17 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hantu yang Selalu Perempuan dalam Film Indonesia dan 5 Film Horor yang Wajib Ditonton

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
February 4, 2023
in Ulas Film
Hantu yang Selalu Perempuan dalam Film Indonesia dan 5 Film Horor yang Wajib Ditonton

Foto diambil dari poster film Inang

HANTU. Masyarakat Indonesia─walaupun tidak semua, tapi kebanyakan─masih memegang erat kepercayaan bahwa hantu itu ada. Di era yang serba modern, canggihan, materialistis, kepercayaan akan hantu tidak pernah pupus. Bahkan, bagi sebagian orang, hantu menjadi komoditas yang laris manis di dunia hiburan. Sejauh yang saya ingat, film bergenre horor─tentu selain film drama cinta dan laga─masih menjadi pilihan yang sangat diminati masyarakat Indonesia untuk ditonton di waktu senggang.

Tempo dulu banyak film horor yang diputar di stasiun TV─ya, dan kita semua tahu itu. Seperti, misalnya, yang melekat dalam ingatan saya, film-film horor yang dibintangi Sang Legenda, Suzana.

Mengingat nama Suzana, khususnya generasi 90-an–2000-an, sudah pasti terbayang bagaimana seramnya perawakan hantu yang diperankannya dalam film Malam Satu Suro (1988), Beranak dalam Kubur (1971), Malam Jumat Kliwon (1986), dan Ratu Buaya Putih (1988), misalnya. Atau, tentu saja, penggalan scene yang sangat melekat dalam benak, “Bang, sate, Bang. Satenya 200 tusuk, makan di sini”. Sungguh, pada zaman itu, sensasi takutnya susah untuk digambarkan.

Sepertinya semua sepakat bahwa Suzana adalah sosok memiliki jiwa magis. Bukan hanya saat bersandiwara menjadi hantu, tetapi juga dalam kehidupan nyata─setidaknya menurut rumor yang beredar.

Dalam memerankan hantu, sulit rasanya untuk menandingi akting Suzana─meskipun belakangan muncul nama seperti Julia Perez, Dewi Persik, Ayu Azhari dan sederet nama top lainnya.

***

Tetapi, seiring perjalanan zaman, saat saya masih SMP, film horor Indonesia di produksi seakan-akan hanya mengeksploitasi bagian tubuh wanita saja, terkesan jorok, porno, saru. Benar. Alih-alih tegang dengan adegan horornya, malah justru tegang karena adegan ranjangnya. Alih-alih fokus alur ceritanya, malah justru fokus ke yang lainnya. Sederet nama seperti Julia Perez, Dewi Persik, atau Ayu Azhari, hampir selalu berhasil menjadi bahan fantasi─oh, lupakan saja bagian ini.

Terlepas dari apa yang saya sampaikan di atas, sadar atau tidak, dalam film horor, perempuan hampir selalu menjadi hantunya. Tak hanya di Indonesia, produksi film-film horor luar negeri pun sering menjadikan perempuan sebagai pemeran hantunya. Mengapa demikian?

>>>

Remotivi berusaha menjawabnya. Pertama, hantu perempuan seringkali tercipta dari kekerasan yang dilakukan oleh laki-laki terhadapnya. Teror hantu perempuan menggambarkan kondisi ironis, di mana untuk menghukum pelaku kekerasan, perempuan harus turun tangan sendiri.

Kedua, teror hantu perempuan sebagai tindakan balas dendam. Gagasan bahwa seorang perempuan ketika masih hidup tidak berdaya, dan menjadi marah ketika ia mati terdengar lebih “realistis” bagi kita, sebab laki-laki ketika disakiti akan melakukan balas dendam seketika itu juga, atau saat masih hidup. berbeda dengan perempuan, untuk balas dendam saja mereka harus menjadi hantu terlebih dahulu.

Ketiga, coba kita lihat teori Freudian tentang kembalinya kaum tertindas. Menurut Freud, pikiran sadar kita menekan pikiran-prikiran traumatis ke dalam alam bawah sadar kita. Suatu saat pikiran-pikiran itu akan muncul lagi dengan cara yang lebih terdistorsi atau simbolis. Interpretasi Freud dalam film horor biasanya berpendapat bahwa tokoh hantu dalam film horor mewakili kembalinya mereka yang tertindas, tapi kali ini tampil dalam bentuk yang lebih kuat. Dan perempuanlah yang sering berada di posisi tersebut; tertindas, namun ujung-ujungnya cuma disurruh “sabar”

Keempat, perempuan−entah manusia atau hantu− menjadi komoditi kapital dalam dunia hiburan. Fisik wanita seakan-akan lebih pantas untuk memerankan sosok hantu, rambut yang menjuntai panjang, suara tangisan bahkan bagian-bagian tubuh yang sebenarnya tak mesti ditonjolkan dalam film horor. Dalam hal ini lebih cenderung kepada pemenuhan esek-esek kaum laki-laki.

