23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bob Marley: Antara Reggae, Rastafari, dan Hak Asasi Manusia

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
March 5, 2024
in Esai
Bob Marley: Antara Reggae, Rastafari, dan Hak Asasi Manusia

Diolah oleh tatkala.co

MESKI, seandainya saja kisah hidup Bob Marley tidak diangkat ke layar lebar oleh Reinaldo Marcus Green, sutradara asal New York, Amerika, itu, saya yakin setiap orang yang suka dengan musik—terlepas dari sub genre apa pun—akan tahu siapa Bob Marley. “Oh, iya iya, tahu, musisi reggae berambut gimbal itu, kan?” Setidaknya itu jawaban mereka jika ditanya tentang Bob Marley. Meskipun pengetahuan tentang Bob Marley tidak hanya sebatas karya-karyanya saja.

Namun, disadari atau tidak, sejak tayang di bioskop pada Rabu, 21/2/2024, kemarin, film berjudul Bob Marley: One Love itu membuat orang yang suka dengan musik reggae, pada akhirnya tahu tentang sisi lain dan kisah hidup orang yang dianggap sebagai “bapak perdamaian dunia” itu.

Ya, film tersebut memang menceritakan tentang perjuangan Bob Marley, mulai dari bagaimana ia selamat dari upaya pembunuhan, dikenal oleh masyarakat dunia berkat musik reggae dengan lirik-lirik “kesadarannya”, hingga akhirnya ia divonis terkena kanker kulit.

Kini, musisi asal Jamaika dengan rambut gimbal yang khas itu, dicap sebagai ikon dari musik reggae. Meskipun pada dasarnya Bob Marley bukanlah pencipta dari aliran sub genre musik yang tumbuh dari aliran kepercayaan tradisional masyarakat Jamaika—yang dikenal sebagai Rastafarian. Namun, berkat lagu-lagunya, seperti One Love, Three Litle Bird, Redemption Song, No Woman No Cry, dan lain sebagainya, nama Bob Marley semakin dikenal masyarakat dunia.

Bob Marley, memiliki nama asli Robert Nesta Marley. Ia lahir di Paroki Saint Ann, Jamaika, pada 6 Februari 1945 dari pasangan Norval Sinclair Marley dan Cedella Malcolm. Ayahnya bekerja sebagai pengawas perkebunan dan merupakan mantan Kapten Marinir Kerajaan Inggris.

Namun, ketika sang ayah telah meninggal dunia karena serangan jantung, ibunya yang saat itu masih muda, akhirnya menikah lagi dengan pegawai negeri asal Amerika, dan memberi Bob Marley dua saudara tiri bernama Richard dan Antony.

Ketertarikan Bob pada dunia musik telah tumbuh saat ia masih remaja. Lewat Bunny Wailer, sahabat kecilnya, dan ayahnya yang bernama Thadeus Livingston, Bob dikenalkan dengan musik Ska dan R&B yang membuatnya semakin tertarik dengan dunia musik. Hingga akhirnya, bersama Bunny dan Peter Tosh, pada akhir tahun 50-an, ia mendirikan grup vokal bernama The Teenagers.

Kemunculan Bob Marley dengan grup vokalnya tersebut langsung mendapat perhatian dari musisi Jamaika bernama Joe Higgs. Dari Joe Higgs lah, ia mempelajari beberapa teknik vokal dan cara bermain gitar.

Seiring berjalannya waktu, dengan bakatnya yang luar biasa tersebut, Bob akhirnya ditemui oleh seorang produser musik Jamaika bernama Leslie Kong untuk merekam empat lagu dengan menggunakan nama samaran Bobby Martel di tahun 1962. Dari lagu-lagu yang ia rekam bersama Leslie Kong tersebut, membuat namanya terkenal di tengah-tengah ketenaran musik ska yang sedang melanda Jamaika saat itu.

Kemudian, tahun 1963, bersama rekan-rekannya ia mengganti nama grup vokalnya menjadi The Wailers. Hingga akhirnya mereka ditemui oleh produser Coxsone Dodd untuk mengajaknya bergabung dengan label musik miliknya yang bernama Studio One. Bersama label tersebut, The Wailers merilis lagu baru pada tahun 1964 yang membuat nama mereka mulai dikenal banyak orang. Dan, sejak saat itu, The Wailers yang pada awalnya merupakan grup vokal, berubah menjadi sebuah band yang secara teratur merekam lagu untuk Studio One.

Pada tahun 1966, Bob Marley menikah dengan Rita Anderson dan pindah ke Amerika yang merupakan kampung halaman ibunya. Di sana ia bekerja sebagai operator pabrik dengan menggunakan nama samaran Donald Marley. Ya, pada awal pernikahannya, ia sempat vakum di dunia musik untuk sementara waktu.

