22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Identifikasi Style Bebadungan: Upaya Kodifikasi Seni Patopengan Khas Kabupaten Badung

I Gusti Made Darma Putra by I Gusti Made Darma Putra
April 21, 2025
in Esai
Identifikasi Style Bebadungan: Upaya Kodifikasi Seni Patopengan Khas Kabupaten Badung

Gusti Darma Putra

TULISAN ini saya persembahkan untuk Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung dan LISTIBIYA Kabupaten Badung.

Dalam membicarakan seni pertunjukan salah satunya sajian topeng di Bali, sering kali kita terjebak dalam tumpang tindih antara pengertian gaya dan style. Dua istilah ini, meskipun terdengar serupa, sejatinya memiliki dimensi makna yang berbeda.

Gaya adalah pengejawantahan personal dari seorang seniman buah dari kreativitas, teknik, pengalaman, dan intuisi estetiknya. Gaya adalah ruang kebebasan individual dalam menafsirkan bentuk, gerak, dan narasi.

Sementara itu, style adalah representasi kolektif yang tumbuh dari akar budaya suatu wilayah, yang mencerminkan identitas kultural masyarakatnya. Dalam konteks ini, style Bebadungan merujuk pada kekhasan sajian topeng yang lahir dan berkembang di wilayah Kabupaten Badung, Bali.

Kabupaten Badung yang terdiri dari enam kecamatan merupakan rumah bagi banyak seniman topeng dengan karakteristik yang beragam. Kreativitas mereka melahirkan beragam gaya unik, otentik, dan penuh daya hidup. Namun, dari keberagaman tersebut, muncul pertanyaan mendasar yang mana dapat disebut sebagai “style Bebadungan”? Jika setiap seniman memiliki gaya khasnya sendiri, bagaimana kita menentukan satu identitas bersama yang bisa diwariskan, diajarkan, dan dirawat oleh generasi berikutnya?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya mencoba merumuskan sebuah pendekatan identifikasi yang bersifat umum, bukan untuk menyeragamkan, melainkan untuk mencari titik temu dari keberagaman gaya yang ada di Badung. Dari berbagai pengamatan, diskusi dengan tokoh-tokoh seni, serta telaah terhadap praktik pertunjukan yang masih hidup di masyarakat, saya menemukan bahwa terdapat tiga komponen dasar yang secara konsisten muncul dalam sajian topeng khas Badung, dan dapat menjadi dasar bagi rumusan style Bebadungan yaitu retorika atau antawacana, ciri gerak tari, dan struktur pementasan.

1. Retorika (Antawacana)

    Retorika dalam seni topeng bukan sekadar penyampaian wacana atau humor, tetapi menjadi napas utama dari penghayatan cerita dan jembatan antara seni dan masyarakat. Jika saya amanit dalam dalam konteks Style Bebadungan, antawacana ditandai oleh keakraban bahasa, kekuatan dialek lokal, serta kelenturan dalam membangun narasi yang komunikatif dan penuh wacana bijak. Materi cerita dapat dikemas dengan cara ringan, lucu, namun sarat makna, menjadikannya relevan untuk segala kalangan, dari anak-anak hingga orang tua. Warna suara tokoh, permainan intonasi, dan kemampuan menyatukan pesan dengan cerita menjadi bagian integral dari retorika ini.

    Salah satu bentuk paling representatif dari retorika Bebadungan dapat dilihat dalam sajian Topeng Tugek Carangsari yang dilakoni oleh (alm) I Gusti Ngurah Windia. Beliau tidak hanya diakui sebagai seniman besar, tetapi juga meninggalkan jejak dokumentasi yang kaya dan mudah diakses, menjadikannya rujukan penting dalam membangun acuan retorika Style Bebadungan.

    Dr. I Nyoman Catra pernah mengungkapkan sebuah pernyataan menarik dari seorang kritikus seni, Bapak Panji, yang disampaikan ketika beliau masih menempuh pendidikan di Kokar Bali (kini SMK Negeri 3 Sukawati). Dalam pernyataannya, Bapak Panji menyebutkan bahwa, “Jika ingin menyaksikan pertunjukan topeng yang baik, maka tontonlah Topeng Tugek Carangsari.” Ucapan ini bukan hanya menjadi bentuk pengakuan terhadap kualitas artistik Topeng Tugek Carangsari, tetapi juga menegaskan posisinya sebagai salah satu rujukan penting dalam perkembangan seni topeng, khususnya dalam konteks gaya Bebadungan.

    Topeng Tugek berhasil menyatukan narasi, improvisasi, dan nilai-nilai tradisi ke dalam sajian yang hidup, komunikatif, dan menghibur, sekaligus mengajarkan nilai-nilai moral dan sosial.

