25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sihir “Kematian” di Mimbar Obituari Frans Nadjira

Izzatul Asma by Izzatul Asma
February 28, 2024
in Esai
Sihir “Kematian” di Mimbar Obituari Frans Nadjira

Mimbar Obituari Frans Nadjira di Lombok Timur | Foto: Asma

CERPEN Bercakap-cakap di Bawah Guguran Daun-Daun karya Frans Nadjira telah menyihir saya sejak perkenalan pertama hingga saya berlatih menghayatinya untuk dibacakan pada acara “Mimbar Obituari Frans Nadjira” di Lombok Timur, 24 Februari 2024 lalu. Komunitas kami, Kelas Reading Buya Syafii Lombok Timur, memberi saya mandat untuk membacakan cerpen itu, karena kira-kira dua pekan sebelumnya saya juga telah membacakannya dalam acara diskusi bulanan Kelas Reading.

Tentu saja saya merasa percaya diri menerima mandat tersebut, karena diam-diam saya sangat menikmati membaca cerita itu. Berbeda dengan cerita lain yang pernah saya baca untuk bahan perkuliahan, yang biasanya mengutamakan emosional pribadi penulisnya dan hanya menonjolkan romansa yang sama dengan realita hidup sehari-hari, cerpen BdGD sungguh menggugah sunyi pikiran. Sangat mengesankan bagi saya ketika narator dalam cerpen itu memanggil kematian dengan sebutan; Sahabat.

Kematian di sini diumpamakan kunjungan seorang sahabat. Jelas itu berbanding terbalik dengan citra umum yang menganggap kematian sebagai sesuatu yang mensayatkan dan menyedihkankan. Bagi saya, itulah di antara keunikan BdGD yang paling penting. Ia menuntun saya masuk ke dalam dunia kematian yang indah karena tak terpikirkan sebelumnya.

BdGD yang saya baca bersumber dari buku yang diterbitkan matamerabook (2004). Walaupun tak memiliki cetakan lain, saya percaya cerpen ini tak berbeda isinya dengan cerpen BdGD yang tercantum dalam buku terbitan 1979.

Pada hari pertama membaca cerpen tersebut, saya duduk di kamar sambil mengetik ulang cerpen dalam file screenshot yang dikirimkan panitia acara pada saya.

Saya telanjangi jendela yang ditutup gorden lalu saya biarkan seluruh ide saya untuk hidup. Sesekali saya memandangi dunia dari balik kaca jendela yang burik. Samar-samar saya lihat matahari dipeluk awan sampai menghilang. Yang terpancar hanya sebagian kecil dari terik yang biasanya menusuk kulit. Setelah selesai mengetik ulang, saya mencoba membaca dalam hati. Ternyata, memang benar adanya cerpen ini bernyawa.

Di luar jendela, suara guruh menyertai guguran daun-daun di taman belakang rumah. Lalu terlihat awan hitam mulai bergerak. Sontak saya keluar dengan membawa kertas cerpen ini. Saya memperhatikan sekeliling. Ada suara yang merambat melalui udara dan termakan paru-paru. Angin berembus pelan seperti berbisik bahwa akan ada yang datang.

Saya lihat awan hitam bergerak di atas menara masjid yang sedang mengumandangkan azan. Selang beberapa kedipan, hujan turun untuk menjawab segala kebingungan. Cerpen ini membuat saya melipir sebentar dari dunia saya.

Dibiarkannya saya bermain dalam hujan. Mengingat segala kenangan indah masa kecil yang mengharukan. Menumpahkan segala sesuatu yang saya rindukan ke dalam guyuran hujan yang menyembunyikan rembesan air matsaya. Saya dibiarkan bermain dan keluar dari kerepotan hidup sehari-hari. Saya mendadak lupa bagaimana suara bising mesin cuci tiap pagi. Saya lupa bagaimana debu selalu mendominasi paru-paruku saat menyapu. Kini, saya benar-benar percaya bahwa cerpen ini bernyawa.

Saya bergegas menyelesaikan permainan yang saya mulai dengan hujan karena saya menyadari sosok yang datang telah menitipkan pesan. Malam harinya, saya terus mengulang bacaan dalam hati. Saya merencanakan besok pagi akan menjadi latihan perdana saya dalam membawakan kehebatan Om Frans.

Besoknya, pagi tidak seberat hari-hari kemarin. Ada yang berdesir dari dalam dan mendorong saya keluar. Cerpen ini menggugah saya untuk terus bermain dengannya. Tanpa saya sadari, suara bising mesin cuci tiap pagi tidak lagi mengiris gendang telinga saya.

