2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bob Marley: Antara Reggae, Rastafari, dan Hak Asasi Manusia

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
March 5, 2024
in Esai
Bob Marley: Antara Reggae, Rastafari, dan Hak Asasi Manusia

Diolah oleh tatkala.co

MESKI, seandainya saja kisah hidup Bob Marley tidak diangkat ke layar lebar oleh Reinaldo Marcus Green, sutradara asal New York, Amerika, itu, saya yakin setiap orang yang suka dengan musik—terlepas dari sub genre apa pun—akan tahu siapa Bob Marley. “Oh, iya iya, tahu, musisi reggae berambut gimbal itu, kan?” Setidaknya itu jawaban mereka jika ditanya tentang Bob Marley. Meskipun pengetahuan tentang Bob Marley tidak hanya sebatas karya-karyanya saja.

Namun, disadari atau tidak, sejak tayang di bioskop pada Rabu, 21/2/2024, kemarin, film berjudul Bob Marley: One Love itu membuat orang yang suka dengan musik reggae, pada akhirnya tahu tentang sisi lain dan kisah hidup orang yang dianggap sebagai “bapak perdamaian dunia” itu.

Ya, film tersebut memang menceritakan tentang perjuangan Bob Marley, mulai dari bagaimana ia selamat dari upaya pembunuhan, dikenal oleh masyarakat dunia berkat musik reggae dengan lirik-lirik “kesadarannya”, hingga akhirnya ia divonis terkena kanker kulit.

Kini, musisi asal Jamaika dengan rambut gimbal yang khas itu, dicap sebagai ikon dari musik reggae. Meskipun pada dasarnya Bob Marley bukanlah pencipta dari aliran sub genre musik yang tumbuh dari aliran kepercayaan tradisional masyarakat Jamaika—yang dikenal sebagai Rastafarian. Namun, berkat lagu-lagunya, seperti One Love, Three Litle Bird, Redemption Song, No Woman No Cry, dan lain sebagainya, nama Bob Marley semakin dikenal masyarakat dunia.

Bob Marley, memiliki nama asli Robert Nesta Marley. Ia lahir di Paroki Saint Ann, Jamaika, pada 6 Februari 1945 dari pasangan Norval Sinclair Marley dan Cedella Malcolm. Ayahnya bekerja sebagai pengawas perkebunan dan merupakan mantan Kapten Marinir Kerajaan Inggris.

Namun, ketika sang ayah telah meninggal dunia karena serangan jantung, ibunya yang saat itu masih muda, akhirnya menikah lagi dengan pegawai negeri asal Amerika, dan memberi Bob Marley dua saudara tiri bernama Richard dan Antony.

Ketertarikan Bob pada dunia musik telah tumbuh saat ia masih remaja. Lewat Bunny Wailer, sahabat kecilnya, dan ayahnya yang bernama Thadeus Livingston, Bob dikenalkan dengan musik Ska dan R&B yang membuatnya semakin tertarik dengan dunia musik. Hingga akhirnya, bersama Bunny dan Peter Tosh, pada akhir tahun 50-an, ia mendirikan grup vokal bernama The Teenagers.

Kemunculan Bob Marley dengan grup vokalnya tersebut langsung mendapat perhatian dari musisi Jamaika bernama Joe Higgs. Dari Joe Higgs lah, ia mempelajari beberapa teknik vokal dan cara bermain gitar.

Seiring berjalannya waktu, dengan bakatnya yang luar biasa tersebut, Bob akhirnya ditemui oleh seorang produser musik Jamaika bernama Leslie Kong untuk merekam empat lagu dengan menggunakan nama samaran Bobby Martel di tahun 1962. Dari lagu-lagu yang ia rekam bersama Leslie Kong tersebut, membuat namanya terkenal di tengah-tengah ketenaran musik ska yang sedang melanda Jamaika saat itu.

Kemudian, tahun 1963, bersama rekan-rekannya ia mengganti nama grup vokalnya menjadi The Wailers. Hingga akhirnya mereka ditemui oleh produser Coxsone Dodd untuk mengajaknya bergabung dengan label musik miliknya yang bernama Studio One. Bersama label tersebut, The Wailers merilis lagu baru pada tahun 1964 yang membuat nama mereka mulai dikenal banyak orang. Dan, sejak saat itu, The Wailers yang pada awalnya merupakan grup vokal, berubah menjadi sebuah band yang secara teratur merekam lagu untuk Studio One.

Pada tahun 1966, Bob Marley menikah dengan Rita Anderson dan pindah ke Amerika yang merupakan kampung halaman ibunya. Di sana ia bekerja sebagai operator pabrik dengan menggunakan nama samaran Donald Marley. Ya, pada awal pernikahannya, ia sempat vakum di dunia musik untuk sementara waktu.

