3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Identifikasi Style Bebadungan: Upaya Kodifikasi Seni Patopengan Khas Kabupaten Badung

I Gusti Made Darma Putra by I Gusti Made Darma Putra
April 21, 2025
in Esai
Identifikasi Style Bebadungan: Upaya Kodifikasi Seni Patopengan Khas Kabupaten Badung

Gusti Darma Putra

TULISAN ini saya persembahkan untuk Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung dan LISTIBIYA Kabupaten Badung.

Dalam membicarakan seni pertunjukan salah satunya sajian topeng di Bali, sering kali kita terjebak dalam tumpang tindih antara pengertian gaya dan style. Dua istilah ini, meskipun terdengar serupa, sejatinya memiliki dimensi makna yang berbeda.

Gaya adalah pengejawantahan personal dari seorang seniman buah dari kreativitas, teknik, pengalaman, dan intuisi estetiknya. Gaya adalah ruang kebebasan individual dalam menafsirkan bentuk, gerak, dan narasi.

Sementara itu, style adalah representasi kolektif yang tumbuh dari akar budaya suatu wilayah, yang mencerminkan identitas kultural masyarakatnya. Dalam konteks ini, style Bebadungan merujuk pada kekhasan sajian topeng yang lahir dan berkembang di wilayah Kabupaten Badung, Bali.

Kabupaten Badung yang terdiri dari enam kecamatan merupakan rumah bagi banyak seniman topeng dengan karakteristik yang beragam. Kreativitas mereka melahirkan beragam gaya unik, otentik, dan penuh daya hidup. Namun, dari keberagaman tersebut, muncul pertanyaan mendasar yang mana dapat disebut sebagai “style Bebadungan”? Jika setiap seniman memiliki gaya khasnya sendiri, bagaimana kita menentukan satu identitas bersama yang bisa diwariskan, diajarkan, dan dirawat oleh generasi berikutnya?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya mencoba merumuskan sebuah pendekatan identifikasi yang bersifat umum, bukan untuk menyeragamkan, melainkan untuk mencari titik temu dari keberagaman gaya yang ada di Badung. Dari berbagai pengamatan, diskusi dengan tokoh-tokoh seni, serta telaah terhadap praktik pertunjukan yang masih hidup di masyarakat, saya menemukan bahwa terdapat tiga komponen dasar yang secara konsisten muncul dalam sajian topeng khas Badung, dan dapat menjadi dasar bagi rumusan style Bebadungan yaitu retorika atau antawacana, ciri gerak tari, dan struktur pementasan.

1. Retorika (Antawacana)

    Retorika dalam seni topeng bukan sekadar penyampaian wacana atau humor, tetapi menjadi napas utama dari penghayatan cerita dan jembatan antara seni dan masyarakat. Jika saya amanit dalam dalam konteks Style Bebadungan, antawacana ditandai oleh keakraban bahasa, kekuatan dialek lokal, serta kelenturan dalam membangun narasi yang komunikatif dan penuh wacana bijak. Materi cerita dapat dikemas dengan cara ringan, lucu, namun sarat makna, menjadikannya relevan untuk segala kalangan, dari anak-anak hingga orang tua. Warna suara tokoh, permainan intonasi, dan kemampuan menyatukan pesan dengan cerita menjadi bagian integral dari retorika ini.

    Salah satu bentuk paling representatif dari retorika Bebadungan dapat dilihat dalam sajian Topeng Tugek Carangsari yang dilakoni oleh (alm) I Gusti Ngurah Windia. Beliau tidak hanya diakui sebagai seniman besar, tetapi juga meninggalkan jejak dokumentasi yang kaya dan mudah diakses, menjadikannya rujukan penting dalam membangun acuan retorika Style Bebadungan.

    Dr. I Nyoman Catra pernah mengungkapkan sebuah pernyataan menarik dari seorang kritikus seni, Bapak Panji, yang disampaikan ketika beliau masih menempuh pendidikan di Kokar Bali (kini SMK Negeri 3 Sukawati). Dalam pernyataannya, Bapak Panji menyebutkan bahwa, “Jika ingin menyaksikan pertunjukan topeng yang baik, maka tontonlah Topeng Tugek Carangsari.” Ucapan ini bukan hanya menjadi bentuk pengakuan terhadap kualitas artistik Topeng Tugek Carangsari, tetapi juga menegaskan posisinya sebagai salah satu rujukan penting dalam perkembangan seni topeng, khususnya dalam konteks gaya Bebadungan.

    Topeng Tugek berhasil menyatukan narasi, improvisasi, dan nilai-nilai tradisi ke dalam sajian yang hidup, komunikatif, dan menghibur, sekaligus mengajarkan nilai-nilai moral dan sosial.

