14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Identifikasi Style Bebadungan: Upaya Kodifikasi Seni Patopengan Khas Kabupaten Badung

I Gusti Made Darma Putra by I Gusti Made Darma Putra
April 21, 2025
in Esai
Identifikasi Style Bebadungan: Upaya Kodifikasi Seni Patopengan Khas Kabupaten Badung

Gusti Darma Putra

TULISAN ini saya persembahkan untuk Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung dan LISTIBIYA Kabupaten Badung.

Dalam membicarakan seni pertunjukan salah satunya sajian topeng di Bali, sering kali kita terjebak dalam tumpang tindih antara pengertian gaya dan style. Dua istilah ini, meskipun terdengar serupa, sejatinya memiliki dimensi makna yang berbeda.

Gaya adalah pengejawantahan personal dari seorang seniman buah dari kreativitas, teknik, pengalaman, dan intuisi estetiknya. Gaya adalah ruang kebebasan individual dalam menafsirkan bentuk, gerak, dan narasi.

Sementara itu, style adalah representasi kolektif yang tumbuh dari akar budaya suatu wilayah, yang mencerminkan identitas kultural masyarakatnya. Dalam konteks ini, style Bebadungan merujuk pada kekhasan sajian topeng yang lahir dan berkembang di wilayah Kabupaten Badung, Bali.

Kabupaten Badung yang terdiri dari enam kecamatan merupakan rumah bagi banyak seniman topeng dengan karakteristik yang beragam. Kreativitas mereka melahirkan beragam gaya unik, otentik, dan penuh daya hidup. Namun, dari keberagaman tersebut, muncul pertanyaan mendasar yang mana dapat disebut sebagai “style Bebadungan”? Jika setiap seniman memiliki gaya khasnya sendiri, bagaimana kita menentukan satu identitas bersama yang bisa diwariskan, diajarkan, dan dirawat oleh generasi berikutnya?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya mencoba merumuskan sebuah pendekatan identifikasi yang bersifat umum, bukan untuk menyeragamkan, melainkan untuk mencari titik temu dari keberagaman gaya yang ada di Badung. Dari berbagai pengamatan, diskusi dengan tokoh-tokoh seni, serta telaah terhadap praktik pertunjukan yang masih hidup di masyarakat, saya menemukan bahwa terdapat tiga komponen dasar yang secara konsisten muncul dalam sajian topeng khas Badung, dan dapat menjadi dasar bagi rumusan style Bebadungan yaitu retorika atau antawacana, ciri gerak tari, dan struktur pementasan.

1. Retorika (Antawacana)

    Retorika dalam seni topeng bukan sekadar penyampaian wacana atau humor, tetapi menjadi napas utama dari penghayatan cerita dan jembatan antara seni dan masyarakat. Jika saya amanit dalam dalam konteks Style Bebadungan, antawacana ditandai oleh keakraban bahasa, kekuatan dialek lokal, serta kelenturan dalam membangun narasi yang komunikatif dan penuh wacana bijak. Materi cerita dapat dikemas dengan cara ringan, lucu, namun sarat makna, menjadikannya relevan untuk segala kalangan, dari anak-anak hingga orang tua. Warna suara tokoh, permainan intonasi, dan kemampuan menyatukan pesan dengan cerita menjadi bagian integral dari retorika ini.

    Salah satu bentuk paling representatif dari retorika Bebadungan dapat dilihat dalam sajian Topeng Tugek Carangsari yang dilakoni oleh (alm) I Gusti Ngurah Windia. Beliau tidak hanya diakui sebagai seniman besar, tetapi juga meninggalkan jejak dokumentasi yang kaya dan mudah diakses, menjadikannya rujukan penting dalam membangun acuan retorika Style Bebadungan.

    Dr. I Nyoman Catra pernah mengungkapkan sebuah pernyataan menarik dari seorang kritikus seni, Bapak Panji, yang disampaikan ketika beliau masih menempuh pendidikan di Kokar Bali (kini SMK Negeri 3 Sukawati). Dalam pernyataannya, Bapak Panji menyebutkan bahwa, “Jika ingin menyaksikan pertunjukan topeng yang baik, maka tontonlah Topeng Tugek Carangsari.” Ucapan ini bukan hanya menjadi bentuk pengakuan terhadap kualitas artistik Topeng Tugek Carangsari, tetapi juga menegaskan posisinya sebagai salah satu rujukan penting dalam perkembangan seni topeng, khususnya dalam konteks gaya Bebadungan.

    Topeng Tugek berhasil menyatukan narasi, improvisasi, dan nilai-nilai tradisi ke dalam sajian yang hidup, komunikatif, dan menghibur, sekaligus mengajarkan nilai-nilai moral dan sosial.

