2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Identifikasi Style Bebadungan: Upaya Kodifikasi Seni Patopengan Khas Kabupaten Badung

I Gusti Made Darma Putra by I Gusti Made Darma Putra
April 21, 2025
in Esai
Identifikasi Style Bebadungan: Upaya Kodifikasi Seni Patopengan Khas Kabupaten Badung

Gusti Darma Putra

TULISAN ini saya persembahkan untuk Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung dan LISTIBIYA Kabupaten Badung.

Dalam membicarakan seni pertunjukan salah satunya sajian topeng di Bali, sering kali kita terjebak dalam tumpang tindih antara pengertian gaya dan style. Dua istilah ini, meskipun terdengar serupa, sejatinya memiliki dimensi makna yang berbeda.

Gaya adalah pengejawantahan personal dari seorang seniman buah dari kreativitas, teknik, pengalaman, dan intuisi estetiknya. Gaya adalah ruang kebebasan individual dalam menafsirkan bentuk, gerak, dan narasi.

Sementara itu, style adalah representasi kolektif yang tumbuh dari akar budaya suatu wilayah, yang mencerminkan identitas kultural masyarakatnya. Dalam konteks ini, style Bebadungan merujuk pada kekhasan sajian topeng yang lahir dan berkembang di wilayah Kabupaten Badung, Bali.

Kabupaten Badung yang terdiri dari enam kecamatan merupakan rumah bagi banyak seniman topeng dengan karakteristik yang beragam. Kreativitas mereka melahirkan beragam gaya unik, otentik, dan penuh daya hidup. Namun, dari keberagaman tersebut, muncul pertanyaan mendasar yang mana dapat disebut sebagai “style Bebadungan”? Jika setiap seniman memiliki gaya khasnya sendiri, bagaimana kita menentukan satu identitas bersama yang bisa diwariskan, diajarkan, dan dirawat oleh generasi berikutnya?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya mencoba merumuskan sebuah pendekatan identifikasi yang bersifat umum, bukan untuk menyeragamkan, melainkan untuk mencari titik temu dari keberagaman gaya yang ada di Badung. Dari berbagai pengamatan, diskusi dengan tokoh-tokoh seni, serta telaah terhadap praktik pertunjukan yang masih hidup di masyarakat, saya menemukan bahwa terdapat tiga komponen dasar yang secara konsisten muncul dalam sajian topeng khas Badung, dan dapat menjadi dasar bagi rumusan style Bebadungan yaitu retorika atau antawacana, ciri gerak tari, dan struktur pementasan.

1. Retorika (Antawacana)

    Retorika dalam seni topeng bukan sekadar penyampaian wacana atau humor, tetapi menjadi napas utama dari penghayatan cerita dan jembatan antara seni dan masyarakat. Jika saya amanit dalam dalam konteks Style Bebadungan, antawacana ditandai oleh keakraban bahasa, kekuatan dialek lokal, serta kelenturan dalam membangun narasi yang komunikatif dan penuh wacana bijak. Materi cerita dapat dikemas dengan cara ringan, lucu, namun sarat makna, menjadikannya relevan untuk segala kalangan, dari anak-anak hingga orang tua. Warna suara tokoh, permainan intonasi, dan kemampuan menyatukan pesan dengan cerita menjadi bagian integral dari retorika ini.

    Salah satu bentuk paling representatif dari retorika Bebadungan dapat dilihat dalam sajian Topeng Tugek Carangsari yang dilakoni oleh (alm) I Gusti Ngurah Windia. Beliau tidak hanya diakui sebagai seniman besar, tetapi juga meninggalkan jejak dokumentasi yang kaya dan mudah diakses, menjadikannya rujukan penting dalam membangun acuan retorika Style Bebadungan.

    Dr. I Nyoman Catra pernah mengungkapkan sebuah pernyataan menarik dari seorang kritikus seni, Bapak Panji, yang disampaikan ketika beliau masih menempuh pendidikan di Kokar Bali (kini SMK Negeri 3 Sukawati). Dalam pernyataannya, Bapak Panji menyebutkan bahwa, “Jika ingin menyaksikan pertunjukan topeng yang baik, maka tontonlah Topeng Tugek Carangsari.” Ucapan ini bukan hanya menjadi bentuk pengakuan terhadap kualitas artistik Topeng Tugek Carangsari, tetapi juga menegaskan posisinya sebagai salah satu rujukan penting dalam perkembangan seni topeng, khususnya dalam konteks gaya Bebadungan.

    Topeng Tugek berhasil menyatukan narasi, improvisasi, dan nilai-nilai tradisi ke dalam sajian yang hidup, komunikatif, dan menghibur, sekaligus mengajarkan nilai-nilai moral dan sosial.

