6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ma Gueule : Arabphobia dan Trauma Kolektif Jangka Panjang

Azman H. Bahbereh by Azman H. Bahbereh
September 17, 2023
in Ulas Film
Ma Gueule : Arabphobia dan Trauma Kolektif Jangka Panjang

Pemutaran film Ma Gueule serangkaian Minikino Film Week ke-9; Bali International Short Film Festival, di Warung Kopi DeKakiang Singaraja, Buleleng, Sabtu 16 September 2023 | Foto: Dok. Singaraja Menonton

TANGGAL 22 Maret 2016 di Brussels, Belgia, terjadi aksi terorisme yang terkoordinasi—dilancarkan oleh sekolompok ekstrimisme Islam di dua tempat yang berbeda. Pertama, bom diledakkan di Bandara Internasional Brussels. Kedua, ledakan besar terjadi lagi di kereta yang meninggalkan stasiun metro Maalbeek. Sementara serangan ketiga berbuah gagal, pelaku melarikan diri dari bandara tanpa meledakkan bomnya, yang nantinya ditemukan saat penggeledahan berlangsung.

Aksi keji ini mengakibatkan sekitar 32 orang tewas, lebih dari 300 orang mengalami luka-luka, dan nyaris seluruh warga Belgia melumpuhkan kepercayaannya atas komunitas Islam dan etnis Timur Tengah—mereka kembali menyecap trauma kolektif jangka panjang dan melanggengkan kembali stereotip prematur.

Dari sanalah, film Ma Gueule tahun 2022 lahir dan bereaksi. Film pendek produksi Belgia yang disutradarai Grégory Carnoli dan Thibaut Wohlfahrt tersebut berupaya menjadi, entah sintesis fenomenologi atau sekadar gambaran congkak atas stereotip prematur yang mengakar kuat di jantung eropa, khususnya Belgia modern ini.

Ma Gueule adalah salah satu film pendek yang diputar dalam Minikino Film Week ke-9; Bali International Short Film Festival. Film tersebut menjadi bagian screening program Surprise! yang ditayangkan Singaraja Menonton (kolaborator Minikino) di Warung Kopi DeKakiang Singaraja, Buleleng, pada Sabtu 16 September 2023, bersamaan dengan beberapa film pendek lainnya yaitu Kakak Jenggot, Garek, At Littele Wheelie Three Days Ago, Safe as Houses, dan Its You.

Pemutaran film Ma Gueule serangkaian Minikino Film Week ke-9; Bali International Short Film Festival, di Warung Kopi DeKakiang Singaraja, Buleleng, Sabtu 16 September 2023 | Foto: Dok. Singaraja Menonton

Ma Gueule menguntit perjalanan sehari semalam seorang pria 35 tahun bernama Stéphane Terrazi. Ia belum lama pindah ke Brussels bersama keluarganya. Di sana dua orang teman lamanya menyeretnya menonton pertandingan bola di sebuah bar, kemudian berlanjut dugem di kelab malam. Namun sesampainya di depan kelab malam, Stéphane mengalami kejadian tak menyenangkan—ia dilarang masuk karena beberapa alasan. Dan tepat pada malam itu pula, ia tertahan di satu absurditas ketakutan dan prasangka yang berlebih.

Arabphobia dan Trauma Kolektif

Konflik berawal dari Stéphane yang dilarang masuk ke kelab malam oleh petugas di sana menunggui temannya keluar, ia berkeliling parkiran sembari gelisah tak menentu. Ia berkaca di spion mobil, mengelus-ngelus kepala botaknya dan janggut panjangnya (betapa Timur Tengahnya ia), sampai dua orang berseragam polisi datang menciduknya dan menuduhnya hendak melakukan tindakan kriminal.

Kita akan melihat momen itu dengan perasaan curiga. Tanpa tedeng aling-aling, kedua polisi memborgolnya dan menginterograsinya seakan Stéphane adalah buronan teroris yang jejaknya sudah menghilang lama. Ia dipersekusi—diperlakukan buruk secara sistemik, sampai kita merasakan bahwa Ma Gueule bukanlah soal individu yang terdzolimi, namun di luar dari itu.

Bila kita membaca lagi dengan baik bagaimana Ma Gueule menuturkan kisahnya, kita akan memahami bahwa film ini, utamanya bukan saja tentang seorang pria yang dituduh setengah arab yang menjadi korban prasangka dini kedua polisi, tapi juga kedua polisi yang mana adalah representasi ideal sosial masyarakatnya tidak bisa menekukkan trauma kolektifnya atas dinamika Timur Tengah dan rentetan peristiwa ekstrimisme yang kahar melanda.

Sebab sejak 2004, kompilasi serangan ekstrimisme Arab atau Islam cukup membanjir di sekujur Eropa, dalam hal ini lebih khusus Eropa Barat. Bom di London, Paris, Nice, Brussels, dan Berlin, membuat fenomena ini menjadi perhatian utama masyarakat di sana, untuk lebih terbiasa bersikap was-was. Bahkan tak dinyana, ada posisi yang hampir sejajar antara etnis Timur Tengah dan orang-orang kulit hitam dalam pandangan masyarakat Eropa kulit putih—sekurang-kurangnya keduanya adalah biang keladi dari kriminalisasi tingkat semenjana sampai internasional, dan selalu ditempatkan di garis-garis batas suudzon dan husnudzon.

Fakta bahwa Stéphane mengalami penolakan sepihak ketika memasuki kelab malam oleh para pegawai bukan hanya karena alasan ia tak membawa kartu idenditas formal, tapi ia juga memiliki keterkaitan masa lalu dengan tindakan-tindakan kriminalnya—meski pada masa kini ia telah membenahi hidup dan mencintai keluarga kecilnya, adalah gambaran tegas seperti apa posisi keyakinan masyarakat akan keberadaan teror-teror berdampak negatif di negaranya.

