6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Imam Muhayat by Imam Muhayat
August 13, 2022
in Ulasan
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Buku kumpulan puisi Anak-anak Pandemi karya Kambali Zutas

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita bingung dan disorientasi. Penguatan nilai-nilai dasar setiap individu berfungsi untuk menghadapi fenomena, peristiwa alamiah, atau ia datang tak terduga, dan terkadang tak dikehendaki.

Meski hal itu sudah menjadi ketetapan, takdir dari Sang Ilahi. Seperti masa pandemi itu yang disinyalir sedang melandai.

Peka dan cermat terhadap subjektivitas, maka eksistensi individu ── manusia semakin ada dan menguatkan hakekat jati dirinya. Subjektivitas di sini bukan bermakna antonim objektivitas, tetapi subjektivitas aku yang menghendaki, bertindak, dan aku yang mengerti.

Lounching buku kumpulan puisi Kambali Zutas Anak-anak Pandemi, kalau boleh dimaknai merupakan rajutan simpati pada anak-anak tidak sebatas pada saat musibah pandemi melatar bumi. Profil anak-anak dalam situasi apapun berhak tumbuh, bermain, belajar, berkembang, dan bersosialisasi secara wajar bermartabat. Itulah hak setiap anak-anak dan hak itu mesti tetap dapat menjadi miliknya.

Situasi, kondisi, dan dominasi eksternal berpotensi  membentuk eksistensi anak-anak. Manakala kita menghendaki bangsa yang besar, berkepribadian luhur dengan karakter agamis, nasionalis, humanis dalam harmoni mikrokosmis sejati,  maka tentulah anak-anak menjadi skala prioritas kepengasuhan dalam ruang waktu yang tak pernah lalai apalagi berhenti.

Pada gambar cover  buku Anak-anak Pandemi hasil goresan kuas Muchamad Thoha Hasan melukiskan betapa kedekatan impersonal  itu bernilai. Tataran nilai sudah seharusnya  tidak hanya terbangun dalam suatu objek harmoni warna. Tetapi lebih daripada esensi warna itu dapat berfusi  menjadi kesenyawaan sebaran empati yang tertambat jauh ke dalam setiap hati dan jiwa meruang tekat hati nurani.

Cover buku Anak-anak Pandemi mengingatkan saya pada isme seni rupa. Sayangnya, saya tidak menemukan adanya harmoni unik dalam satu karakter fauvisme, impresionisme, ataukah futurisme Thoha Hasan. Sehingga saya kesulitan menarik benang merah secara utuh. Terangkum dalam karakteristik suatu isme untuk memasuki paradigma yang hendak saya cermati pada gambar cover buku Anak-anak Pandemi dalam kumpulan puisi Kambali Zutas .

Seandainya Hasan konsisten pada satu isme  tersebut di atas, maka torehan harmoni warna fauvis misalnya, justru mendekatkan  karya perumus gambar covernya mempribadi dalam realitas fenomenal dalam buku kumpulan puisi Anak-anak Pandemi. Singkatnya, dalam perspektif karakteristik fauvis torehan warna tidak harus merah. Karena justru mengaburkan esensi fauvisme itu sendiri. Meski dimaksudkan warna merah secara berjamaah menjadi satu diantara simbol tanda bahaya untuk menggambarkan suatu peristiwa. Tapi malah semakin luntur melukiskan suatu analog makna dalam mengungkap kenyataan.

Masihlah, saya suka pada gambar cover itu dengan visual gambar anatomi goresannya saat memakai pisau analisis Whirling Dervishes Rumi. Semakin ke dalam dalam putaran semakin pula menyematkan bentuk ikatan yang kuat antara anak dengan orang tua, antaranak-anak dengan orang-orang terdekatnya. Sisi-sisi positif orang terdekat tentu menjadi beranda madrasah pertama bagi anak-anak di tengah-tengah hegemoni era syberspace, sybernate, dan sybernetics saat ini.

Begitulah karya seni, kerap kali dibuat tidak langsung menunjuk pada makna yang dimaksud. Sebelumnya dibuat agar terjadi  impersonal kurasi. Tafsir silang pikir sejenak yang tengah terjadi dan telah menjadi keseharian bahkan telah menghegemoni. Baudrillard menyatakannya sebagai simulacrum. Kesadaran simulasi dimana kita ada di dalamnya.  Tanpa sadar kita larut dalam konstruksi liniernya.