Di periode tersebut, walaupun Bob Marley tumbuh sebagai penganut Katolik yang taat, namun seperti kebanyakan orang Jamaika pada umumnya, ia tertarik dengan kepercayaan Rastafari dengan cara mulai menumbuhkan rambut gimbalnya. Ya, rambut yang di dunia internasional disebut dengan Dreadlock Rasta itu, sebelum menjadi tren fashion, ia adalah sebuah bentuk spiritual bagi kaum Rastafari di Jamaika, yang dipercaya sebagai rasa ketakutan seorang manusia kepada Tuhannya.

Namun, ketika Bob Marley mulai aktif kembali bermusik dan kembali ke tanah kelahirannya, atas alasan lain, The Wailers akhirnya bekerja untuk label lain bernama The Upsetter Records. Meski Kerja sama di antara mereka dalam waktu yang singkat, namun karya-karya yang mereka buat dinggap sebagai karya terbaik The Wailers dan telah diakui oleh banyak orang.

Pada akhir tahun 60-an, musik di Jamaika mengalami perubahan irama dengan ritme yang lebih lambat dibandingkan musik rocksteady dan ska. Genre tersebut dikenal sebagai reggae yang diambil dari judul lagu milik band bernama The Maytals. Memang, sebelum sub genre musik reggae muncul, Jamaika telah berdansa dengan irama musik rocksteady dan ska dengan irama ketukan yang cepat yang dipadukan dengan terompet dan saxophone.

Imbas dari perubahan irama musik di Jamaika tersebut mempengaruhi gaya bermusik Bob Marley dan kawan-kawan. Sejak saat kemunculan sub genre reggae, The Wailers bergabung dengan label musik milik Leslie Kong yang dianggap sebagai salah satu pengembang utama musik reggae.

Bersama dengan Leslie, lagu-lagu yang mereka rekam merupakan rilisan paling awal The Wailers dalam memainkan musik reggae. Dan, sejak sat itu, mereka juga telah mulai menghilangkan suara terompet dan saxophone—dengan jeda instrumental menggunakan gitar listrik.

Sepanjang periode tersebut sampai pada tahun 70-an, Bob Marley mulai menyebarkan pengaruh ajaran Rastafari melalui lagu-lagunya. Ia menganggap hal tersebut merupakan elemen kunci untuk perkembangan musik reggae dunia. Dan, sebagai orang yang menganut aliran tersebut, Bob Marley juga meyakini jika Haile Selassie—mantan kaisar Etiopia—sebagai reinkarnasi dari Jah yang merupakan sebutan Tuhan bagi kaum Rastafari.

Sebagai orang Rastafarian pada umumnya, Bob Marley juga mendukung legalitas marijuana yang ia gunakan untuk meditasi. Memang, kaum Rastafarian menganggap bahwa marijuana sebagai “ramuan suci”, dan mengonsumsinya dianggap mampu membawa mereka lebih dekat kepada Sang Tuhan.

Meski ia sempat beberapa kali ditangkap pihak berwajib atas penggunaan marijuana, tapi ia tetap menggunakan dan mengonsumsinya sesuai ajaran yang ia yakini. Dari pengaruh ajaran Rastafari lah Bob Marley memiliki pandangan politik anti imperialisme. Sebab, ia percaya jika persatuan orang Afrika berakar dari keyakinan Rastafari.

***

Ketenaran Bob Marley dan The Wailers ke kancah dunia dimulai sejak mereka mirilis album yang berjudul Catch a Fire pada tahun 1973. Dan, di tahun yang sama pula, ia kemudian merilis album ke dua mereka yang berjudul Burnin. Salah satu lagu yang paling fenomenal di dalam album tersebut berjudul I Short The Sheriff.

Ya, lagu itu, menurut beberapa artikel dianggap sebagai pengalaman pribadi dari Bob Marley yang pernah di tembak polisi—karena lagu-lagunya yang dianggap terlalu kritis terhadap pemerintah Jamaika. Bahkan, saking terkenalnya lagu tersebut sampai dicover oleh musisi Eric Clapton yang menjadi hits di Amerika hingga memenangkan banyak penghargaan pada saat itu.

Namun, pada tahun 1974, The Wailers akhirnya bubar. Meski sebagai band telah bubar, Bob Marley tetap menggunkan nama Bob Marley and The Wailers sebagai nama grup musik barunya. Dengan grup musik barunya itu, pada tahun 1975, ia berhasil merilis lagu yang sangat fenomenal sampai sekarang, yang berjudul No Wowan No Cry, dan merilis album bernama Rastaman Vibration yang berhasil menempati posisi satu di tangga album Billboard.

