14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Acara Pelepasan di Sekolah, Momen Berliterasi bagi Para Siswa

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
June 29, 2022
in Esai
Acara Pelepasan di Sekolah, Momen Berliterasi bagi Para Siswa

Seorang siswa menulis surat melankolis dalam momen perpisahan | Foto: Serawan

Sempat vakum kurang lebih 2 tahun (karena pandemi Covid-19), akhirnya tahun ini acara pelepasan dapat digelar kembali oleh sekolah-sekolah baik dari tingkat SD, SMP maupun SMA/ SMK. Sebelum hengkang, sekolah menggelar seremonial pelepasan untuk anak-anak kelas 6, 9, dan 12 dengan berbagai acara. Mulai dari sambutan formal, hiburan, makan-makan hingga berakhir pada drama melankolis yaitu “tangis-tangisan”. Para siswa menumpahkan segala perasaannya dengan salam-salaman dan saling berpelukan.

Ya, acara pelepasan adalah momen “pencairan tabungan rasa” selama 3-6 tahun di sekolah. Biasanya, para siswa menumpahkan segala rasa itu dengan bahasa lisan yang serak (terbata-bata) sambil berkaca-kaca memeram air mata. Suka-duka dengan teman dan guru seolah-olah menjadi tuntas diekspresikan lewat bahasa tubuh (salaman, pelukan, air mata) dan bahasa lidah (lisan). Sementara, bahasa tulis selalu luput menjadi pilihan dalam mengekspresikan momen melankolis itu.

Bukan hanya sekarang, lho, ya. Dari dulu, bahasa tulis memang tidak favorit dijadikan momen mengekspresikan rasa perpisahan. Sangat jarang para siswa menuliskan (menarasikan) ungkapan suka-dukanya lewat kertas atau media lainnya. Padahal, banyak hal yang bisa dicurahkan dalam tulisan.

Karena itulah, saya merasa beruntung mendapatkan sebuah amplop putih dalam acara pelepasan di sekolah saya kemarin (16/6/2022). Isinya bukan uang, tetapi selembar surat tentang curhatan sang siswa. Kejadian ini sangat langka, karena dari 150-an siswa yang tamat, hanya satu orang siswa mengekspresikannya lewat bahasa tulis (surat). Kebetulan, surat itu ditujukan untuk saya.

Surat tersebut tidak panjang. Pendek tetapi penuh makna. “….Pak, sehat dan bahagia selalu, ya. Bapak adalah salah satu role model saya karena cara berpikir bapak kritis sekali. Salam hangat. Yulia 9F.”

Itulah salah satu bagian cuplikan singkat surat yang ditulis oleh sang siswa. Saya tertarik bukan karena kualitas isi suratnya, tetapi keputusannya memilih bahasa tulis dalam menyampaikan perasaan (gagasan). Sekali lagi, ini momen langka. Sepanjang belasan tahun menjadi guru, belum pernah ada siswa yang menyampaikan rasa perpisahannya kepada saya atau guru lain (misalnya) dalam bentuk surat.

Sepotong Catatan untuk Pendidikan Indonesia | Sebuah Refleksi Hari Pendidikan, 2 Mei 2022

Kejadian satu surat itu menggelitik kesadaran saya. Jangan-jangan pembelajaran menulis di sekolah gagal memberikan dampak praktis. Padahal, acara perpisahan merupakan salah satu momen baik bagi siswa untuk mengejawantahkan perasaannya secara tertulis. Semestinya, momen perpisahan dijadikan kesempatan bagi siswa untuk mewujudkan keterampilan menulisnya. Nyatanya, tidak.

Apakah fenomena ini sebagai indikasi bahwa para siswa kita memang demam menulis? Dalam konteks ini, saya teringat suara lantang dari sastrawan Taufiq Ismail belasan tahun lalu—ketika saya masih menjadi mahasiswa antara tahun 1998-2003. Sastrawan yang peduli dengan pembelajaran bahasa dan sastra ini sudah lama menyoroti bahwa pembelajaran keterampilan menulis di sekolah tidak hanya “pincang”, tetapi sudah mengalami “kelumpuhan”.

Hingga sekarang statemen Taufiq tersebut masih terngiang-ngiang di kepala saya. Ketika momen pelepasan kemarin, tiba-tiba statemen itu terngiang begitu kuat. Jangan-jangan kasus kelangkaan siswa menuangkan “ekspresi perasaan” dalam bentuk tulisan kemarin itu, linier dengan sebutan “pincang” dan “lumpuh” yang dilontarkan Taufiq Ismail.

Jangankan kemampuan literasi menulis, iklim membaca siswa (termasuk guru) saja mungkin masih tertatih-tatih. Hal inilah yang menyebabkan pemerintah mengeluarkan Inpres No. 5 Tahun 2006 tentang Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun dan Pemberantasan Buta Aksara (PBA) serta diperkuat lagi dengan kebijakan menggiatkan Gerakan Literasi Nasional (GLN) pada tahun 2016, implementasi dari Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.

