13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Identifikasi Style Bebadungan: Upaya Kodifikasi Seni Patopengan Khas Kabupaten Badung

I Gusti Made Darma Putra by I Gusti Made Darma Putra
April 21, 2025
in Esai
Identifikasi Style Bebadungan: Upaya Kodifikasi Seni Patopengan Khas Kabupaten Badung

Gusti Darma Putra

TULISAN ini saya persembahkan untuk Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung dan LISTIBIYA Kabupaten Badung.

Dalam membicarakan seni pertunjukan salah satunya sajian topeng di Bali, sering kali kita terjebak dalam tumpang tindih antara pengertian gaya dan style. Dua istilah ini, meskipun terdengar serupa, sejatinya memiliki dimensi makna yang berbeda.

Gaya adalah pengejawantahan personal dari seorang seniman buah dari kreativitas, teknik, pengalaman, dan intuisi estetiknya. Gaya adalah ruang kebebasan individual dalam menafsirkan bentuk, gerak, dan narasi.

Sementara itu, style adalah representasi kolektif yang tumbuh dari akar budaya suatu wilayah, yang mencerminkan identitas kultural masyarakatnya. Dalam konteks ini, style Bebadungan merujuk pada kekhasan sajian topeng yang lahir dan berkembang di wilayah Kabupaten Badung, Bali.

Kabupaten Badung yang terdiri dari enam kecamatan merupakan rumah bagi banyak seniman topeng dengan karakteristik yang beragam. Kreativitas mereka melahirkan beragam gaya unik, otentik, dan penuh daya hidup. Namun, dari keberagaman tersebut, muncul pertanyaan mendasar yang mana dapat disebut sebagai “style Bebadungan”? Jika setiap seniman memiliki gaya khasnya sendiri, bagaimana kita menentukan satu identitas bersama yang bisa diwariskan, diajarkan, dan dirawat oleh generasi berikutnya?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya mencoba merumuskan sebuah pendekatan identifikasi yang bersifat umum, bukan untuk menyeragamkan, melainkan untuk mencari titik temu dari keberagaman gaya yang ada di Badung. Dari berbagai pengamatan, diskusi dengan tokoh-tokoh seni, serta telaah terhadap praktik pertunjukan yang masih hidup di masyarakat, saya menemukan bahwa terdapat tiga komponen dasar yang secara konsisten muncul dalam sajian topeng khas Badung, dan dapat menjadi dasar bagi rumusan style Bebadungan yaitu retorika atau antawacana, ciri gerak tari, dan struktur pementasan.

1. Retorika (Antawacana)

    Retorika dalam seni topeng bukan sekadar penyampaian wacana atau humor, tetapi menjadi napas utama dari penghayatan cerita dan jembatan antara seni dan masyarakat. Jika saya amanit dalam dalam konteks Style Bebadungan, antawacana ditandai oleh keakraban bahasa, kekuatan dialek lokal, serta kelenturan dalam membangun narasi yang komunikatif dan penuh wacana bijak. Materi cerita dapat dikemas dengan cara ringan, lucu, namun sarat makna, menjadikannya relevan untuk segala kalangan, dari anak-anak hingga orang tua. Warna suara tokoh, permainan intonasi, dan kemampuan menyatukan pesan dengan cerita menjadi bagian integral dari retorika ini.

    Salah satu bentuk paling representatif dari retorika Bebadungan dapat dilihat dalam sajian Topeng Tugek Carangsari yang dilakoni oleh (alm) I Gusti Ngurah Windia. Beliau tidak hanya diakui sebagai seniman besar, tetapi juga meninggalkan jejak dokumentasi yang kaya dan mudah diakses, menjadikannya rujukan penting dalam membangun acuan retorika Style Bebadungan.

    Dr. I Nyoman Catra pernah mengungkapkan sebuah pernyataan menarik dari seorang kritikus seni, Bapak Panji, yang disampaikan ketika beliau masih menempuh pendidikan di Kokar Bali (kini SMK Negeri 3 Sukawati). Dalam pernyataannya, Bapak Panji menyebutkan bahwa, “Jika ingin menyaksikan pertunjukan topeng yang baik, maka tontonlah Topeng Tugek Carangsari.” Ucapan ini bukan hanya menjadi bentuk pengakuan terhadap kualitas artistik Topeng Tugek Carangsari, tetapi juga menegaskan posisinya sebagai salah satu rujukan penting dalam perkembangan seni topeng, khususnya dalam konteks gaya Bebadungan.

    Topeng Tugek berhasil menyatukan narasi, improvisasi, dan nilai-nilai tradisi ke dalam sajian yang hidup, komunikatif, dan menghibur, sekaligus mengajarkan nilai-nilai moral dan sosial.