    2. Ciri Tari

    Gerak tari dalam sajian topeng Bebadungan memiliki karakteristik fisik yang dapat dikenali. Meski setiap penari membawa gaya pribadinya, namun secara umum terdapat corak gerak yang konsisten, banban (gerakan halus namun terfokus), alep (ketenangan), dan nekes (penguasaan energi). Gerak ini menghadirkan estetika tubuh yang tidak flamboyan, melainkan dalam, meditatif, namun tetap penuh vitalitas.

    Menurut Anak Agung Bagus Sudharma dari Puri Muncan, Kapal, Mengwi seorang tokoh yang dikenal memegang teguh pakem-pakem teknik tari topeng Bebadungan, bentuk topeng keras dalam gaya ini memiliki karakteristik khas yang disebut nuek, tegas, dan abra (gagah). Istilah nuek merujuk pada kualitas gerakan yang mantap dan berakar kuat, mencerminkan kehadiran tubuh penari yang kokoh dan stabil. Sementara itu, tegas menggambarkan kejelasan dan kepastian dalam setiap ekspresi maupun pergerakan tubuh, sehingga tidak menyisakan ruang bagi keraguan atau kelembutan yang berlebihan. Adapun abra atau gagah menekankan pada aura yang memancarkan kekuatan serta karisma. Kombinasi ketiga unsur ini menjadi dasar estetika tubuh dalam menarikan topeng keras yang berakar kuat dalam tradisi dan identitas seni pertunjukan Bebadungan di Bali.

    Terdapat pula kekhasan yang mencolok dalam sajian topeng Bebadungan. Gerak ngangsel lantang dilakukan terlebih dahulu sebelum gerak ngalih pajeng atau mencari tedung. Pola ini bertolak belakang dengan struktur di beberapa wilayah lain, di mana penari lebih dahulu ngalih pajeng sebelum ngangsel lantang.

    Selain itu, gerak ngunda, yang merupakan penanda khas dalam struktur gerak topeng Bebadungan, menjadi ciri ikonik yang sangat mudah dikenali dalam style ini. Gerak ini tidak hanya menciptakan identitas visual yang kuat, tetapi juga memuat muatan simbolik yang dalam menggambarkan, keseimbangan batin, serta kehati-hatian dalam bertindak yang menjadi nilai luhur dalam kehidupan masyarakat Badung.

    3. Struktur Pementasan

    Struktur pertunjukan topeng Bebadungan juga menunjukkan konsistensi yang mencerminkan kekuatan tradisi. Rangkaian tokohnya terbangun dari urutan: Topeng Keras, Topeng Tua, Penasar Kelihan dan Penasar Cenikan, Dalem Arsa Wijaya (penyebutkan tokoh sesuai lakon), bebondresan, di kongklusikan dengan tokoh Pedanda atau Dukuh dan  diakhiri Topeng Sidakarya sebagai penutup. Struktur ini bersifat adaptif terhadap cerita, tetapi tetap menjaga kerangka utama yang menjadikannya mudah dikenali sebagai pertunjukan topeng dalam tradisi Badung.

    Struktur ini penting tidak hanya sebagai bentuk formal, tetapi sebagai penjaga nilai filosofis dan spiritual dari pementasan. Dalam sajian topeng, tidak hanya tubuh yang menari, tetapi juga nilai-nilai yang bergerak: antara humor dan hikmah, antara hiburan dan upacara, antara panggung dan semesta.

    Harapan saya atas Peneguhan Style Bebadungan

    Melalui pemetaan tiga komponen dasar di atas, retorika, gerak tari, dan struktur pementasan maka style Bebadungan dapat dirumuskan bukan sebagai satu bentuk tunggal yang kaku, melainkan sebagai identitas estetik kolektif yang fleksibel namun berpijak kuat pada tradisi. Dalam keragaman gaya personal para seniman topeng di Badung, kita tetap dapat menemukan benang merah yang menyatukan mereka dalam satu nama ”Bebadungan”.

    Oleh karena itu, saya sangat berharap Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung dan LISTIBIYA Kabupaten Badung dapat segera melakukan upaya kodifikasi, pendokumentasian, dan penetapan terhadap style Bebadungan ini sebagai bentuk pelestarian yang terarah. Penetapan ini tidak untuk mengikat kreativitas, melainkan untuk memberikan fondasi yang kokoh bagi generasi muda yang ingin belajar dan melanjutkan warisan topeng di tanah Badung.

