6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sejak Itu Samsu Berubah | Cerpen Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
June 2, 2024
in Cerpen
Sejak Itu Samsu Berubah | Cerpen Khairul A. El Maliky

Ilustrasi tatkala.co

KRIAT–KRIUT bunyi engkol yang dikayuh oleh Samsu memecah kesunyian jalan panjang yang membelah hutan. Tak ada siapa pun selain lelaki sederhana itu.

Saban pagi, tiap pukul setengah enam, dia selalu lewat hutan yang hanya dihuni oleh tonggeret dan monyet itu. Dan tiap kali dia lewat, para kawanan tonggeret dan monyet bersahut-sahutan memanggil kawannya yang lain agar menyambut lelaki yang amat mereka kenal itu.

Kurang lebih sudah enam tahun lelaki itu mengayuh sepeda, dan entah sampai kapan dia akan bertahan dengan mengayuh sepeda keranjang tua itu.

Paling tidak 30 kilometer jarak yang harus dia tempuh dari rumahnya menuju ke sekolah. Dan 30 kilometer pula jarak yang harus dia tempuh dari sekolah menuju rumahnya. Total 60 kilometer jarak yang harus dia tempuh saban hari. Pulang-pergi.

Tapi, lelaki itu terlihat sangat bahagia meski jarak yang ditempuhnya bisa bikin kaki copot itu. Sudah berapa kali teman-temannya sesama guru telah membujuknya agar dia membeli sepeda motor baru, namun lelaki itu meresponsnya dengan tersenyum.

“Kenapa Pak Samsu nggak membeli motor baru saja?” kata salah seorang kawannya, Pak Huda, guru bidang studi Matematika suatu ketika.

“Saya nggak pernah kepikiran mau membeli sepeda motor, Pak Huda,” jawab Samsu, lelaki sederhana yang mengajar bidang studi Fisika itu. “Boro-boro mau membeli sepeda motor, lha wong uang gajian saja buat istri semua.”

“Lho, apakah tiap kali gajian Pak Samsu nggak disisain uang?”

“Gajinya pas, Pak.”

Tidak ada yang bisa memungkiri jika Samsu, guru senior itu sampai detik ini belum bisa membeli sepeda motor. Jangankan guru baru, guru senior yang sudah mengabdi lebih dari dua puluh tahun di sekolah itu gaji yang mereka terima tidaklah seberapa. Gaji yang mereka terima setiap bulan hanya cukup untuk membeli kebutuhan sehari-hari dalam sebulan saja.

Gaji yang tak seberapa cepat menguap. Belum lagi dibelanjakan untuk anak. Bahkan gaji insentif yang mereka terima dari dinas pendidikan juga cepat habis macam air. Belum lagi datangnya telat. Bisa-bisa sampai tak dibayar empat bulan.

Padahal lelaki itu lulusan kampus dari luar negeri. Apakah memang seburuk itukah birokrasi pendidikan di negeri kita? Kok bisa guru dibayar sampai telat?

Sebenarnya Samsu berencana untuk mengangsur motor baru langsung dari dealer, namun istrinya tak setuju. Entah apa pasal. Bahkan sampai detik ini Samsu masih rela harus tinggal di rumah mertuanya. Enak sih di pihak istrinya, namun tak enak di pihak Samsu. Tak jarang Samsu sering dibanding-bandingkan dengan kakak istrinya.

Padahal pendidikan Samsu masih jauh lebih baik daripada keluarga istrinya. Pernah istrinya Samsu bilang jika suaminya sampai mengutang sama dealer, dia akan menceraikan Samsu. Bukankah itu bagus buat Samsu? Bukankah bercerai dengan perempuan itu hidupnya justru akan berubah seratus delapan puluh derajat dari sekarang?

“Yaa Tuhan, kenapa hidupku begini-begini terus?” tangis Samsu ketika melewati jalan raya yang membelah padang ilalang. “Bukannya hamba tak bersyukur, namun atas nikmat mana yang bisa membuat hamba bersyukur?”