    2. Ciri Tari

    Gerak tari dalam sajian topeng Bebadungan memiliki karakteristik fisik yang dapat dikenali. Meski setiap penari membawa gaya pribadinya, namun secara umum terdapat corak gerak yang konsisten, banban (gerakan halus namun terfokus), alep (ketenangan), dan nekes (penguasaan energi). Gerak ini menghadirkan estetika tubuh yang tidak flamboyan, melainkan dalam, meditatif, namun tetap penuh vitalitas.

    Menurut Anak Agung Bagus Sudharma dari Puri Muncan, Kapal, Mengwi seorang tokoh yang dikenal memegang teguh pakem-pakem teknik tari topeng Bebadungan, bentuk topeng keras dalam gaya ini memiliki karakteristik khas yang disebut nuek, tegas, dan abra (gagah). Istilah nuek merujuk pada kualitas gerakan yang mantap dan berakar kuat, mencerminkan kehadiran tubuh penari yang kokoh dan stabil. Sementara itu, tegas menggambarkan kejelasan dan kepastian dalam setiap ekspresi maupun pergerakan tubuh, sehingga tidak menyisakan ruang bagi keraguan atau kelembutan yang berlebihan. Adapun abra atau gagah menekankan pada aura yang memancarkan kekuatan serta karisma. Kombinasi ketiga unsur ini menjadi dasar estetika tubuh dalam menarikan topeng keras yang berakar kuat dalam tradisi dan identitas seni pertunjukan Bebadungan di Bali.

    Terdapat pula kekhasan yang mencolok dalam sajian topeng Bebadungan. Gerak ngangsel lantang dilakukan terlebih dahulu sebelum gerak ngalih pajeng atau mencari tedung. Pola ini bertolak belakang dengan struktur di beberapa wilayah lain, di mana penari lebih dahulu ngalih pajeng sebelum ngangsel lantang.

    Selain itu, gerak ngunda, yang merupakan penanda khas dalam struktur gerak topeng Bebadungan, menjadi ciri ikonik yang sangat mudah dikenali dalam style ini. Gerak ini tidak hanya menciptakan identitas visual yang kuat, tetapi juga memuat muatan simbolik yang dalam menggambarkan, keseimbangan batin, serta kehati-hatian dalam bertindak yang menjadi nilai luhur dalam kehidupan masyarakat Badung.

    3. Struktur Pementasan

    Struktur pertunjukan topeng Bebadungan juga menunjukkan konsistensi yang mencerminkan kekuatan tradisi. Rangkaian tokohnya terbangun dari urutan: Topeng Keras, Topeng Tua, Penasar Kelihan dan Penasar Cenikan, Dalem Arsa Wijaya (penyebutkan tokoh sesuai lakon), bebondresan, di kongklusikan dengan tokoh Pedanda atau Dukuh dan  diakhiri Topeng Sidakarya sebagai penutup. Struktur ini bersifat adaptif terhadap cerita, tetapi tetap menjaga kerangka utama yang menjadikannya mudah dikenali sebagai pertunjukan topeng dalam tradisi Badung.

    Struktur ini penting tidak hanya sebagai bentuk formal, tetapi sebagai penjaga nilai filosofis dan spiritual dari pementasan. Dalam sajian topeng, tidak hanya tubuh yang menari, tetapi juga nilai-nilai yang bergerak: antara humor dan hikmah, antara hiburan dan upacara, antara panggung dan semesta.

    Harapan saya atas Peneguhan Style Bebadungan

    Melalui pemetaan tiga komponen dasar di atas, retorika, gerak tari, dan struktur pementasan maka style Bebadungan dapat dirumuskan bukan sebagai satu bentuk tunggal yang kaku, melainkan sebagai identitas estetik kolektif yang fleksibel namun berpijak kuat pada tradisi. Dalam keragaman gaya personal para seniman topeng di Badung, kita tetap dapat menemukan benang merah yang menyatukan mereka dalam satu nama ”Bebadungan”.

    Oleh karena itu, saya sangat berharap Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung dan LISTIBIYA Kabupaten Badung dapat segera melakukan upaya kodifikasi, pendokumentasian, dan penetapan terhadap style Bebadungan ini sebagai bentuk pelestarian yang terarah. Penetapan ini tidak untuk mengikat kreativitas, melainkan untuk memberikan fondasi yang kokoh bagi generasi muda yang ingin belajar dan melanjutkan warisan topeng di tanah Badung.

