23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bob Marley: Antara Reggae, Rastafari, dan Hak Asasi Manusia

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
March 5, 2024
in Esai
Bob Marley: Antara Reggae, Rastafari, dan Hak Asasi Manusia

Diolah oleh tatkala.co

MESKI, seandainya saja kisah hidup Bob Marley tidak diangkat ke layar lebar oleh Reinaldo Marcus Green, sutradara asal New York, Amerika, itu, saya yakin setiap orang yang suka dengan musik—terlepas dari sub genre apa pun—akan tahu siapa Bob Marley. “Oh, iya iya, tahu, musisi reggae berambut gimbal itu, kan?” Setidaknya itu jawaban mereka jika ditanya tentang Bob Marley. Meskipun pengetahuan tentang Bob Marley tidak hanya sebatas karya-karyanya saja.

Namun, disadari atau tidak, sejak tayang di bioskop pada Rabu, 21/2/2024, kemarin, film berjudul Bob Marley: One Love itu membuat orang yang suka dengan musik reggae, pada akhirnya tahu tentang sisi lain dan kisah hidup orang yang dianggap sebagai “bapak perdamaian dunia” itu.

Ya, film tersebut memang menceritakan tentang perjuangan Bob Marley, mulai dari bagaimana ia selamat dari upaya pembunuhan, dikenal oleh masyarakat dunia berkat musik reggae dengan lirik-lirik “kesadarannya”, hingga akhirnya ia divonis terkena kanker kulit.

Kini, musisi asal Jamaika dengan rambut gimbal yang khas itu, dicap sebagai ikon dari musik reggae. Meskipun pada dasarnya Bob Marley bukanlah pencipta dari aliran sub genre musik yang tumbuh dari aliran kepercayaan tradisional masyarakat Jamaika—yang dikenal sebagai Rastafarian. Namun, berkat lagu-lagunya, seperti One Love, Three Litle Bird, Redemption Song, No Woman No Cry, dan lain sebagainya, nama Bob Marley semakin dikenal masyarakat dunia.

Bob Marley, memiliki nama asli Robert Nesta Marley. Ia lahir di Paroki Saint Ann, Jamaika, pada 6 Februari 1945 dari pasangan Norval Sinclair Marley dan Cedella Malcolm. Ayahnya bekerja sebagai pengawas perkebunan dan merupakan mantan Kapten Marinir Kerajaan Inggris.

Namun, ketika sang ayah telah meninggal dunia karena serangan jantung, ibunya yang saat itu masih muda, akhirnya menikah lagi dengan pegawai negeri asal Amerika, dan memberi Bob Marley dua saudara tiri bernama Richard dan Antony.

Ketertarikan Bob pada dunia musik telah tumbuh saat ia masih remaja. Lewat Bunny Wailer, sahabat kecilnya, dan ayahnya yang bernama Thadeus Livingston, Bob dikenalkan dengan musik Ska dan R&B yang membuatnya semakin tertarik dengan dunia musik. Hingga akhirnya, bersama Bunny dan Peter Tosh, pada akhir tahun 50-an, ia mendirikan grup vokal bernama The Teenagers.

Kemunculan Bob Marley dengan grup vokalnya tersebut langsung mendapat perhatian dari musisi Jamaika bernama Joe Higgs. Dari Joe Higgs lah, ia mempelajari beberapa teknik vokal dan cara bermain gitar.

Seiring berjalannya waktu, dengan bakatnya yang luar biasa tersebut, Bob akhirnya ditemui oleh seorang produser musik Jamaika bernama Leslie Kong untuk merekam empat lagu dengan menggunakan nama samaran Bobby Martel di tahun 1962. Dari lagu-lagu yang ia rekam bersama Leslie Kong tersebut, membuat namanya terkenal di tengah-tengah ketenaran musik ska yang sedang melanda Jamaika saat itu.

Kemudian, tahun 1963, bersama rekan-rekannya ia mengganti nama grup vokalnya menjadi The Wailers. Hingga akhirnya mereka ditemui oleh produser Coxsone Dodd untuk mengajaknya bergabung dengan label musik miliknya yang bernama Studio One. Bersama label tersebut, The Wailers merilis lagu baru pada tahun 1964 yang membuat nama mereka mulai dikenal banyak orang. Dan, sejak saat itu, The Wailers yang pada awalnya merupakan grup vokal, berubah menjadi sebuah band yang secara teratur merekam lagu untuk Studio One.

Pada tahun 1966, Bob Marley menikah dengan Rita Anderson dan pindah ke Amerika yang merupakan kampung halaman ibunya. Di sana ia bekerja sebagai operator pabrik dengan menggunakan nama samaran Donald Marley. Ya, pada awal pernikahannya, ia sempat vakum di dunia musik untuk sementara waktu.

