SAYA bersyukur diikutkan dalam Sekretariat Bersama Satuan Pendidikan Aman Bencana (SEKBER SPAB) Provinsi Bali sehingga berkesempatan untuk mendapatkan informasi terkini tentang antisipasi bencana dalam aneka variannya, misalnya gempa bumi, tsunami, gunung meletus, atau bencana komunikasi dalam saluran media sosial.
Syukur saya makin bertambah karena dapat memperluas jejaring melalui Program Plan Internasional Indonesia yang menjadi ujung tombak pelaksanaan Program SPAB dengan tingkat kompleksitas yang bervariasi antarsekolah.
Walaupun dalam komunikasi dan koordinasi dengan sekolah-sekolah sering terkendala akibat telat respon, saya yang diberikan kepercayaan untuk menangani SMA dapat melewati fase ini dengan baik sesuai target dan agenda yang dirancang Plan Internasional Indonesia.
Sebagai Sekber SPAB Provinsi Bali yang anggotanya lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Disdikpora Bali beruntung dinobatkan sebagai Ketua Sekber AA Bagus Suryawan (Kabid PK dan PLK). Dari 18 Sekber yang mengikuti study tiru ke Yogyakarta selama 4 hari (23-26 Februari 2025), tujuh orang dari Disdikpora Bali.
Dalam konteks SPAB, posisi Disdikpora Bali memang strategis. Pertama, ia mengelola sekolah dengan muridnya sehingga memudahkan koordinasi dan komunikasi baik dalam simulai maupun kerja sama lintas OPD.
Kedua, sasaran SPAB adalah warga sekolah di bawah koordinasi guru yang ditunjuk menjadi Tim SPAB yang nota bena pendidik di sekolah sehingga memudahkan memitigasi karena mereka sudah saling kenal dan faham dengan karakteristik lingkungan dan orangnya.
Untuk memantapkan kompetensi, Sekber SPAB Bali mengadakan study tiru di sekolah yang ber-SPAB di Yogyakarta selama 4 hari (Minggu-Rabu, 23-26 Februari 2025). Karena keberangkatan peserta malam hari, kegiatan baru dilaksanakan pada hari kedua, Senin, 24 Februari 2025 dengan melaksanakan sharing session dengan Sekber SPAB Yogyakarta bertempat di Restoran Ndalem Punakawan Yogyakarta.
Restoran ini terkesan unik dan inspiratif. Barang-barang antik seperti keris aneka bentuk dan aneka luk terpajang dengan perawatan superjitu. Begitu pula motor-motor tua menjadi asesoris ruangan yang mengingatkan peserta pada situasi era 1970-an. Aneka lukisan juga terpajang dan sangat menarik. Di tengah situasi demikianlah, berbagi cerita dan berita dari Sekber kedua daerah berlangsung hangat berteman minuman hangat di tengah hujan yang mengguyur.
“Di sini kita berbagi cerita dan kisah masing-masing untuk saling menguatkan. Lebih-lebih Bali dan Yogyakarta memiliki kemiripan secara budaya. Namun, Yogyakarta lebih istimewa bukan saja orangnya, kotanya, tetapi juga pendatangnya. Pasalnya, Kota Pelajar melekat pada Yogyakarta,” kata Enos dari Plan International Indonesia yang di-oke-kan pula oleh Kabid PK dan PLK Disdikpora Bali, AA Bagus Suryawan, A.P., M.AP.

Dialog bersama Kadisdikpora DIY Suhirman di Kantor Sekber SPAB Yogyakarta | Foto: I Nyoman Tingkat
Sesuai dengan namanya, Sekber SPAB kedua daerah mencerminkan kolaborasi secara internal dan eksternal. Secara internal, Sekber SPAB masing-masing bekerja sama lintas OPD dalam satu Provinsi. Hubungan Kerja sama mutualistik antar-OPD mencerminkan apa pun bentuknya bencana menjadi tanggung jawab bersama dalam menyelamatkan nyawa orang dan menjaga lingkungan tetap kondusif.
Secara eksternal, Sekber SPAB bisa bekerja sama lintas provinsi seperti dilakukan SPAB Provinsi Bali dan DIY. Kerja sama ini didasari atas kesamaan kepentingan (baca: kemanusiaan) walaupun ancaman bencana yang dihadapi bisa saja berbeda bentuknya. Namun, dampaknya sama bisa menghilangkan nyawa dan merusak lingkungan.
Oleh karena itulah, praktik baik yang telah dilakukan Sekber SPAB Yogyakarta dalam menangani bencana bisa diadaptasi, ditiru, dan dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan Bali. Untuk menggali praktik baik dari Sekber SPAB Yogyakarta, kedua Sekber dikelompokkan secara berbaur menjadi dua: Kelompok Regulasi dan Kolaborasi Multipihak serta Kelompok Aplikasi Data Dampak dan Buku Modul Kontekstual.
Kelompok yang mendalami Regulasi dan Kolaborasi Multipihak mencoba merelasikan produk-produk hukum tentang kebencanaan untuk memperkuat Sekber SPAB yang kiranya dapat diadopsi Bali dari Provinsi DIY. Sebagaimana disaksikan rombongan Bali, Sekber SPAB Yogyakarta memiliki ruangan yang representatif dengan mubelair lengkap termasuk SOP-nya terpajang di dinding.