Saya kira, budaya patriarki yang masih mengakar di kehidupan masyarakat Indonesia juga menjadi alasan kenapa perempuan seakan-akan “pantas” untuk memerankan sosok astral itu. Rasanya memang kurang pas jika laki-laki berperan menjadi hantu, kecuali pocong. Bayangkan saja, mana mungkin ada sosok hantu muncul dari atas pohon dengan kumis tebal dan badan yang sedikit berotot, menggoda pedagang sate kemudian berkata, “Bang, sate, Bang. Satenya 200 tusuk, makan di sini”. Wagu. Alih-alih seram malah terlihat aneh dan menarik gelak tawa penonton. Meskipun tidak menutup kemungkinan, kalau laki-laki mati juga bisa menjadi hantu. Itu tergantung amal ibadahnya saja.

***

Produksi film horor tahun 80-an identik dengan narasi horor yang berasal dari folklore (cerita rakyat atau budaya) yang melegenda. Sementara, sejak tahun 2000-an, narasinya lebih identik dengan urban legend (legenda urban dan kontemporer). Sedangkan pada era ini juga, banyak film horor yang mewarnai dunia perfilman tanah air seperti Jelangkung (2001), Pocong (2006), Hantu Jembatan Ancol (2008) Rumah Dara (2010), atau yang terbaru, KKN di Desa Penari (2022) dan sederet film horor lainnya.

Berbicara film horor, sudah barang tentu juga berbicara sutradaranya. Dan menurut awam saya, sutradara seperti Joko Anwar, Fajar Nugros, serta Azhar Kinoi Lubis, menggarap film horor secara totalitas dan epik.  Saya selalu dibuat kaget dan takut ketika menonton film horor garapan mereka. Oleh sebab itu, biasanya, saya selalu mengajak teman untuk ikut menonton bersama─untuk meminimalisir ketakutan saya yang berlebihan.

Film-film mereka memiliki alur cerita yang tidak membosankan. Sound effect, pencahayan dan latar tempatnya juga selalu menarik. Enggan untuk melewatkannya, sedetik pun.

***

Maka, pada kesempatan kali ini, sebagai bonus, saya rekomendasikan 5 film terbaik menurut saya─yang pasti membuat bulu roma Anda berdiri. Tenang, di sini tak ada kata “nomor lima bikin pingsan”. Oke, berikut daftarnya:

1. Perempuan Tanah Jahanam (2019)

Film yang di sutradarai Joko Anwar ini menceritakan tentang seorang perempuan bernama Maya (Tara Basro) yang sedang bersusah payah hidup di kota tanpa keluarga, hanya ditemani satu sahabatnya yang bernama Dini.

>>>

Ketika usaha mereka di kota mengalami masa-masa sulit dan sedang membutuhkan modal lebih, Maya teringat warisan dari orang tuanya yang berada di desa. Maya─ditemani Dini─ memutuskan pergi ke kampung halamannya untuk mengurusi warisan tersebut. Sesampainya di kampung, mereka menginap di rumah besar yang sudah terbengkalai bertahun-tahun. Sedangkan di sekitar rumah itu terlihat aneh─dan angker tentu saja. Banyak kuburan anak-anak di sana.

Malam harinya Maya mendengar suara jeritan seorang perempuan yang hendak melahirkan. Maya menuju asal suara tersebut. Dari situlah, sedikit demi sedikit, misteri di kampungnya mulai terungkap.

Film ini saya beri nilai 8/10

2. Pengabdi Setan 1 (2017) dan 2 (2022)

Film yang masih di sutradarai Joko Anwar ini menceritakan tentang 1 keluarga yang awalnya tinggal di sebuah desa yang asri dan sejuk harus pindah kerumah susun di Jakarta semenjak ibu mereka meninggal dan hilangnya Ian, adik paling bungsu.

>>>

Kehidupan Rini, Bapak dan adik-adiknya yang awalnya baik-baik saja mendadak dipenuhi kekhawatiran semenjak adanya ancaman badai yang akan melanda daerah tempat tinggal mereka. Kemudian muncul kejadian-kejadian aneh yang mereka rasakan setelah adanya tragedi lift yang macet dan menelan korban jiwa.