    2. Ciri Tari

    Gerak tari dalam sajian topeng Bebadungan memiliki karakteristik fisik yang dapat dikenali. Meski setiap penari membawa gaya pribadinya, namun secara umum terdapat corak gerak yang konsisten, banban (gerakan halus namun terfokus), alep (ketenangan), dan nekes (penguasaan energi). Gerak ini menghadirkan estetika tubuh yang tidak flamboyan, melainkan dalam, meditatif, namun tetap penuh vitalitas.

    Menurut Anak Agung Bagus Sudharma dari Puri Muncan, Kapal, Mengwi seorang tokoh yang dikenal memegang teguh pakem-pakem teknik tari topeng Bebadungan, bentuk topeng keras dalam gaya ini memiliki karakteristik khas yang disebut nuek, tegas, dan abra (gagah). Istilah nuek merujuk pada kualitas gerakan yang mantap dan berakar kuat, mencerminkan kehadiran tubuh penari yang kokoh dan stabil. Sementara itu, tegas menggambarkan kejelasan dan kepastian dalam setiap ekspresi maupun pergerakan tubuh, sehingga tidak menyisakan ruang bagi keraguan atau kelembutan yang berlebihan. Adapun abra atau gagah menekankan pada aura yang memancarkan kekuatan serta karisma. Kombinasi ketiga unsur ini menjadi dasar estetika tubuh dalam menarikan topeng keras yang berakar kuat dalam tradisi dan identitas seni pertunjukan Bebadungan di Bali.

    Terdapat pula kekhasan yang mencolok dalam sajian topeng Bebadungan. Gerak ngangsel lantang dilakukan terlebih dahulu sebelum gerak ngalih pajeng atau mencari tedung. Pola ini bertolak belakang dengan struktur di beberapa wilayah lain, di mana penari lebih dahulu ngalih pajeng sebelum ngangsel lantang.

    Selain itu, gerak ngunda, yang merupakan penanda khas dalam struktur gerak topeng Bebadungan, menjadi ciri ikonik yang sangat mudah dikenali dalam style ini. Gerak ini tidak hanya menciptakan identitas visual yang kuat, tetapi juga memuat muatan simbolik yang dalam menggambarkan, keseimbangan batin, serta kehati-hatian dalam bertindak yang menjadi nilai luhur dalam kehidupan masyarakat Badung.

    3. Struktur Pementasan

    Struktur pertunjukan topeng Bebadungan juga menunjukkan konsistensi yang mencerminkan kekuatan tradisi. Rangkaian tokohnya terbangun dari urutan: Topeng Keras, Topeng Tua, Penasar Kelihan dan Penasar Cenikan, Dalem Arsa Wijaya (penyebutkan tokoh sesuai lakon), bebondresan, di kongklusikan dengan tokoh Pedanda atau Dukuh dan  diakhiri Topeng Sidakarya sebagai penutup. Struktur ini bersifat adaptif terhadap cerita, tetapi tetap menjaga kerangka utama yang menjadikannya mudah dikenali sebagai pertunjukan topeng dalam tradisi Badung.

    Struktur ini penting tidak hanya sebagai bentuk formal, tetapi sebagai penjaga nilai filosofis dan spiritual dari pementasan. Dalam sajian topeng, tidak hanya tubuh yang menari, tetapi juga nilai-nilai yang bergerak: antara humor dan hikmah, antara hiburan dan upacara, antara panggung dan semesta.

    Harapan saya atas Peneguhan Style Bebadungan

    Melalui pemetaan tiga komponen dasar di atas, retorika, gerak tari, dan struktur pementasan maka style Bebadungan dapat dirumuskan bukan sebagai satu bentuk tunggal yang kaku, melainkan sebagai identitas estetik kolektif yang fleksibel namun berpijak kuat pada tradisi. Dalam keragaman gaya personal para seniman topeng di Badung, kita tetap dapat menemukan benang merah yang menyatukan mereka dalam satu nama ”Bebadungan”.

    Oleh karena itu, saya sangat berharap Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung dan LISTIBIYA Kabupaten Badung dapat segera melakukan upaya kodifikasi, pendokumentasian, dan penetapan terhadap style Bebadungan ini sebagai bentuk pelestarian yang terarah. Penetapan ini tidak untuk mengikat kreativitas, melainkan untuk memberikan fondasi yang kokoh bagi generasi muda yang ingin belajar dan melanjutkan warisan topeng di tanah Badung.

