3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengenal Wisata Organologi [Gamelan Village], Desa Tihingan, Klungkung

Wayan Diana Putra by Wayan Diana Putra
May 18, 2022
in Esai
Mengenal Wisata Organologi [Gamelan Village], Desa Tihingan, Klungkung

Salah satu tahap dalam proses pembuatan gamelan di Desa Tihingan, Klungkung, Bali | Foto-foto: Diana Putra

Desa Tihingan adalah salah satu desa di Kabupaten Klungkung yang dikenal dengan sentra pengerajin Gamelan. Sebagai desa sentra pengerajin gamelan, segala keperluan peralatan gamelan yang dibutuhkan oleh masyarakat disediakan oleh Desa Tihingan khususnya Banjar Tihingan.

Banjar Tihingan mayoritas penduduknya berprofesi sebagai pengerajin gamelan (sebagai pemilik usaha maupun pekerja). Profesi pengerajin gamelan ini selain sebagai mata pencaharian pokok juga dapat menjadi salah satu daya tarik wisata. Daya tarik wisata yang berbasis pada keahlian sumber daya manusia (kerajinan) sebagai sebuah kekayaan tak benda (intangible). Keahlian dalam membuat gamelan ialah sebuah anugerah dari Sang Pencipta yang tidak dapat dijumpai di daerah lain. Anugerah kemampuan dalam membuat gamelan yang berdampak dalam menunjang eksistensi gamelan di Bali ialah sebuah potensi yang tidak ternilai.

Eksistensi gamelan Bali sebagai sebuah pelengkan upacara, edukasi dan penunjang kepariwisataan dalam bentuk seni pertunjukan merupakan hal yang tidak terbantahkan lagi gemanya. Selain sebagai media perwujudan seni pertunjukan, gamelan juga memiliki esensi yang tidak kalah dengan pesona pertunjukannya yaitu aspek bahan dan tata cara pembuatannya. Bahan dan tata cara pembuatannya juga memiliki nilai-nilai estetis sekaligus edukasi.

Dari sudut pandang estetika (keindahan) elemen dan formulasi bahan dari gamelan memiliki daya tarik yang spesial. Daya tariknya ialah terletak pada bahan mentah yang telah diberi nama yaitu “gangsa”. Gangsa (karawang) ialah sebuah logam hasil percampuran dari perunggu dan timah. Hasil percampuran yang masih dalam tahap mentah ini sudah diberikan nama. Nama dari hasil formulasi dengan komposisi dan takaran yang telah terukur konsistensinya.

Keterukuran selanjutnya terletak pada proses pengolahan “gangsa” untuk dijadikan instrumen-instrumen gamelan seperti pemade, reyong, kajar, tawa-tawa, gender dan sebagainya. Proses pengolahan ini memiliki beberapa tata cara dan alur-alur yang harus dilalui secara sistematis.

Tata cara dan alur-alur yang harus dilalui ialah 1) Melebur gangsa menjadi berbenntuk liquid, 2) Mencetak cairan liquid menjadi bentuk bilah atau bermoncol, 3) Mementeng bentuk awal bilah atau moncol menjadi bentuk kasar, 4) Menghaluskan bentuk bilah dan moncol, 5) Melaras bunyi dari bilah dan moncol dan 6) Menyetel bilah dan moncol dengan resonator (bumbung). Enam tahapan alur dalam membuat gamelan tersebut ialah sebuah alur yang dapat digunakan sebagai muatan edukasi.

Sebagai sebuah muatan edukasi, tata cara pembuatan gamelan ini dalam lingkup akademis gamelan (karawitan) disebut dengan “Organologi”. Organologi dalam lingkup keilmuan gamelan (karawitan) dipandang sebagai sebuah ilmu mengenai bahan merujuk dari kata organ dan logi. Organ merujuk pada makna bahan penyusun sedangkan logi berasal dari kata logos yang artinya ilmu.

Organologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang organ (bentuk) dan struktur alat musik. Organologi mempunyai maksud sebagai gambaran tentang bentuk dan rupa konstruksi suatu alat musik (Riswanto, 2015:1). Organolgi sebagai sebuah ilmu tentang bahan, bahan pembuatan gamelan Bali adalah salah satu mata kuliah yang harus ditempuh oleh mahasiswa strara 1 (S-1) Seni Karawitan.

Foto: Salah satu tahap dalam proses pembuatan gamelan di Desa Tihingan, Klungkung, Bali

Dalam menempuh mata kuliah Organologi, selain belajar secara teoritis mahasiswa juga melakukan visitasi (kunjungan) ke lapangan langsung. Visitasi ke lapangan dalam hal ini yang dimaksud ialah belajar secara langsung dengan pengerajin. Pengerajin yang dituju biasanya ialah pengerajin gamelan di Banjar Tihingan.

