.  Usahakan dirimu, Nak, orang tidak punya tempat begini.

Artinya, sebagai seorang fresh graduate, saya dimintanya untuk mencari kerja lain ketimbang mengolah lahan pertanian.

Sebagai seorang petani berusia berlian, Paman justru melarang anak cucunya untuk menjadikan bertani sebagai profesi. Alasannya tidak jauh dari kepemilikan lahan yang terbatas; hasil panen yang tidak sepadan dengan waktu dan biaya yang dikeluarkan; juga tentang ketidak relevanan profesi petani di era gempuran pariwisata dan pembangunan.

Kegiatan bertani dan menanam padi hanya disarankan bagi mereka yang memiliki lahan luas, juga bagi pegawai tetap yang ingin mencari selingan. Sementara bagi mereka yang tidak punya banyak lahan dan bukan pegawai tetap yang cari selingan, justru lebih memilih mencari pekerjaan lain, selain petani.  Sebagian kecil lagi memilih untuk menjual atau menyewakan lahan pertanian miliknya.

Jadi, mereka membiarkan subak-subak berubah menjadi villa. Sungguh ironi mengingat pertanian turut menyokong doktrin pariwisata budaya yang digaungkan sejak tahun 1970-an.

Petani, subak, dan lumbung padi menjadi bagian tak terpisahkan dari citra pariwisata Bali yang eksotik nan harmoni. Namun ketika pembaca bertanya apakah para petani memiliki taraf hidup yang layak, dan apakah mengelola lahan pertanian lebih menguntungkan ketimbang menukarnya dengan harga sewa, jawabannya seringkali dalam konotasi negatif. Semua itu kemudian menjadi tantangan tersendiri bagi kelangsungan pertanian dan regenerasi petani Bali.

***

Pada hari yang sama, sekitar pukul 9:30 pagi, dua orang pria lanjut usia datang dari arah utara. Mereka adalah I Wayan Lembian (76) dan I Nengah Karya (72), tukang memula (buruh penanam padi) yang dipanggil oleh Bapak dan Paman. Mereka termasuk tukang tanam padi paling senior yang kini masih bertahan dengan pekerjaannya.

I Wayan Lembian (76) dengan bangga menjelaskan kisah awalnya menjadi tenaga penanam padi. Semua dimulai pada pertengahan tahun 1960-an ketika dirinya bekerja sebagai tenaga pertanian di Tabanan.

”Cang dugas amen ragane nak be biase menek, acepoke nang selae bakat ben ngalih. Pidan uling suud gestoke ke Menek ngalih gae. Dadi tukang penek, tukang memula, tukang manyi. Nak ajak onyang kemu jaman to.”

Artinya, ”Saya waktu seumuran kamu itu sudah biasa naik (kelapa) sekali naik bisa sekitar dua puluh lima butir dapat. Sejak setelah Gestok sudah ke Menek (Tabanan) bekerja. Jadi pencari kelapa, tukang tanam, tukang panen. Semua orang ke sana jaman itu.”

Sementara itu I Nengah Karya (72) sedikit lebih junior ketimbang rekannya. Ia baru mulai menjadi tukang tanam padi pada tahun 1970-an. Kala itu, Karya juga pergi ke Tabanan untuk bekerja sebagai tenaga pertanian. Meninggalkan rumah, istri, dan anaknya.

”Yen we dorinan kemu, tahun 1970an, I Murtiasa be ade dugas to. Patuh masih dadi tukang di uma, tukang memula. Megenep je gaene jemak masih.”

Aerinya, “Kalau Paman belakangan ke sana (Tabanan), tahun 1970-an, Si Murtiasa (Anak Karya) sudah lahir waktu itu. Sama juga menjadi pekerja di sawah, tukang tanam. Berbagai pekerjaan (lain) diambil juga.”

