6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ambisi Arsy | Cerpen Vito Prasetyo

Vito Prasetyo by Vito Prasetyo
November 4, 2023
in Cerpen
Ambisi Arsy | Cerpen Vito Prasetyo

Ilustrasi tatkala.co

   ARSY ingat betul kata-kata Ratri, saat mereka masih kuliah manajemen. Kali ini, mereka sedang mengikuti seminar tentang manajemen. Mungkin bagi orang awam, hal ini hanya sia-sia dan kurang efektif. Namun bagi Arsy, ini sangat penting untuk jenjang karirnya. Memang sebetulnya, buku-buku tentang manajemen sangat banyak diperjual-belikan di toko buku. Namun Arsy memang bukan kutu buku, yang mampu menghabiskan berjam-jam waktunya, hanya demi membaca buku.

   Seperti biasa, malam minggu bagi Arsy tidak ada yang istimewa, selain duduk di hadapan laptop dan bermain game. Terkadang ia menonton TV, hingga tak terasa sudah tertidur. Tapi malam ini, kenapa tiba-tiba perasaannya sedikit berbeda. Kenapa dia merasa gugup, dan sama sekali tidak tahu apa penyebabnya. Sejenak tiba-tiba ponselnya berdering.

   “Keluar yuk.”

   “Mau kemana?”

   “Biasalah….kita cari angin. Aku lagi jenuh di rumah.”

   “Memang suami kamu kemana?”

   “Terus kita mau kemana?”

   “Ah, sudahlah…tidak usah pakai banyak tanya. Pokoknya setengah jam lagi aku sampai di rumahmu.”

   “Dasar Ratri!” umpat Arsy dalam hatinya.

   Entah kenapa, Arsy juga merasa bahagia bisa melepaskan suntuknya. Bayangkan pekerjaan rutin yang dikerjakannya tiap hari. Sepertinya sudah tidak ada lagi waktu untuk membahagiakan atau menghibur dirinya. Tanpa disadarinya, usianya mulai beranjak makin tua. Ratri teman akrabnya sejak SMA, sudah berumah tangga. Lantas apa Arsy hanya berdiam diri dan menunggu jodoh datang sendiri. Rasanya tidak mungkin!?

   Mobil Ratri meluncur meninggalkan rumah Arsy. Laju mobil itu seakan menembus pekat malam di antara kelap-kelip lampu jalanan. Angin pun menusuk lewat jendela mobil. Hembusan itu bagaikan aroma rindu, yang entah kemana berlari. Di antara angin liar itu, seperti ada nada gelisah yang mampir di telinga Arsy. “Kenapa engkau tutup hatimu? Bukankah engkau merindukan seorang kekasih?”

   “Kamu, kok diam saja Arsy?”

   “Tidak, kok.” Balas Arsy

   Ratri yang dulu pernah mengalami hal seperti itu, seakan bisa membaca keresahan hati sahabatnya ini. Orang yang belum memiliki pacar, sering gelisah. Mimik Arsy kelihatan seperti memendam sebuah kerinduan asmara. Ratri sebetulnya kasihan, karena nasib sahabatnya ini sangat jauh berbeda dengan dirinya. Sejak kegagalan Arsy bersama kekasihnya, hati Arsy seperti tertutup untuk laki-laki.

   “Kita nikmati saja hidup ini.” Akhirnya Ratri coba menghibur Arsy dengan mengalihkan pembicaraan.

   Tak terasa mobil yang dikendarai Ratri masuk ke pelataran parkir sebuah rumah makan. Tak ingin kehilangan momen malam minggu, Arsy pun tak memikirkan persoalan masa lalu. Ia harus menikmati hidup ini, sudah lama ia tidak keluar rumah untuk menikmati malam minggu. Meski malam minggu ini hanya sekedar mencari makan. Hidup memang bagaikan irama musik, akhirnya akan tersudahi.

   “Jadi aku ajak kamu makan, habis itu kita pulang dan kamu nginap di rumahku.”

   “Iih… biasa kamu, pasti ada maunya.”