    2. Ciri Tari

    Gerak tari dalam sajian topeng Bebadungan memiliki karakteristik fisik yang dapat dikenali. Meski setiap penari membawa gaya pribadinya, namun secara umum terdapat corak gerak yang konsisten, banban (gerakan halus namun terfokus), alep (ketenangan), dan nekes (penguasaan energi). Gerak ini menghadirkan estetika tubuh yang tidak flamboyan, melainkan dalam, meditatif, namun tetap penuh vitalitas.

    Menurut Anak Agung Bagus Sudharma dari Puri Muncan, Kapal, Mengwi seorang tokoh yang dikenal memegang teguh pakem-pakem teknik tari topeng Bebadungan, bentuk topeng keras dalam gaya ini memiliki karakteristik khas yang disebut nuek, tegas, dan abra (gagah). Istilah nuek merujuk pada kualitas gerakan yang mantap dan berakar kuat, mencerminkan kehadiran tubuh penari yang kokoh dan stabil. Sementara itu, tegas menggambarkan kejelasan dan kepastian dalam setiap ekspresi maupun pergerakan tubuh, sehingga tidak menyisakan ruang bagi keraguan atau kelembutan yang berlebihan. Adapun abra atau gagah menekankan pada aura yang memancarkan kekuatan serta karisma. Kombinasi ketiga unsur ini menjadi dasar estetika tubuh dalam menarikan topeng keras yang berakar kuat dalam tradisi dan identitas seni pertunjukan Bebadungan di Bali.

    Terdapat pula kekhasan yang mencolok dalam sajian topeng Bebadungan. Gerak ngangsel lantang dilakukan terlebih dahulu sebelum gerak ngalih pajeng atau mencari tedung. Pola ini bertolak belakang dengan struktur di beberapa wilayah lain, di mana penari lebih dahulu ngalih pajeng sebelum ngangsel lantang.

    Selain itu, gerak ngunda, yang merupakan penanda khas dalam struktur gerak topeng Bebadungan, menjadi ciri ikonik yang sangat mudah dikenali dalam style ini. Gerak ini tidak hanya menciptakan identitas visual yang kuat, tetapi juga memuat muatan simbolik yang dalam menggambarkan, keseimbangan batin, serta kehati-hatian dalam bertindak yang menjadi nilai luhur dalam kehidupan masyarakat Badung.

    3. Struktur Pementasan

    Struktur pertunjukan topeng Bebadungan juga menunjukkan konsistensi yang mencerminkan kekuatan tradisi. Rangkaian tokohnya terbangun dari urutan: Topeng Keras, Topeng Tua, Penasar Kelihan dan Penasar Cenikan, Dalem Arsa Wijaya (penyebutkan tokoh sesuai lakon), bebondresan, di kongklusikan dengan tokoh Pedanda atau Dukuh dan  diakhiri Topeng Sidakarya sebagai penutup. Struktur ini bersifat adaptif terhadap cerita, tetapi tetap menjaga kerangka utama yang menjadikannya mudah dikenali sebagai pertunjukan topeng dalam tradisi Badung.

    Struktur ini penting tidak hanya sebagai bentuk formal, tetapi sebagai penjaga nilai filosofis dan spiritual dari pementasan. Dalam sajian topeng, tidak hanya tubuh yang menari, tetapi juga nilai-nilai yang bergerak: antara humor dan hikmah, antara hiburan dan upacara, antara panggung dan semesta.

    Harapan saya atas Peneguhan Style Bebadungan

    Melalui pemetaan tiga komponen dasar di atas, retorika, gerak tari, dan struktur pementasan maka style Bebadungan dapat dirumuskan bukan sebagai satu bentuk tunggal yang kaku, melainkan sebagai identitas estetik kolektif yang fleksibel namun berpijak kuat pada tradisi. Dalam keragaman gaya personal para seniman topeng di Badung, kita tetap dapat menemukan benang merah yang menyatukan mereka dalam satu nama ”Bebadungan”.

    Oleh karena itu, saya sangat berharap Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung dan LISTIBIYA Kabupaten Badung dapat segera melakukan upaya kodifikasi, pendokumentasian, dan penetapan terhadap style Bebadungan ini sebagai bentuk pelestarian yang terarah. Penetapan ini tidak untuk mengikat kreativitas, melainkan untuk memberikan fondasi yang kokoh bagi generasi muda yang ingin belajar dan melanjutkan warisan topeng di tanah Badung.