Singkat cerita, keduanya kemudian bekerja sebagai tukang tanam padi di desa sepulang dari Menek, Tabanan. Di usia senjanya mereka masih menjadi tukang memula yang sangat diandalkan oleh para petani setempat. Setiap musim tanam, keduanya selalu mendapatkan ”orderan” untuk menanam padi, menjadi langganan bagi para petani.

Menariknya, jika ditelusuri, jumlah tukang memula di desa saya sangatlah minim. Mereka juga merupakan orang-orang lanjut usia yang memang sudah bekerja pada bidang ini sejak lama. Bukan tenaga-tenaga baru atau hasil regenerasi. Dalam hal ini kelangkaan tukang memula kemudian menjadi isu kecil dengan masalah besar dibelakangnya.

Tukang memula yang menipis menjadi domino kecil yang siap meruntuhkan sesuatu yang lebih besar di depannya. Mereka adalah pilar-pilar penting, ya, jarang disorot. Pekerja-pekerja senior yang belum menemukan sosok pengganti.

Sementara Sekaa Manyi (kelompok pemanen padi) masih memiliki anggota-anggota yang lebih muda, dan tukang traktor lebih identik dengan tenaga-tenaga berusia produktif, tukang memula justru masih terdiri dari veteran-veteran yang masih bertahan.

Selain itu, ketika para pemanen padi telah menggunakan teknologi dores, dan para pembajak sawah lebih memilih traktor ketimbang sapi, belum ada alih teknologi untuk tukang memula di Bali.

Dalam hal ini, alih teknologi untuk kegiatan menanam padi di Bali menjadi pr yang harus dikerjakan. Sebagai alternatif, kerjasama antar petani dan anggota subak juga sangat diperlukan. Subak perlu membangun sekaa tanam untuk mempertahankan eksistensi tenaga penanam padi.

Peran pemerintah juga sangat penting, kebijakan yang dibuat agaknya dapat menjawab berbagai permasalahan dalam setiap aspek pertanian. Industri pariwisata perlu diarahkan sejalan dengan pertanian, pun sebaliknya. Isu pertanian dan masalah petani sudah sepatutnya menjadi sorotan, bukan hanya janji pengulangan dalam pesta lima tahunan.

Program-program pertanian yang telah digaungkan seperti Program Petani Milenial, subsidi pupuk, hingga yang terbaru: belajar bertani di Israel perlu dikawal dan diimplementasikan dengan serius. Permasalahan pertanian dari yang paling general seperti regenerasi petani dan ketimpangan hasil, hingga yang lebih spesifik seperti krisis tukang memula adalah PR bersama bagi seluruh lapisan di Bali. PR dari kita semua agar bertani tetap relevan diantara hiruk piruk pariwisata Bali. [T]

Penulis: Teguh Wahyu Pranata
Editor: Adnyana Ole

Edi Juliana, Pemuda Pelopor Wakil Bali, Pemuda Tamblingan yang Tak Bosan Urus Pertanian
Melindungi Lahan Pertanian, Menyelamatkan Perekonomian
“Kerta Masa” dari Penggak Men Mersi: Pertanian Adalah Ibu Kebudayaan Bali
Tags: pertanianpertanian bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

HINDU MEMBACA KALIMAT SYAHADAT

Next Post

Mosphit Skena Segera Tiba, yang Ngaku-Ngaku Anak Skena Wajib Hadir!

Teguh Wahyu Pranata,

Teguh Wahyu Pranata,

I Nengah Teguh Wahyu Pranata, lahir di Demulih, Susut, Bangli. Pecinta Sejarah, anak ideologis Multatuli. Memiliki ketertarikan dengan perempuan juga kronik-kronik peristiwa 65. Dapat ditemukan di Instagram sebagai teguh.inst.

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Mosphit Skena Segera Tiba, yang Ngaku-Ngaku Anak Skena Wajib Hadir!

Mosphit Skena Segera Tiba, yang Ngaku-Ngaku Anak Skena Wajib Hadir!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co