23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Balik Kisah Abdi Pers Pesantren Yang Luhur

Ikrom F. by Ikrom F.
March 21, 2023
in Esai
Di Balik Kisah Abdi Pers Pesantren Yang Luhur

Ilustrasi tatkala.co

Sejak pertama kali datang dan menetap di Pondok Pesantren Annuqayah, saya menemukan sesuatu yang menarik. Ketertarikan itu bermula dari sebuah majalah dinding yang terpajang di depan kantor. Bentuknya sederhana; ia ditulis di atas kertas folio secara klasik: menggunakan pensil dan krayon sebagai alat kanvas untuk melukiskan gambar jurnalisme pesantren.

Saya sempat berbincang-bincang melalui salah satu kru. Namanya Abdul Warits. Dia mengatakan seorang jurnalis pesantren memiliki tempat yang cukup krusial jika mau dibicarakan. Pria asal Bragung itu menyebut ketika seorang menjadi jurnalis, sama sekali tidak memprioritaskan gaji. Selain tidak ada, gaji merupakan sebuah materi dunia bila hendak diberikan.

“Di Pesantren distribusi keuangan bukanlah urat nadi dalam pekerjaan pers. Bahkan sekira-kiranya materi adalah sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh kiai. Tetapi kita yakin, dengan mengabdi dan ikhlas untuk melaksanakan petuah dari para kiai, insyallah barokah akan menghampiri,” tegasnya dengan nada tegas. 

Perjalanan jurnalis yang ada di Pondok Pesantren Annuqayah agaknya tidak bisa dilepaskan dari soal pengabdian. Dari beberapa ungkapan santri—termasuk Abdul Warits itu—menjadi insan pers perlu diniatkan untuk mengadi. Di sini secara logika, ketika masalah “mengadi” adalah pokok utama, maka tidak ada yang namanya usaha “kerja” pers. Karena setiap “kerja” harus mempunyai upah. Tanpa upah, semua orang dipastikan malas atau tidak sudi melakukan pekerjaan. Di Annuqayah, insan pers sama sekali tidak akan menemukan apa itu bayaran, artinya mereka tidak di gaji.

Meskipun tidak digaji, para wartawan santri tetap melakukan peliputan atas dasar cinta. Sebagai seorang abdi pers, cinta adalah mantra ampuh disaat mereka mulai lelah dan mengharap sesuatu yang sama sekali utopis. Mereka seakan-akan ingin membuktikan, bahwa bukan penghasilan yang dicari. Mereka seperti mengamalkan ajaran apa yang diutarakan oleh Radinal Mukhtar Harahap, bahwa bagaimana pun, pengadian itu sejatinya adalah memberikan apa yang telah didapat untuk kemudian mengembangkan kreasi dan inovasi dari diri sendiri.

Hanya saja, ironisnya, para awak media dianggap membuang-buang waktu dan uang, karena dalam setahun mereka biasa melakukan penerbitan redaksi. Tidak jarang, insan pers diperlakukan layaknya santri yang tidak sedang mengadi. Mereka selalu dipandang sebelah mata. Barangkali benar, abdi pers tidak sama dengan abdi lingkungan, yang bentuk kerjanya menyapu. Atau para ustaz yang mengajar di madrasah, atau para pekerja yang saban hari membangun gendung yang sekiranya tampak ke permukaan. Dan itu bisa dinilai oleh setiap mata dan telinga bahwa itulah produk pengabdian yang paling luhur.

Mungkin benar pula, insan pers hanya melakukan wacana dan memberi informasi supaya publik tahu dan gempar terhadap apa yang sudah dikritisi; mempertanyakan setiap kejadian, yang barangkali melabrak kemapanan. Tapi mereka tidak akan sudi melakukan sesuatu secara kritis tanpa fakta dilapangan, seperti pengandaian kita; mula-mula membuat tema, diskusi, melakukan wawancara, klarifikasi kembali, menulis naskah dan terbit.

Satu-satunya contoh yang memaparkan wartawan santri tidak berwacana serampangan ketika menyangkut soal dawuh atau kebijakan kiai. Layaknya santri yang takdim, setiap apapun yang muncul dari kiai itu sifatnya mutlak diikuti. Sikap ini merupakan pola antara hubungan murid dan guru. Tentunya pola seperti ini tidak terlepas dari sistem pembejalaran yang bernuansa budaya.

Abdurrahman Wahid menandang pola kurikulum pesantren sebagai “sub kultural”. Pandangan local wisdom ini erat kaitannya dengan penerjemahan kembali wajah pesantren yang terlahir dari masyarakat pedesaan, yang umumnya begitu antusias terhadap ajaran islam damai. Ajaran kedamaian, salah satunya terpartri kepada akhlaq. Sebagai akibat, semua ilmu yang sering dilestarikan bahkan telah menjadi induk disaat belajar di pesantren adalah etika; ia akan datang dan tidak bisa ditinggal pergi.

