22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Obituari Ida Bagus Sidemen: “Kanggeang  Niki Manten”

Made Suarjana Sanggra by Made Suarjana Sanggra
November 16, 2023
in Esai
Drs. Ida Bagus Sidemen, SU. (alm) | Foto: FB/Arya Suharja I

BEBERAPA teman Facebook (FB) di Bali memposting berita duka. Drs. Ida Bagus Sidemen, SU, dosen Prodi Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana, Bali, meninggal dunia. Saya tidak kenal dekat dengan Ida Bagus Sidemen. Hanya sekali, seingat saya, pernah berjabat tangan dan berbincang-bincang saat beliau diwisuda Pasca Sarjana di Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

Tanggal dan tahunnya pun saya sudah lupa. Tapi momen dan topik pembicaraan kami, selalu saya ingat. Waktu itu, Ida bagus Sidemen, diwisuda bersama kakak saya, I Made Suarsa. Mereka sama-sama dari rumpun ilmu Humaniora. Ida Bagus Sidemen dari jurusan Sejarah dan kakak saya dari jurusan Bahasa Indonesia.

Usai acara wisuda, kakak memperkenalkan saya dengan Ida Bagus Sidemen. Rupanya kakak saya cukup akrab, meski Ida Bagus Sidemen kakak kelasnya. Mereka berasal dari Fakultas sama (Fakultas Sastra yang sekarang menjadi Fakultas Ilmu Budaya). Jadi tidak aneh kalau mereka berdua cukup dekat. Dalam postingan FB Pak Widminarko, dimuat selembar foto  yang menampakkan Ida Bagus Sidemen dengan Made Suarsa dalam sebuah acara seminar kampus sama-sama sebagai pembicara.

Ketika mereka berdua kuliah S2 di UGM,  saya sudah menjadi warga Yogyakarta dan menjalani profesi sebagai wartawan Majalah Tempo di Biro Yogyakarta. Dalam beberapa kesempatan saya pernah mewawancarai Prof. Sartono (Prof. Dr. Aloysius Sartono Kartodirdjo, 15 Februari 1921 – 7 Desember 2007). Prof Sartono, adalah sejarawan Indonesia kondang. Beliau dosen di Universitas Gadjah Mada.

Dalam sebuah kesempatan, pernah saya tanya, siapa kira-kira sejarawan yang akan bisa mengikuti jejak atau melanjutkan kepakaran Prof Sartono. Pak Sartono menyebut tiga nama: Taufik Abdullah, Kuntowijoyo dan ini yang membanggakan saya, Ida Bagus Sidemen.

Prof. Dr. H. Taufik Abdullah, MA, lahir 3 Januari 1936, adalah sejarawan Indonesia yang pernah menjadi Ketua LIPI 2000-2002. Taufik lulusan Jurusan Sejarah UGM Yogyakarta (1961). Kemudian melanjutkan pendidikan master dan doktor di Universitas Cornell, Ithaca, Amerika Serikat (1970). Taufik berkarir sebagai peneliti di LIPI, (sekarang melebur di dalam BRIN).

Dr. Kuntowijoyo (18 September 1943-22 Februari 2005). Dikenal sebagai budayawan, sastrawan, dan sejarawan. Ia mendapat pendidikan dasar dari Madrasah Ibtidaiyah, lulus SMP di Klaten dan SMA di Solo, lulus sarjana Sejarah Universitas Gadjah Mada pada 1969. Gelar MA American History diperoleh dari Universitas Connecticut, Amerika Serikat, 1974.

Jenjang Doktor ( Ph.D) Ilmu Sejarah diraih dari Universitas Columbia, 1980. Di UGM sendiri, Ia diangkat sebagai Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya. Selain itu Prof. Kunto juga menjadi peneliti senior di Pusat Studi dan Penelitian Kependudukan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Kuntowijoyo, sejak di SMA sudah menulis cerita pendek, kemudian drama, esai, roman. Ketika bermukim di Amerika Serikat, Prof. Kunto, begitu panggilannya, mulai menulis puisi dan menghasilkan dua buku kumpulan puisi yaitu Isyarat (1976) dan Suluk Awang Uwung (1976). Sepulang dari study di Amerika, Porf, Kunto banyak menulis cerpen dan esai yang dimuat di media terkemuka tanah air seperti Majalah sastra Horison, Harian Kompas, dan Majalah Tempo.

FOTO: Seminar Seabad Bung Karno, 2001. Dari kiri: Widminarko, Ida Bagus Sidemen, Made Suarsa, Bagus Wirawan | Foto: FB/Widminarko Tokoh

Ketika Prof. Sartono menyebut potensi Ida Bagus Sidemen sebagai salah seorang dari tiga kandidat yang mampou meneruskan dan bisa mengimbangi kepakaran Prof Sartono, menurut saya, pilihan  itu sebagai sebuah kehormatan besar, sekaligus pengakuan atas potensi beliau dalam pandangan seorang legenda (Guru Besar Sejarah yang sangat disegani).

Makanya, dalam bincang-bincang setelah wisuda saat itu, pendapat Prof Sartono saya sampaikan. “Pak, Prof. Sartono menyebut nama Pak Sidemen, sebagai salah seorang dari tiga nama yang bisa menggantikan beliau sebagai pakar sejarah,” kata saya.

“Ah, siapa bilang. Itu terlalu berlebihan. Beliau itu ada di langit dan saya masih di tanah,” kata Pak Sidemen merendah.

“Prof Sartono sendiri yang bilang,” kata saya lagi. “Bapak diminta segera melanjutkan studi Doktor,” kata saya menyemangati.

