2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rare Angon, Memutar Aksara

Nyoman Sukaya Sukawati by Nyoman Sukaya Sukawati
October 22, 2023
in Esai
Rare Angon, Memutar Aksara

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

INI tentang makna sebenarnya dari Rare Angon dan berbeda dengan apa yang dipahami banyak orang selama ini. 

Kita tahu, setidaknya ada tiga versi Rare Angon.  Pertama, berupa cerita rakyat tentang bocah gembala.  Kedua adalah lontar Tutur Rare Angon yang menceritakan kehidupan manusia sejak dalam kandungan sampai meninggal dan berbagai upacara yadnya yang mengiringinya.  Ketiga, Rare Angon sebagai uparengga dalam upacara yadnya besar, biasa disebut ngadegang Betara Rare Angon.

Rare Angon memang berarti bocah gembala tapi itu bukanlah sekadar cerita anak gembala seperti yang dikenal secara literal dari cerita rakyat. Rare Angon itu sesungguhnya tatwa atau tutur pemutaran aksara suci, dasa aksara, dalam ajaran kerohanian Bali.

Rare angon dibentuk dari permainan akronim ra-re dan ang-ah. Suku kata ah dimodif jadi ong atau dilafalkan on agar dapat membentuk kata angon. Ra dari raditya yang bermakna putih, atas, dan re dari kata rekta yang berarti merah, bawah. Ra dan re dibayangkan membentuk garis vertikal. Sedangkan antara ang dan on membentuk garis horizontal. Penggabungan garis vertikal dengan garis horizontal ini akan membentuk tanda tapak dara (+). Jadi, kata ra-re  ang-on itu permainan majas  untuk menggambarkan simbol tapak dara dalam imajinasi kita. Tapak dara ini dalam ajaran lain disebut Kandapat.

Setiap orang memiliki tapak dara  dalam dirinya. Di mayapada ini manusia hidup memikul tapak dara.  Yang dimaksudkan dengan tapak dara ini adalah empat kutub suksma sarira kita, yakni citta (pikiran rohani), manah (pikiran logika), ahamkara (ego) dan budi (rasa). Dalam kandapat, ini disebut anggapati, prajapati, banaspati, banaspati raja, atau dijuluki Ratu Ngurah Tangkeb Langit, Ratu Wayan Tabeng, Ratu Made Jelawung, Ratu Nyoman Sakti Pengadangan. Tapak dara adalah dualitas yang saling berhadapan tapi berjarak antara yang satu dengan lainnya, antara pikiran halus dengan pikiran logika, rasa halus dengan ego.

Suksma sarira merupakan satu lapisan dalam diri manusia, selain stula sarira atau badan jasmani, dan antakarana sarira yaitu atman, ruh atau jiwatman. Dalam Hindu, jiwatman atau ruh ini dianggap percikan kecil Brahman, Siwa atau Tuhan.  Ini yang membuat kita hidup.

Ajaran di Bali mengidealkan kita dapat mengantarkan jiwatman atau ruh itu moksa atau kembali ke sumbernya, menyatu dengan Tuhan, serta terbebas dari reinkarnasi. Sayangnya, jalan moksa itu rumit, mensyaratkan kita membebaskan sang ruh dari kegelapan duniawi kita.

Pada dasarnya, suksma sarira berada dalam pusaran kegelapan karena terikat hukum duniawi. Alam pikiran atau suksma sarira terkoneksi dengan energi gelap jasmaniah, kerap disebut sifat-sifat negatif atau hewani dalam diri kita.  Ini yang membuat hidup senantiasa berputar-putar dalam tarikan gelap energi panca mahabuta, panca indera, asubha karma, dsb. yang merupakan hukum kelahiran. Ini pula yang membuat sang ruh terus berkubang dalam kegelapan dan harus memikul beban tapak dara yang gelap sehingga ia sulit naik menuju moksa.

Untuk mencapai moksa, jalan satu-satunya adalah membebaskan diri dari belenggu duniawi, dengan membersihkan, menyucikan, mencerahkan stula sarira dan suksma sarira, atau lahir dan batin kita.  Kita harus menjadikan diri sebagai  “Anak Siwa” di dunia ini agar kelak dapat naik  ke Alam Siwa.

Dari perspektif kerohanian Bali, tubuh kita ini terdiri dari aksara. Organ-organ vital kita, seperti jantung, hati, empedu, paru-paru, ginjal dan sebagainya adalah linggih aksara, disebut Dasa Aksara, yakni Sa, Ba, Ta, A, I, Na, Ma, Si, Wa, Ya.  Aksara-aksara inilah yang harus dihidupkan agar naik kelas jadi aksara Sang, Bang, Tang, Ang, Ing, Nang, Mang, Sing, Wang, Yang.  Secara spiritual, ini artinya kita mengaktifkan energi dewata dalam kesemestaan raga kita. Dan itu kemudian mempengaruhi kualitas tapak dara atau suksma sarira dan seluruh prilaku kita. Kita jadi manusia tercerahkan.

Dalam Rare Angon, pembersihan atau memutar dasa aksara ini disimbolkan dengan pindekan. Putaran pindekan ke kanan, lambang swastika, sebagai energi Siwa, putarannya naik. Maknanya sebagai pencerahan rohani. Sedangkan pindekan berputar ke kiri, lambangnya swastika terbalik, membalik dasa aksara, samkya, energi Budha, turun. Maknanya sebagai pencerahan budi atau kehidupan lahiriah. Inilah ideologi Siwa-Budha.

