6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mendefinisikan Ulang Makna Toleransi Melalui Perspektif Cinta Erich Fromm

Nur Fitriani Ramadhani by Nur Fitriani Ramadhani
November 16, 2024
in Esai
Mendefinisikan Ulang Makna Toleransi Melalui Perspektif Cinta Erich Fromm

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dari Canva

INDONESIA darurat intoleransi. Setara Institute mencatat tren kenaikan kasus intoleransi yang banyak menyasar kaum minoritas, mulai dari perusakan fasilitas ibadah, pelarangan pendirian rumah ibadah, hingga aktivitas yang menghalangi sekelompok orang untuk menjalankan ibadahnya secara bebas.

Belum lagi, perkembangan sosial media secara komprehensif dapat menjadi tempat bagi segelintir orang untuk menyebarkan bibit intoleransi dengan dalih kebebasan berpendapat. Hal ini dapat dilihat dari kenaikan tren politik beberapa bulan terakhir yang disebabkan oleh Pemilu dan Pilkada. Tren ini menciptakan iklim yang rawan terjadinya represi dari kelompok mayoritas terhadap minoritas dengan cara menyebarkan narasi yang bersifat intoleran.

Hal ini tentunya menjadi iklim yang buruk bagi perkembangan toleransi di Indonesia yang masih mencari jati dirinya. Kita akhirnya sampai di tahap yang genting untuk merefleksikan kembali, apakah toleransi yang kita jalani saat ini, sudah sesuai dengan toleransi yang telah kita cita-citakan sejak kemerdekaan, bahkan sejak zaman Kerajaan Majapahit?

Membedah Konsep Toleransi yang Kita Pahami: Benarkah Kita telah Bertoleransi?

Sebagian besar dari kita merasa telah bertoleransi, karena telah hidup berdampingan dengan berbagai kelompok etnis, suku, hingga agama yang berbeda sejak dulu. Namun, Benarkah jika toleransi hanya sekadar hidup berdampingan?

Toleransi tidak hanya dimaknai secara fisik, namun juga pikiran. Jika kita telah lama hidup berdampingan tetapi di kepala masih banyak stigma dan keraguan atas orang-orang di sekitar kita yang berbeda keyakinan, suku, hingga pilihan politik. Maka kita patut mempertanyakan toleransi yang kita jalani.

Tahun politik menjadi bukti, betapa masyarakat kita begitu rentan terhadap tindakan intoleransi atas asumsi tidak berdasar yang dihembuskan oleh pihak tertentu. Kita bisa melihat betapa banyak kasus di mana pendukung para paslon saling menyerang atas dasar perbedaan pilihan politik. Seolah mereka tidak pernah hidup di bawah kolong langit yang sama. Belum lagi, beberapa pihak menggunakan kerentanan ini untuk menggaet suara mayoritas. Hal ini menambah daftar panjang pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan untuk menangani kesenjangan kelompok mayoritas dan minoritas di Indonesia.

Sebuah Jalan yang Jauh Menuju Penyatuan

Ketidaksadaran kita akan kerentanan intoleransi yang terjadi menjadi jalan yang jauh untuk mencapai toleransi yang telah kita cita-citakan. Menurut Erich Fromm dalam bukunya yang berjudul “The Art of Loving” bahwa cinta terhadap persaudaraan merupakan jenis cinta yang paling dasar bagi kemanusiaan. Jenis cinta yang mensyaratkan penyatuan dan kesetaraan seluruh lapisan yang ada di dalamnya.

Jika kita masih memandang bahwa mayoritas dan minoritas masih menjadi pembagian kasta terhadap hak kebebasan, maka kita berarti belum mencapai cinta persaudaraan. Sebagaimana yang kita tahu, cinta adalah dasar bagi toleransi. Cinta persaudaraan dapat terjadi ketika kita menaruh rasa hormat, kesetaraan, perhatian dan tanggung jawab atas pertumbuhan seluruh umat manusia, termasuk kelompok yang berbeda dari kita.

Namun, jika becermin dari makna tersebut, kita belum menggunakan dasar cinta terhadap toleransi yang kita bangun. Kita hanya sekadar hidup berdampingan, namun bisa jadi tidak pernah saling berinteraksi. Kita tidak memberikan perhatian hanya karena prasangka yang membatasi kita dengan orang yang kita anggap berbeda. Kita menganggap orang tersebut adalah makhluk asing yang dapat memengaruhi keyakinan kita, bahkan kita menganggap bahwa memberikan tempat yang setara kepada mereka, artinya kita akan kehilangan banyak prestise dan hak hidup.

Jika kita masih bergelut dengan isi kepala kita sendiri dan terus memelihara prasangka, maka toleransi yang kita bangun ibaratnya dua saudara yang tinggal di rumah yang sama, tetapi tidak pernah saling memperhatikan pertumbuhan satu sama lain, bahkan cenderung saling mencurigai. Sampai kapan kita akan hidup di dalam kewaspadaan yang demikian sia-sia? Kita hanya akan mudah diadu domba ketika hidup dalam kebencian dan kewaspadaan satu sama lain.