Bersama pengerajin, mahasiswa belajar secara langsung mengenai enam tahapan membuat gamelan. Belajar mengenai tahapan pembuatan gamelan ini adalah bentuk dari edukasi. Edukasi mengenai tahapan dan formulasi pembuatan gamelan tidak hanya diaplikasikan dengan civtas akademik saja. Edukasi mengenai kerajinan gamelan juga perlu didedahkan pada para pelancong lokal maupun para wisatawan mancanegara.

Edukasi kerajinan gamelan untuk wisatawan dalam konteks kepariwisataan ialah sebuah produk yang seyogyanya diangkat untuk memperkokoh posisi Pulau Bali yang berbasis wisata budaya.

Pulau Bali yang termasyur sebagai tujuan wisata berbasis budaya dengan atraksi kesenian sebagai ujung tombak selain pemandangan alam, perlu kiranya untuk menawarkan alternatif baru yaitu berupa informasi mengenai hal-hal pendukung atraksi kesenian tersebut. Pengetahuan organologi dari gamelan perlu didedahkan sebagai aspek hulu dari sajian pertunjukan gamelan yang apik dan memukau.

Foto: Salah satu tahap dalam proses pembuatan gamelan di Desa Tihingan, Klungkung, Bali

Edukasi mengenai organologi gamelan ini diaktualisasikan dengan mengajak wisatawan mengunjungi sentra kerajinan gamelan seperti yang dimiliki oleh Banjar Tihingan, Desa Tihingan. Maka dari itu, Banjar Tihingan selain sebagai industry kerajinan gamelan juga sebagai desa edukasi. Desa edukasi berupa “Wisata Organologi”, berkunjung  untuk belajar dan mengetahui tata cara pembuatan gamelan Bali langsung dari pakar dan pengerajinnya langsung.

Tujuan dari gagasan “Wisata Organologi Desa Tihingan” ialah untuk menghadirkan tawaran baru yang dapat menjadi daya tarik wisata baru di Desa Tihingan. Wisata Organologi Desa Tihingan merupakan hasil pengembangan dari kearifan lokal Desa Tihingan sebagai sentra kerajinan gamelan Bali yang terkenal di Pulau Bali.

Beberapa tujuan yang dapat penulis rumuskan dalam program “Wisata Organologi Desa Tihingan” ialah: 1) Memberikan alternatif lain dari sentra industri gamelan Bali yang telah mapan dalam sekala lokal, 2) Memberikan posisi Desa Tihingan sebagai desa berwawasan edukasi

3) Menjaring segmentasi pengunjung atau wisatawan dengan latar belakang edukasi dan akademis dan 4) Sebagai strategi baru untuk menarik minat beli gamelan melalui program edukasi. Keempat tujuan tersebut merupakan poin-poin yang digunakan sebagai pijakan dalam menyusun kerangka program mewujudkan “Wisata Organologi Desa Tihingan”. Keempat poin-poin tersebut menjadi rambu-rambu dalam aktulisasinya.

Manfaat dari tawaran “Wisata Organologi Desa Tihingan” ialah untuk menghasilkan daya tarik wisata baru. Adapaun manfaat dari “Wisata Organologi Desa Tihingan” adalah sebagai berikut: 1) Sebagai sebuah alternatif baru untuk menunjang sentra industri gamelan Bali, 2) Menghadirkan Desa Tihingan sebagai desa berwawasan edukasi, 3) Menghadirkan segmentasi pengunjung baru seperti para akademisi untuk dapat melakukan kegiatan edukasinya di Desa Tihingan dan 4) Untuk menarik minat beli gamelan setelah diberikan pendedahan mengenai tata cara pembuatan gamelan. Keempat manfaat tersebut dipancangkan sebagai target capaian untuk melecut misi mewujudkan “Wisata Organologi Desa Tihingan” dengan konkrit.

Foto: Salah satu tahap dalam proses pembuatan gamelan di Desa Tihingan, Klungkung, Bali

Pendedahan dari program “Wisata Organologi Desa Tihingan” menggunakan metode presentasi ide dan diskusi. Presentasi ide merupakan pemaparan mengenai pandangan penulis mengenai potensi “wisata organologi” Desa Tihingan merujuk dari pengerajin gamelan yang menjadi ikonik. Diskusi ialah dialog dengan masyarakat Desa Tihingan yang diwakili oleh pemangku kebijakan/aparatur desa dengan penulis untuk mewujudkan pemahaman atas gagasan “Wisata Organologi Desa Tihingan”.