     Melalui langkah ini, kita tidak hanya menjaga bentuk seni, tetapi juga menjaga roh yang hidup di balik topeng yang telah membentuk wajah budaya Bali, khususnya Badung. [T]

    Penulis: I Gusti Made Darma Putra
    Editor: Adnyana Ole

    BACA artikel lain dari penulis I GUSTI MADE DARMA PUTRA

    Deskripsi yang Dipinggirkan: Ironi Narasi dalam Tubuh Karya Seni
    Melompat ke Jurang Imajinasi: Kreativitas Tak Lagi Punya Pagar
    Listibiya Kabupaten Badung dan Simfoni Seni yang Menggema di Yogyakarta
    Memuja Kesempurnaan Jati: Konseptualisasi Bapang Barong Kabupaten Badung
    Tags: BadungListibiya Kabupaten BadungSenitopeng
    ShareTweetSendShareSend
    Previous Post

    Dilema Suku Baduy [2]:Krisis Lahan Huma, Hilangnya “Bera” dan Solusinya

    Next Post

    Antara Kedengkian dan Ijazah Jokowi

    I Gusti Made Darma Putra

    I Gusti Made Darma Putra

    Seniman pedalangan, kreator wayang Bali

    Related Posts

    Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

    by I Ketut Suar Adnyana
    October 22, 2026
    0
    Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

    IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

    Read moreDetails

    Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

    by Tri Nugroho Adi
    October 22, 2026
    0
    Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

    Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

    Read moreDetails

    Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

    by I Wayan Artika
    October 21, 2026
    0
    Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

    ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

    Read moreDetails

    Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

    by Chusmeru
    October 21, 2026
    0
    Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

    DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

    Read moreDetails

    Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

    by Angga Wijaya
    October 20, 2026
    0
    Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

    SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

    Read moreDetails

    Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

    by Luh Putu Anggreny
    October 20, 2026
    0
    Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

    BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

    Read moreDetails

    Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

    by Wayan Gde Yudane
    October 19, 2026
    0
    Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

    Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

    Read moreDetails

    Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

    by AA Ayu Arun Suwi Arianty
    October 19, 2026
    0
    Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

    PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

    Read moreDetails

    Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

    by I Wayan Yudana
    October 19, 2026
    0
    Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

    ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

    Read moreDetails

    Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

    by Angga Wijaya
    October 19, 2026
    0
    Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

    SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

    Read moreDetails
    Next Post
    Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

    Antara Kedengkian dan Ijazah Jokowi

    Please login to join discussion

    Ads

    POPULER

    • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

      Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

      22 shares
      Share 22 Tweet 0
    • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

      0 shares
      Share 0 Tweet 0

    ARTIKEL TERKINI

    Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
    Esai

    Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

    IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

    by I Ketut Suar Adnyana
    October 22, 2026
    Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
    Esai

    Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

    Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

    by Tri Nugroho Adi
    October 22, 2026
    Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
    Panggung

    Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

    DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

    by Nyoman Budarsana
    October 22, 2026
    Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
    Esai

    Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

    ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

    by I Wayan Artika
    October 21, 2026
    Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
    Opini

    Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

    SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

    by I Made Pria Dharsana
    October 21, 2026
    Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
    Pendidikan

    Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

    ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

    by Nyoman Budarsana
    October 21, 2026
    Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
    Pariwisata

    Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

    DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

    by Nyoman Budarsana
    October 21, 2026
    Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
    Ulas Buku

    Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

    SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

    by Hartanto
    October 21, 2026
    Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
    Esai

    Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

    DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

    by Chusmeru
    October 21, 2026
    Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
    Esai

    Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

    SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

    by Angga Wijaya
    October 20, 2026
    Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
    Esai

    Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

    BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

    by Luh Putu Anggreny
    October 20, 2026
    Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
    Esai

    Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

    Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

    by Wayan Gde Yudane
    October 19, 2026

    TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

    • Penulis
    • Tentang & Redaksi
    • Kirim Naskah
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Desclaimer

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In
    No Result
    View All Result
    • Beranda
    • Feature
      • Khas
      • Tualang
      • Persona
      • Historia
      • Milenial
      • Kuliner
      • Pop
      • Gaya
      • Pameran
      • Panggung
    • Berita
      • Ekonomi
      • Pariwisata
      • Pemerintahan
      • Budaya
      • Hiburan
      • Politik
      • Hukum
      • Kesehatan
      • Olahraga
      • Pendidikan
      • Pertanian
      • Lingkungan
      • Liputan Khusus
    • Kritik & Opini
      • Esai
      • Opini
      • Ulas Buku
      • Ulas Film
      • Ulas Rupa
      • Ulas Pentas
      • Kritik Sastra
      • Kritik Seni
      • Bahasa
      • Ulas Musik
    • Fiksi
      • Cerpen
      • Puisi
      • Dongeng
    • English Column
      • Essay
      • Fiction
      • Poetry
      • Features
    • Penulis
    • Buku
      • Buku Mahima
      • Buku Tatkala

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co