Kebijakan itu, setelah didalami, ternyata Penasihat Sekber SPAB Yogyakarta adalah Gubernurnya sendiri dan menggelontorkan dana ke Sekber SPAB setiap tahun mencapai Rp 500 juta rupiah.
Keterlibatan Gubernur untuk memperkuat Sekber SPAB di Yogyakarta, tampak juga perlu direalisasikan oleh Gubernur Bali terpilih Wayan Koster bersama wakilnya I Nyoman Giri Prasta. Bagaimana pun kebijakan politik anggaran adalah langkah preventif yang cerdas dan humanis mengutamakan keselamatan bersama, tanpa diskriminasi apa pun pilihan politik mereka saat Pilkada.
Di Yogyakarta keperpihakan itu juga direspon oleh pihak sekolah yang dianggarkan melalui RKAS baik melalui BOS APBN maupun BOS Daerah. Kebijakan demikian, pantas juga ditiru oleh Satuan Pendidikan di Bali.
Sementara itu, Kelompok Aplikasi Data Dampak dan Buku Modul Kontekstual dengan diskusi alot, sepakat menggunnakan aplikasi kebencanaan terintegrasi dengan aplikasi yang sudah dimiliki sekolah, sehingga lebih simpel dan berdaya guna.
Di samping itu, kelompok ini juga berharap segera keluarnya Pergub Bali untuk memperkuat dan memberdayakan Sekber SPAB di level provinsi, kabupaten, sampai sekolah. Pergub itu diharapkan menjadi penguat bagi Permedikbud Nomor 33 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan SPAB.
Selanjutnya, kelompok ini juga mengapresiasi Sekber SPAB Yogyakarta yang telah membuat modul ajar terintegrasi dengan mata pelajaran secara intrakurikuler dan kokurikuler, di samping melalui program ekstrakurikuler. Penguatan dan pemberdayaan SPAB di sekolah menjadi tanggung jawab bersama. Oleh karena itu, tidak ada egosektoral dalam mengantisipasi datangnya bencana, yang tidak pernah kita tahu secara pasti.
Kesiagaan bersama menjadi kebutuhan bersama sebagaimana di Desa Donoharjo, Kabupaten Sleman, memiliki Satgas Desa Tangguh Bencana (Destana). Dengan kearifan lokal Bali, model ini bisa dikembangkan di Bali melalui Bantuan Keamana Desa Adat (Bankamda) yang sudah ada di desa adat di Bali bekerja sama dengan sekolah.
Begitulah obrolan antara Sekber SPAB Provinsi Bali dan DIY berlangsung gayeng, saling memperkuat dan saling menimba. Dalam pelaksanaan SPAB, harus disadari Bali banyak menimba dari sumur peradaban Yogyakarta dalam menangani bencana.
Yogyakarta yang berada di jalur alur Gunung Merapi dengan tembusan Pantai Parangtritis memang rawan bencana, begitu juga Bali dengan gugusan gunung aktif dan laut yang mengelilinginya juga rawan bencana. Mengenali tanda-tanda bencana sejak dini dan pengetahuan mitigasi bencana diharapkan dapat meminimalkan kerugian harta benda dan meminimalkan jatuhnya korban.
Sebagaimana diharapkan oleh Kepala Bidang Pembinaan SMA Provinsi Bali, SPAB di Provinsi Bali telah menyasar 100 SMA, SMK, dan SLB pada Januari 2025, dari 348 sekolah di bawah binaan Pemerintah Provinsi Bali.
“Di bandingkan dengan SMA dan SMK, tingkat kerentanan dalam ber-SPAB lebih sulit di SLB walaupun jumlah mereka tidak banyak. Oleh karena itu, perlu penanganan ekstra hati-hati dan humanis oleh Tim SPAB di sekolah,” kata Kabid Pembinaan SMA Provinsi Bali, Ngurah Pasek Wira Kusuma, S.T., M.T.
Metode itu dipelajari di SLB ABCD Tunas Harapan Donoharjo Slemen Yogkarta pada hari ketiga kunjungan Study Tiru. Banyak hal yang bisa ditiru di sini dan ini menjadi tantangan bagi rombongan Bali yang berjumlah 18 orang.
Berguru ke-DIY dalam ber-SPAB tidak saja menyenangkan dengan praktik langsung di SLB, juga memperoleh keistimewaan-keistimewaan lain dan teladan dari sang pemimpin. Kadisdikpora DIY Suhirdiman, misalnya, sampai petang menemani rombongan Sekber SPAB Bali di Kantornya.
“Semoga nanti Sekber SPAB Yogyakarta bisa melaksanakan kunjungan balasan ke Bali, sekalian healing,” demikian sambutan penutup Ngurah Pasek Wira Kusuma diakhiri dengan berfoto bersama. Terima kasih Yogyakarta, suatu saat nanti kita kembali ke Yogyakarta.[T]
Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Jaswanto