     Melalui langkah ini, kita tidak hanya menjaga bentuk seni, tetapi juga menjaga roh yang hidup di balik topeng yang telah membentuk wajah budaya Bali, khususnya Badung. [T]

    Penulis: I Gusti Made Darma Putra
    Editor: Adnyana Ole

    BACA artikel lain dari penulis I GUSTI MADE DARMA PUTRA

    Deskripsi yang Dipinggirkan: Ironi Narasi dalam Tubuh Karya Seni
    Melompat ke Jurang Imajinasi: Kreativitas Tak Lagi Punya Pagar
    Listibiya Kabupaten Badung dan Simfoni Seni yang Menggema di Yogyakarta
    Memuja Kesempurnaan Jati: Konseptualisasi Bapang Barong Kabupaten Badung
    Tags: BadungListibiya Kabupaten BadungSenitopeng
    ShareTweetSendShareSend
    Previous Post

    Dilema Suku Baduy [2]:Krisis Lahan Huma, Hilangnya “Bera” dan Solusinya

    Next Post

    Antara Kedengkian dan Ijazah Jokowi

    I Gusti Made Darma Putra

    I Gusti Made Darma Putra

    Seniman pedalangan, kreator wayang Bali

    Related Posts

    Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

    by Fitria Hani Aprina
    May 13, 2026
    0
    “Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

    PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

    Read moreDetails

    Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

    by Angga Wijaya
    May 12, 2026
    0
    Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

    JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

    Read moreDetails

    Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

    by Marina Rospitasari
    May 12, 2026
    0
    “Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

    Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

    Read moreDetails

    Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

    by Asep Kurnia
    May 11, 2026
    0
    Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

    SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

    Read moreDetails

    Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

    by Agung Sudarsa
    May 11, 2026
    0
    Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

    Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

    Read moreDetails

    Gagal Itu Indah

    by Agung Sudarsa
    May 10, 2026
    0
    Gagal Itu Indah

    Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

    Read moreDetails

    Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

    by Angga Wijaya
    May 10, 2026
    0
    Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

    DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

    Read moreDetails

    Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

    by Putu Nata Kusuma
    May 9, 2026
    0
    Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

    SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

    Read moreDetails

    BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

    by Sugi Lanus
    May 9, 2026
    0
    PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

    — Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

    Read moreDetails

    Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

    by Jro Gde Sudibya
    May 8, 2026
    0
    Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

    Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

    Read moreDetails
    Next Post
    Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

    Antara Kedengkian dan Ijazah Jokowi

    Please login to join discussion

    Ads

    POPULER

    • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

      Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

      22 shares
      Share 22 Tweet 0
    • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

      0 shares
      Share 0 Tweet 0

    ARTIKEL TERKINI

    “Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
    Esai

    Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

    PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

    by Fitria Hani Aprina
    May 13, 2026
    Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
    Esai

    Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

    JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

    by Angga Wijaya
    May 12, 2026
    “Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
    Esai

    Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

    Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

    by Marina Rospitasari
    May 12, 2026
    Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
    Pameran

    Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

    Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

    by Nyoman Budarsana
    May 11, 2026
    Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
    Budaya

    Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

    MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

    by Nyoman Budarsana
    May 11, 2026
    Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
    Esai

    Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

    SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

    by Asep Kurnia
    May 11, 2026
    Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
    Esai

    Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

    Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

    by Agung Sudarsa
    May 11, 2026
    Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
    Khas

    Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

    Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

    by Emi Suy
    May 11, 2026
    Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
    Ulas Film

    Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

    RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

    by Bayu Wira Handyan
    May 11, 2026
    Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
    Cerpen

    Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

    DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

    by Dede Putra Wiguna
    May 10, 2026
    Gagal Itu Indah
    Esai

    Gagal Itu Indah

    Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

    by Agung Sudarsa
    May 10, 2026
    Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
    Ulas Film

    Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

    PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

    by Doni Sugiarto Wijaya
    May 10, 2026

    TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

    • Penulis
    • Tentang & Redaksi
    • Kirim Naskah
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Desclaimer

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In
    No Result
    View All Result
    • Beranda
    • Feature
      • Khas
      • Tualang
      • Persona
      • Historia
      • Milenial
      • Kuliner
      • Pop
      • Gaya
      • Pameran
      • Panggung
    • Berita
      • Ekonomi
      • Pariwisata
      • Pemerintahan
      • Budaya
      • Hiburan
      • Politik
      • Hukum
      • Kesehatan
      • Olahraga
      • Pendidikan
      • Pertanian
      • Lingkungan
      • Liputan Khusus
    • Kritik & Opini
      • Esai
      • Opini
      • Ulas Buku
      • Ulas Film
      • Ulas Rupa
      • Ulas Pentas
      • Kritik Sastra
      • Kritik Seni
      • Bahasa
      • Ulas Musik
    • Fiksi
      • Cerpen
      • Puisi
      • Dongeng
    • English Column
      • Essay
      • Fiction
      • Poetry
      • Features
    • Penulis
    • Buku
      • Buku Mahima
      • Buku Tatkala

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co