Di periode tersebut, walaupun Bob Marley tumbuh sebagai penganut Katolik yang taat, namun seperti kebanyakan orang Jamaika pada umumnya, ia tertarik dengan kepercayaan Rastafari dengan cara mulai menumbuhkan rambut gimbalnya. Ya, rambut yang di dunia internasional disebut dengan Dreadlock Rasta itu, sebelum menjadi tren fashion, ia adalah sebuah bentuk spiritual bagi kaum Rastafari di Jamaika, yang dipercaya sebagai rasa ketakutan seorang manusia kepada Tuhannya.

Namun, ketika Bob Marley mulai aktif kembali bermusik dan kembali ke tanah kelahirannya, atas alasan lain, The Wailers akhirnya bekerja untuk label lain bernama The Upsetter Records. Meski Kerja sama di antara mereka dalam waktu yang singkat, namun karya-karya yang mereka buat dinggap sebagai karya terbaik The Wailers dan telah diakui oleh banyak orang.

Pada akhir tahun 60-an, musik di Jamaika mengalami perubahan irama dengan ritme yang lebih lambat dibandingkan musik rocksteady dan ska. Genre tersebut dikenal sebagai reggae yang diambil dari judul lagu milik band bernama The Maytals. Memang, sebelum sub genre musik reggae muncul, Jamaika telah berdansa dengan irama musik rocksteady dan ska dengan irama ketukan yang cepat yang dipadukan dengan terompet dan saxophone.

Imbas dari perubahan irama musik di Jamaika tersebut mempengaruhi gaya bermusik Bob Marley dan kawan-kawan. Sejak saat kemunculan sub genre reggae, The Wailers bergabung dengan label musik milik Leslie Kong yang dianggap sebagai salah satu pengembang utama musik reggae.

Bersama dengan Leslie, lagu-lagu yang mereka rekam merupakan rilisan paling awal The Wailers dalam memainkan musik reggae. Dan, sejak sat itu, mereka juga telah mulai menghilangkan suara terompet dan saxophone—dengan jeda instrumental menggunakan gitar listrik.

Sepanjang periode tersebut sampai pada tahun 70-an, Bob Marley mulai menyebarkan pengaruh ajaran Rastafari melalui lagu-lagunya. Ia menganggap hal tersebut merupakan elemen kunci untuk perkembangan musik reggae dunia. Dan, sebagai orang yang menganut aliran tersebut, Bob Marley juga meyakini jika Haile Selassie—mantan kaisar Etiopia—sebagai reinkarnasi dari Jah yang merupakan sebutan Tuhan bagi kaum Rastafari.

Sebagai orang Rastafarian pada umumnya, Bob Marley juga mendukung legalitas marijuana yang ia gunakan untuk meditasi. Memang, kaum Rastafarian menganggap bahwa marijuana sebagai “ramuan suci”, dan mengonsumsinya dianggap mampu membawa mereka lebih dekat kepada Sang Tuhan.

Meski ia sempat beberapa kali ditangkap pihak berwajib atas penggunaan marijuana, tapi ia tetap menggunakan dan mengonsumsinya sesuai ajaran yang ia yakini. Dari pengaruh ajaran Rastafari lah Bob Marley memiliki pandangan politik anti imperialisme. Sebab, ia percaya jika persatuan orang Afrika berakar dari keyakinan Rastafari.

***

Ketenaran Bob Marley dan The Wailers ke kancah dunia dimulai sejak mereka mirilis album yang berjudul Catch a Fire pada tahun 1973. Dan, di tahun yang sama pula, ia kemudian merilis album ke dua mereka yang berjudul Burnin. Salah satu lagu yang paling fenomenal di dalam album tersebut berjudul I Short The Sheriff.

Ya, lagu itu, menurut beberapa artikel dianggap sebagai pengalaman pribadi dari Bob Marley yang pernah di tembak polisi—karena lagu-lagunya yang dianggap terlalu kritis terhadap pemerintah Jamaika. Bahkan, saking terkenalnya lagu tersebut sampai dicover oleh musisi Eric Clapton yang menjadi hits di Amerika hingga memenangkan banyak penghargaan pada saat itu.

Namun, pada tahun 1974, The Wailers akhirnya bubar. Meski sebagai band telah bubar, Bob Marley tetap menggunkan nama Bob Marley and The Wailers sebagai nama grup musik barunya. Dengan grup musik barunya itu, pada tahun 1975, ia berhasil merilis lagu yang sangat fenomenal sampai sekarang, yang berjudul No Wowan No Cry, dan merilis album bernama Rastaman Vibration yang berhasil menempati posisi satu di tangga album Billboard.