    2. Ciri Tari

    Gerak tari dalam sajian topeng Bebadungan memiliki karakteristik fisik yang dapat dikenali. Meski setiap penari membawa gaya pribadinya, namun secara umum terdapat corak gerak yang konsisten, banban (gerakan halus namun terfokus), alep (ketenangan), dan nekes (penguasaan energi). Gerak ini menghadirkan estetika tubuh yang tidak flamboyan, melainkan dalam, meditatif, namun tetap penuh vitalitas.

    Menurut Anak Agung Bagus Sudharma dari Puri Muncan, Kapal, Mengwi seorang tokoh yang dikenal memegang teguh pakem-pakem teknik tari topeng Bebadungan, bentuk topeng keras dalam gaya ini memiliki karakteristik khas yang disebut nuek, tegas, dan abra (gagah). Istilah nuek merujuk pada kualitas gerakan yang mantap dan berakar kuat, mencerminkan kehadiran tubuh penari yang kokoh dan stabil. Sementara itu, tegas menggambarkan kejelasan dan kepastian dalam setiap ekspresi maupun pergerakan tubuh, sehingga tidak menyisakan ruang bagi keraguan atau kelembutan yang berlebihan. Adapun abra atau gagah menekankan pada aura yang memancarkan kekuatan serta karisma. Kombinasi ketiga unsur ini menjadi dasar estetika tubuh dalam menarikan topeng keras yang berakar kuat dalam tradisi dan identitas seni pertunjukan Bebadungan di Bali.

    Terdapat pula kekhasan yang mencolok dalam sajian topeng Bebadungan. Gerak ngangsel lantang dilakukan terlebih dahulu sebelum gerak ngalih pajeng atau mencari tedung. Pola ini bertolak belakang dengan struktur di beberapa wilayah lain, di mana penari lebih dahulu ngalih pajeng sebelum ngangsel lantang.

    Selain itu, gerak ngunda, yang merupakan penanda khas dalam struktur gerak topeng Bebadungan, menjadi ciri ikonik yang sangat mudah dikenali dalam style ini. Gerak ini tidak hanya menciptakan identitas visual yang kuat, tetapi juga memuat muatan simbolik yang dalam menggambarkan, keseimbangan batin, serta kehati-hatian dalam bertindak yang menjadi nilai luhur dalam kehidupan masyarakat Badung.

    3. Struktur Pementasan

    Struktur pertunjukan topeng Bebadungan juga menunjukkan konsistensi yang mencerminkan kekuatan tradisi. Rangkaian tokohnya terbangun dari urutan: Topeng Keras, Topeng Tua, Penasar Kelihan dan Penasar Cenikan, Dalem Arsa Wijaya (penyebutkan tokoh sesuai lakon), bebondresan, di kongklusikan dengan tokoh Pedanda atau Dukuh dan  diakhiri Topeng Sidakarya sebagai penutup. Struktur ini bersifat adaptif terhadap cerita, tetapi tetap menjaga kerangka utama yang menjadikannya mudah dikenali sebagai pertunjukan topeng dalam tradisi Badung.

    Struktur ini penting tidak hanya sebagai bentuk formal, tetapi sebagai penjaga nilai filosofis dan spiritual dari pementasan. Dalam sajian topeng, tidak hanya tubuh yang menari, tetapi juga nilai-nilai yang bergerak: antara humor dan hikmah, antara hiburan dan upacara, antara panggung dan semesta.

    Harapan saya atas Peneguhan Style Bebadungan

    Melalui pemetaan tiga komponen dasar di atas, retorika, gerak tari, dan struktur pementasan maka style Bebadungan dapat dirumuskan bukan sebagai satu bentuk tunggal yang kaku, melainkan sebagai identitas estetik kolektif yang fleksibel namun berpijak kuat pada tradisi. Dalam keragaman gaya personal para seniman topeng di Badung, kita tetap dapat menemukan benang merah yang menyatukan mereka dalam satu nama ”Bebadungan”.

    Oleh karena itu, saya sangat berharap Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung dan LISTIBIYA Kabupaten Badung dapat segera melakukan upaya kodifikasi, pendokumentasian, dan penetapan terhadap style Bebadungan ini sebagai bentuk pelestarian yang terarah. Penetapan ini tidak untuk mengikat kreativitas, melainkan untuk memberikan fondasi yang kokoh bagi generasi muda yang ingin belajar dan melanjutkan warisan topeng di tanah Badung.