Samsu mencoba membandingkan hidupnya dengan kedua temannya, Ali dan Rakib. Ali yang sampai saat ini belum menikah, namun dilimpahi rezeki yang banyak. Begitu juga dengan Rakib, dia dikaruniai istri dan ayah mertua yang sangat pengertian. Berbeda jauh dengan dirinya yang dikaruniai istri yang suka merajuk dan marah-marah tanpa sebab, rumah masih menumpang, mertua yang cerewet dan merasa paling benar, dan kendaraan yang buruk.

“Apakah aku harus menikah lagi dengan perempuan lain dan menceraikan istriku?” tanya Samsu saat merayap di punggung bukit.

****

Hari raya Idul Fitri tahun ini tidak seramai beberapa puluh tahun yang lalu. Tradisi bersalam-salaman secara beramai-ramai sudah tergerus oleh zaman. Saling mengucapkan minal aidzin wal faizin sudah digantikan dengan mengunggah status di akun media sosial. Bahkan tradisi sungkeman kepada orangtua sekarang sudah cukup dengan video call-an lewat WhatsApp atau lewat kartu lebaran. Mudah dan efesien. Sehingga secara tidak langsung tata krama sebagai orang Jawa perlahan digerus oleh peradaban bangsa barat yang memang telah dikenal tak memiliki adat istiadat.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Samsu tak begitu antusias merayakan lebaran tahun ini. Padahal dirinya telah melaksanakan perintah Allah untuk berpuasa selama sebulan penuh. Baju baru pun dia tak beli. Hanya anak dan istrinya saja yang berpakaian baru. Untungnya dia habis menerima parsel dari sekolah sehingga masih bisa mengenakan sarung dan kemeja baru.

Sandal yang dia pakai pun sandal yang pernah dibelikan oleh ibunya. Meski tidak baru, namun setidaknya sandal karet itu masih kuat. Lebaran tahun ini rencananya dia ingin mengunjungi rumah satu-satunya bibinya yang masih hidup. Semua saudara ibunya telah meninggal dunia.

Kriat-kriut bunyi sepeda tak menyurutkan semangat dan niat Samsu untuk berlebaran ke rumah bibinya. Dia sama sekali tak ambil pusing maupun gengsi ketika orang-orang yang berpapasan dengannya di tengah jalan memandang dirinya dengan rendah. Toh mereka juga tak kenal siapa dirinya.

Dan tak seorang pun yang tahu kalau sepeda motor yang mereka pakai boleh jadi hasil dari pinjam maupun mengutang. Tak ada seorang pun tahu kalau orang-orang itu berpura-pura bahagia menyambut lebaran. Siapa tahu saat ini hidup mereka dikejar-kejar sama utang.

Sementara Samsu hidupnya sentosa. Tak ada tukang kredit maupun debt collector yang datang untuk menagih utang sama dirinya. Dia bisa tidur dengan nyenyak tanpa harus dibangunkan oleh penagih utang.

Malam harinya, Samsu kedatangan tamu. Dia tidak kenal dengan mereka. Hanya istrinya saja yang mengenal tamu itu karena mereka keluarga dari tetangga barunya. Sebenarnya mereka masih ada hubungan darah dengan istri Samsu, namun lumayan jauh. Mereka berempat. Perempuan semua.

“Kenapa tunangannya tak diajak, Dik?” tanya istri Samsu pada seorang gadis cantik yang mengenakan gamis warna putih.

Samsu melirik ke arah gadis yang ditanya oleh istrinya. Dia menduga kalau gadis itu sudah menikah.

“Dia masih belum ketemu sama jodohnya,” jawab kakak dari gadis itu.

“Mudah-mudahan tahun ini ketemu dengan jodoh yang terbaik!” Istri Samsu mendoakan gadis itu.

“Aamin.”