Maka dari itu, etika itu masuk dan jadi poros wartawan santri yang dikenal dengan sebutan sa’mina, waatha’na. Perlu digaris bawahi, pers yang identik dengan independensi ada apabila mereka tidak mempunyai “tuan”. Tuan di sini diartikan sebagai sang pemilik lembaga pers. Bahkan, lembaga pers perlu menyajikan pemberitaan yang berimbang, tidak ada campur tangan siapapun dan apapun. Secara sederhana, wartawan harus bebas dari intervensi dari pihak luar.

Sa’mina Waatha’na wartawan santri agaknya berekspektasi ke arah itu. Ia hadir dalam kacamata lembaga pendidikan sebagai alat untuk tidak semena-mena menggebuki apa yang telah disepakati para kiai. Bukan berarti hal ini mereka dipasung peliputannya, tetapi etika dasar sebagai murid yang takdim pada guru adalah jawaban yang sekira-kiranya perlu dijaga, atas nama agama dan budaya. Harapan ajaran ini adalah barokah. Barokah adalah bayaran tertinggi. Kita bisa meyakini, barokah seperti capaian paling luhur dari seorang santri. Dapat dipastikan pula, mereka berusaha mencari barokah untuk menunjang demi masa depannya kelak.

Kisah ikonik yang patut kita teladankan ketika mau meliput sosok kiai. Hal ini dinarasikan Majalah Muara yang berada di Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa. Majalah yang ada sejak 1980 ini punya hasrat untuk melakukan wawancara dengan KH. Ahmad Mustofa Bisri. Kendatipun wawancara bisa dilakukan melalui apa saja, bisa lewat telepon, email, WA atau media sosial lainnya. Dengan pertimbangan jarak tempuh yang terlampau jauh antara Sumenep dan Rembang, redaksi sepakat agar melakukan wawancara melalui via WA. Namun pengasuh sama sekali tidak mengizinkan itu. Bahkan konon, beliau mempertanyakan dengan tegas adab kesopanan dan muruah kesantrian meski dalam rangka wawancara. 

Kisah ini menarasikan bahwa kesopanan yang terpancar dalam diri santri, apapun situasinya, haruslah mencerminkan itu. Banyak orang terjebak kepada hiruk-pikuk pragmarisme teknologi sehingga mereka meninggalkan hal tabu yang kerap dilakukan pada masa lalu. Mengutip Ahmad Zainal Huda (Penulis biografi Gus Mus) mensinyalir bahwa sejarah adalah bagian dari sikap bijaksana untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih maju—supaya kesalahan tidak terulang dua kali—justru dengan menulis, manusia bisa menggali secara kritis apa yang baik dari masa lalu (the fast).

Pada hakikatnya apa yang dialami redaksi majalah Muara adalah soal menyambung tali silaturrahim. Formula Hubungan antara murid dan guru itu diyakini sebagai sesuatu yang sakral. Semacam kisah ikonik dari KH. Kholil Bangkalan yang mengutus Kiai As’ad Syamsul Arifin untuk membawa Tongkat, Surban dan Tasbih kepada KH. Hasyim Asy’ari. Transportasi yang minim dan dikarenakan perintah kiai, maka hal itu dilaksanakan secara baik. Sewaktu-waktu juga, KH. Kholil mewanti-wanti santrinya untuk tidak makan di jalan. Persoalannya sepele; menjaga eksistensi muruah.

Parahnya hal seperti itu sulit kita temukan di lembaga pendidikan manapun. Bahkan kita tidak bisa menolak lupa, moral guru dan murid sudah terpasang buta dan tuli, dan kita saat ini hanya bisa berkaca-kaca membaca kengerian seperti itu. [T]

Orang-orang Baik pada Duka Bencana – Cerita Kerja Jurnalistik Gempa-Tsunami Palu
5 Film Terbaik yang Sebaiknya Ditonton Calon Wartawan atau Wartawan
Tags: jurnalistikperspesantrensantri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Semua Orang Sibuk, Prioritas Menentukan…

Next Post

Gempita Fragmen Tari Bawi Srenggi Dadia Pudeh, Begini Awal Mula Ogoh-Ogoh di Tajun

Ikrom F.

Ikrom F.

Pemuda kelahiran Jember. Saat ini sedang mengabdi di pondok pesantren Annuqayah daerah Lubangsa. Aktif di beberapa komunitas, seperti Komunitas Penulis Kreatif (KPK) Iksaj, IPJ, LPM Fajar dan PMII. IG @ikrom_f1234.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Gempita Fragmen Tari Bawi Srenggi Dadia Pudeh, Begini Awal Mula Ogoh-Ogoh di Tajun

Gempita Fragmen Tari Bawi Srenggi Dadia Pudeh, Begini Awal Mula Ogoh-Ogoh di Tajun

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co