Karya sastra Kambali dalam kumpulan puisi Anak-anak Pandemi  secara umum terlecut dari genjring-genjring ana-huwa-huma-hum. Ia lebih banyak mengungkapkan intensi  dominan eksplor logikal fenomenologis dibanding refleksi  literal aestetis. Yakni  kesadaran pengorganisasian aspek-aspek fenomena insidental dieksplor ke dalam narasi-narasi personal, sosial, juga spiritual. Separo lebih-lah kemudian, ia kembali membangun konstruksi literal sastrawi. Baik bersifat penambatannya pada sistematika, tema, imaji, gaya, rima, metafor jeda yang terangkum dalam berbagai ingatan dan peristiwa yang menjadi fokusnya. Ini juga berangkat dari praduga analisis konten dengan tema yang dibahasnya.

Namun tak dimungkiri bahwa otentisitas dan orisinalitas bagi kreator seni merupakan dasar pijak pengayaan nilai. Karenanya,  tidak harus dihindari apalagi dijauhi. Kedua hal tersebut tetap bisa menjadi bagian dari sebaran nilai bagi kreativitas penyair satu sisi, dan bagi lainnya untuk mendukung capaian-capaian dalam pengkaryaan literasi lebih banyak hadir di ruang publik.

Kesadaran Kambali memasuki dunia kreatifnya, mungkin, merupakan sebuah jawaban atas kegelisahan lambatnya program pemerintah dan stakeholders tentang literasi. Organization for Economic Cooperation and Development (OECD: 2019) menyatakan bahwa Indonesia menempati ranking ke 62 dari 70 negara dengan tingkat literasi. Atau berada 10 negara terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah!

Selain itu, fenomena  a zone of  freedom yang sudah berada di depan mata. Capaian teknis, pengayaan literasi tentang logika, agama, humaniora, dalam hal ini literasi aestetika itu, diakui atau tidak, sesungguhnya dapat dilakukan oleh berbagai kalangan. Pada waktunya semua itu tentu dapat menabur benih-benih mutiara yang terpendam. Tumbuhkembang kreativitas generasi-generasi kreator literasi menuju gerbang yang lebih luas dan terbuka.

Bagi Kambali merumuskan suatu kesadaran semacam itu memerlukan proses. Proses tidak lepas dari hal-hal yang bersifat finansial dan immaterial. Ia sendiri mengakui saat ditemui dini hari (10/8) di warung sebelah rumahnya di Denpasar, tentang kesan proses terwujudnya buku dengan gayanya menjawab “enggak ada, enggak ada, Pak yang paling terkesan terbitnya buku, kecuali proses dan momentumnya,” paparnya.

Memang, selayaknya proses lebih terdepan dibanding produk yang dihasilkan. Sebaliknya tidak akan ada hasil tanpa melalui suatu proses. World wide “DD”, warung waralaba siap saji yang hingga kini tetap eksis mendunia,  juga  dimulai sejak  tahun 1897. Singkatnya, process would be better than its product.

Irisan elan vital produktivitas Kambali dalam berkarya seperti air mengalir. Gaya kalimatnya terungkap secara sarkas dan majas terbaca dalam puisi Pantang Mati Bunuh Diri: Tidak! Keparat! Aku pantang bunuh diri! Takdir adalah mimpi, dan mimpi menjadi kenyataan. Tak perlu kau suruh bunuh diri. Aku punya waktu, hingga benar-benar mati dengan sendiri.

Dalam ungkapan kalimat-kalimat yang jelas dan tidak banyak perlu mengernyitkan dahi dengan metafor dan ungkapan-ungkapan majas puitiknya, Kambali suatu saat menuliskan kata takdir. Saya pikir tidak asing baginya kata takdir itu. Memang sudah harus mengerti dan memahami makna kata takdir. Perspektif teologi ilahiah takdir adalah bagian dari substantif religi (baca: Islam). Karena qodho dan qodar itulah takdir. Lagi pula menjadi bagian pokok dasar iman. Jika salah memahami, menghayati, dan mengamalkan dapat membuat lunturnya iman.

Segmen takdir di sini perlu diperjelas agar tidak salah tafsir. Tentu yang dimaksud Kambali dengan takdir bersifat muallaq. Yakni takdir yang dapat diubah karena kesungguhan manusia merubah takdir. Bukan sebaliknya takdir mubram, suatu ketentuan terhadap penciptaan─ketentuan (qodho─qodar) yang sama sekali tidak dapat dirubah. Sifat takdir mubram misalnya, selalu disematkan pada seluruh ciptaan Allah Swt. Tidak terkecuali manusia sudah tertulis takdirnya di Lauhul Mahfud sejak 50.000 tahun sebelum seluruh kesemestaan diciptakan-Nya.

Mengulik beragam jalinan eksistensi diri Kambali juga bagian dari alternatif sublim takdir. Lewat buku kumpulan puisi Anak-anak Pandemi, sesungguhnya merupakan desain cantik untuk senantiasa dapat  menguatkan kembali atas takdir, agar kita dapat berdiri tegak dari suasana abnormal menuju era new normal.

