“Apa yang sedang kau nikmati?”
“Aku? Tidak ada!” Aku menjawab pesan itu. Pesan yang menghampiriku di malam yang berada pada puncak larutnya.
“Lalu apa yang kau lakukan, kenapa masih terjaga?” Pesan masuk menjawab pesanku.
“Hanya menikmati segelas kopi sore tadi, sebatang rokok yang masih menyala dan segelas arak yang masih tersisa!” Jawabanku sedikit panjang dan detail. Aku kirim dengan jujur.
“Kamu minum?”
“Iya, aku minum!” jawabku.
Kita semua minum dari air putih sampai berwarna, dari jus sampai alkohol, dari kenyataan sampai mimpi, dari kegembiraan hingga kegetiran. Kita semua meminumya, dari perama kali menangis kemudian membuka mata sampai akhirnya menutup mata. Mengulanginya berkali-kali setiap hari, tidak pernah kapok, sesekali mabuk dan kembali melakukannya, karena terbiasa. Ya hanya karena terbiasa menenggak itu.
“Aku tidak minum alkohol!” Sebuah pesan menjawab.
“Oh ya? Kenapa?” Pesan kukirim sebagai jawaban.
Beberapa saat kemudian sebuah pesan jawaban sampai. “Aku tidak mau mabuk, kecanduan dan merusak tubuhku?”
“Apa yang lebih memabukkan dari kenyamanan, termasuk kenyamanan menikmati alkohol tentunya, apa yang lebih meruask dari kebiasaan? Kebiasaan yang tidak bisa ditinggalkan, termasuk kebiasaan rokok dan alkohol tentunya!” balasku sedikit panjang.
“Setidakya aku tidak melakukan itu,” jawabnya pendek.
“Itu bagus. Apa dirimu tidak punya kenyamanan? Atau kebiasaan?” Aku bertanya padanya. Masih melalui pesan.
Waktu menunjukkan angkanya, masih butuh beberapa menit sebelum angka pada layar berubah, meninggalkan 12.00 menuju 01.00.
“Tentu ada!” Dia masih menjawab dengan lancar.
“Boleh aku tahu apa?”
“Menonton film, sesekali berbelanja atau berolahraga,” jawabnya.
“Itu yang membuatmu nyaman?”
“Iya, itu beberapa hal yang akan kulakukan ketika aku punya waktu luang atau ketika strees!”
“Apa itu membuatmu nyaman?”
“Iya, tentu saja”
“Bagaimana dengan pekerjaanmu, tidakkah itu membuatmu nyaman juga?”
“Hmmmm!”
Sebuah petunjuk menunjukkan dia sedang mengetik lanjutan kata hmmmmm tertera di layar.
Aku menunggu apa yang akan dia sampaikan, menahan diri hanya agar pertanyaan ini masih satu irama dan tidak tumpang tindih dan menjadi membingungkan.
Pesan pun berlanjut. “Aku harus menikmatinya dan merasa nyaman. Bagaimanapun pekerjaan itu membuatku masih bertahan hidup!”
“Apakah artinya pekerjaan itu membuatmu nyaman?” jawabku menyambar dengan pertanyaan yang aku ketik dan kirimkan dengan cepat.
“Iya, meskipun ada berbagai persoalan dan suasana yang memuakkan dan memicu rasa bosan. Namun setidaknya pekerjaan ini masih membuatku bisa menikmati beberapa kesenanganan. Kesenangan yang pada akhirnya memberikan relaksasi menghadapi tekanan dan stress akibat pekerjaan tersebut. Memangnya kenapa?”
“Baguslah, setidaknya kamu masih bisa menikmati pekerjaanmu!” jawabku pendek. Dalam hati aku berkata, “Sedang barter waktu dan rasa demi kenyamanan yang bisa dibeli!”
“Tidak apa kan?” Dia membalas pesan.
“Tentu tidak apa-apa, pemenuhan rasa nyaman adalah hakmu. Seperti halnya hakku dengan kenyamananku!” jawabku.
