6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Misi Rahasia | Cerpen Sarah Monica

Sarah Monica by Sarah Monica
February 16, 2025
in Cerpen
Misi Rahasia | Cerpen Sarah Monica

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

AIR asin kepahitan itu menghantam wajahnya hingga hidung dan mulutnya yang setengah terbuka tersedak. Ia terbangun kaget, terbatuk-batuk dalam kondisi masih setengah sadar. Tangannya mengusap wajahnya yang berbuih dan berpasir, matanya terasa perih. Perlahan ia mengamati tubuh serta sekelilingnya, mencoba memahami apa yang terjadi.

Samar-samar ingatannya berkumpul, pemuda bertubuh kurus kering itu tadi sore sedang melepas lelah di pinggir pantai. Tanpa terasa, langit senja telah mengantarkan tidur yang panjang ke peraduan malam. Air laut sudah naik menyelimuti kakinya yang telanjang.

Di tengah keterkejutan karena hampir saja digulung ombak, Samin nama pemuda itu, mendengar sayup-sayup percakapan tanpa wujud. Suara yang timbul tenggelam dibawa hembusan angin laut.

Samin bangkit mencari sumber suara tersebut. Tangannya meraih karung plastik miliknya yang basah kuyup dijilat air laut. Ia berjalan menyusuri pasir, dingin menembus tulang. Makin keras, makin jelas, Samin memperlambat langkahnya, lebih memfokuskan lagi pendengarannya. Dari kejauhan ia melihat kabut merah di balik bebatuan karang.

Malam itu merupakan malam paling gulita, tanpa setitik pun cahaya bintang dan rembulan. Tetapi dari tempatnya bersembunyi, Samin menyaksikan sosok-sosok dalam bias kemerahan. Jantungnya berdegub nyaris meloncat keluar dari rongga dada.

Sebuah sidang sepertinya sedang berlangsung. Setan-setan dengan jubah dan lencana kebesaran memenuhi arena persidangan di tengah laut pekat nan senyap. Dari tempat Samin mengintip, makhluk-makhluk itu mengelilingi sebuah singgasana pembesar.

Sebagian berdiri di permukaan, menyembulkan kepala dari dalam air, ada pula yang melayang-layang, siap sedia mendengarkan arahan dan titah komandan tertinggi.

Mereka adalah seluruh perwakilan setan mulai tingkat kolonel hingga jenderal dipanggil dari berbagai penjuru daerah. Ada rapat besar untuk merespons agenda kebijakan terbaru pemerintahan manusia.

“Apapun rencana baik makhluk-makhluk bau tanah ini harus kita gagalkan!”

“Kuasai mereka! Kerdilkan mentalnya! Paham?!” gelegar setan yang duduk di singgasana. Tanduknya tegak jemawa di kepalanya yang tidak simetris.

“Ya! Lemahkan Jiwanya!” seru setan lain dari tengah kerumunan.

Gerombolan setan aneka bentuk riuh dengan geraman, desisan, lolongan, tawa melengking. Mengungkapkan persetujuan mereka.

Samin gemetaran sekujur tubuh. Ia ingin lari sejauh mungkin meninggalkan pemandangan itu, tapi kakinya tak kuasa, seolah terpaku di sana.

Pemimpin setan menyeringai senang, tiga matanya berkilat menyisir pandang ke para bawahan dan abdi setia di hadapannya.

“Siapkan semua anggota terbaik kalian di pusat kota maupun pelosok desa. Tempatkan mereka di tiap punggung manusia. Menjadi bayang-bayang mereka dalam segala aktivitas bangun dan tidur.”

“Pengaruhi dan hancurkan dari lubuk hati. Hihihi…” setan lain menyahut dari atas riak gelombang.

“Dan kerja mereka pun akan sia-sia,” celetuk setan berperut buncit berkepala anjing.

“Betul. Hahahaaa…” Sang komandan terbahak-bahak, diikuti gemuruh tawa dari seluruh anggota dewan sidang yang hadir.

Tawa mereka mengguncang ombak raksasa hingga membangunkan tidur makhluk-makhluk lain di kedalaman samudera. Tawa yang menyentak Samin, membuatnya terlempar tak sadarkan diri.

Sebersit sinar emas muncul di ufuk timur. Peserta sidang segera melesat hilang, menjalankan tugas di wilayah kekuasaan masing-masing.

*

“Dana itu besar sekali kan? Ambil saja sedikit untukmu, mereka tidak akan tahu.”