   Mereka betul-betul menikmati malam minggu ini. Arsy yang tadinya kelihatan galau, berubah seratus delapan puluh derajat. Senyumnya mengalir bagai bunga mawar yang merekah. Keindahan bunga mawar ketika dipetik dan dicium aromanya. Arsy bagaikan terlepas dari segala beban dan rutinitas setiap hari. Pagi berangkat kerja, lalu pulang sampai sore, kadang malam, tak pernah memikirkan bagaimana tubuhnya juga sudah terlalu penat.

   Sambil mengobrol di kamar, Ratri memutar sinetron religi kesukaannya, sangat pas dengan kehidupan mereka. Dari film ini, Ratri banyak belajar untuk menjadi istri yang baik. Meski sangat tidak mudah menjadi istri seperti dalam sinetron religi. Berbanding terbalik dengan Arsy yang sangat disiplin dalam beribadah. Memang, hanya nasib mereka saja yang berbeda.

   “Arsy, aku bisa melakukan tugas-tugas perusahaan, karena aku banyak belajar dari film ini. Arsy, kamu lihat di film itu, bagaimana sang sekretaris mengatur jadwal kerja pengusaha besar, tetapi begitu taat dengan suaminya. Itu super banget dan keren. Wanita karir, kebanyakan mendambakan jabatan sebagai sekretaris. Dan aku pikir kamu juga mampu melakukannya.”

   Dalam benak Arsy, ada betulnya omongan sahabatnya ini. Apa yang membedakan bagi mereka. Itu cuma soal nasib saja. Orang harus berani mengubah nasibnya. Ratri dan Arsy sejak dulu bersama. Sama-sama juga bertitel sarjana, dan bekerja satu kantor. Tetapi apakah mungkin Arsy bisa menduduki jabatan yang kini dipegang Ratri sebagai sekretaris direksi? Pikiran Arsy mulai dipenuhi oleh sebuah ambisi. Semua orang pasti mampu, jika ingin berusaha dan banyak belajar.

   “Eh, Arsy…kamu luar biasa banget. Aku tidak menyangka penampilan kamu kayak seorang bidadari, meski dengan pakaian berhijab.” Tanpa sengaja, suatu ketika Ratri dan Arsy bertemu di lobi kantor.  Arsy hanya tersenyum, ia menyadari ternyata penampilan juga bisa membuat orang lain jadi kagum. Bahkan karena penampilannya itu, Arsy sempat digoda temannya.

   Arsy memang tidak bergeming, masih begitu sulit ia melupakan Reza, lelaki yang dicintainya. Dan sebagai seorang karyawan memang harus lebih profesional, menyingkirkan hal-hal yang sifatnya pribadi.

   Beberapa minggu kemudian, Ratri menghubungi Arsy. Sepertinya ada yang penting dan sangat serius.

   “Arsy, nanti kamu gantikan aku sebagai sekretaris direksi. Aku ditugaskan untuk menggantikan direktur perusahaan yang ada di Singapura.” Bagai disambar petir, Arsy seakan tidak percaya dengan berita ini. Tapi, dari nada bicara Ratri kelihatan sangat serius. Arsy sebetulnya ingin membantah, kenapa harus dirinya. Tetapi seketika itu juga batinnya membantah. Bukankah Arsy juga punya cita-cita untuk menduduki jabatan sekretaris?

   “Direktur di Singapura, Liem Wiraguna, tiga hari lalu meninggal, karena kecelakaan pesawat. Perusahaan tidak mau membiarkan jabatan itu kosong cukup lama. Aku tadi dihubungi pemilik perusahaan untuk mengisi posisi itu. Dan aku merekomendasikan kamu, untuk mengganti posisiku disini.” Arsy hanya mampu mendengarkan, tak mampu berkata-kata atau membantah ucapan Ratri. Akhirnya, setelah agak tenang, Arsy berkata singkat ke Ratri.

   “Oh, iya Ratri….. selamat ya, kamu memang perempuan hebat. Kamu pantas jadi direktur.”

   Sejak saat itu, Arsy mulai berkonsentrasi untuk mempersiapkan diri sebagai sekretaris direksi. Baginya, ia dan Ratri sama. Arsy juga sarjana, lulusan kampus yang sama dengan Ratri. Lantas, apa yang menghalangi dirinya untuk membuktikan bahwa ia juga mampu.