Di periode tersebut, walaupun Bob Marley tumbuh sebagai penganut Katolik yang taat, namun seperti kebanyakan orang Jamaika pada umumnya, ia tertarik dengan kepercayaan Rastafari dengan cara mulai menumbuhkan rambut gimbalnya. Ya, rambut yang di dunia internasional disebut dengan Dreadlock Rasta itu, sebelum menjadi tren fashion, ia adalah sebuah bentuk spiritual bagi kaum Rastafari di Jamaika, yang dipercaya sebagai rasa ketakutan seorang manusia kepada Tuhannya.

Namun, ketika Bob Marley mulai aktif kembali bermusik dan kembali ke tanah kelahirannya, atas alasan lain, The Wailers akhirnya bekerja untuk label lain bernama The Upsetter Records. Meski Kerja sama di antara mereka dalam waktu yang singkat, namun karya-karya yang mereka buat dinggap sebagai karya terbaik The Wailers dan telah diakui oleh banyak orang.

Pada akhir tahun 60-an, musik di Jamaika mengalami perubahan irama dengan ritme yang lebih lambat dibandingkan musik rocksteady dan ska. Genre tersebut dikenal sebagai reggae yang diambil dari judul lagu milik band bernama The Maytals. Memang, sebelum sub genre musik reggae muncul, Jamaika telah berdansa dengan irama musik rocksteady dan ska dengan irama ketukan yang cepat yang dipadukan dengan terompet dan saxophone.

Imbas dari perubahan irama musik di Jamaika tersebut mempengaruhi gaya bermusik Bob Marley dan kawan-kawan. Sejak saat kemunculan sub genre reggae, The Wailers bergabung dengan label musik milik Leslie Kong yang dianggap sebagai salah satu pengembang utama musik reggae.

Bersama dengan Leslie, lagu-lagu yang mereka rekam merupakan rilisan paling awal The Wailers dalam memainkan musik reggae. Dan, sejak sat itu, mereka juga telah mulai menghilangkan suara terompet dan saxophone—dengan jeda instrumental menggunakan gitar listrik.

Sepanjang periode tersebut sampai pada tahun 70-an, Bob Marley mulai menyebarkan pengaruh ajaran Rastafari melalui lagu-lagunya. Ia menganggap hal tersebut merupakan elemen kunci untuk perkembangan musik reggae dunia. Dan, sebagai orang yang menganut aliran tersebut, Bob Marley juga meyakini jika Haile Selassie—mantan kaisar Etiopia—sebagai reinkarnasi dari Jah yang merupakan sebutan Tuhan bagi kaum Rastafari.

Sebagai orang Rastafarian pada umumnya, Bob Marley juga mendukung legalitas marijuana yang ia gunakan untuk meditasi. Memang, kaum Rastafarian menganggap bahwa marijuana sebagai “ramuan suci”, dan mengonsumsinya dianggap mampu membawa mereka lebih dekat kepada Sang Tuhan.

Meski ia sempat beberapa kali ditangkap pihak berwajib atas penggunaan marijuana, tapi ia tetap menggunakan dan mengonsumsinya sesuai ajaran yang ia yakini. Dari pengaruh ajaran Rastafari lah Bob Marley memiliki pandangan politik anti imperialisme. Sebab, ia percaya jika persatuan orang Afrika berakar dari keyakinan Rastafari.

***

Ketenaran Bob Marley dan The Wailers ke kancah dunia dimulai sejak mereka mirilis album yang berjudul Catch a Fire pada tahun 1973. Dan, di tahun yang sama pula, ia kemudian merilis album ke dua mereka yang berjudul Burnin. Salah satu lagu yang paling fenomenal di dalam album tersebut berjudul I Short The Sheriff.

Ya, lagu itu, menurut beberapa artikel dianggap sebagai pengalaman pribadi dari Bob Marley yang pernah di tembak polisi—karena lagu-lagunya yang dianggap terlalu kritis terhadap pemerintah Jamaika. Bahkan, saking terkenalnya lagu tersebut sampai dicover oleh musisi Eric Clapton yang menjadi hits di Amerika hingga memenangkan banyak penghargaan pada saat itu.

Namun, pada tahun 1974, The Wailers akhirnya bubar. Meski sebagai band telah bubar, Bob Marley tetap menggunkan nama Bob Marley and The Wailers sebagai nama grup musik barunya. Dengan grup musik barunya itu, pada tahun 1975, ia berhasil merilis lagu yang sangat fenomenal sampai sekarang, yang berjudul No Wowan No Cry, dan merilis album bernama Rastaman Vibration yang berhasil menempati posisi satu di tangga album Billboard.

