2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Balik Kisah Abdi Pers Pesantren Yang Luhur

Ikrom F. by Ikrom F.
March 21, 2023
in Esai
Di Balik Kisah Abdi Pers Pesantren Yang Luhur

Ilustrasi tatkala.co

Sejak pertama kali datang dan menetap di Pondok Pesantren Annuqayah, saya menemukan sesuatu yang menarik. Ketertarikan itu bermula dari sebuah majalah dinding yang terpajang di depan kantor. Bentuknya sederhana; ia ditulis di atas kertas folio secara klasik: menggunakan pensil dan krayon sebagai alat kanvas untuk melukiskan gambar jurnalisme pesantren.

Saya sempat berbincang-bincang melalui salah satu kru. Namanya Abdul Warits. Dia mengatakan seorang jurnalis pesantren memiliki tempat yang cukup krusial jika mau dibicarakan. Pria asal Bragung itu menyebut ketika seorang menjadi jurnalis, sama sekali tidak memprioritaskan gaji. Selain tidak ada, gaji merupakan sebuah materi dunia bila hendak diberikan.

“Di Pesantren distribusi keuangan bukanlah urat nadi dalam pekerjaan pers. Bahkan sekira-kiranya materi adalah sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh kiai. Tetapi kita yakin, dengan mengabdi dan ikhlas untuk melaksanakan petuah dari para kiai, insyallah barokah akan menghampiri,” tegasnya dengan nada tegas. 

Perjalanan jurnalis yang ada di Pondok Pesantren Annuqayah agaknya tidak bisa dilepaskan dari soal pengabdian. Dari beberapa ungkapan santri—termasuk Abdul Warits itu—menjadi insan pers perlu diniatkan untuk mengadi. Di sini secara logika, ketika masalah “mengadi” adalah pokok utama, maka tidak ada yang namanya usaha “kerja” pers. Karena setiap “kerja” harus mempunyai upah. Tanpa upah, semua orang dipastikan malas atau tidak sudi melakukan pekerjaan. Di Annuqayah, insan pers sama sekali tidak akan menemukan apa itu bayaran, artinya mereka tidak di gaji.

Meskipun tidak digaji, para wartawan santri tetap melakukan peliputan atas dasar cinta. Sebagai seorang abdi pers, cinta adalah mantra ampuh disaat mereka mulai lelah dan mengharap sesuatu yang sama sekali utopis. Mereka seakan-akan ingin membuktikan, bahwa bukan penghasilan yang dicari. Mereka seperti mengamalkan ajaran apa yang diutarakan oleh Radinal Mukhtar Harahap, bahwa bagaimana pun, pengadian itu sejatinya adalah memberikan apa yang telah didapat untuk kemudian mengembangkan kreasi dan inovasi dari diri sendiri.

Hanya saja, ironisnya, para awak media dianggap membuang-buang waktu dan uang, karena dalam setahun mereka biasa melakukan penerbitan redaksi. Tidak jarang, insan pers diperlakukan layaknya santri yang tidak sedang mengadi. Mereka selalu dipandang sebelah mata. Barangkali benar, abdi pers tidak sama dengan abdi lingkungan, yang bentuk kerjanya menyapu. Atau para ustaz yang mengajar di madrasah, atau para pekerja yang saban hari membangun gendung yang sekiranya tampak ke permukaan. Dan itu bisa dinilai oleh setiap mata dan telinga bahwa itulah produk pengabdian yang paling luhur.

Mungkin benar pula, insan pers hanya melakukan wacana dan memberi informasi supaya publik tahu dan gempar terhadap apa yang sudah dikritisi; mempertanyakan setiap kejadian, yang barangkali melabrak kemapanan. Tapi mereka tidak akan sudi melakukan sesuatu secara kritis tanpa fakta dilapangan, seperti pengandaian kita; mula-mula membuat tema, diskusi, melakukan wawancara, klarifikasi kembali, menulis naskah dan terbit.

Satu-satunya contoh yang memaparkan wartawan santri tidak berwacana serampangan ketika menyangkut soal dawuh atau kebijakan kiai. Layaknya santri yang takdim, setiap apapun yang muncul dari kiai itu sifatnya mutlak diikuti. Sikap ini merupakan pola antara hubungan murid dan guru. Tentunya pola seperti ini tidak terlepas dari sistem pembejalaran yang bernuansa budaya.

Abdurrahman Wahid menandang pola kurikulum pesantren sebagai “sub kultural”. Pandangan local wisdom ini erat kaitannya dengan penerjemahan kembali wajah pesantren yang terlahir dari masyarakat pedesaan, yang umumnya begitu antusias terhadap ajaran islam damai. Ajaran kedamaian, salah satunya terpartri kepada akhlaq. Sebagai akibat, semua ilmu yang sering dilestarikan bahkan telah menjadi induk disaat belajar di pesantren adalah etika; ia akan datang dan tidak bisa ditinggal pergi.