     Melalui langkah ini, kita tidak hanya menjaga bentuk seni, tetapi juga menjaga roh yang hidup di balik topeng yang telah membentuk wajah budaya Bali, khususnya Badung. [T]

    Penulis: I Gusti Made Darma Putra
    Editor: Adnyana Ole

    BACA artikel lain dari penulis I GUSTI MADE DARMA PUTRA

    Deskripsi yang Dipinggirkan: Ironi Narasi dalam Tubuh Karya Seni
    Melompat ke Jurang Imajinasi: Kreativitas Tak Lagi Punya Pagar
    Listibiya Kabupaten Badung dan Simfoni Seni yang Menggema di Yogyakarta
    Memuja Kesempurnaan Jati: Konseptualisasi Bapang Barong Kabupaten Badung
    Tags: BadungListibiya Kabupaten BadungSenitopeng
    ShareTweetSendShareSend
    Previous Post

    Dilema Suku Baduy [2]:Krisis Lahan Huma, Hilangnya “Bera” dan Solusinya

    Next Post

    Antara Kedengkian dan Ijazah Jokowi

    I Gusti Made Darma Putra

    I Gusti Made Darma Putra

    Seniman pedalangan, kreator wayang Bali

    Related Posts

    HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

    by Sugi Lanus
    July 12, 2026
    0
    PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

    — Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

    Read moreDetails

    Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

    by I Wayan Artika
    July 12, 2026
    0
    Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

    Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

    Read moreDetails

    Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

    by Agung Bawantara
    July 12, 2026
    0
    Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

    Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

    Read moreDetails

    Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

    by Wayan Gde Yudane
    July 11, 2026
    0
    Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

    ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

    Read moreDetails

    Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

    by I Gede Made Surya Darma
    July 10, 2026
    0
    Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

    DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

    Read moreDetails

    Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

    by Chusmeru
    July 10, 2026
    0
    Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

    Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

    Read moreDetails

    Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

    by Nur Inayah Yushar
    July 9, 2026
    0
    Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

    SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

    Read moreDetails

    Bali, Surga yang Sudah Overload

    by Agung Sudarsa
    July 9, 2026
    0
    Bali, Surga yang Sudah Overload

    Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

    Read moreDetails

    Bunglon di Republik Kita

    by Petrus Imam Prawoto Jati
    July 8, 2026
    0
    Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

    DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

    Read moreDetails

    KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

    by Sugi Lanus
    July 7, 2026
    0
    PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

    Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

    Read moreDetails
    Next Post
    Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

    Antara Kedengkian dan Ijazah Jokowi

    Please login to join discussion

    Ads

    POPULER

    • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

      Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

      22 shares
      Share 22 Tweet 0
    • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

      23 shares
      Share 23 Tweet 0
    • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

      0 shares
      Share 0 Tweet 0

    ARTIKEL TERKINI

    Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
    Panggung

    Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

    DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

    by Nyoman Budarsana
    July 13, 2026
    “Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
    Panggung

    “Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

    PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

    by Nyoman Budarsana
    July 13, 2026
    Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
    Panggung

    Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

    Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

    by Nyoman Budarsana
    July 12, 2026
    PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
    Esai

    HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

    — Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

    by Sugi Lanus
    July 12, 2026
    Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
    Khas

    Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

    PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

    by Dede Putra Wiguna
    July 12, 2026
    Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
    Esai

    Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

    Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

    by I Wayan Artika
    July 12, 2026
    Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
    Ulas Buku

    Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

    KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

    by IRZI
    July 12, 2026
    Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
    Esai

    Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

    Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

    by Agung Bawantara
    July 12, 2026
    Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
    Panggung

    Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

    SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

    by Agus Eka Cahyadi
    July 11, 2026
    Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
    Ulas Pentas

    Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

    BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

    by Dewa Purwita Sukahet
    July 11, 2026
    Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
    Khas

    Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

    SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

    by Dede Putra Wiguna
    July 11, 2026
    Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
    Pameran

    Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

    PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

    by I Gede Made Surya Darma
    July 11, 2026

    TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

    • Penulis
    • Tentang & Redaksi
    • Kirim Naskah
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Desclaimer

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In
    No Result
    View All Result
    • Beranda
    • Feature
      • Khas
      • Tualang
      • Persona
      • Historia
      • Milenial
      • Kuliner
      • Pop
      • Gaya
      • Pameran
      • Panggung
    • Berita
      • Ekonomi
      • Pariwisata
      • Pemerintahan
      • Budaya
      • Hiburan
      • Politik
      • Hukum
      • Kesehatan
      • Olahraga
      • Pendidikan
      • Pertanian
      • Lingkungan
      • Liputan Khusus
    • Kritik & Opini
      • Esai
      • Opini
      • Ulas Buku
      • Ulas Film
      • Ulas Rupa
      • Ulas Pentas
      • Kritik Sastra
      • Kritik Seni
      • Bahasa
      • Ulas Musik
    • Fiksi
      • Cerpen
      • Puisi
      • Dongeng
    • English Column
      • Essay
      • Fiction
      • Poetry
      • Features
    • Penulis
    • Buku
      • Buku Mahima
      • Buku Tatkala

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co