Niat pemerintah sangat baik, ingin membangkitkan iklim berliterasi di kalangan siswa, dengan rajin membaca. Lebih dari itu, pemerintah berkeinginan agar aktivitas membaca menjadi suatu kebiasaan (budaya). Kebiasaan membaca ini diharapkan berdampak pada keterampilan menulis.

Pendidikan Teruna Nyoman “Sangu Urip” Bali Aga Tenganan Pegringsingan

Kemudian, dunia sekolah merespon kebijakan tersebut dengan aksi nyata yakni mewajibkan siswa (tidak termasuk guru) membaca buku nonmapel 15 menit sebelum pembelajaran dimulai. Awalnya, disambut antusias oleh para siswa. Lama-kelamaan, para siswa mengalami gejala lemah syahwat dalam membaca.

Kata Tukul Arnawa, “Kembali ke Laptop!” Bagi pelajar, membaca adalah tuntutan untuk mendapatkan nilai. Mereka mau membaca (belajar) kalau ada kepentingan jangka pendek yaitu untuk mendapatkan hasil optimal (berupa angka). Misalnya, saat mengerjakan tugas atau ulangan. Setelah itu, membaca menjadi tidak penting. Karena itu, pasca ulangan umum (sekarang istilahnya PAS/ PAT), para siswa sangat merdeka. Mereka bebas dari segala beban belajar, termasuk kegiatan membaca. Buku-buku mereka tutup serapat-rapatnya.

Begitulah fitrah membaca dari perspektif siswa. Membaca adalah “kontrak literasi”. Para siswa mau membaca asalkan mendapatkan angka. Angka lebih penting daripada pengetahuan yang tersaji di dalam buku. Karena itu, bacaan siswa hanya seputar buku-buku yang ada cap mata pelajarannya. Jarang, ada siswa mau membaca buku-buku umum. Ya, karena tidak ada hubungannya dengan mendapatkan nilai.

Jadi, salah satu rintangan terbesar mewujudkan misi GLN ialah mindset siswa terhadap esensi membaca. Membaca tidak dianggap sebagai kebutuhan menambah pengetahuan dan wawasan sehari-hari, tetapi hanya untuk mendapatkan nilai (angka). Lalu, bagaimana dengan budaya menulis di kalangan siswa?

Lebih buruk lagi. Di habitatnya (baca: pembelajaran mata pelajaran bahasa Indonesia) saja, kompetensi menulis terabaikan. Coba cek penilaian pelajaran bahasa Indonesia. Sudah puluhan tahun, aspek penilaian kompetensi menulis ditiadakan. Ketika zaman Ebtanas hingga Ujian Nasional, soal mengarang (menulis) sudah punah. Yang ada hanya soal-soal objektif. Para siswa cukup memberi tanda silang atau bulatan pada setiap soal. Hasil silangan inilah yang dibangga-banggakan dalam ijazah maupun rapor.

Pertanyaannya, kemampuan menulis macam apa yang diharapkan dari evaluasi soal berbentuk opsional? Tidak ada, bukan? Sebetulnya, ada peluang mengasah kemampuan siswa pada saat ujian praktik. Para siswa diberikan soal uraian tentang menuangkan gagasan ke dalam tulisan (mengarang). Akan tetapi, sifatnya opsional. Artinya, tes praktiknya tidak harus menulis.

Jikalaupun ada tes praktik menulis di akhir semester/ tahun, apakah akan menjamin kualitas kemampuan menulis para siswa? Sekali atau dua kali setahun, lho. Bisa, dengan catatan ada proses pembimbingan atau latihan-latihan menulis sebelumnya. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, hampir setiap bab materi ada skill mengasah kemampuan menulis. Biasanya, diletakkan pada akhir bab. Hal ini bisa kita jumpai pada kurikulum 1994, KBK, KTSP maupun K-13.

Siswa Biasa, Kok Bisa Lulus PPDB Jalur Prestasi?

Hanya dalam praktiknya, kompetensi menulis itu kurang dioptimalkan oleh guru. Lebih sering terjadi ialah dilewatkan begitu saja. Penyebabnya beragam. Beberapa guru tidak memiliki skill cukup untuk membimbing kompetensi menulis siswa, alasan kekurangan waktu jika melakukan pembimbingan intens, dan alasan skill menulis tidak diuji dalam ujian sekolah atau nasional.

Jadi, wajarlah Taufiq mengatakan bahwa pembelajaran menulis menjadi “pincang”. Kalau toh, guru intens melakukan pembimbingan dalam setiap pembelajaran—tetap tidak menjamin hasil tulisan siswa yang maksimal. Pasalnya, menulis sebagai sebuah keterampilan membutuhkan latihan mandiri secara kontinyu dari siswa itu sendiri. Jangankan calon penulis pemula (siswa), seorang penulis profesional pun jika tidak menjaga kontinyuitasnya akan menghasilkan tulisan yang kurang maksimal.