Meletakkan Cinta dalam Menumbuhkan Toleransi

Erich Fromm menyampaikan bahwa ada empat unsur yang perlu dimiliki ketika kita membangun cinta, termasuk cinta terhadap persaudaraan. Empat unsur itu adalah perhatian, tanggung jawab, rasa hormat, dan pengetahuan. Jika kita menempatkannya dalam kehidupan toleransi yang kita cita-citakan, maka pengejawantahannya akan menjadi demikian:

Pertama, kita telah bertoleransi jika kita saling menaruh perhatian satu sama lain. Bisa dari perkembangan kehidupan hingga masalah-masalah yang dihadapi. Misalnya, jika kita menemukan seseorang dari suku yang berbeda tidak mampu beradaptasi di tempat tinggal kita, kita dapat membantunya dengan jalan memberikan kenyamanan dalam berinteraksi, sekaligus akses dan pengetahuan agar dia dapat beradaptasi dengan baik di sekitar kita.

Kedua, kita telah bertoleransi jika kita memiliki rasa tanggung jawab untuk memberikan hak kebebasan bagi setiap orang, termasuk orang yang berbeda dari kita. Misalnya, jika kita melihat suatu bentuk ketidakadilan terhadap orang yang berbeda agama dari kita, kita bisa bertanggung jawab untuk membela orang tersebut agar memperoleh keadilan yang sesuai haknya. Karena dalam agama apa pun, keadilan merupakan salah satu nilai yang dipegang teguh.

Ketiga, kita telah bertoleransi jika kita menaruh rasa hormat terhadap segala perbedaan. Kita memandang setiap perbedaan sebagai bagian dari keunikan dan kekhasan yang dihadirkan kehidupan. Sehingga, segala tindakan yang menganggap perbedaan sebagai sebuah ancaman adalah tindakan yang mencabut manusia dari hakikatnya sebagai makhluk yang beragam.

Keempat, kita telah bertoleransi jika kita memahami dan menerima segala perbedaan sebagaimana adanya. Bukankah sebagian besar rasa takut dimulai dari ketidaktahuan. Sehingga dengan memahami perbedaan yang ada di sekitar kita sebagai usaha memahami dasar kehidupan orang lain, dapat menciptakan toleransi yang berorientasi damai.

Penutup:

Dengan demikian, merefleksikan dan mempertanyakan kembali makna toleransi dapat membawa kita pada kesadaran bahwa toleransi tidak hanya sekadar hidup berdampingan, namun juga bertumbuh dan berkembang bersama agar dapat mencapai potensi yang maksimal bagi kepentingan hidup bersama. Karena kita selayaknya tiang-tiang yang saling berkaitan agar dapat berdiri kokoh, sehingga runtuhnya satu tiang menjadi tanggung jawab kita bersama untuk memulihkannya.

Maka dari itu, dengan memahami empat elemen cinta dari Erich Fromm kita dapat menciptakan sebuah makna toleransi yang berorientasi pada kedamaian, sebagaimana yang kita cita-citakan, dan dampak dari toleransi yang dibangun di atas rasa cinta adalah penyatuan umat manusia yang dapat menghindarkan dari rasa keterasingan satu sama lain.

Sumber:

Erich Fromm. (2020). The Art of Loving, Memaknai Hakikat Cinta. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

VOA Indonesia. (2023, 01 Februari). Setara Institute: 50 Rumah Ibadah Diganggu Sepanjang 2022, Jawa Timur Paling Intoleran. Diakses pada 12 November 2024, dari https://www.voaindonesia.com/a/setara-institute-50-rumah-ibadah-diganggu-sepanjang-2022-jawa-timur-paling-intoleran/6941621.html

Pesan Toleransi dari Dapur dan Toilet Umum
Film Pendek “Putu, Berbeda Tetap Keluarga”: Merawat Tradisi, Menjunjung Toleransi
Suqi Bless Si Rapper Desa, Bersama Gede Yudi Atmika Ngerap dalam Lagu Toleransi
Menemukan Cerita Toleransi di Puncak Gunung Tapak | Catatan Pendakian Sispala SMAN 1 Singaraja
Memantik Kesadaran Berbangsa Melalui Buku “Bumi Manusia”
Tags: Erich Frommfilosofifilsafattoleransi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ikan Bakar Komel Pengambengan: Kelezatan di Balik Kesederhanaan

Next Post

Museum Made Sukanta Wahyu, Pelengkap Kesempurnaan Destinasi Budaya di Desa Aan

Nur Fitriani Ramadhani

Nur Fitriani Ramadhani

An Everlasting-Learner and A Life-Admirer. Pengagum kehidupan yang menggunakan tulisan untuk mengabadikan momen-momen bersama kehidupan dan Pecinta buku yang menggunakan tulisan orang lain untuk terus belajar. Memiliki anak-anak pemikiran di apieceoflifey.blogspot.com.

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Museum Made Sukanta Wahyu, Pelengkap Kesempurnaan Destinasi Budaya di Desa Aan

Museum Made Sukanta Wahyu, Pelengkap Kesempurnaan Destinasi Budaya di Desa Aan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co