Maka dari itu, etika itu masuk dan jadi poros wartawan santri yang dikenal dengan sebutan sa’mina, waatha’na. Perlu digaris bawahi, pers yang identik dengan independensi ada apabila mereka tidak mempunyai “tuan”. Tuan di sini diartikan sebagai sang pemilik lembaga pers. Bahkan, lembaga pers perlu menyajikan pemberitaan yang berimbang, tidak ada campur tangan siapapun dan apapun. Secara sederhana, wartawan harus bebas dari intervensi dari pihak luar.

Sa’mina Waatha’na wartawan santri agaknya berekspektasi ke arah itu. Ia hadir dalam kacamata lembaga pendidikan sebagai alat untuk tidak semena-mena menggebuki apa yang telah disepakati para kiai. Bukan berarti hal ini mereka dipasung peliputannya, tetapi etika dasar sebagai murid yang takdim pada guru adalah jawaban yang sekira-kiranya perlu dijaga, atas nama agama dan budaya. Harapan ajaran ini adalah barokah. Barokah adalah bayaran tertinggi. Kita bisa meyakini, barokah seperti capaian paling luhur dari seorang santri. Dapat dipastikan pula, mereka berusaha mencari barokah untuk menunjang demi masa depannya kelak.

Kisah ikonik yang patut kita teladankan ketika mau meliput sosok kiai. Hal ini dinarasikan Majalah Muara yang berada di Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa. Majalah yang ada sejak 1980 ini punya hasrat untuk melakukan wawancara dengan KH. Ahmad Mustofa Bisri. Kendatipun wawancara bisa dilakukan melalui apa saja, bisa lewat telepon, email, WA atau media sosial lainnya. Dengan pertimbangan jarak tempuh yang terlampau jauh antara Sumenep dan Rembang, redaksi sepakat agar melakukan wawancara melalui via WA. Namun pengasuh sama sekali tidak mengizinkan itu. Bahkan konon, beliau mempertanyakan dengan tegas adab kesopanan dan muruah kesantrian meski dalam rangka wawancara. 

Kisah ini menarasikan bahwa kesopanan yang terpancar dalam diri santri, apapun situasinya, haruslah mencerminkan itu. Banyak orang terjebak kepada hiruk-pikuk pragmarisme teknologi sehingga mereka meninggalkan hal tabu yang kerap dilakukan pada masa lalu. Mengutip Ahmad Zainal Huda (Penulis biografi Gus Mus) mensinyalir bahwa sejarah adalah bagian dari sikap bijaksana untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih maju—supaya kesalahan tidak terulang dua kali—justru dengan menulis, manusia bisa menggali secara kritis apa yang baik dari masa lalu (the fast).

Pada hakikatnya apa yang dialami redaksi majalah Muara adalah soal menyambung tali silaturrahim. Formula Hubungan antara murid dan guru itu diyakini sebagai sesuatu yang sakral. Semacam kisah ikonik dari KH. Kholil Bangkalan yang mengutus Kiai As’ad Syamsul Arifin untuk membawa Tongkat, Surban dan Tasbih kepada KH. Hasyim Asy’ari. Transportasi yang minim dan dikarenakan perintah kiai, maka hal itu dilaksanakan secara baik. Sewaktu-waktu juga, KH. Kholil mewanti-wanti santrinya untuk tidak makan di jalan. Persoalannya sepele; menjaga eksistensi muruah.

Parahnya hal seperti itu sulit kita temukan di lembaga pendidikan manapun. Bahkan kita tidak bisa menolak lupa, moral guru dan murid sudah terpasang buta dan tuli, dan kita saat ini hanya bisa berkaca-kaca membaca kengerian seperti itu. [T]

Orang-orang Baik pada Duka Bencana – Cerita Kerja Jurnalistik Gempa-Tsunami Palu
5 Film Terbaik yang Sebaiknya Ditonton Calon Wartawan atau Wartawan
Tags: jurnalistikperspesantrensantri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Semua Orang Sibuk, Prioritas Menentukan…

Next Post

Gempita Fragmen Tari Bawi Srenggi Dadia Pudeh, Begini Awal Mula Ogoh-Ogoh di Tajun

Ikrom F.

Ikrom F.

Pemuda kelahiran Jember. Saat ini sedang mengabdi di pondok pesantren Annuqayah daerah Lubangsa. Aktif di beberapa komunitas, seperti Komunitas Penulis Kreatif (KPK) Iksaj, IPJ, LPM Fajar dan PMII. IG @ikrom_f1234.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Gempita Fragmen Tari Bawi Srenggi Dadia Pudeh, Begini Awal Mula Ogoh-Ogoh di Tajun

Gempita Fragmen Tari Bawi Srenggi Dadia Pudeh, Begini Awal Mula Ogoh-Ogoh di Tajun

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co