Kekurangoptimalan pembelajaran menulis akan menyebabkan kegagapan mengekspresikan gagasan ke dalam bentuk tulisan. Para siswa menjadi demam memilih bahasa tulis dalam menyampaikan perasaannya. Faktor inilah yang mendorong para siswa enggan memanfaatkan bahasa tulis dalam acara perpisahan. Mereka ogah dan tidak percaya diri dalam menyampaikan idenya dalam tulisan baik kepada teman maupun kepada gurunya.

Atau jangan-jangan para siswa terkena virus Dilan. “Ah, menulis itu berat, bro. Biar lisan saja.” Benar. Menulis itu membutuhkan keterampilan bahasa yang kompleks. Karena itu, menulis ditempatkan sebagai keterampilan tertinggi berbahasa setelah menyimak, berbicara, dan membaca. Jika dikaitkan dengan taksonomi Bloom, keterampilan menulis berada di level C-5 (sintesis) atau C-6 (evaluasi).

Karena itulah, pembelajaran menulis harus diberi iklim literasi yang kondusif. Dibutuhkan guru-guru yang punya pengalaman menulis (bukan hanya tahu teori menulis), memiliki ketekunan dan kemampuan membimbing serta memiliki strategi pembelajaran menulis yang menarik.

Di samping itu, para siswa harus diberi ruang publikasi untuk karya tulisnya. Misalnya, menempelkan di kording/ mading sekolah, di medsos (FB, twitter atau blog pribadi misalnya), mengirim karya tulis ke media cetak atau media online yang menyediakan ruang khusus untuk siswa.

Untuk mengembangkan kemampuan menulis siswa, pihak sekolah juga dapat memanfaatkan momen-momen tertentu sebagai ruang mengekspresikan diri siswa. Misalnya, mengadakan pameran literasi di sekolah, memanfaatkan MPLS sebagai momen menulis ketika meminta kesan-kesan siswa baru, memanfaatkan momen pelepasan dalam mengungkapkan suka-duka dan lain sebagainya.

Sebelum bermimpi membudayakan menulis di lingkungan sekolah, iklim literasi (menulis) harus dikembangkan secara kreatif oleh pihak sekolah. Pengembangan ini membutuhkan model-model yang literat mulai dari guru hingga kepala sekolah. Usaha dan tindakan yang literat dari guru dan kepsek adalah contoh nyata bagi siswa. Pengaruhnya kuat karena mereka dianggap sebagai model yang dekat dan digugu oleh para siswa.

Tantangan Guru sebagai “Generator” dan Penggerak Literasi pada Era Industri 4.0 | Catatan Hari Guru

Jadi, keliru jika GLN sasarannya hanya siswa. Bagaimana menuntut siswa yang literat, sedangkan guru-gurunya kurang literat. Aneh, bukan? Jika ingin sekolah memiliki iklim literasi yang bagus semua warga (terutama guru) harus terlibat menjadi teladan atau model literat.

Artinya, semua guru mata pelajaran memiliki peran dan tanggung jawab yang sama—karena hampir semua guru mapel memanfaatkan bahasa tulis dalam aktivitasnya. Keliru pula jika ada anggapan bahwa yang bisa menulis hanya guru bahasa Indonesia. Cukup banyak penulis-penulis hebat justru bukan dari guru bahasa Indonesia (misalnya, guru Fisika, Kimia, TIK, Seni dll).

Jadi, jangan terlalu bermimpi muluk-muluklah tentang membudayakan menulis—jika belum didukung iklim literasi yang kondusif. Bagi saya, yang terpenting bagaimana mengajak anak lebih sering (dulu) mengekspresikan perasaan atau gagasan lewat bahasa tulis dulu. Kalau bisa, semakin hari jumlahnya semakin bertambah.

Misalnya, tahun ini hanya ada satu siswa menulis surat melankolis dalam momen perpisahan. Siapa tahu tahun berikutnya bisa berjumlah 10, 20, 30 atau bahkan semua siswa. Jika benar-benar terjadi, pantaslah kita menyusun mimpi tentang “menulis” sebagai “budaya” di kalangan warga sekolah. [T]

Tags: Literasiliterasi sekolahPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Next Post

Kegembiraan Remaja Sarimekar-Buleleng Ngebyar Angklung Bilah Kutus di PKB

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Kegembiraan Remaja Sarimekar-Buleleng Ngebyar Angklung Bilah Kutus di PKB

Kegembiraan Remaja Sarimekar-Buleleng Ngebyar Angklung Bilah Kutus di PKB

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co