“Aku dengan pekerjaan yang menghasilkan dan kau dengan alkohol, rokok dan kopi?” Dia membalas.
“Hmmmmmm, bukankah itu kenyamanan versiku?” Aku mencoba mempertahankan diri.
“Itu lebih berbahaya dari kenyamananku. Lebih merugikan dan tidak menguntungkan sama sekali!”
“Oh ya?”
“Iya, kau menghabiskan banyak uang untuk membeli alkohol dan rokok dan tidak menghasilkan sepeserpun dari itu. Sementara aku, aku menghasilkan dari pekerjaanku!” pesannya menjawab, menjelaskan.
“Itu benar, benar sekali!” jawbannya pendek.
“Jadi berhentilah melakukan itu. Berhentilah merusak tubuhmu!”
“Iya, nanti ketika kamu bisa keluar dari kenyamananmu serta berhenti merusak pikiranmu!” Itu pesan yang aku kirimkan sebagai jawaban.
“Jadi menurutmu pekerjaanku itu merusak?”
“Aku tidak bilang seperti itu!” Aku berdalih.
“Namun pernyataanmu menunjukaan seolah pekerjaanku merusak, seperti alkohol dan rokok!”
“Jika pekerjaan itu adalah sebuah kenyamanan, bisa jadi juga akan memabukkan dan membuat ketagihan. Dan jika itu adalah kebiasaan, mungkin saja bisa merusak!” jawabku pura-pura bijak.
“Aku tidak melihat sebagai sebuah kegiatan yang memabukkan ataupun merusak!” jawabnya menanggapi.
“Mungkin!” jawabku pendek. “Jadi kamu nyaman dengan pekerjaan itu?” Sebuah pesan lanjutan aku kirimkan.
“Aku nyaman!” sebuah pesan menjawab. “Tapi aku bosan, mengerjakan ini setiap hari!” Sebuah pesan lain menyusul, menjelaskan.
“Aku juga bosan!” balasku.
“Tapi aku tidak bisa berhenti!” Sebuah pesan langsung menjawab dengan cepat.
“Kenapa?” jawabku sekenanya.
“Aku makan apa jika harus berhenti kerja?” Sebuah pesan datang, menjawab dengan pertanyaan.
“Aku tidak tahu!” Itu kalimat yang aku ketik dalam layar dan kemudian aku kirimkan.
Tapi aku menjawab dalam hati: “Mungkin nasi, mungkin ubi, apapun yang bisa dimakan!” Jawaban itu jujur yang tak mungkin aku sampaikan sebagai jawaban. Sebagai jawaban pada peremuan, si penanya, yang coba aku dekati.
“Apa yang akan aku lakukan jika aku tidak bekerja?” Sebuah pertanyaan hadir dalam pesan, sebuah reaksi, sebuah pertanyaan.
“Aku tidak tahu!” Itu jawabanku.
Apa yang bisa Aku jawab, untuk pertanyaan akan bagaimana bertahan hidup?
“Mungkin hal lain yang belum pernah kamu coba lakukan!” Itu pesan selanjutnya aku kirim.
“Aku bosan. sejujurnya aku bosan, tetapi aku tidak bisa keluar dari pekerjaan ini. Ini satu-satunya pekerjaan yang membuatku bisa menghasilkan uang. Menghasilkan uang untuk memenuhi keperluanku. Hal itu kenapa aku masih memerlukan dan melakukan pekerjaan ini!”
Aku dalam kebingungan akan jawaban. Yang disampaikannya adalah pernyataan. Apa lagi yang bisa dilakukan untuk menjawab sebuah sikap?
“Setidaknya pekerjaan ini bisa membuatku lebih berguna!” Sebuah pesan masuk menegaskan.
“Mungkin hal itu yang aku rasakan ketika menikmati sebatang rokok atau menegak alcohol,” jawabku sekenanya.
“Membuatmu merasa lebih berguna?”
“Iya, mungkin. Aku tidak tahu dengan pasti!” Ada kebingungan yang menjalari jawabanku.