Dari istrinya, Samsu tahu asal-usul keluarga tamunya itu. Jadi begini, tetangga mereka, Farhan adalah anak dari Pak Danu. Pak Danu ini adalah putra sulung dari Mbah Sukri. Nah, Mbah Sukri ini adalah sepupu dari mbahnya istri Samsu. Jadi, Farhan ini masih sepupu jauh dari mertuanya Samsu. Farhan mempunyai lima saudara. Dan yang datang bertamu adalah adiknya Farhan. Sedangkan dua gadis itu tidak lain adalah keponakan Farhan.

“Jadi, dua gadis itu siapa?”

“Keponakannya Mas Farhan.”

“Sekolah di mana katanya?”

“Sudah kerja di toko buku.”

Samsu berkomentar “O”.

“Lalu, yang bulan lalu menikah itu siapa?”

“Adiknya Mas Farhan yang satunya lagi.”

“Tak kirain yang tadi duduk di sini.”

“Dia masih perawan.”

“Baguslah.”

Memasuki habis masa cuti lebaran, Samsu berencana akan pindah tempat mengajar. Dengan ijazah S2 yang dia miliki, Samsu seharusnya masih berkesempatan untuk bisa menjadi dosen di kampus. Sejak bertemu dengan gadis itu dia berubah. Dia jauh lebih bersemangat untuk mengubah takdir hidupnya. Sebab dia yakin, Tuhan tidak akan mengubah takdir suatu kaum jika kaum itu sendiri tak mengubah takdirnya sendiri. Jika kaum itu maunya seperti itu, maka Tuhan akan membiarkannya.

****

Sore itu, Samsu berangkat mengajar di kampus. Dia pamit kepada istrinya. Dan seperti biasanya, lelaki sederhana itu mengayuh sepeda keranjangnya. Tapi kali ini, orang-orang yang berpapasan dengannya tak lagi memandangnya dengan tatapan merendahkan. Sebab dia memakai jas almamater kampus dengan pangkat dosen.

“Dengan mengucap bismillah, izinkan saya malam ini untuk meminang Diva,” kata Samsu di hadapan keluarga Farhan.

“Tapi, bagaimana dengan istrimu?” tanya bibi gadis itu yang dulu pernah bertamu di rumah istri Samsu. “Apakah kamu akan menceraikan istrimu?”

Lalu, Samsu bercerita kepada mereka bahwa setiap laki-laki yang menikah dengan salah satu anggota keturunan mbahnya istri Samsu, maka sepanjang hidupnya mereka tidak akan bisa memiliki apa-apa. Meskipun telah bekerja sekeras apa pun, mereka akan tetap miskin makan tanah. Rumah menumpang dan kendaraan tidak punya. Gaji mereka takkan ada wujudnya sebab istri mereka boros.

“Siapa tahu dengan menikahi Diva, Allah akan meridai hidup saya ke jalan takdir yang lebih baik.”

Istri Samsu merasa seperti mengalami kiamat di siang bolong ketika mendapatkan sepucuk surat dengan kop Pengadilan Agama. Dia sama sekali tak menyangka kalau dirinya akan diceraikan oleh suaminya, Samsu, lelaki sederhana dan amat penyayang itu. Dan dia juga sama sekali tak menyangka jika perempuan yang akan dinikahi oleh suaminya adalah gadis yang amat dikenalnya. [T]

Probolinggo, Mei 2024.

BACA cerpen lain di tatkala.co

Sumbi Tak Mengandung Anak Tumang | Cerpen Amina Gaylene
Semalam Bersama Alien | Cerpen Putu Arya Nugraha
Sumi, Gadis yang Dihamili Lembu | Cerpen Putu Arya Nugraha
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Studi tentang Pesan dalam Komunikasi Tradisional

Next Post

Bersama Swasthi Bandem dan Luh Menek, Membincangkan Peran Perempuan dalam Seni Pertunjukan

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post
Bersama Swasthi Bandem dan Luh Menek, Membincangkan Peran Perempuan dalam Seni Pertunjukan

Bersama Swasthi Bandem dan Luh Menek, Membincangkan Peran Perempuan dalam Seni Pertunjukan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co