Hmm…benar juga. Aku sudah mengabdi pada negara, aku berhak mengambil bagian. Orang yang dibisiki itu membatin. Dia memindahkan sebagian uang ke salah satu rekening perusahaannya. Kemudian mengubah laporan keuangan yang ada.

“Lihat, harganya bermacam-macam. Pilih yang paling murah, biar keuntunganmu makin besar.”

Kalau aku tukar dengan yang lebih murah, mereka pun tidak akan tahu perbedaan kualitasnya. Pemuda itu pun berbelanja semua bahan pokok yang dibutuhkan dengan harga paling rendah.

“Kamu pasti lelah sudah bekerja dari subuh. Cepat selesaikan pekerjaanmu di dapur agar dapat segera beristirahat.”

Mengapa aku tiba-tiba mengantuk sekali ya. Barangkali perlu tidur sejenak. Tak lama ibu yang ditiup ubun-ubunnya itu menguap berkali-kali. Ia pun menyudahi kerjanya tanpa menyadari masakannya belum matang.

Di jantung kota maupun sudut-sudut desa, semua prajurit setan bergerak cepat penuh siasat melaksanakan misi mereka. Bisik sini, rayu sana, menggoyangkan hati, dan membuai khayal-khayal manusia.

Mereka sukses besar. Tiap kali berhasil memperdaya korbannya, setan-setan akan tertawa terpingkal-pingkal, melompat-lompat terbang, bahkan jungkir balik kegirangan.

*

“Yakin mau makan itu? Dari baunya saja sudah bikin kamu mual,” suara setan membisiki.

Kok sekarang diwajibkan makan siang di sekolah? Aku punya uang, aku bisa jajan makanan yang lebih enak. Anak kecil yang dirayu tersebut menatap lekat-lekat makanan di mejanya.

Dengan pandangan menyelidiki, ia lihat nasi kekuningan, sayur oseng yang kematangan, jeruk kempes, dan sepotong kecil ayam goreng. Dia mencuil ayamnya, daging dalamnya masih sedikit kemerahan dan agak berbau amis.

Dia melihat ke sekeliling. Diperhatikannya wajah teman-teman kelasnya, sebagian besar ekspresi mereka tidak jauh berbeda. Sedangkan sisanya melahap makanan mereka sambil berceracau dengan sesama.

“Buang saja makanan tersebut. Tidak akan ada yang melihat,” bisikan itu seakan berbicara dari aliran darahnya.

Si anak pura-pura menyelesaikan makannya, lalu bergegas keluar menuju belakang sekolah. Berusaha sebisa mungkin menghindari berpapasan dengan guru atau siswa lain.

Di tembok belakang yang berbatasan dengan tempat pembuangan sampah, bocah tersebut melemparkan kardus makan siangnya. Usai itu ia berlari ke arah kantin.

Setan cebol tingkatan kopral yang ditugasi pekerjaan ini menyaksikan hasil kerjanya dengan tertawa geli. Gigi tajam hitam menonjol dari mulutnya yang lebar. Bangga akan keberhasilannya menggoda anak-anak manusia.

Dari balik tembok, Samin yang sedang memulung botol plastik memperhatikan semua kejadian tersebut. Ia mengenali makhluk yang pernah ia lihat gerombolan jenisnya dari tepi laut beberapa waktu lalu.

Selepas mengganggu anak tadi, setan itu menempel ke anak yang lain dan membisiki hal yang sama. Terus seperti itu sepanjang jam istirahat sekolah.

Ketika sedang mendekati kotak kardus yang tadi dibuang anak pertama, Samin terkejut bukan main karena sebuah kotak kardus lain melayang nyaris menghantam wajahnya.

Ia mengintip kotak-kotak kardus di depannya. Beruntung isinya tidak jatuh dalam posisi terbalik.

Sekian detik ia berusaha mencerna apa yang terjadi, lantas menangis tersedu-sedu. Tangannya meraih kedua kardus makanan itu, mengambil penutupnya yang terlempar tidak begitu jauh, kemudian berjalan pulang dengan kantong sampah tersampir di bahu.

Dalam perjalanan ke rumah, tangisnya makin menjadi-jadi. Samin berpikir kadang hidup begitu tidak adil. Ada orang-orang untuk sekadar mencari makan, mereka harus bergumul setengah mati mengaduk sampah. Namun orang lainnya begitu mudah membuang-buang makanan mereka.