“Tentu ada hal lain yang lebih berguna yang bisa kamu lakukan selain itu!” Pesan selanjutnya hadir bersama tanya, mengejar.
“Apa misalnya?” Jawaban singkat dalam pesan yang aku kirimkan.
“Bekerja, misalnya!” Pesan yang masuk sebagai jawaban.
“Lalu merasa bosan dan terpaksa bertahan dengan pekerjaan itu karena sudah ketergantungan padanya!” Itu respon yang aku kirimkan. “Hmmmm!” pesan susulan aku kirimkan.
“Setidaknya itu membuatmu lebih produktif!”
“Produktif itu sama dengan menghasilkan rupiah?” tanyaku memastikan pernyataan yang sampai di layar.
“Lalu apa lagi ukuran produktivitas? Anak?”
Aku terkejut karena tiba-tiba ada lelucon yang dilemparnya.
“Hahahaha, mungkin saja!” Itu kalimat yang aku ketik sebagai jawaban.
“Anak juga butuh uang!”
“Anak butuh dilahirkan, menangis dan sesekali lapar!”
“Membesarkanya butuh uang kan?”
Berturut-turut pesan masuk.
“Butuh waktu pastinya, karena anak tidak mungkin lahir kemudian tiba-tiba langsung menjadi besar!” responku.
Uang hari ini menjadi ukuran hidup. Ukuran yang tak terbantahkan dan seolah-olah telah menyatukan umat manusia.
“Iya aku tahu, butuh waktu dan uang untuk makan, susu, pakaian, pendidikan dan kesehatan mereka, serta tempat tinggal tentunya!” Begitu pesan itu masuk.
“Banyak sekali yang mereka butuhkan, aku pikir mereka hanya butuh waktu untuk bisa bertahan hidup!” Aku sedang tidak ingin bersepakat.
“Memangnya mereka bertahan hidup dengan apa jika tidak dengan uang?” Sebuah pesan masuk, dengan pertanyaan.
Obrolan ini kian bergulir liar.
“Dengan tetap hidup selama mereka masih bisa hidup. Kamu sudah hendak punya anak?” Aku mencoba menahan keliaran, mengembalikan ke lintasan.
“Apa?” Pesan masuk diikuti dengan tanda sedang mengetik. Kemudian menyusul pesan selanjutnya. “Apakah kamu sudah berpikir punya anak?” Itu pertanyaan untuk menjawab pertanyaan.
“Aku tidak mengatakan itu!” Pesan susulan tiba. Pesan yang tidak menjawab pertanyaan.
“Tapi kau sangat teliti ketika mengatakan apa yang seorang anak butuhkan,” jawabku merujuk pada bagaimana dia menggunakan anak sebagai analogi kebutuhan.
Malam kian larut.
“Itu kebutuhan standar!” Jawaban itu hadir dengan cepat.
“Standar?” tanyaku tidak kalah cepat.
“Iya, lihat saja di sekitarmu, anak-anak makan, bermain, berpakaian, pergi sekolah!” Sebuah pesan langsung masuk.
“Iya, semua melakukan itu dalam rentang waktu dalam sebuah persamaan!” jawabku dengan cepat.
“Sebuah persamaan?” Sebuah pesan langsung menjawab.
“Iya, bahwasanya mereka butuh waktu untuk tumbuh dan berkembang!” Itu pesan yang aku kirimkan.
“Pertumbuhan dan perkembangan mereka butuh dukungan finasnsial. Bagaimana mereka tumbuh jika tidak diberi makan? Bagaimana mereka bisa berkembang jika mereka tidak bersekolah? Semua membutuhkan biaya. Butuh uang!”
“Oh iya, kamu benar. Seoarang anak petani yang meminum susu ibunya setidaknya butuh 9 bulan atau sekitar itu untuk mulai berjalan. Seorang anak konglomerat juga butuh waktu yang hampir sama untuk bisa berjalan walau mereka meminum susu formula yang mahal!” Itu jawaban yang aku kirim, panjang, terpancing.