Pada Desember 1976, Bob Marley dijadwalkan tampil di acara konser gratis bernama Smile Jamaika yang diselenggarakan oleh Perdana Menteri Jamaika, Michael Manley. Konser tersebut digelar untuk meredakan ketegangan antara dua kelompok yang sedang bertikai pada saat itu. 

Namun naas, dua hari sebelum konser berlangsung, rumahnya yang berada di Kingston, Jamaika, ditembaki oleh pria bersenjata yang berusaha membunuhnya. Serangan tersebut dianggap bermuatan politik karena konser yang akan diselenggarakan tersebut bertujuan untuk pribadi sang Perdana Menteri.

Atas insiden tersebut, Bob Marley beserta istri dan managernya mengalami luka tembak dan harus dilarikan kerumah sakit. Namun, pada akhirnya mereka tetap tampil di hadapan 80 ribu penonton walaupun sedang mengalami cedera akibat luka tembak.

Karena masih trauma atas insiden penembakan tersebut, setelah konser berlangsung, Bob Marley akhirnya meninggalkan Jamaika dan mangasingkan diri ke wilayah Inggris. Selama masa pengasingan tersebut, pada tahun 1977, ia berhasil merilis album berjudul Exodus. Dan pada saat masa pengasingan itu, ia juga didiagnosis kanker ganas yang tumbuh pada jempol kakinya akibat terluka pada saat ia bermain sepak bola.

Sekembalinya ke Jamaika pada tahun 1978, ia kemudian menggelar konser perdamaian untuk dua kubu politik yang sedang bertikai dengan judul One Love Peace Concert. Menjelang akhir pertunjukan, ia meminta pemimpin Partai Rakyat Demokratik Nasional dan pemimpin partai opoisi bernama Partai Buruh Jamaika naik ke atas panggung untuk berjabat tangan. Karena aksinya tersebut, ia berhasil mendamaikan dua kubu politik yang selama beberapa tahun terlibat konflik hingga menimbulkan korban jiwa.

Namun, pada awal tahun 80-an, akibat kanker yang mulai menggerogoti tubuhnya itu, menyebabkan kesehatan Bob Marley mulai memburuk. Dan setelah dirawat selama delapan bulan di rumah sakit Jerman dan beberapa rumah sakit di Amerika, pada 11 Mei 1981, sang legenda musik reggae itu meninggal dunia di usianya yang ke-36 tahun. Bob yang malang.

Mendiang Bob Marley dimakamkan di Jamaika, di tempat kelahirannya dengan cara menggabungkan unsur ortodok dan tradisi Rastafari. Selain itu, di dalam peti matinya, disimpan gitar merah—gitar merk Les Paul—kesayangannya, sebuah Alkitab, dan sebatang marijuana. Sebuh pemakaman yang layak untuk seorang legenda.

Kini, meskipun sosok Bob Marley telah meninggal dunia, tapi karya-karyanya telah memiliki pengaruh besar yang dapat dirasakan sampai saat ini. Untuk mengenang jasa-jasanya, pemerintah Jamaika meresmikan sebuah patung yang berada di samping Stadion Nasional Kingston, Jamaika.

Di sisi lain, Bob Marley dianggap sebagai musisi pelopor sub genre reggae dan menjadi ikon untuk genre tersebut. Ia juga dianggap sebagai simbol global untuk musik Jamaika, budaya, dan musisi yang mendukung reformasi sosialis demokratis. Dan secara internasional, karya-karya dan pesan perdamaiannya terus bergema ke seluruh dunia hingga saat ini. Apakah kau masih menikmati marijuana di sana, Bob?[T]

Sisi Lain D.N. Aidit: Tokoh PKI dan Aktivis Literasi
Natsir, Lelaki dari Lembah Gumanti
Tags: Bob MarleyHak Asasi ManusiaHAMJamaikamusikRastafariReggae
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kosongkan Gelas: Sebuah Refleksi Perjalanan Belajar di Perhotelan hingga Dilemanya

Next Post

Mengenal Bahasa Isyarat “Kata Kolok” dalam Lingkup Kesehatan Individu dan Pengobatan di Desa Bengkala

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Mengenal Bahasa Isyarat “Kata Kolok” dalam Lingkup Kesehatan Individu dan Pengobatan di Desa Bengkala

Mengenal Bahasa Isyarat “Kata Kolok” dalam Lingkup Kesehatan Individu dan Pengobatan di Desa Bengkala

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co