     Melalui langkah ini, kita tidak hanya menjaga bentuk seni, tetapi juga menjaga roh yang hidup di balik topeng yang telah membentuk wajah budaya Bali, khususnya Badung. [T]

    Penulis: I Gusti Made Darma Putra
    Editor: Adnyana Ole

    BACA artikel lain dari penulis I GUSTI MADE DARMA PUTRA

    Deskripsi yang Dipinggirkan: Ironi Narasi dalam Tubuh Karya Seni
    Melompat ke Jurang Imajinasi: Kreativitas Tak Lagi Punya Pagar
    Listibiya Kabupaten Badung dan Simfoni Seni yang Menggema di Yogyakarta
    Memuja Kesempurnaan Jati: Konseptualisasi Bapang Barong Kabupaten Badung
    Tags: BadungListibiya Kabupaten BadungSenitopeng
    ShareTweetSendShareSend
    Previous Post

    Dilema Suku Baduy [2]:Krisis Lahan Huma, Hilangnya “Bera” dan Solusinya

    Next Post

    Antara Kedengkian dan Ijazah Jokowi

    I Gusti Made Darma Putra

    I Gusti Made Darma Putra

    Seniman pedalangan, kreator wayang Bali

    Related Posts

    ‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

    by Eril Paizi
    June 2, 2026
    0
    ‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

    JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

    Read moreDetails

    ‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

    by Early NHS
    June 2, 2026
    0
    (Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

    BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

    Read moreDetails

    (Tidak Ada) Literasi Digital

    by I Wayan Artika
    June 2, 2026
    0
    (Tidak Ada) Literasi Digital

    LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

    Read moreDetails

    Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

    by Rsi Suwardana
    June 1, 2026
    0
    Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

    PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

    Read moreDetails

    Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

    by Agung Sudarsa
    June 1, 2026
    0
    Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

    Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

    Read moreDetails

    Awas Ada Pocong!

    by Dede Putra Wiguna
    May 31, 2026
    0
    Awas Ada Pocong!

    BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

    Read moreDetails

    Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

    by Ahmad Fatoni
    May 31, 2026
    0
    Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

    ……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

    Read moreDetails

    Wisata Bahari di Negeri Maritim

    by Chusmeru
    May 31, 2026
    0
    Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

    BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

    Read moreDetails

    FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

    by Agung Sudarsa
    May 31, 2026
    0
    FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

    Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

    Read moreDetails

    Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

    by IGP Weda Adi Wangsa
    May 30, 2026
    0
    Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

    CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

    Read moreDetails
    Next Post
    Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

    Antara Kedengkian dan Ijazah Jokowi

    Please login to join discussion

    Ads

    POPULER

    • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

      Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

      22 shares
      Share 22 Tweet 0
    • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

      0 shares
      Share 0 Tweet 0

    ARTIKEL TERKINI

    ‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
    Esai

    ‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

    JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

    by Eril Paizi
    June 2, 2026
    Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
    Persona

    Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

    SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

    by Dede Putra Wiguna
    June 2, 2026
    Ke Pacet Mereka Kembali
    Tualang

    Ke Pacet Mereka Kembali

    DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

    by Jaswanto
    June 2, 2026
    (Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
    Esai

    ‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

    BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

    by Early NHS
    June 2, 2026
    Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
    Panggung

    Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

    PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

    by Dede Putra Wiguna
    June 2, 2026
    (Tidak Ada) Literasi Digital
    Esai

    (Tidak Ada) Literasi Digital

    LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

    by I Wayan Artika
    June 2, 2026
    Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
    Ulas Rupa

    Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

    Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

    by Made Chandra
    June 2, 2026
    PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
    Ekonomi

    PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

    Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

    by Nyoman Budarsana
    June 1, 2026
    ’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
    Ulas Musik

    ’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

    LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

    by Ahmad Sihabudin
    June 1, 2026
    Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
    Khas

    Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

    by Putu Agus Eka Pradnyana
    June 1, 2026
    Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
    Ulas Film

    Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

    SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

    by Satria Aditya
    June 1, 2026
    Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
    Esai

    Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

    PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

    by Rsi Suwardana
    June 1, 2026

    TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

    • Penulis
    • Tentang & Redaksi
    • Kirim Naskah
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Desclaimer

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In
    No Result
    View All Result
    • Beranda
    • Feature
      • Khas
      • Tualang
      • Persona
      • Historia
      • Milenial
      • Kuliner
      • Pop
      • Gaya
      • Pameran
      • Panggung
    • Berita
      • Ekonomi
      • Pariwisata
      • Pemerintahan
      • Budaya
      • Hiburan
      • Politik
      • Hukum
      • Kesehatan
      • Olahraga
      • Pendidikan
      • Pertanian
      • Lingkungan
      • Liputan Khusus
    • Kritik & Opini
      • Esai
      • Opini
      • Ulas Buku
      • Ulas Film
      • Ulas Rupa
      • Ulas Pentas
      • Kritik Sastra
      • Kritik Seni
      • Bahasa
      • Ulas Musik
    • Fiksi
      • Cerpen
      • Puisi
      • Dongeng
    • English Column
      • Essay
      • Fiction
      • Poetry
      • Features
    • Penulis
    • Buku
      • Buku Mahima
      • Buku Tatkala

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co