“Tetapi ukuran badan dan kesehatan mereka berbeda, mungkin saja anak petani itu tidak segemuk anak konglomerat, yang karena berasal dari keluarga dengan banyak uang bisa meminum susu formula untuk menambah nutrisinya,” jawabnya tidak kalah panjang.
“Lalu apakah artinya anak itu mengalami pertumbuhan yang lebih cepat dan lebih baik? Terutama ketika pertumbuhan melesat cepat meninggalkan perkembangannya?”
“Bukankah perkembangan akan mengikutinya?” balasnya pendek.
“Mengikuti dengan lambat di belakang!” Itu pesan pendek yang aku kirimkan sebagai jawaban.
“Tetap saja setidaknya dia akan lebih sehat. Ditambah dengan pendidikan sekolah yang baik akan membuat perkembangan bisa melaju pesat!” Sebuah pertanyaan disampaikan.
“Melaju pesat melampaui umurnya?” Aku mengejarnya dengan tanya.
“Mungkin saja, banyak anak-anak kini sudah meraih gelar dan berbagai prestasi pada usia belia!” Dia menjawab.
“Untuk apa?” Aku mengejar.
“Tentu untuk masa depan mereka!” jawabnya.
Jawaban yang memancing. Malam telah larut, aku ingin istirahat. Namun pendapatnya memancingku.
“Prestasi yang kemudian membuat mereka kehilangan masa kanak-kanaknya? Dan menjadikan mereka mesin-mesin yang terus melahap semua prestasi tanpa menyisakan sedikutpun pada yang lain!” Sebuah pesan aku kirimkan sebagai reaksi atas pesan sebelumnya. Sebagai reaksi dari obrolan.
Belum ada pesan balasan.
Aku melanjutkan. “Lalu mengubah prestasi-prestasi itu manjadi standar-standar yang harus dicapai oleh semua orang yang mengidolakannya. Dan kemudian akhirnya mereka juga akan sama sepertiku, mabuk dengan prestasi dan puja-puji. Sama-sama mabuk!”
Belum ada pesan balasan.
Aku melanjutkan. “Apakah dengan begitu mereka akan berkembang sebagai manusia yang ditempa oleh pengalaman sebaga manusia? Ketika mereka tumbuh dengan terus dicekoki standar perkembangan yang merupakan produksi dari formulasi masyarakat hari ini melihat dan mendifinisakan manusia yang berhasil dan sukses!”
“Itu kenyataan, kamu tidak bisa lari dari itu” jawabnya pendek.
“Aku tidak lari dari apapun!” balasku, tidak kalah pendek.
“Iya kamu lari ketika tidak bisa membendung itu. Tidak bisa menerima kekalahanmu. Dan tidak bisa menerima kenyataan untuk larut ke dalamnya!” Pesan tiba, menjawab, menghardik, kencang.
Aku belum kirim pesan.
Datang pesan susulan. “Sementara orang-orang di sekitarmu telah melampaui kondisimu hari ini. dengan berdamai dan larut dalam kenyataan itu!”
Aku masih diam.
Pesan susulan masuk lagi. “Iya, kamu belum bisa menerima kekalahanmu. Itu yang membuat kau hanya bisa merusak tubuhmu dengan alcohol, kopi dan rokok-rokok itu!”
Aku mencoba menelaah, ke mana obrolan ini akan bergulir. Guliran obrolan akan menggelinding pada laku kebiasaan atau yang melampauinya. Masih samar, sangat samar untuk menyimpulkannya.
Pesan kuterima lagi. “Semua pernah kalah, kau hanya perlu menerima kekalahan itu. kemudian berdamai dan mengikuti si pemenang!”
Aku masih diam.
“Berdamailah dengan dirimu. Lalu terima kenyataan bahwa kau tidak bisa bertahan sendiri melawan massa yang memutuskan mengikuti kenyataan yang ada!” Pesan lanjutan menyusul. Mengingatkan, menyerang.
Aku mencoba membacanya dengan seksama, dengan perlahan. Menelaah barisan kata, kalimat yang disampaikan dan tampil dalam layar 6 inchi yang menyala dalam larut malam.