   Seminggu sejak keberangkatan Ratri ke Singapura, Arsy belum berani memasuki ruangan kerja yang ditinggalkan Ratri. Hingga akhirnya, Ratri menghubungi Arsy.

   “Kamu kok tidak masuk kerja. Tadi aku ditelpon presiden direktur, posisiku belum ada yang isi. Kamu kan sudah aku rekomendasikan.”

   “eee…. Iya.” Arsy tergagap dan entah mau ngomong bagaimana. Mulutnya terkatup, seakan tanpa keberanian.

   Tanpa pikir panjang, keesokan harinya, Arsy mulai memasuki ruangan kerja sekretaris direksi. Arsy begitu kaget, karena ternyata di ruangan itu sudah ada seseorang perempuan, yang duduk di kursi kerja. Perempuan itu tak lain, Nikita. Perempuan yang sering memantik keributan di kantor, tetapi dia selalu berlindung di balik Manajer Personalia. Mungkin saja mereka ada hubungan khusus..

   Arsy akhirnya memilih kembali pada posisi semula. Ada rasa curiga, jangan-jangan Ratri hanya berbasa-basi padanya. Sejak saat itu Arsy tidak berusaha menghubungi Ratri. Begitu pula sebaliknya, Ratri tidak pernah menghubungi Arsy. tetapi ini bisa dimaklumi, karena jabatan baru yang dipegang Ratri, begitu penting. Mungkin tidak ada lagi waktu untuk sekedar santai. Apalagi Ratri juga sudah berada di Singapura.

   Arsy tidak mau larut dalam kesedihannya, ia tetap bekerja sesuai dengan tanggung-jawabnya. Ia begitu yakin, jika suatu saat itu menjadi miliknya, pasti akan kembali. Lagi-lagi batinnya seakan membantah. Kodrat sebagai perempuan lemah tidak lepas dari dirinya, saat salat, Arsy sering menangis. Tetapi apakah bukan sebuah nafsu, jika ia tetap menginginkan menjadi seorang sekretaris. Siang-malam perang batin terus bergolak di dadanya. Tetapi saat ia sadar, mulutnya bergumam: “astaghfirullah.”

   Sejak sekretaris direksi diduduki oleh Nikita, ada banyak masalah yang muncul. Beberapa tender besar perusahaan gagal. Nikita tidak mampu bekerja seperti Ratri.

   Tidak ada ampun bagi Nikita, ia dipecat dari perusahaan dan segera digantikan oleh Arsy. Betapa gembiranya Arsy, apa yang ada di benaknya selama ini ternyata salah. Ia telah memvonis sahabatnya sendiri, Ratri, dengan prasangka yang salah.

   Kini Arsy bukan lagi perempuan lemah yang hanya bisa berpasrah menerima kodratnya sebagai perempuan. Arsy telah menjadi perempuan tegar, kokoh, kuat dan enerjik. Arsy tidak mau mengkhianati perasaan sahabatnya, Ratri. Ia bisa menduduki jabatan ini, semua berkat pertolongan Ratri. Bagaimana jika seandainya, Ratri kembali lagi ke Jakarta dan kembali menempati jabatan yang kini diisi Arsy?

   “Aku tidak mau mengkhianati persahabatanku dengan Ratri.” Itu yang melintas dalam benaknya.

   “Apakah ini sebuah ambisi? Entah..” Hati Arsy seakan penuh pertentangan. [T]

  • Baca CERPEN lain
Lelaki Dalam Kamar Pacarnya  | Cerpen Depri Ajopan
Saklon | Cerpen Sonhaji Abdullah
Sebuah Tas Untuk Istri Dokter | Cerpen Putu Arya Nugraha
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Arif Billah | Sepanjang Pantai Aku Mengumpat

Next Post

Jelajah Aksara Dalam Sarira : Catatan dari Tutur Sang Hyang Aji Saraswati

Vito Prasetyo

Vito Prasetyo

Lahir di Makassar, Februari 1964. Kini tinggal di Kabupaten Malang. Pernah kuliah di IKIP Makassar.

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Jelajah Aksara Dalam Sarira : Catatan dari Tutur Sang Hyang Aji Saraswati

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co