Bentuk dari wisata organologi di Desa Tihingan berupa visitasi dan work shop.

Visitasi dalam bentuk kunjungan ke prapen-prapen pembuatan gamelan oleh para wisatawan. Work shop adalah dengan memberikan wisatawan praktik singkat dalam membuat gamelan seperti membuat petuding (sample suara atau nada), menempa bilah atau manggur. Manggur gamelan adalah membuat atau menentukan  karakter bunyi, tinggi nada atau larasan/saih pada tungguhan-tungguhan perangkat gamelan (Sukerta, 1998:103-104)

a. Visitasi

Visitasi merupakan kegiatan mengunjungi salah satu pengerajin gamelan yang terdapat di Desa Tihingan seperti misalnya pada Prapen Bapak Pande Lanus, Prapen Sutama Gamelan, Prapen Gong Tari dan lainnya. Kegiatan mengunjungi prapen ini bertujuan untuk memberikan penjelasan mengenai aktivitas pembuatan gamelan di prapen-prapen pembuatan gamelan tersebut. Penjelasannya meliputi pengetahuan alat-alat pembuatan gamelan, tempat pengerajin bekerja, bahan-bahan membuat gamelan serta tata cara pembuatan gamelan secara singkat.

Dalam visitasi ke prapen-prapen ini diusahakan agar setiap pengerajin menjelaskan dengan ramah mengingat visitasi ini merupakan bentuk lain dari branding terhadap produk gamelannya. Menjelaskan seluk beluk peralatan, bahan dan tata cara membuat gamelan merupakan cara lain untuk menawarkan produk gamelan pada si peminat. Informasi yang diberikan hendaknya mampu untuk memikat calon peminat yang dapat bermuara pada transaksi ekonomi.

Foto: Kunjungan pada sentra kerajinan gamelan di Desa Tihingan, Klungkung, Bali

Transaksi ekonomi dalam balutan kegiatan visitasi ini ialah salah satu cara menaikkan kualitas strategi pemasaran produk gamelan berbasis edukasi. Dalam artian lain transaksi ekonomi dipercantik dengan memberikan customer asupan pengetahuan terhadap produk yang diinginkan. Memiliki produk gamelan ditambah dengan pengetahuannya merupakan sebuah bentuk apresiasi terhadap hasil kebudayaan manusia yang adiluhung.

Manfaat dari kegiatan visitasi ini bagi pengerajin gamelan di Desa Tihingan ialah memberikan pengerajin ruang untuk mempromosikan produk dan keahlian mereka dalam menghasilkan produk gamelan. Ruang pertemuan antara produsen dan konsumen dalam sebuah dialog untuk mewujudkan transaksi ekonomis. Transaksi ekomonis berpeluang besar terjadi apabila pengerajin gamelan (produsen) dapat memikat hati customer jauh lebih dalam melaui informasi berbasis pengetahuan mengenai tata cara pembuatan gamelan (organologi).

b. Work Shop

Work shop ialah program memberikan para wisatawan untuk dapat merasakan tata cara membuat gamelan secara singkat. Wisatawan diajarkan oleh para pengerajin mengenai teori-teori teknik dasar dalam membuat gamelan. Praktik membuat gamelan ini memilih proses yang paling mudah namun dapat menghantarkan wisatawan pada pengetahuan teknis dasar membuat gamelan. Teknik dasar membuat gamelan yang dipilih berupa membuat petuding dari bambu, membakar perungu menjadi liquid yang disebut luluhan atau alloy (Hastanto, 2012:6) serta manggur bilah gamelan.

Membuat petuding, proses membakar perunggu menjadi liquid serta manggur adalah tiga kegiatan dalam membuat gamelan yang dapat digunakan materi dalam kegiatan work shop. Salah satu dari ketiga kegiatan tersebut dapat dipilih satu jika work shop dilakukan dengan durasi singkat (short class). Dalam work shop pembuatan gamelan ini merupakan ruang bagi pengerajin untuk memikat wisatawan untuk memunculkan niat membeli produk gamelan. Ruang intens yang terjadi ialah dengan memberikan penjelas-penjelasan menarik mengenai pengalaman dalam praktik membuat gamelan. Branding-branding mengenai pengalaman-pengalaman menarik serta keahlian intelektual dalam aktivitas membuat gamelan.

