12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Obituari Ida Bagus Sidemen: “Kanggeang  Niki Manten”

Made Suarjana Sanggra by Made Suarjana Sanggra
November 16, 2023
in Esai
Drs. Ida Bagus Sidemen, SU. (alm) | Foto: FB/Arya Suharja I

BEBERAPA teman Facebook (FB) di Bali memposting berita duka. Drs. Ida Bagus Sidemen, SU, dosen Prodi Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana, Bali, meninggal dunia. Saya tidak kenal dekat dengan Ida Bagus Sidemen. Hanya sekali, seingat saya, pernah berjabat tangan dan berbincang-bincang saat beliau diwisuda Pasca Sarjana di Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

Tanggal dan tahunnya pun saya sudah lupa. Tapi momen dan topik pembicaraan kami, selalu saya ingat. Waktu itu, Ida bagus Sidemen, diwisuda bersama kakak saya, I Made Suarsa. Mereka sama-sama dari rumpun ilmu Humaniora. Ida Bagus Sidemen dari jurusan Sejarah dan kakak saya dari jurusan Bahasa Indonesia.

Usai acara wisuda, kakak memperkenalkan saya dengan Ida Bagus Sidemen. Rupanya kakak saya cukup akrab, meski Ida Bagus Sidemen kakak kelasnya. Mereka berasal dari Fakultas sama (Fakultas Sastra yang sekarang menjadi Fakultas Ilmu Budaya). Jadi tidak aneh kalau mereka berdua cukup dekat. Dalam postingan FB Pak Widminarko, dimuat selembar foto  yang menampakkan Ida Bagus Sidemen dengan Made Suarsa dalam sebuah acara seminar kampus sama-sama sebagai pembicara.

Ketika mereka berdua kuliah S2 di UGM,  saya sudah menjadi warga Yogyakarta dan menjalani profesi sebagai wartawan Majalah Tempo di Biro Yogyakarta. Dalam beberapa kesempatan saya pernah mewawancarai Prof. Sartono (Prof. Dr. Aloysius Sartono Kartodirdjo, 15 Februari 1921 – 7 Desember 2007). Prof Sartono, adalah sejarawan Indonesia kondang. Beliau dosen di Universitas Gadjah Mada.

Dalam sebuah kesempatan, pernah saya tanya, siapa kira-kira sejarawan yang akan bisa mengikuti jejak atau melanjutkan kepakaran Prof Sartono. Pak Sartono menyebut tiga nama: Taufik Abdullah, Kuntowijoyo dan ini yang membanggakan saya, Ida Bagus Sidemen.

Prof. Dr. H. Taufik Abdullah, MA, lahir 3 Januari 1936, adalah sejarawan Indonesia yang pernah menjadi Ketua LIPI 2000-2002. Taufik lulusan Jurusan Sejarah UGM Yogyakarta (1961). Kemudian melanjutkan pendidikan master dan doktor di Universitas Cornell, Ithaca, Amerika Serikat (1970). Taufik berkarir sebagai peneliti di LIPI, (sekarang melebur di dalam BRIN).

Dr. Kuntowijoyo (18 September 1943-22 Februari 2005). Dikenal sebagai budayawan, sastrawan, dan sejarawan. Ia mendapat pendidikan dasar dari Madrasah Ibtidaiyah, lulus SMP di Klaten dan SMA di Solo, lulus sarjana Sejarah Universitas Gadjah Mada pada 1969. Gelar MA American History diperoleh dari Universitas Connecticut, Amerika Serikat, 1974.

Jenjang Doktor ( Ph.D) Ilmu Sejarah diraih dari Universitas Columbia, 1980. Di UGM sendiri, Ia diangkat sebagai Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya. Selain itu Prof. Kunto juga menjadi peneliti senior di Pusat Studi dan Penelitian Kependudukan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Kuntowijoyo, sejak di SMA sudah menulis cerita pendek, kemudian drama, esai, roman. Ketika bermukim di Amerika Serikat, Prof. Kunto, begitu panggilannya, mulai menulis puisi dan menghasilkan dua buku kumpulan puisi yaitu Isyarat (1976) dan Suluk Awang Uwung (1976). Sepulang dari study di Amerika, Porf, Kunto banyak menulis cerpen dan esai yang dimuat di media terkemuka tanah air seperti Majalah sastra Horison, Harian Kompas, dan Majalah Tempo.

FOTO: Seminar Seabad Bung Karno, 2001. Dari kiri: Widminarko, Ida Bagus Sidemen, Made Suarsa, Bagus Wirawan | Foto: FB/Widminarko Tokoh

Ketika Prof. Sartono menyebut potensi Ida Bagus Sidemen sebagai salah seorang dari tiga kandidat yang mampou meneruskan dan bisa mengimbangi kepakaran Prof Sartono, menurut saya, pilihan  itu sebagai sebuah kehormatan besar, sekaligus pengakuan atas potensi beliau dalam pandangan seorang legenda (Guru Besar Sejarah yang sangat disegani).

Makanya, dalam bincang-bincang setelah wisuda saat itu, pendapat Prof Sartono saya sampaikan. “Pak, Prof. Sartono menyebut nama Pak Sidemen, sebagai salah seorang dari tiga nama yang bisa menggantikan beliau sebagai pakar sejarah,” kata saya.

“Ah, siapa bilang. Itu terlalu berlebihan. Beliau itu ada di langit dan saya masih di tanah,” kata Pak Sidemen merendah.

“Prof Sartono sendiri yang bilang,” kata saya lagi. “Bapak diminta segera melanjutkan studi Doktor,” kata saya menyemangati.