Film ini saya beri nilai 9/10

3. Mangkujiwo (2020)

Film besutan Azhar Kinoi Lubis ini diperankan oleh Sujiwo Tejo sebagai Brotoseno. Setelah Brotoseno disingkirkan dari keraton oleh Cokrokusumo, ia berencana balas dendam dengan menggunakan pusaka cermin yang ia miliki. Dengan penuh tipu daya, Brotoseno sangat berambisi untuk membalaskan dendamnya terhadap Cokrokusumo.

>>>

Film ini saya beri nilai 8/10

4. Inang (2022)

Film yang disutradari Fajar Nugros ini menceritakan tentang seorang perempuan bernama Wulan, yang sehari-hari bekerja sebagai kasir supermarket─yang harus menelan kepahitan ketika sang pacar meninggalkannya dan tidak bertanggung jawab atas kehamilannya.

>>>

Wulan yang kebingungan pun sempat mempunyai niatan ingin melakukan aborsi. Namun niatan itu ia urungkan dan mencoba mencari solusi di media online. Keanehan-keanehan mulai dirasa ketika Wulan tinggal bersama keluarga yang mau mengadopsi anak yang dikandungnya itu.

Film ini saya beri nilai 9/10

5. The Medium (2021)

Ini film Thailand. Film bergenre semi dokumenter  horor ini di sutradari oleh Banjong Pisanthanakun yang juga menggarap film bergenre horor lainnya seperti Pee Mak (2013) dan Shutter (2004). The Medium bercerita tentang seorang dukun bernama Nim dari daerah Isan-Thailand yang sebagian masyarakatnya masih percaya dengan adanya kekuatan roh leluhur sebagai pelindung. Nim merupakan orang yang terpilih dari garis keluarganya sebagai dukun yang dirasuki oleh roh leluhur.

>>>

Namun kejadian aneh dimulai ketika Min, ponakan dari Nim mengalami gejala-gejala aneh seperti Nim ketika pertama kali akan terpilih dirasuki oleh roh Bayan. Nampaknya Min akan mewarisi bakat dukun dari keluarga mereka.

Film ini saya beri nilai 10/10

***

Itulah lima film horor yang saya rekomendasikan. Saya yakin, film-film yang beredar sekarang ini selalu memiliki pesan moral di dalamnya. Sekalipun itu film horor.

Hari ini film horor tidak hanya sebatas tontonan saja melainkan juga diharapkan sebagai tuntunan bagi masyarakat untuk lebih mencintai budaya sendiri dan kembali ke kodrat manusia sebagai makhluk sosial. Pada dasarnya, horor dan humor nampaknya memang memiliki perbedaan yang sangat tipis. Ada kalanya yang horor menjadi humor dan sebaliknya, humor bisa menjadi horor. [T]

Laut Menyatukan Kita | Catatan tentang Film Avatar: The Way of Water
Balimakarya Film Festival, Peluang Bagi Bangkitnya Karya Film di Bali
Beda Agama, Menikah, dan Setelah Itu | Dari Pemutaran dan Diskusi Film Pendek “Ratna” di Mash Denpasar
Tags: filmfilm hororFilm Indonesiahantu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perbandingan “Kita dan Dunia”, Dari Banjo Hingga Menit yang Saya Suka

Next Post

“Poetry, Sound and Sense”, Ketika Miley Cyrus Membius Dunia dengan Flowers

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails

Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

by Jaswanto
December 18, 2025
0
Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

ADA sebuah komentar dari netizen―yang saya lupa entah di mana―tentang drama Korea (drakor) berjudul “Taxi Driver”. Komentar itu begini, “Seandainya...

Read moreDetails

Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

by Vivit Arista Dewi
December 2, 2025
0
Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

Film Agak Laen kembali hadir dengan langkah yang jauh lebih berani dari sebelumnya. Setelah sukses mengacak-acak rumah hantu, kini mereka...

Read moreDetails

Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

by Bayu Wira Handyan
November 13, 2025
0
Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

SEDIKIT film di Indonesia yang berani menampilkan kemiskinan sebagaimana adanya—banal, kasar, tanpa romantisasi. Sebagian besar memilih jalan aman, menjadikan kemiskinan...

Read moreDetails

The Long Walk (2025): Ritus Kekejaman di Jalan Panjang Tak Berujung

by Bayu Wira Handyan
November 7, 2025
0
The Long Walk (2025): Ritus Kekejaman di Jalan Panjang Tak Berujung

ADA sesuatu yang menakutkan tentang jalanan yang lurus. Ia tidak menjanjikan sebuah tujuan, tetapi yang ia berikan adalah cakrawala yang...