Narasi-narasi penguatan potensi personal, sosial, juga spiritual yang dibangunnya lewat kumpulan puisi Anak-anak Pandemi sesungguhnya hanya merupakan sarana untuk menuju tujuan utama.  Tidak lain adalah esensi mengokohkan kembali berbagai potensi yang kita miliki menjadi lebih berfungsi, berdaya guna terasah lagi.

Pada kumpulan puisinya ia menyematkan kata takdir baru saya temukan sebanyak tiga kali. Dalam puisi berjudul Anak-anak Pandemi #4:  Janin-janin Pandemi/ Bayi-bayi pandemi/ Anak-anak pandemi/ apakah ini takdir/ jadi farath1 pemberi senyuman di alam nanti/ pelipur lara orang-orang tak kuasa/ penolong orang-orang tak berdaya/ penenang hati orang-orang yang tak kuat/ lalu mati suci didaulat penghuni surga. Tersematkan pula kata takdir pada karya puisinya berjudul Kabar dari kawan: Mereka telah pergi, Ke sana kemari mencari sesuap nasi/demi menghidupi keluarga/Tidak ada yang peduli/Kecuali takdir sebagai penenang hati.

Puisi pertama ia mengungkapkan pengalaman religi dalam penguatan spiritualnya, baik bagi dirinya maupun pesan buat pembaca. Kata takdir pada puisi pertama di atas terklasifikasi sebagai takdir mubram azali atau juga takdir mubram umri. Begitu juga pandemi itu, semoga cepat berlalu, adalah bagian dari takdir mubram azali pula. Bagi yang berpulang karena sebab pandemi disebut takdir mubram umri. Keduanya merupakan ketentuan Sang Khaliq yang diperuntukkan pada makhluk-Nya sebagai bentuk ujian. Ketetapan-Nya sejak zaman azali termaktub sudah di kitab Lauhul Mahfud.

Berbeda dengan puisi yang kedua menyiratkan gerak badani. Jasad dan ruh yang ditiupkan kepada setiap makhluk-Nya adalah sebagai karunia. Wujud syukur dari sifat badaniah dan rohaniah agar manusia dapat memberikan arti hidupnya atas karunia yang dianugerahi. Produktivitas badaniah dan rohaniah itulah wujud syukur. Apapun perolehan dari wujud ikhtiar manusia adalah takdir. Namun takdir tersebut bersifat takdir muallaq. Dapat dirubah sepanjang manusia sadar diri sekuat ikhtiar yang dilakoni.

Gairah membajak takdir muallaq bukan lagi absurd. Tapi wajib dilakukan oleh setiap manusia. Karena dengan takdir muallaq yang ditempuh individu banyak membuahkan kebajikan menuju maqom kebahagiaan, tidak sebaliknya dimaksudkan dari maqom kebahagiaan menuju kebajikan. Itulah kebahagiaan sejati yang terpetik dari hasil kebajikan manusia itu sendiri.

Contoh pembajak takdir seperti yang diimani oleh Umbu Landu Paranggi dalam sajak Seremoni: dengan mata pena kugali gali seluruh diriku/dengan helai helai kertas kututup nganga luka lukaku/kupancing udara di dalam dengan angin di tanganku/begitulah, kutulis nyawaMu senyawa dengan nyawaku.

Lalu, takdir yang sedemikian ini menjadi sebuah pilihan-pilihan momentum yang hendak  dilewati. Semua siklus yang terjadi  sudah seharusnya melalui refleksi yang pasti. Terbit  dan lounching  buku Anak-anak Pandemi misalnya, pada bulan Juli di Denpasar. Rasanya bukan sesuatu yang kebetulan. Tengok noktah kelahiran Kambali dan istrinya, Rusita Yudiarsih tepatnya bulan Juli. Begitu juga lounching buku Anak-anak Pandemi di Mahima, Singaraja medio Agustus bersamaan bulan Muharram, bisa jadi mempunyai hubungan emosional psiko-spiritualis Kambali.

Misalnya, ia sudah susah payah mengejar momentum mesti diraihnya. Kita diajak duduk bersama. Kita diajak tukar pikiran, diskusi, dan silaturrahim menjalin kebersamaan tanpa sekat dan ikatan, hingga terjalin wahana kerekatan humaniora dalam  wadah sastra. Pantas-lah kemudian kita berdeklamasi jamaah untuk bangsa, tak terkecuali saya ikut bersaksi: Kambali di Mahima. Kita sudah milik negara. Indonesia, lagi. Siapa yang tak bangga? 77 tahun kita merdeka. Tumbuh dari belukar revolusi 1945. Tumpah darah basah air mata. Mereka menghendaki. Kita yang bertindak dan mengerti. Begitu indah setiap pagi kita mabuk pesona Ibu Pertiwi. Di Mahima kita tegak dan bersatu. Satu bangsa bangsa Indonesia. Satu bahasa bahasa Indonesia. Satu Tanah Air Tanah Air Indonesia.