Pada Desember 1976, Bob Marley dijadwalkan tampil di acara konser gratis bernama Smile Jamaika yang diselenggarakan oleh Perdana Menteri Jamaika, Michael Manley. Konser tersebut digelar untuk meredakan ketegangan antara dua kelompok yang sedang bertikai pada saat itu. 

Namun naas, dua hari sebelum konser berlangsung, rumahnya yang berada di Kingston, Jamaika, ditembaki oleh pria bersenjata yang berusaha membunuhnya. Serangan tersebut dianggap bermuatan politik karena konser yang akan diselenggarakan tersebut bertujuan untuk pribadi sang Perdana Menteri.

Atas insiden tersebut, Bob Marley beserta istri dan managernya mengalami luka tembak dan harus dilarikan kerumah sakit. Namun, pada akhirnya mereka tetap tampil di hadapan 80 ribu penonton walaupun sedang mengalami cedera akibat luka tembak.

Karena masih trauma atas insiden penembakan tersebut, setelah konser berlangsung, Bob Marley akhirnya meninggalkan Jamaika dan mangasingkan diri ke wilayah Inggris. Selama masa pengasingan tersebut, pada tahun 1977, ia berhasil merilis album berjudul Exodus. Dan pada saat masa pengasingan itu, ia juga didiagnosis kanker ganas yang tumbuh pada jempol kakinya akibat terluka pada saat ia bermain sepak bola.

Sekembalinya ke Jamaika pada tahun 1978, ia kemudian menggelar konser perdamaian untuk dua kubu politik yang sedang bertikai dengan judul One Love Peace Concert. Menjelang akhir pertunjukan, ia meminta pemimpin Partai Rakyat Demokratik Nasional dan pemimpin partai opoisi bernama Partai Buruh Jamaika naik ke atas panggung untuk berjabat tangan. Karena aksinya tersebut, ia berhasil mendamaikan dua kubu politik yang selama beberapa tahun terlibat konflik hingga menimbulkan korban jiwa.

Namun, pada awal tahun 80-an, akibat kanker yang mulai menggerogoti tubuhnya itu, menyebabkan kesehatan Bob Marley mulai memburuk. Dan setelah dirawat selama delapan bulan di rumah sakit Jerman dan beberapa rumah sakit di Amerika, pada 11 Mei 1981, sang legenda musik reggae itu meninggal dunia di usianya yang ke-36 tahun. Bob yang malang.

Mendiang Bob Marley dimakamkan di Jamaika, di tempat kelahirannya dengan cara menggabungkan unsur ortodok dan tradisi Rastafari. Selain itu, di dalam peti matinya, disimpan gitar merah—gitar merk Les Paul—kesayangannya, sebuah Alkitab, dan sebatang marijuana. Sebuh pemakaman yang layak untuk seorang legenda.

Kini, meskipun sosok Bob Marley telah meninggal dunia, tapi karya-karyanya telah memiliki pengaruh besar yang dapat dirasakan sampai saat ini. Untuk mengenang jasa-jasanya, pemerintah Jamaika meresmikan sebuah patung yang berada di samping Stadion Nasional Kingston, Jamaika.

Di sisi lain, Bob Marley dianggap sebagai musisi pelopor sub genre reggae dan menjadi ikon untuk genre tersebut. Ia juga dianggap sebagai simbol global untuk musik Jamaika, budaya, dan musisi yang mendukung reformasi sosialis demokratis. Dan secara internasional, karya-karya dan pesan perdamaiannya terus bergema ke seluruh dunia hingga saat ini. Apakah kau masih menikmati marijuana di sana, Bob?[T]

Sisi Lain D.N. Aidit: Tokoh PKI dan Aktivis Literasi
Natsir, Lelaki dari Lembah Gumanti
Tags: Bob MarleyHak Asasi ManusiaHAMJamaikamusikRastafariReggae
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kosongkan Gelas: Sebuah Refleksi Perjalanan Belajar di Perhotelan hingga Dilemanya

Next Post

Mengenal Bahasa Isyarat “Kata Kolok” dalam Lingkup Kesehatan Individu dan Pengobatan di Desa Bengkala

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Mengenal Bahasa Isyarat “Kata Kolok” dalam Lingkup Kesehatan Individu dan Pengobatan di Desa Bengkala

Mengenal Bahasa Isyarat “Kata Kolok” dalam Lingkup Kesehatan Individu dan Pengobatan di Desa Bengkala

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co