“Ah.. ten… kanggeang niki manten” (Ah…Tidak… cukup segini saja),” kata Ida Bagus Sidemen, tetap tersenyum ramah. Menurut Made Suarsa, Ida Bagus Sidemen yang meraih IPK 4,0 (dari skala 4), bahkan diminta pindah mengajar ke UGM Yogya. Tapi, beliau menolak. “Saya kembali ke Bali saja,” katanya.

Jawaban tersebut senada dengan kakak saya Made Suarsa, yang juga mendapat tawaran serupa. Ketika itu kami berbincang-bincang bertiga. Made Suarsa pembelajar yang serius. Ketika studi S2 untuk gelar SU (Sarjana Utama, gelar lulusan S2 Humaniora UGM Yogya saat itu. Sekarang gelar lulusan S2 UGM, Magister…).

Made Suarsa, menulis thesis setebal 400 halaman lebih. Sedangkan rekan seangkatannya Faruk HT, thesisnya tidak lebih dari 200 halaman. “Kakakmu terlalu serius,”kata Faruk HT pada saya. Prof.Dr. Faruk HT, Guru Besar FIB UGM Yogya jurusan Sastra Indonesia. Saat itu, Faruk HT akan melanjutkan studi S3 dan ia minta agar saya ikut mendorong kakak saya ikut S3. Faruk juga minta saya bicara pada Pak Kayam, (almarhum Prof.Dr.Umar Kayam) agar bersedia menjadi Promotor S3 untuk kakak saya.

Pak Kayam tidak keberatan dan bersedia menjadi promotor. “De, bilang kakakmu jangan memakai karya Putu Wijaya sebagai subyek penelitian disertasinya,” kata Pak Kayam. “Bosen aku. Kok setiap orang Bali selalu mengkaji karya orang Bali juga,” kata Pak Kayam lagi. “Satu lagi, suruh cepat-cepat kakakmu itu, nanti aku keburu mati,” kata Pak Kayam bercanda. Saat itu, Pak Kayam memang sudah sering sakit.

Ketika hal ini saya sampaikan pada kakak saya, jawabannya sama dengan Ida Bagus Sidemen. “Kanggoang mone dogen,” katanya. Tentu saja saya kecewa dengan jawaban ini. Saya sangat ingin kakak saya meraih gelar Doktor dan kemudian Guru Besar. Saya yakin, kapasitasnya mumpuni. Kami sering berdiskusi dan berdebat. Kecerdasannya juga diakui Faruk HT, rekan seangkatannya yang juga sangat pintar dan cerdas.

Saya jadi merenung jawaban Pak Sidemen dan kakak saya, kok sama? Mereka tidak bergairah mencapai jenjang lebih tinggi dan merasa gelar S2 sudah cukup, sebagai syarat minimal menjadi dosen. Tentu saya tidak paham, kondisi dan situasi kampus di Unud, sehingga gairah untuk meraih jenjang lebih tinggi di kalangan dosen-dosen pintar kala itu, tidak tinggi. Tapi, disisi lain ada seorang dosen FIB UNUD yang sangat berambisi menempuh jenjang S3 di UGM, tapi dia tidak lolos seleksi dan Pak Kayam menolak menjadi calon promotornya.

Pak Sidemen dan Made Suarsa, kedua dosen FIB Unud ini, oleh dosen-dosen Pasca Sarjana UGM dinilai memiliki kemampuan akademis lebih baik dari peserta didik lainnya. Mereka berdua sangat menonjol dalam perkuliahan atau pun seminar. Hal ini diceritakan  beberapa orang dosen yang kebetulan berkawan dengan saya. (Saya bukan akademisi, tapi wartawan yang justru lebih leluasa bertemu dan berinteraksi dengan para guru besar UGM, setidaknya untuk keperluan wawancara).

Saya bertanya-tanya di dalam hati, apakah tidak niatnya dua orang dosen Unud ini kuliah lagi, sebagai bentuk rendah hati atau kemalasan. Rendah hati mungkin betul. Tapi malas? Saya kira tidak. Sebab toh mereka tetap produktif melakukan penelitian, seminar atau menulis. Tapi enggannya mereka meraih gelar akademis lebih tinggi, menyebabkan kiprah mereka juga menjadi terbatas, padahal kemampuannya tidak kalah dibanding mereka yang berkibar di kancah nasional.

Di forum ilmiah nasional misalnya, tentu saja mereka yang bergelar Profesor Doktor lebih diutamakan dibanding mereka yang bergelar SU atau MA, meskipun kapasitas kelimuannya belum tentu kalah, bahkan bisa jadi lebih pakar dibanding sang profesor.

Rupanya, Ida bagus Sidemen tidak silau oleh lampu sorot atau mimbar serta panggung nasional. Beliau tetap menjadi dosen sederhana. Ida Bagus Sidemen berdiri dalam barisan mereka yang berpikir sederhana dan rendah hati dengan kata-kata “kanggeang sapuniki manten” atau “kanggoang monto doden”, dan gembira menjalani kehidupan akademis yang biasa-biasa saja di daerah…

Dumogi Amor ing Acintya… [T]

Di Balik Layar “Ketemu Made Sanggra Ring Bali Jani” : Siap Tanpa Persiapan
Tags: Budayain memoriamobituari
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menuai Benih Emas Yang Tak Disemai: Menggali Potensi Seni Rupa Menuju Tabanan Era Baru Yang Berkesadaran Peradaban

Next Post

KMI Expo 2023 di Undiksha: Ada Pelet, Cupang, Bioflok, dan Lain-Lain

Made Suarjana Sanggra

Made Suarjana Sanggra

Jurnalis, tinggal di Jakarta

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
KMI Expo 2023 di Undiksha: Ada Pelet, Cupang, Bioflok, dan Lain-Lain

KMI Expo 2023 di Undiksha: Ada Pelet, Cupang, Bioflok, dan Lain-Lain

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co