Memutar aksara atau menyucikan diri, di Bali dilakukan dengan berbagai tradisi serta upacara yadnya berkesinambungan sepanjang hayat sesuai lontar Tutur Rare Angon, juga dengan jalan tapa brata yoga samadhi.

Proses spiritual tersebut membuat tapak dara dalam diri aktif dengan energinya yang cemerlang, bersih dari kegelapan dan kehilangan dualitasnya. Seluruh energi menyatu ke porosnya, membentuk kulminasi kesadaran yang digambarkan sebagai linggih aksara Ongkara, simbol jiwa-budi yang tercerahkan. Pribadi yang mencapai pencerahan level ini diibaratkan sebagai Siwa sekala, Siwa kecil, Anak Siwa. Inilah yang diabstraksikan melalui sosok Rare Angon. Si Anak Gembala. Orang yang mengembalakan sifat-sifat hewani dalam diri.

Rare Angon adalah Ongkara. Seluruh atribut Rare Angon, seperti layang-layang, sabit, tanduk kerbau, dan cemeti adalah simbol karakter Ongkara, menggambarkan kualitas tapak dara atau suksma sarira yang tercerahkan.

Atribut sabit atau topi segi tiga Rare Angon itu merupakan simbol Ongkara Gni. Melambangkan manah atau pikiran logika tercerahkan, pikiran bergairah, sensitif, tekun dan kreatif dalam menerima, menghayati, dan mengolah ilmu pengetahuan. Inilah disebut jalan Tapa. Dalam Catur Marga, namanya Jnana Marga Yoga.

Atribut berupa tanduk kerbau adalah simbol Ongkara Mrta. Melambangkan ahamkara yang tercerahkan sehingga sensitif dan cerdas mengelola energi ego dalam  usaha mewujudkan kesejahteraan hidup di dunia. Mampu menunaikan swadarma dengan teguh dan ikhlas tanpa terikat dengan hasil. Ini yang disebut jalan Brata. Dalam Catur Marga, namanya Karma Marga Yoga.

Pecut atau cemeti adalah simbol Ongkara Pasah. Melambangkan rasa yang tercerahkan sehingga emosi dan rasa selalu memancarkan kasih. Segala aktivitasnya di dunia dibimbing oleh spirit bakti, pelayanan dan kasih. Ini namanya jalan Yoga. Dalam Catur Marga, ini namanya Bhakti Marga Yoga.

Layang-layang dengan guwangannya itu lambang Ongkara Sabdha. Menggambarkan sifat religius.  Citta atau pikiran rohani yang tercerahkan membuatnya selalu terkoneksi serta sensitif menangkap getaran pengetahuan atau spirit Siwa semesta. Ini namanya jalan Samadhi. Dalam Catur Marga disebut Raja Marga Yoga.

Itulah Rare Angon. Pencapaian karakter ideal sesuai ajaran kerohanian Bali, sebagai manusia religius sekaligus berbudi. Hidup dalam naungan ideologi Siwa-Budha, seimbang lahir-batin. Tak lagi memikul beban tapak dara tapi hidup di atas tapak dara atau hidup napak dara. Karakter ini digambarkan dengan aksara Ongkara Adumuka. Atributnya berupa sunari dan seruling.

Sunari itu lambang rohani tercerahkan. Interaksi antara spirit diri dengan semesta akan menciptakan energi batiniah yang indah. Kita mampu menangkap getaran semesta, sebaliknya semesta akan menggetarkan jiwa kita dalam harmoninya.  Kondisi ini digambarkan sebagai interaksi antara ruang kosong bambu dengan angin semesta yang menciptakan penyatuan religius bak dengungan suara sunari yang singid samun-samun itu.

Sedangkan kehidupan lahiriah yang tercerahkan akan menciptakan interaksi yang selaras dengan gerak semesta.  Prilaku kita akan mengalirkan energi kehidupan yang indah. Trikaya parisuda atau bhakti kita ibarat meniup seruling, mengelola sepuluh lubang aksara dalam diri, sehingga mampu memproduksi gerak dan irama prilaku kehidupan yang merdu dan damai di lingkungan dunia ini. Dalam Kandapat, pencapaian ini disimbolkan dengan nama Ratu Ketut Petung. Inilah  prasyarat ideal bagi Sang Jiwatman untuk bisa tinggal landas dan pergi ke negeri impian, ke Alam Siwa alias moksa.

Begitulah kira-kira makna Rare Angon. Ini hanya renungan singkat, ditulis dengan cepat, tidak terlalu detail. Makna aksara-aksara itu bisa sangat luas, berlapis-lapis, bersudut-sudut, sehingga tak terlalu mudah juga merumuskannya menjadi cerita sederhana yang nemu gelang. [T]

Tags: ceritafilosofifilsafatrenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Terbaik pada Lomba Musikalisasi Puisi di Unud, Komunitas Budang Bading Badung Makin Kompak

Next Post

Dari Nepotisme Hingga Dinasti: Catatan dari Asta Dasa Parwa dan Bayang-Bayangnya dalam Realita

Nyoman Sukaya Sukawati

Nyoman Sukaya Sukawati

lahir 9 Februari 1960. Ia mulai aktif menulis puisi sejak 1980-an di rubrik sastra surat kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Dia pernah bergiat di dunia kewartawanan. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Dari Nepotisme Hingga Dinasti: Catatan dari Asta Dasa Parwa dan Bayang-Bayangnya dalam Realita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co