Ada suara lain yang membuat saya tidak lagi terganggu. Hembusan angin, kicauan burung, guguran daun, kepakan sayap kupu-kupu, pohon bambu yang menari-nari dan ikan yang melompat-lompat dengan girang. Beberapa hal-hal yang sudah saya sebut di atas, seringkali luput dari indra-indra saya.

Tapi pagi ini, dengan cerpen yang dititipkan Om Frans untuk saya baca, saya merasakan kebermaknaan di tengah-tengah kebosanan yang berulang. Raga saya seperti mengenali bagaimana saya harus memaknai hidupku kali ini. Kematian orang-orang yang saya cintai seperti mendung sepanjang tahun yang masih belum bisa saya lalui.

Akan tetapi, Om Frans membantu saya memahami bahwa kematian bukan sesuatu yang merenggut. Kematian hanya menjaga apa dan siapa yang sudah tak sanggup hidup di dunia. Mungkin saja, dunia yang ditawarkan kematian lebih tenang daripada dunia yang sedang saya tinggali saat ini.

Hari-hari dalam sepekan saya jalani sambil mengingat kata-kata yang bernyawa dalam BdGD. Sekali waktu, saya merasa indra yang tersembunyi seperti terbuka. Saya mendadak peka dengan segala hal yang ditangkap oleh indra saya. Kembali saya melihat awan hitam yang bergerak di atas menara masjid. Menyaksikan guguran daun-daun yang memenuhi jalanan yang basah. Melihat-lihat segala yang bermain dalam hujan. Semua tertangkap oleh retina dan berubah menjadi kekal dalam akal.

Lagi-lagi saya meyakini, Om Frans memang memilih saya untuk mengemban tugas membaca kehebatannya. Lalu pada suatu malam, di kamar, saya kedatangan seorang tamu. Ia adalah Om Frans itu sendiri. Saya menonton beliau berpuisi. Tanpa ia melirik, saya hanya termangu memandanginya bersama ratusan orang yang juga menyaksikannya. Saya kedatangan Om Frans dalam mimpi. Mimpi itu seperti berkat yang langsung saya terima darinya. Oleh karena itu, saya mengharuskan diri untuk selalu mengulang dan mengingat-ingat kata-kata bernyawa darinya.

Pada malam saya membawakan cerpen Bercakap-cakap di Bawah Guguran Daun-Daun karya Om Frans, saya berdoa untuk diberkati olehnya. Selang beberapa waktu, hujan terjun bebas ke bumi lalu saya maju ke mimbar obituari membacakan cerpen ini.

Dalam suasana yang menghidupkan indra, suara air, angin, juga malam yang tak bising membantu saya menikmati dunia di cerpen ini. Tanpa saya sadari, teks yang saya bawa ternyata tidak saya anggap ada. Saya terus membaca kata demi kata dengan mengandalkan indra-indra yang hidup. Ternyata saya berhasil, membaca tanpa teks dan merasakan bahwa Om Frans memang berada di antara wajah-wajah yang memandangi saya.

Mimbar Obituari Frans Nadjira memupuk batin yang sudah lama berkutat dengan kerepotan hidup yang membosankan. Bercakap-cakap di Bawah Guguran Daun-Daun karya Frans Nadjira akan selalu kekal dalam pikiran, dalam jiwa yang gelisah mencari.[T]

Masbagik, Lombok Timur, Februari 2024

In Memoriam Frans Nadjira:  Perjalanan Hidup, Perjalanan Puitik
Perayaan 81 Tahun Penyair Pelukis Frans Nadjira: Meriah dengan Diskusi dan Baca Puisi
Perjalanan Hidup, Perjalanan Puitik; Metamorfosis Frans Nadjira dari Jendela dan Sesudahnya
Sebuah Pertemuan – [77 Tahun Sastrawan Frans Nadjira]
Tags: apresiasi sastrabaliCerpenFrans Nadjiramemoriaobituarisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tarung Caleg Berdarah Bali di Luar Kandang

Next Post

Minikino Merilis Laporan Publik Indonesia Raja 2023 dan Rencana Kerja 2024

Izzatul Asma

Izzatul Asma

Aktif mengikuti diskusi sastra di Kelas Reading Buya Syafii Lombok Timur. Kini sedang berkuliah di jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia di sebuah perguruan tinggi di Lombok Timur.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Minikino Merilis Laporan Publik Indonesia Raja 2023 dan Rencana Kerja 2024

Minikino Merilis Laporan Publik Indonesia Raja 2023 dan Rencana Kerja 2024

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co