“Sudahlah,” pikirku ketika membaca pesan panjang yang tampil di layar. Bingung untuk menanggapi.
“Sudahlah,” kirimku. “Ini sudah pukul 03.35, besok aku harus berangkat pagi!” Pesan lanjutan kukirim menyusul pesan yang sebelumnya.
Hari aku kalah sehingga harus mengakhiri pembicaraan ini. Dan tidur agar besok bisa bangun pagi dan pergi bekerja.
“Selamat malam, jangan tidur pagi lagi. Aku merindukanmu!” Sebuah pesan tiba di layar, menjawab. .
Serangan yang bertubi-tubi tanpa ada ruang untuk menghindar, menghindari setiap pukulan kenyataan. Kenyataan hari ini, ketika materi menjadi tolak ukur adalah hal yang tidak bisa diabaikan. Terutama ketika itu telah menjadi kesadaran massa.
Aku beripikir, “Iya aku kalah, kalah dalam perlombaan adu cepat menuju kesuksesan sesuai dengan standar kalian, standar massa!”
“Selamat malam, aku juga merindukanmu!” Sebuah pesan kutulis di layar dan aku kirim sebagai jawaban.
Seperempat bagian gelas masih terisi arak, aku menegaknya sekali. Mengambil kretek yang masih menyala di asbak, meninggalkan HP di sebelah gelas lalu melangkah ke dekat jendela.
Tidak ada bintang hari ini, tidak juga ada bulan. Hanya asap yang keluar dari mulut dan tembakau terbakar.
***
“Siapa perempuan di foto yang kamu upload?” Sebuah pesan muncul tiba-tiba.
Pengirimnya seorang perempuan yang sekian hari tidak ada kabar berita, telah hilang. Setidaknya bagiku, yang tidak lagi hadir adalah yang telah pergi, hilang.
“Foto di mana maksudmu?” Aku bertanya. Mencoba memperjelas maksud yang ingin dia ketahui.
“Aku melihatnya di facebook!” Sebuah pesan menjawab setelah beberapa saat,
“Aku tidak mengupload apapun beberapa hari belakangan ini!” Aku menyampaikan bahwasanya sudah cukup lama aku tidak memajang foto wajah atau membagikan aktivitas dan keberadaanku di media sosial.
“Aku melihatnya, perempuan dengan pipi cabi, dan rambut panjang berponi!” balasnya.
“Yakin itu aku?” tanyaku.
“Iya aku yakin, aku melihatnya muncul di dindingmu!”
“Kapan?” Aku penasaran.
“Aku melihatnya tadi sore!” jawabnya.
Aku berusaha mengingat dan luput.
“Bisa kamu kirim link-nya?” Aku bertanya untuk memperjelas dan penasaran dengan foto yang dimaksudkan.
Ada apa perempuan ini tiba-tiba muncul kembali dengan pertanyaan menelisik. Apa masalahnya hingga perlu tahu aku berfoto dengan siapa?’ Pertanyaan muncul ketika jawaban yang aku inginkan belum juga sampai di layar HP.
Sebuah pemberitahuan dari aplikasi perpesanan tiba, sebuah foto muncul ketika notifikasi dibuka, foto dengan kata pengiring, “Wanita ini.”
***
“Pagi!” Sebuah kata aku ketik di layar yang sudah mulai kusam. Aku ketik di bawah nama seorang gadis yang sedang menyembunyikan wajahnya.
Aku pandangi layar kusam itu, menggeser jari perlahan ke bawah untuk membaca riwayat percakapan kami sebelumnya.
Percakapan yang terkadang berlangsung intens seharian, lalu kemudian terjeda beberapa hari oleh kesibukan dan keengganan masing-masing.
Sejujurnya aku tak berharap gadis itu akan segera membalas pesanku. Tidak berharap. Terutama ketika beberapa hari yang lalu dia menulis pesan bahwa dia sedang tidak ingin bertemu manusia. Sebuah pesan yang merupakan jawaban dari pertanyaanku, “Apa kamu sibuk dan mau bertemu hari ini?”