“Ah.. ten… kanggeang niki manten” (Ah…Tidak… cukup segini saja),” kata Ida Bagus Sidemen, tetap tersenyum ramah. Menurut Made Suarsa, Ida Bagus Sidemen yang meraih IPK 4,0 (dari skala 4), bahkan diminta pindah mengajar ke UGM Yogya. Tapi, beliau menolak. “Saya kembali ke Bali saja,” katanya.

Jawaban tersebut senada dengan kakak saya Made Suarsa, yang juga mendapat tawaran serupa. Ketika itu kami berbincang-bincang bertiga. Made Suarsa pembelajar yang serius. Ketika studi S2 untuk gelar SU (Sarjana Utama, gelar lulusan S2 Humaniora UGM Yogya saat itu. Sekarang gelar lulusan S2 UGM, Magister…).

Made Suarsa, menulis thesis setebal 400 halaman lebih. Sedangkan rekan seangkatannya Faruk HT, thesisnya tidak lebih dari 200 halaman. “Kakakmu terlalu serius,”kata Faruk HT pada saya. Prof.Dr. Faruk HT, Guru Besar FIB UGM Yogya jurusan Sastra Indonesia. Saat itu, Faruk HT akan melanjutkan studi S3 dan ia minta agar saya ikut mendorong kakak saya ikut S3. Faruk juga minta saya bicara pada Pak Kayam, (almarhum Prof.Dr.Umar Kayam) agar bersedia menjadi Promotor S3 untuk kakak saya.

Pak Kayam tidak keberatan dan bersedia menjadi promotor. “De, bilang kakakmu jangan memakai karya Putu Wijaya sebagai subyek penelitian disertasinya,” kata Pak Kayam. “Bosen aku. Kok setiap orang Bali selalu mengkaji karya orang Bali juga,” kata Pak Kayam lagi. “Satu lagi, suruh cepat-cepat kakakmu itu, nanti aku keburu mati,” kata Pak Kayam bercanda. Saat itu, Pak Kayam memang sudah sering sakit.

Ketika hal ini saya sampaikan pada kakak saya, jawabannya sama dengan Ida Bagus Sidemen. “Kanggoang mone dogen,” katanya. Tentu saja saya kecewa dengan jawaban ini. Saya sangat ingin kakak saya meraih gelar Doktor dan kemudian Guru Besar. Saya yakin, kapasitasnya mumpuni. Kami sering berdiskusi dan berdebat. Kecerdasannya juga diakui Faruk HT, rekan seangkatannya yang juga sangat pintar dan cerdas.

Saya jadi merenung jawaban Pak Sidemen dan kakak saya, kok sama? Mereka tidak bergairah mencapai jenjang lebih tinggi dan merasa gelar S2 sudah cukup, sebagai syarat minimal menjadi dosen. Tentu saya tidak paham, kondisi dan situasi kampus di Unud, sehingga gairah untuk meraih jenjang lebih tinggi di kalangan dosen-dosen pintar kala itu, tidak tinggi. Tapi, disisi lain ada seorang dosen FIB UNUD yang sangat berambisi menempuh jenjang S3 di UGM, tapi dia tidak lolos seleksi dan Pak Kayam menolak menjadi calon promotornya.

Pak Sidemen dan Made Suarsa, kedua dosen FIB Unud ini, oleh dosen-dosen Pasca Sarjana UGM dinilai memiliki kemampuan akademis lebih baik dari peserta didik lainnya. Mereka berdua sangat menonjol dalam perkuliahan atau pun seminar. Hal ini diceritakan  beberapa orang dosen yang kebetulan berkawan dengan saya. (Saya bukan akademisi, tapi wartawan yang justru lebih leluasa bertemu dan berinteraksi dengan para guru besar UGM, setidaknya untuk keperluan wawancara).

Saya bertanya-tanya di dalam hati, apakah tidak niatnya dua orang dosen Unud ini kuliah lagi, sebagai bentuk rendah hati atau kemalasan. Rendah hati mungkin betul. Tapi malas? Saya kira tidak. Sebab toh mereka tetap produktif melakukan penelitian, seminar atau menulis. Tapi enggannya mereka meraih gelar akademis lebih tinggi, menyebabkan kiprah mereka juga menjadi terbatas, padahal kemampuannya tidak kalah dibanding mereka yang berkibar di kancah nasional.

Di forum ilmiah nasional misalnya, tentu saja mereka yang bergelar Profesor Doktor lebih diutamakan dibanding mereka yang bergelar SU atau MA, meskipun kapasitas kelimuannya belum tentu kalah, bahkan bisa jadi lebih pakar dibanding sang profesor.

Rupanya, Ida bagus Sidemen tidak silau oleh lampu sorot atau mimbar serta panggung nasional. Beliau tetap menjadi dosen sederhana. Ida Bagus Sidemen berdiri dalam barisan mereka yang berpikir sederhana dan rendah hati dengan kata-kata “kanggeang sapuniki manten” atau “kanggoang monto doden”, dan gembira menjalani kehidupan akademis yang biasa-biasa saja di daerah…

Dumogi Amor ing Acintya… [T]

Di Balik Layar “Ketemu Made Sanggra Ring Bali Jani” : Siap Tanpa Persiapan
Tags: Budayain memoriamobituari
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menuai Benih Emas Yang Tak Disemai: Menggali Potensi Seni Rupa Menuju Tabanan Era Baru Yang Berkesadaran Peradaban

Next Post

KMI Expo 2023 di Undiksha: Ada Pelet, Cupang, Bioflok, dan Lain-Lain

Made Suarjana Sanggra

Made Suarjana Sanggra

Jurnalis, tinggal di Jakarta

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
KMI Expo 2023 di Undiksha: Ada Pelet, Cupang, Bioflok, dan Lain-Lain

KMI Expo 2023 di Undiksha: Ada Pelet, Cupang, Bioflok, dan Lain-Lain

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co