Read moreDetails
Next Post
“Poetry, Sound and Sense”, Ketika Miley Cyrus Membius Dunia dengan Flowers

“Poetry, Sound and Sense”, Ketika Miley Cyrus Membius Dunia dengan Flowers

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

ANTRABEZ Rilis Single ‘Bali Menyepi’ di Lapas Kerobokan: Merayakan Nyepi Sebagai Ruang Refleksi dan Memaknai Kembali Hubungan antara Manusia, Alam dan Spiritualitas
Panggung

ANTRABEZ Rilis Single ‘Bali Menyepi’ di Lapas Kerobokan: Merayakan Nyepi Sebagai Ruang Refleksi dan Memaknai Kembali Hubungan antara Manusia, Alam dan Spiritualitas

MENJELANG Nyepi, kemeriahaan anak-anak muda dalam menggarap atau menggotong ogoh-ogoh sering kali diekspresikan lewat lagu oleh grup band local di...

by Nyoman Budarsana
March 16, 2026
Ogoh-Ogoh Bali Mengambil Inspirasi dari Cerita-cerita Tiongkok, Boleh Kan?
Esai

Ogoh-Ogoh Bali Mengambil Inspirasi dari Cerita-cerita Tiongkok, Boleh Kan?

Sebuah video melintas begitu saja di beranda For You Page (FYP) TikTok yang iseng saya buka pada suatu sore yang...

by Julio Saputra
March 16, 2026
Manacika dalam Modernitas : Menavigasi Soft Burnout Melalui Lensa Sarasamuscaya
Esai

Manacika dalam Modernitas : Menavigasi Soft Burnout Melalui Lensa Sarasamuscaya

​Di panggung kehidupan yang menuntut produktivitas tanpa jeda, sering kali kita terjebak dalam sebuah ironi : tubuh yang tetap bergerak,...

by Ida Ayu Made Dwi Antari
March 16, 2026
Efek Monyet Keseratus dan Kesadaran Kolektif
Esai

Efek Monyet Keseratus dan Kesadaran Kolektif

FENOMENA “monyet keseratus” yang diperkenalkan oleh Lyall Watson (1979) dalam buku Lifetide, kerap dijadikan metafora untuk menjelaskan bagaimana transformasi perilaku...

by Agung Sudarsa
March 16, 2026
Laporan Survey Program Desa Binaan FBS Undiksha di Desa Pedawa: Membangun Desain Pembangunan Desa Berbasis Komunitas
Khas

Laporan Survey Program Desa Binaan FBS Undiksha di Desa Pedawa: Membangun Desain Pembangunan Desa Berbasis Komunitas

PROGRAM Desa Binaan yang dikembangkan oleh Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Pendidikan Ganesha merupakan bagian dari upaya menghadirkan perguruan...

by I Wayan Artika
March 16, 2026
Cuaca Makin Panas, Bagaimana Nasib Ginjal Kita?
Esai

Cuaca Makin Panas, Bagaimana Nasib Ginjal Kita?

Coba ingat kembali, berapa gelas air putih yang sudah Anda habiskan hari ini? Di tengah cuaca yang semakin panas, segelas...

by Gede Made Cahya Trisna Pratama
March 15, 2026
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hari-hari
Puisi

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hari-hari

Sabtu waktu tak banyakmenit yang kau punyasebentar-sebentar habislangit mencatat semuanya tatapanmu menyeretkuke labirin cerminkau berbicara lewat pelukdan dua butir kecupdengan...

by Wayan Esa Bhaskara
March 15, 2026
‘Mauna’ di India, ‘Koh Ngomong’ di Bali
Esai

‘Mauna’ di India, ‘Koh Ngomong’ di Bali

Di dunia yang semakin bising, diam menjadi sesuatu yang langka. Orang berbicara di televisi, di rapat, di media sosial, bahkan...

by Angga Wijaya
March 15, 2026
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul
Kuliner

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Jogja, perjalanan yang tak singkat. Menghabiskan waktu hingga 9 jam lamanya. Beberapa kali singgah di Rest Area sepanjang Toll Cipali,...

by Tobing Crysnanjaya
March 15, 2026
Wayan Westa: Upacara Banyak, Yang Kurang Adalah Doa Dalam Tindakan
Esai

Nyepi: Dari Ramya Menuju Sunya

KETERATURAN adalah  hukum paling asali di semesta ini. Pernahkah kita mempertanyakan, siapa pengendali benda-benda langit di semesta ini? Siapa pengatur...

by I Wayan Westa
March 15, 2026
Kritik Sosial dan Wajah Bhuta Kala Hari Ini pada Ogoh-Ogoh Barbar
Panggung

Kritik Sosial dan Wajah Bhuta Kala Hari Ini pada Ogoh-Ogoh Barbar

SIANG itu, jalanan Kota Negara penuh oleh lautan manusia. Dentuman gambelan baleganjur bertalu-talu, sorot matahari memantul pada wajah para penonton...

by Satria Aditya
March 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co