6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ruang yang Cair Tanpa Kelekatan Bentuk | Catatan Menonton Srayamurtikanti di Potato Head

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
May 18, 2022
in Ulasan
Ruang yang Cair Tanpa Kelekatan Bentuk | Catatan Menonton Srayamurtikanti di Potato Head

Pentas musik Mang Srayamurtikanti di Desa Potato Head (POHE) – Seminyak, Kuta, Badung, Bali | Foto-foto: Adhitya Pratama

Saya tahu Mang Srayamurtikanti akan bermain di Desa Potato Head (POHE) – Seminyak, Kuta, Badung, Bali, pada Minggu, 15 Mei 2022. Dari beberapa hari lalu, saya hendak datang untuk menonton garapannya. Entah kenapa ini kali kedua dia bermain di POHE dalam waktu yang berdekatan.

Jeg lais sajan seniman muda besik nto.

Mang Sraya panggilannya adalah seorang komposer musik tradisional Bali, ia berasal dari Celuk – Gianyar. Desa penghasil kerajinan perak yang cukup terkenal di dunia pariwisata Bali.

Pukul 17.00 Wita, Agha Praditya  vokalis band Rollfast mengontak saya, ia mengajak menonton Mang Sraya bersama, dan istrinya juga turut serta. Saya pun mengiyakan ajakan itu. Di sepanjang jalan kami berspekulasi atas garapan Mang Sraya sebelumnya, serta garapan karya untuk S2nya yang pernah kami bincangkan bulan lalu.

Dalam asumsi-asumsi ideal kami tentunya, tentang politik ruang, karya yang beranjak dari satu tradisi, serta hal-hal kemungkinan yang sering Mang Sraya lakukan. Seringkali, karyanya penuh kejutan, terutama bagi saya yang terbiasa melihat musik Bali di banjar, di pura, di sanggah, atau pada upacara tertentu.

Tentu memori ingatan saya mengacu atas apa yang saya lihat dan dengar, dalam hal ini beririsan dengan alat musik yang Mang Sraya gunakan.

Pentas musik Garapan Mang Srayamurtikanti di Desa Potato Head (POHE) – Seminyak, Kuta, Badung, Bali | Foto: Adhitya Pratama

Satu yang menarik di ingatan saya, saat Mang Sraya bermain di Joyland x Ravepasar 2022. Mang Sraya menyeret gongnya di lantai, mengitari Ambruk Stage, menghasilkan bunyi yang asing di telinga. Ia perlakukan gong sesantai itu, tidak seperti kawan-kawan saya yang suka megambel, harus hati-hati, harus dikultuskan sebagai gong yang sakral.

Di tangan Mang Sraya Gong seperti sebuah keranjang yang diseret oleh tukang sapu di pasar Kumbasari, diseret bagai sebuah benda tanpa nilai kebudayaan. Kalau ayah saya menonton, mungkin ia akan pergi begitu saya dari ruang pentas itu. Mungkin saja..

Rupanya di Desa POHE, sudah siap dekorasi seperti menyambut Galungan yang  akan datang sebentar lagi. Deretan penjor menyambut kami, hiasannya terbuat dari daun lontar, dengan pendaran lampu berwarna merah pada bagian lengkung, dan kain prada mekrenyep di bambu bagian bawahnya.

Dari pintu masuk, hingga stage utama – dekat pantai, penjor menaungi kami. Pemedek mancanegara sudah mengelilingi panggung, saya nyelip di antara pemedek yang hidungnya mancung-mancung itu, yang satu tangannya sebagian besar membawa gelas atau botol minuman, entah soda, biir, wine, atau minuman racikan cocktail.

“Jong harusnya ada kocokan ini yah, atau bola adil,” kata Agha berbisik.

“Sajan nok, pis ne dolar pasti ne, gambar-gambar di kocokan ne harus ganti, bendera-bendera negara gen asane lung,” kata saya menimpali.

Pentas musik Garapan Mang Srayamurtikanti di Desa Potato Head (POHE) – Seminyak, Kuta, Badung, Bali | Foto: Adhitya Pratama

Setelah pertunjukan musik, Mang Sraya dan tiga perempuan lainnya berdiri di pinggir stage utama. Stagenya seperti kolam berenang  berbentuk oval. Saya melihat mereka dari sisi seberang. Mereka membawa kendang yang diselempangkan di bagian depan, serta 1 ceng ceng yang diikat pada tali kendang.

Mereka mulai memainkan kendang secara bersamaan, dalam komposisi yang rapi, tertata, dan nampaknya penuh perhitungan. Saya tahu Mang Sraya sering membuat orat-oretan komposisi, atau grafis komposisi, pada setiap karyanya. Hal yang jarang dilakukan oleh kawan saya yang suka megambel di banjar. Sebab menulis partitur kan biasanya hanya dilakukan oleh komposer barat.

Mereka tidak diam, sambil berjalan ke arah kami bertiga, ia memainkan kendangnya sesekali juga memukul ceng-ceng. Lampu penerangan juga ditata sedemikian rupa, agar kehadiran Mang Sraya diperhatikan oleh penonton.

Akhirnya ia berhenti pada setting yang sudah siap di belakang saya. Ada 4 gong, sepasang selonding, dan instrument tambahan lain. Komposisi ini berkolaborasi dengan seorang penari perempuan bernama Nanda. Nanda hadir sebagai laku tubuh untuk menguatkan tujuan kompisisi Mang Sraya. Sesekali tubuh itu meliuk seperti lambaian daun bambu yang diterpa angin, matanya membelalak galak, kemudian tersenyum jenaka sambil memandang penonton.