Di sisi lain, tangisan Samin juga menyelipkan rasa malu pada Tuhan. Sudah seminggu anaknya terbaring dengan panas tinggi, mengigau tiap malam ingin makan daging ayam.

Siang ini Tuhan menjawab doanya, ia bisa pulang membawakan makanan tersebut untuk anak istrinya.

*

Keesokan hari Samin melewati jalan yang sama, saat matanya menangkap pemandangan tidak biasa. Kali ini kotak-kotak kardus menumpuk lebih banyak di tempat pembuangan sampah sekolah.

Ia mendekati tumpukan kardus yang menggunung tersebut, dan terhenyak. Pikirannya melayang ke suatu peristiwa lampau dalam sidang dewan setan yang tak sengaja ia saksikan. Samin mencoba menghubungkan teka-teki pengalaman dirinya.

Akhirnya ia memutuskan membawa pulang semua kotak kardus berisikan makanan yang masih utuh tersebut. Dalam perjalanan menuju rumah, Samin melewati pengemis kecil yang tertidur di trotoar, ia meletakkan sebuah kardus di depannya.

Samin memasuki kawasan pembuangan sampah akhir. Bangunan-bangunan reyot dari seng dan kardus berjejer sepanjang gunung sampah rumah tangga. Beberapa laki-laki tua maupun muda terlihat mengorek-ngorek timbunan berbau busuk itu.

Dengan berjalan menyelinap, Samin berupaya menghampiri semua rumah yang masih tetangganya itu tanpa terlihat siapapun. Merogoh kardus makanan dari karung putih yang ia panggul, meletakkannya di tiap rumah yang ia datangi.

Menjelang sore, kala para penghuni kembali dari kerja memulung, mereka menemukan sekotak makanan itu di depan pintu rumahnya.

Esok dan hari demi hari sesudahnnya, Samin selalu mendatangi sekolah-sekolah dasar ataupun menengah dekat tempat tinggalnya untuk mengambil kotak makanan dari bak sampah mereka.

Di waktu yang sama pula ia sering berpapasan dengan makhluk-makhluk berwujud tidak karuan yang berkeliaran di sekitar sekolah. Mengikuti para pelajar ke sana kemari, bergelayut di bahu mereka, mencorongkan mulutnya ke wajah anak-anak manusia tersebut.

Terkadang setan-setan itu memergoki Samin yang sedang memperhatikan segala tingkah laku mereka, namun mereka tidak memperdulikannya. Samin pun tetap mengerjakan misinya sendiri.

Pengamen jalanan, pemulung, orang gila, pengemis dengan berbagai kostum boneka atau superhero ia berikan sekotak makanan secara sembunyi-sembunyi.

Samin terus menyusuri jalan raya, kampung-kampung kumuh, pasar nelayan, membagikan kardus-kardus makan siang gratis untuk tiap orang malang yang ia temui.

Tak terasa dirinya sampai di tepian laut. Teriakan laki-laki dan perempuan memancing perhatiannya. Samin mendekati kumpulan orang-orang di dermaga. Beberapa orang terlihat menarik sesosok tubuh dari dalam air. Tubuhnya tersangkut di kayu-kayu pancang dermaga.

Memasuki kerumunan lebih dekat, Samin menyaksikan jasad lelaki yang tengah diangkat itu sudah membengkak dan kulitnya membiru. Ia menangkap sekilas wajah orang mati tersebut. Wajahnya sendiri. [T]

Jakarta, 3 Februari 2025

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Buket Mawar Merah |  Cerpen Yuditeha
Go-Sex | Cerpen Sonhaji Abdullah
Masak Apa Hari Ini?   |   Cerpen Lanang Taji
Gendewa   |   Cerpen Dian Havivia
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Willy Fahmy Agiska  |  Alerta

Next Post

Berbahasa Bali dengan Cara Berpikir Bahasa Indonesia: Arah Perubahan atau Kepunahan?

Sarah Monica

Sarah Monica

Penulis dan peneliti. Buku antologi puisinya “Bangkitnya Kemurungan” (Yogyakarta, 2023) memperoleh penghargaan Anugerah Kawistara 2024 dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat.

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post
Berbahasa Bali dengan Cara Berpikir Bahasa Indonesia: Arah Perubahan atau Kepunahan?

Berbahasa Bali dengan Cara Berpikir Bahasa Indonesia: Arah Perubahan atau Kepunahan?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co