Kambali juga menuliskan dalam Ibu Pertiwi merujuk pada regional geografisnya: ibu pertiwi/ harapan alam bali kembali/belenggu benalu lepas dan pergi/semarak nyiur bernyanyi/menyambut mentari pagi/embun menari tanpa henti/indah di pangkuan ibu pertiwi/tak ada lagi tangisan/tak ada lagi kesedihan/kecuali senyuman.

Itulah mungkin simbol momentum yang diusungnya. Penandaan suatu kelahiran, juga bulan yang mengandung suatu peringatan,  sering  menjadi sesuatu yang berarti. Bukan saja milik pribadi yang diagungkan, diteladani, dan dihormati, atau siapa yang memiliki. Tetapi itulah hakekat pesona dengan tujuan dan alasan tersendiri. Seperti dalam pengakuan Kambali pada pengantarnya,  karya sebagai upaya merawat catatan, tentang apa yang terjadi pada tiga tahun tersebut. Yakni rangkuman peristiwa-peristiwa yang laik ia cermati.

Dari 50 jumlah judul puisi karya Kambali, dari halaman ke halaman terbaca berada dalam pusaran  berbagai ungkapan refleksi diri. Tidak lepas juga ungkapannya membentuk opini komunikasi pernyataan suatu aksi. Tetapi ia tetap sadar sebagai hamba daif selalu tak henti untuk menemukan diri. Simak pada puisi Izinkan Aku Berdoa Sejenak: hati kecil nan kerdil/mengajak berbakti adil/maka izinkan aku berdoa sejenak/lantunan dan nyanyian pujian/hingga sampai waktunya mati.

Semua itu berangkat dari sugesti, empati  individu atau individu terhadap sesamanya, alam, dan lingkungannya. Irisan-irisan itu sesungguhnya berasal dari semua irisan menjadi satu bagian pada sebaran kumpulan puisi Anak-anak Pandemi. Ibarat gula dan kopi teraduk dalam suatu rasa pahit dan manis. Kambali menarasikan dalam bentuk karya puisi. Itulah makanya entitas karya sastra penyair pada hakekatnya adalah refleksi dari masyarakat selingkungnya. Kambali hadir di dalamnya.

Demikian catatan  ini sebagai simpul-simpul diskusi lounching buku karya Kambali Zutas di Komunitas Sastra Mahima, Singaraja – Bali. Tentu masih banyak kekurangan di sana sini. Selain itu, catatan ini untuk menambah catatan-catatan sebelumnya berasal dari Kardanis Muda Wijaya dan Ayu Sulistyowati. Juga, sekian  testimoni-testimoni diantaranya dari Dr. Dadang Hermawan. Selanjutnya, berkenan juga antara lain Gede Suyasa, Kadek Sonia Piscayanti, Made Adyana Ole, Yahya Umar, dan Eka Prasetya. Akhir salam, selamat membaca kumpulan puisi Anak-anak Pandemi. Selamat buat Kambali Zutas , semoga bermanfaat dan sukses selalu. [T]

Denpasar, 12 Agustus 2022

Tags: Bukubuku puisikritik sastrakumpulan puisiPuisisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Biarkan Bayi Memilih Hari Kelahirannya Sendiri

Next Post

Membangun Lingkungan Akademis Sekolah yang Literat dengan TEKO Literasi

Imam Muhayat

Imam Muhayat

Akademisi dan Agamawan. Mengajar di STAI Denpasar. Bisa dihubungi di imammuhayat2013@gmail.com

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails

Duta Kota Denpasar “A Tribute to I Gusti Made Deblog” | Catatan Lomba Seni Lukis Wayang Klasik PKB 2022

by Dewa Purwita Sukahet
June 25, 2022
0
Duta Kota Denpasar “A Tribute to I Gusti Made Deblog”  | Catatan Lomba  Seni Lukis Wayang Klasik PKB 2022

Dua orang dari 22 peserta lomba melukis Wayang Klasik di Kalangan Ayodya, areal Taman Werdhi Budaya Art Centre, Bali di...

Read moreDetails
Next Post
Membangun Lingkungan Akademis Sekolah yang Literat dengan TEKO Literasi

Membangun Lingkungan Akademis Sekolah yang Literat dengan TEKO Literasi

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co