Dan dengan dering sebuah pesan masuk menjawab pertanyaan yang kulempar. “Tidak sibuk, hanya saja aku sedang tidak ingin bertemu dengan manusia!”
Sedikit aneh.
Kalimat pendek untuk menggambarkan sosok perempuan ini, tidak sedikit tetapi memang ‘aneh’. ‘unik’ jika ingin dihaluskan, agar enak didengar dan tidak menghancurkan keindahan sosok perempuan. “Aneh” kadang kala memiliki konotasi kata yang cenderung negatif dalam endapan kepala mayoritas.
Dia seolah sebuah buku yang penuh kejutan, ketika setiap paragraf meloncat-loncat tidak terduga. Setiap bab berdiri sendiri dan terkesan tidak berhubungan tetapi menjadi satu kesatuan yang utuh.
Benang merahnya tentu saja senyum yang tiba-tiba muncul di sudut bibirnya. Senyum yang membuat semua menjadi tampak nyata, bahkan ketika senyuman itu diwakilkan oleh sebuah tanda titik dua diikuti kurung tutup. Atau makhuk bulat berwarna kuning dengan ornamen titik dan garis menyerupai bibir yang telah didaulat menjadi duta emosi seluruh manusia sibuk dan tidak punya waktu untuk bertatap muka.
Seperti pagi sebelumnya, rindu hadir menyeruak, dan menahannya merupakan usaha lain untuk menjaga nyala kerinduan. Bertahan merupakan seni menyerang dengan memanfaatkan kesabaran, kegigihan, keteguhan tekad dan tentu saja ketelitian membaca momentum, memanfaatkan kelicikan yang didaulat untuk menutupi sikap pengecut yang kemudian dihaluskan dengan sebutan kecerdikan.
Sebuah gambar kaki di atas rumput yang basah tiba-tiba mucul diikuti dengan kata-kata, “Pagi!”.
Jangan terpancing untuk melakukan hal yang sama, aku mendapati diriku yang dihinggapi kegembiraan mendapati jawaban sapaann pagi yang sebelumnya aku kirim.
“Kopi!” Aku membalas antara ajakan dan tawaran.
Hening, tak ada sesuatu yang muncul membalas tawaraku.
***
“Apa kau pernah merasa kehadiran seseorang mengganggumu?” Sebuah pesan aku kirimkan pada nomor yang menampilkan sebuah wajah penuh kelembutan.
Kesadaran hadir membawa perdebatan, keriuhan hadir membawa kesepian dan kekecewaan, ketika pada kenyataannya tak ada apapun yang bisa ditemukan di sana.
Waktu menunjukkan jam 11 malam ketika pesan itu aku kirim, alkohol sudah mulai mengalir dalam darah secara perlahan mengambil kendali, alkohol dan kesendirian, sebuah kolaborasi yang akan semakin menjawab ketika di telinga suara Tom York dan kawan-kawannya menggema dan menarik semakin dalam ke pusat kesendirian.
Kopi masuk memberikan penghiburan dengan sensasi manis sebelum kembali menyadarkan dengan kepahitan yang akan melekat di tenggorokan. Tidak ada jawaban yang datang, tidak sebuah simbol, tidak pula sebuah kata. Kelelahan melalui hari yang tidak pernah benar-benar singkat dan bisa dinikmati seolah telah menariknya pada buaian mimpi-mimpi yang tak pernah diceritakan, mimpi-mimpi yang tidak pernah pula akan terwujud.
Mimpi diperlukan tidak hanya sekadar untuk mensugesti diri dalam melalui hari yang menjemukan. Mimpi-mimpi telah menjadi analgesic untuk irisan yang dibuat oleh kenyataan. Mimpi diperlukan untuk menghibur diri bahwasanya apapun yang dimimpikan tidak akan pernah terwujud, sehingga bermimpilah terus, bermimpi dan bermimpi, mengobati kekecewaan akan kenyataan yang tidak pernah berpihak.
10/02/2025
Penulis: Lanang Taji
Editor: Adnyana Ole