Trauma kolektif ini kian menarik saat sang sutradara sendiri, Grégory Carnoli, mengalami banyak perundungan dan marjinalisasi etnis di kehidupan nyata, “Saya orang Italia tetapi saya memiliki darah Arab. Film ini terinspirasi oleh anekdot kehidupan yang saya alami selama kurang lebih 2 dasawarsa terakhir dan menyusunnya dalam satu malam untuk menyoroti rasisme, kejahatan rasial, dan paranoia orang-orang dalam situasi tertentu,” begitu yang ia sampaikan sendiri di dalam wawancaranya dengan Sudinfo, sebuah portal berita kontemporer Belgia.

Di sana ia mencoba melihat dan mewartakan bagaimana nantinya sebuah trauma di negaranya telah bertransformasi menjadi “waham” yang juga tentu mempunyai dampak negatif bagi komunitas diaspora yang masih dipandang sebelah mata.

Walau isu trauma kolektif demikian telah dibabarkan Paul Haggis 15 tahun yang lalu melalui Crash dengan kompleksitas multiplot tinggi yang mencerabuti kejahatan dan paranoia hyper orang kulit putih terhadap orang kulit hitam dan etnis-etnis asia di Amerika, tetap saja isu ini menjadi menarik dalam kepadatan kisah dari Ma Gueule. Ma Gueule dengan sadar memberikan ruang bagi kita untuk mencoba mengerti bahwa sebuah trauma kolektif benarlah berangkat dari pendasaran yang jelas lagi kuat.

Bentuk main hakim sendiri memang terasa nyata ketika Stéphane berulang kali mengaku kepada kedua polisi bahwa ia bukanlah orang Tunisia, bukanlah orang Maroko. Namun pada saat yang sama, hantu-hantu ekstrimisme juga terasa nyata ketika di penghujung durasi, ada sekuen di mana keluarga diaspora Arab menanti kedatangan anak lelakinya yang diduga kuat terjerumus ke dalam kelompok ekstrimisme yang cikal bakal memerangi kekafiran di daratan sejuk Eropa Barat.

Ma Guele bergerak dalam dua sungai perspektif yang berbeda—melahirkan tafsir jamak dan konklusi bahwa kehidupan tidaklah hitam putih. Kita tak bisa dengan mudah mengatakan kedua polisi dan para pekerja kelab malam sebagai orang yang rasis, dan kita juga tak bisa melihat Stéphane terus menerus dikambinghitamkan meski ia punya rekam jejak yang dapat diendus sejauh mungkin. Artinya, tak ada benar dan tak ada salah di luar sana. Kita tak lagi mengerti tolak ukur kebenaran dan kita tak lagi memahami tolak ukur kesalahan. Ma Gueule adalah potret yang ambigu tentang apa dan bagaimana post truth beroperasi dalam kehidupan pascamodern tanpa makna. [T]

  • BACA ulasan film lainnya dari penulis AZMAN H BAHBEREH
Ballad of a White Cow : Keheningan yang Tak Menawarkan Banyak Hal
Dogtooth (2009): Abnormalitas yang Menegaskan Jati Diri Sinema-Sinema Yorgos Lanthimos
Film Pendek “Kala Rau When the Sun Got Eaten”: Gerhana, Mitos, dan Sedikit Orde Baru
Tags: film pendekMinikinoMinikino Film WeekUlasan Film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ada Tajun Cup IV, Suasana Malam di Desa Tajun Jadi Tak Biasa

Next Post

Keputusan Sensitif dan Perkawinan Campur Mencuri Perhatian Mahasiwa Modul Nusantara

Azman H. Bahbereh

Azman H. Bahbereh

Lahir di Singaraja, Bali, 30 Januari 2001. Bekerja sebagai tukang jagal ayam yang selain gemar membaca juga gemar menulis. Kalian bisa menemukannya di akun Instagram : @azmnhssmb

Related Posts

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails

Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

by Jaswanto
December 18, 2025
0
Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

ADA sebuah komentar dari netizen―yang saya lupa entah di mana―tentang drama Korea (drakor) berjudul “Taxi Driver”. Komentar itu begini, “Seandainya...

Read moreDetails

Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

by Vivit Arista Dewi
December 2, 2025
0
Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

Film Agak Laen kembali hadir dengan langkah yang jauh lebih berani dari sebelumnya. Setelah sukses mengacak-acak rumah hantu, kini mereka...

Read moreDetails

Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

by Bayu Wira Handyan
November 13, 2025
0
Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

SEDIKIT film di Indonesia yang berani menampilkan kemiskinan sebagaimana adanya—banal, kasar, tanpa romantisasi. Sebagian besar memilih jalan aman, menjadikan kemiskinan...

Read moreDetails

The Long Walk (2025): Ritus Kekejaman di Jalan Panjang Tak Berujung

by Bayu Wira Handyan
November 7, 2025
0
The Long Walk (2025): Ritus Kekejaman di Jalan Panjang Tak Berujung

ADA sesuatu yang menakutkan tentang jalanan yang lurus. Ia tidak menjanjikan sebuah tujuan, tetapi yang ia berikan adalah cakrawala yang...

Read moreDetails
Next Post
Keputusan Sensitif dan Perkawinan Campur Mencuri Perhatian Mahasiwa Modul Nusantara

Keputusan Sensitif dan Perkawinan Campur Mencuri Perhatian Mahasiwa Modul Nusantara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co