Foto: Perapen/perapian

Membuat gamelan dengan mengambil contoh praktikal membuat petuding ialah sebagai salah satu contoh materi work shop yang sangat mudah namun memiliki daya pikat yang kuat. Membuat petuding tidak memerlukan waktu yang lama dan dengan menggunakan bahan serta teknis pengerjaan yang sangat mudah. Dalam membuat petuding antara pengerajin dan wisatawan terbingkai dalam suasana kerja bersama. Pengerajin memberikan teori mengenai tata cara memotong bambu serta meraut bambu untuk menghasilkan sebuah nada tertentu yang diinginkan. Proses memotong dan meraut bambu ini terjadi dialog atau komunikasi dua arah antara pengerajin dan wisatawan untuk mewujudkan sasaran capaian tutorial dari pengerajin dan keberhasilan dari wisatawan dalam mengeksekusi arahan pengerajin.

Wujud dari hasil pengajaran secara tutorial dari pengajar kepada wisatawan dalam membuat petuding dapat dijadikan sebagai souvenir bagi wisatawan sendiri. Souvenir petuding yang merupakan hasil karya dari wisatawan sendiri merupakan salah satu “jimat pemikat” untuk mengeksistensikan daya ingat wisatawan terhadap proses work shop membuat gamelan di Desa Tihingan. Daya ingat wisatawan terhadap hal-hal menarik dari Desa Tihingan sebagai sentra pengerajin gamelan setidaknya untuk memikat ketertarikan lain seperti berkunjung kembali ataupu keinginan untuk membeli gamelan secara tungguhan atau barungan.

Manfaat dari kegiatan work shop ini adalah menyentuh hati para wisatawan dengan memposisikan mereka sebagai subyek pengerajin gamelan itu sendiri. Hal ini ialah untuk memberikan wisatawan untuk berpartisipasi pada kegiatan yang menjadi daya tarik kunjungan mereka. Melaui work shop mereka tidak hanya melihat melainkan ikut menjadi subyek dalam menghasilkan salah satu produk gamelan, sederhananya membuat petuding atas karya mereka sendiri. Luaran dari kegiatan work shop ini adalah untuk menanamkan memori pada para wisatawan untuk tertarik kembali datang mengunjungi sentra pembuatan gamelan di Desa Tihingan.

Foto: Proses pembuatan kendang

Berbicara mengenai manfaat mengenai “Wisata Organologi Desa Tihingan” yang menggunakan gamelan sebagai subyek, terdapat tiga fungsi (musik) gamelan dalam konteks pariwisata yaitu: 1) Memberi pengalaman estetis bagi para wisatawan, 2) Salah satu identitas dari suatu daerah atau negara dan 3) Sebagai salah satu sara penghubung komunikasi antar bangsa (Soedarsono dalam Rai,S, 2001:140). Dari ketiga fungsi (musik) gamelan seperti yang disebutkan oleh Soedarsono, fungsi nomor satu ialah menjadi rujukan dalam program wisata organologi ini. Mengingat dengan memberikan work shop mengenai tutorial membuat gamelan diharapkan dapat menanamkan memori keindahan dari gamelan itu sendiri dalam segi proses pembuatannya (organologi).

Setelah memberikan pendedahan mengenai gagasan “Wisata Organologi Desa Tihingan” dengan bentuk visitasi dan work shop pembuatan gamelan, maka langkah selanjutnya ialah mengaktualisasi gagasan tersebut bersama aparatur desa dan pengerajin gamelan Banjar Tihingan. Aktulisasi berupa sosialisasi program sebelum menginjak pada regulasi dari program “Wisata Organologi Desa Tihingan”. Regulasi harus diciptakan sebagai sebuah legalisasi dan control dalam pelaksanaan wisata bentuk baru ini. Setelah terwujud kesamaan visi maka langkah selanjtnya sebelum aktualisasi program ialah memberikan pelatihan mengenai tata cara komunikasi dalam melayani visitasi dan work shop dari para wisatawan kelak. [T]

Tags: Desa TihinganKlungkungPariwisatapariwisata baliWisata Organologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Setelah Panen, Jerami Jangan Dibakar, Jadikan Kompos

Next Post

Ruang yang Cair Tanpa Kelekatan Bentuk | Catatan Menonton Srayamurtikanti di Potato Head

Wayan Diana Putra

Wayan Diana Putra

I Wayan Diana Putra, S.Sn., M.Sn. Dosen Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar. Komposer Gamelan Bali.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Ruang yang Cair Tanpa Kelekatan Bentuk | Catatan Menonton Srayamurtikanti di Potato Head

Ruang yang Cair Tanpa Kelekatan Bentuk | Catatan Menonton Srayamurtikanti di Potato Head

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co