     Melalui langkah ini, kita tidak hanya menjaga bentuk seni, tetapi juga menjaga roh yang hidup di balik topeng yang telah membentuk wajah budaya Bali, khususnya Badung. [T]

    Penulis: I Gusti Made Darma Putra
    Editor: Adnyana Ole

    BACA artikel lain dari penulis I GUSTI MADE DARMA PUTRA

    Deskripsi yang Dipinggirkan: Ironi Narasi dalam Tubuh Karya Seni
    Melompat ke Jurang Imajinasi: Kreativitas Tak Lagi Punya Pagar
    Listibiya Kabupaten Badung dan Simfoni Seni yang Menggema di Yogyakarta
    Memuja Kesempurnaan Jati: Konseptualisasi Bapang Barong Kabupaten Badung
    Tags: BadungListibiya Kabupaten BadungSenitopeng
    ShareTweetSendShareSend
    Previous Post

    Dilema Suku Baduy [2]:Krisis Lahan Huma, Hilangnya “Bera” dan Solusinya

    Next Post

    Antara Kedengkian dan Ijazah Jokowi

    I Gusti Made Darma Putra

    I Gusti Made Darma Putra

    Seniman pedalangan, kreator wayang Bali

    Related Posts

    Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

    by I Wayan Yudana
    October 1, 2026
    0
    Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

    SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

    Read moreDetails

    Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

    by Teguh Wahyu Pranata
    October 1, 2026
    0
    Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

    ”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

    Read moreDetails

    Manusia Purba di Kota Denpasar

    by Angga Wijaya
    October 1, 2026
    0
    Manusia Purba di Kota Denpasar

    SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

    Read moreDetails

    Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

    by Agung Sudarsa
    September 30, 2026
    0
    Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

    vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

    Read moreDetails

    Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

    by Chusmeru
    September 30, 2026
    0
    Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

    DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

    Read moreDetails

    Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

    by Putu Arya Nugraha
    September 29, 2026
    0
    Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

    PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

    Read moreDetails

    Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

    by Ahmad Hirzan Anwari
    September 29, 2026
    0
    Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

    PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

    Read moreDetails

    Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

    by Emi Suy
    September 29, 2026
    0
    Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

    ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

    Read moreDetails

    Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

    by Jero Penyarikan Duuran Batur
    September 28, 2026
    0
    Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

    Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

    Read moreDetails

    Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

    by Angga Wijaya
    September 27, 2026
    0
    Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

    DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

    Read moreDetails
    Next Post
    Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

    Antara Kedengkian dan Ijazah Jokowi

    Please login to join discussion

    Ads

    POPULER

    • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

      Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

      22 shares
      Share 22 Tweet 0
    • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

      0 shares
      Share 0 Tweet 0

    ARTIKEL TERKINI

    Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
    Esai

    Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

    SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

    by I Wayan Yudana
    October 1, 2026
    Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
    Khas

    Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

    Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

    by Rusdy Ulu
    October 1, 2026
    Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
    Esai

    Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

    ”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

    by Teguh Wahyu Pranata
    October 1, 2026
    Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
    Panggung

    Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

    PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

    by Nyoman Budarsana
    October 1, 2026
    Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
    Pop

    Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

    ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

    by Nyoman Budarsana
    October 1, 2026
    Manusia Purba di Kota Denpasar
    Esai

    Manusia Purba di Kota Denpasar

    SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

    by Angga Wijaya
    October 1, 2026
    Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
    Khas

    Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

    “CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

    by Dede Putra Wiguna
    October 1, 2026
    Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
    Olahraga

    Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

    KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

    by Jaswanto
    October 1, 2026
    Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
    Esai

    Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

    vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

    by Agung Sudarsa
    September 30, 2026
    Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
    Esai

    Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

    DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

    by Chusmeru
    September 30, 2026
    Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
    Budaya

    Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

    TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

    by Rusdy Ulu
    September 30, 2026
    Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
    Opini

    Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

    PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

    by Dini Nastiti Wardani
    September 30, 2026

    TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

    • Penulis
    • Tentang & Redaksi
    • Kirim Naskah
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Desclaimer

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In
    No Result
    View All Result
    • Beranda
    • Feature
      • Khas
      • Tualang
      • Persona
      • Historia
      • Milenial
      • Kuliner
      • Pop
      • Gaya
      • Pameran
      • Panggung
    • Berita
      • Ekonomi
      • Pariwisata
      • Pemerintahan
      • Budaya
      • Hiburan
      • Politik
      • Hukum
      • Kesehatan
      • Olahraga
      • Pendidikan
      • Pertanian
      • Lingkungan
      • Liputan Khusus
    • Kritik & Opini
      • Esai
      • Opini
      • Ulas Buku
      • Ulas Film
      • Ulas Rupa
      • Ulas Pentas
      • Kritik Sastra
      • Kritik Seni
      • Bahasa
      • Ulas Musik
    • Fiksi
      • Cerpen
      • Puisi
      • Dongeng
    • English Column
      • Essay
      • Fiction
      • Poetry
      • Features
    • Penulis
    • Buku
      • Buku Mahima
      • Buku Tatkala

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co