Komposisi musik Mang Sraya tetap berlangsung, dengan lantunan dan arah yang tidak pernah saya duga. Pada satu lantunan bisa-bisanya ada jeda, bisa-bisanya berhenti tanpa mencapai klimaks kemudian berlanjut pelan. Tubuh Nanda tampak terjaga pada kemungkinan musik itu atau memang Nanda sudah menghafalnya saat latihan. Musik beralih dari satu instrumen ke instrumen lain, bahkan saya melihat Mang Sraya memainkan dua instrumen sekaligus, kendang dan gong.

Pentas musik Garapan Mang Srayamurtikanti di Desa Potato Head (POHE) – Seminyak, Kuta, Badung, Bali | Foto: Adhitya Pratama

Begini, biasanya kalau nonton baleganjur, gong kebyar dan kelompok musik tradisi lain, mereka hanya berfokus pada satu benda. Tidak ada yang bergerak banyak, kecuali mereka mengikuti lomba karena dalam lomba ada estetika koreo yang menjadi satu acauan nilai juri. Mang Sraya bermain bukan pada khazanah biasanya, nampaknya ia ingin mengembangkan satu bentuk permainan segar dari pemain-pemainnya.

Jika ditelisik lebih dalam, sejumlah simbol terlihat dalam pertunjukan Mang Sraya, seperti para pemain yang semuanya adalah perempuan, satu pemain bisa memainkan alat musik lebih dari satu dalam waktu bersamaan, satu pemain yang dapat berpindah alat musik, serta permainan musik dengan warna liyan.

Begitulah sekiranya ibu saya di rumah seperti pemain itu, memasak  nasi sambil nyambi menyapu, menggoreng masakan sambil nyambi merapikan baju, atau mejejaitan sambil nyambi mendongengkan saya sebelum tidur serta Ibu yang selalu mencari resep masakan baru dari tetangganya agar saya tidak bosan dengan masakannya yang selalu berulang.  Karya Mang Sraya menyiratkan ketangkasan perempuan, yang paling dekat….. ya ibu saya sendiri.

Rupanya karya Mang Sraya ini mengisahkan tentang Tumpek Pengatag, salah satu upacara yang dilaksanakan orang Bali atas rasa syukurnya kepada tumbuhan. Agar dunia tempat manusia tinggal keadaan hidupnya seimbang.

Ada adegan saat penari membagikan sejumlah ranting yang masih ditumbuhi daun kepada setiap pemain. Simbol gerak ini merupakan representasi bagaimana para dewa -dewi yang asih kepada manusia. Bagi saya pribadi konteks Tumpek Uduh sangat tegang dalam tubuh tradisi saya, tubuh narasi sosial yang hadir dalam kebudayaan kental di Bali, memberi saya pemahaman yang selalu bertolak belakang.

Secara praktikal tumpek uduh dilakukan pada 25 hari sebelum Hari Raya Galungan, upacara itu mendoakan bunga pohon buah yang sedang ranum, agar nanti buahnya lebat saat Galungan tiba. Buah itulah yang digunakan untuk sarana upacara.

Tapi saya dan keluarga kecil di kota, tidak lagi punya tegalan, kami semua harus bekerja, lalu menghasilkan uang kemudian membeli buah di pasar badung untuk megalungan. Bisa juga Tumpek uduh dilihat lebih luas akan beririsan dengan isu ekologi, lingkungan yang tengah terjadi hari ini . tergantung penyikapan cara pandang saja, yang mana saja, boleh.

Pentas musik Garapan Mang Srayamurtikanti di Desa Potato Head (POHE) – Seminyak, Kuta, Badung, Bali | Foto: Adhitya Pratama

Tapi satu yang menarik, dengan cara pandang – saya mengingat satu adegan yang pernah saya mainkan saat pentas di Stikom Bali, membawa naskah The Famous Squating Dance yang disutradarai oleh Wayan Sumahardika. Ada adegan saya membaca catatan Miguel Covarrubias saat ia menonton penari igel jongkok di salah satu sajian pariwisata di Denpasar, catatan itu berisi deskripsi tentang bagaimana penari igel jongkok itu berkolaborasi dengan pemain musik barat.

Saya membacanya saat itu, sekaligus membayangkan gerakan penari igel jongkok berdasarkan teksnya, lebih jauh lagi saya membayangkan bagaimana tari itu ditonton oleh wisatawan yang berkunjung ke Bali.

Hal ini sama persis yang saya alami saat menonton Mang Sraya, ada deretan bule yang terkesima, tangannya tidak lepas merekam menggunakan gawai, sebagian lagi memperhatikan dengan serius, ada pula yang langsung menggunggah ke IG Story pribadinya. Berita begitu cepat tersebar, mungkin di antara orang itu ada yang live lintas negara, sehingga kawannya di benua lain dapat menonton Mang Sraya.

“Memang bentuk segar kayak gini, diterima dengan lapang di sini, seperti igel jongkok dulu, ruangnya cair.  Yang menonton mungkin saja tidak memiliki kedekatan dengan benda-atau bentuk asal kesegaran itu,” ucap saya pada diri sendiri. [T]

Tags: KutamusikSrayamurtikantiulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengenal Wisata Organologi [Gamelan Village], Desa Tihingan, Klungkung

Next Post

Memadupadankan Kehumasan dan Jurnalistik, Memeriksa Hubungan Pemerintah dan Wartawan

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Memadupadankan Kehumasan dan Jurnalistik, Memeriksa Hubungan Pemerintah dan Wartawan

Memadupadankan Kehumasan dan Jurnalistik, Memeriksa Hubungan Pemerintah dan Wartawan

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co