Pada Desember 1976, Bob Marley dijadwalkan tampil di acara konser gratis bernama Smile Jamaika yang diselenggarakan oleh Perdana Menteri Jamaika, Michael Manley. Konser tersebut digelar untuk meredakan ketegangan antara dua kelompok yang sedang bertikai pada saat itu. 

Namun naas, dua hari sebelum konser berlangsung, rumahnya yang berada di Kingston, Jamaika, ditembaki oleh pria bersenjata yang berusaha membunuhnya. Serangan tersebut dianggap bermuatan politik karena konser yang akan diselenggarakan tersebut bertujuan untuk pribadi sang Perdana Menteri.

Atas insiden tersebut, Bob Marley beserta istri dan managernya mengalami luka tembak dan harus dilarikan kerumah sakit. Namun, pada akhirnya mereka tetap tampil di hadapan 80 ribu penonton walaupun sedang mengalami cedera akibat luka tembak.

Karena masih trauma atas insiden penembakan tersebut, setelah konser berlangsung, Bob Marley akhirnya meninggalkan Jamaika dan mangasingkan diri ke wilayah Inggris. Selama masa pengasingan tersebut, pada tahun 1977, ia berhasil merilis album berjudul Exodus. Dan pada saat masa pengasingan itu, ia juga didiagnosis kanker ganas yang tumbuh pada jempol kakinya akibat terluka pada saat ia bermain sepak bola.

Sekembalinya ke Jamaika pada tahun 1978, ia kemudian menggelar konser perdamaian untuk dua kubu politik yang sedang bertikai dengan judul One Love Peace Concert. Menjelang akhir pertunjukan, ia meminta pemimpin Partai Rakyat Demokratik Nasional dan pemimpin partai opoisi bernama Partai Buruh Jamaika naik ke atas panggung untuk berjabat tangan. Karena aksinya tersebut, ia berhasil mendamaikan dua kubu politik yang selama beberapa tahun terlibat konflik hingga menimbulkan korban jiwa.

Namun, pada awal tahun 80-an, akibat kanker yang mulai menggerogoti tubuhnya itu, menyebabkan kesehatan Bob Marley mulai memburuk. Dan setelah dirawat selama delapan bulan di rumah sakit Jerman dan beberapa rumah sakit di Amerika, pada 11 Mei 1981, sang legenda musik reggae itu meninggal dunia di usianya yang ke-36 tahun. Bob yang malang.

Mendiang Bob Marley dimakamkan di Jamaika, di tempat kelahirannya dengan cara menggabungkan unsur ortodok dan tradisi Rastafari. Selain itu, di dalam peti matinya, disimpan gitar merah—gitar merk Les Paul—kesayangannya, sebuah Alkitab, dan sebatang marijuana. Sebuh pemakaman yang layak untuk seorang legenda.

Kini, meskipun sosok Bob Marley telah meninggal dunia, tapi karya-karyanya telah memiliki pengaruh besar yang dapat dirasakan sampai saat ini. Untuk mengenang jasa-jasanya, pemerintah Jamaika meresmikan sebuah patung yang berada di samping Stadion Nasional Kingston, Jamaika.

Di sisi lain, Bob Marley dianggap sebagai musisi pelopor sub genre reggae dan menjadi ikon untuk genre tersebut. Ia juga dianggap sebagai simbol global untuk musik Jamaika, budaya, dan musisi yang mendukung reformasi sosialis demokratis. Dan secara internasional, karya-karya dan pesan perdamaiannya terus bergema ke seluruh dunia hingga saat ini. Apakah kau masih menikmati marijuana di sana, Bob?[T]

Sisi Lain D.N. Aidit: Tokoh PKI dan Aktivis Literasi
Natsir, Lelaki dari Lembah Gumanti
Tags: Bob MarleyHak Asasi ManusiaHAMJamaikamusikRastafariReggae
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kosongkan Gelas: Sebuah Refleksi Perjalanan Belajar di Perhotelan hingga Dilemanya

Next Post

Mengenal Bahasa Isyarat “Kata Kolok” dalam Lingkup Kesehatan Individu dan Pengobatan di Desa Bengkala

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Mengenal Bahasa Isyarat “Kata Kolok” dalam Lingkup Kesehatan Individu dan Pengobatan di Desa Bengkala

Mengenal Bahasa Isyarat “Kata Kolok” dalam Lingkup Kesehatan Individu dan Pengobatan di Desa Bengkala

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co