12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memegati Cerita Kekalahan Tentang Desa

Ni Luh Sinta Yani by Ni Luh Sinta Yani
May 17, 2022
in Esai
Memegati Cerita Kekalahan Tentang Desa

Foto ilustrasi: Don Rare

Cerita turun temurun tentang desa selalu identik dengan kekalahan, kemiskinan, kebodohan, dan ketinggalan zaman.  Orang desa dipandang sebagai orang yang lugu dan mudah diolok-olok. Situasi desa dideskripsikan sempit, tidak ada jalan, tidak ada internet, dan jauh dari peradaban.

Kultur tradisional yang dibangun di desa selama berabad-abad semakin dianggap tak pantas berkembang pada era modern, karena kuno dan terkadang tidak masuk akal. Berbeda dengan kota yang dipersepsikan sebagai tempat kemajuan teknologi, industri, pemikiran, dan tempat yang paling ampuh untuk meraih kesuksesan.

Hantaman keras terhadap stigma tentang desa, menyebabkan banyak orang desa yang cenderung enggan tinggal di desa. Bahkan ironisnya, sebagian dari mereka malu mengakui kedesaannya. Mereka tak ingin dilabeli orang udik, sampai-sampai mereka harus merubah semua kebiasaan yang sering dilakukan oleh orang desa. Menghapus jati dirinya sebagai orang desa, dan berlagak ‘kekotaan’ ketika mereka memang terpaksa harus singgah ke desanya kembali.

Masyarakat menginginkan desa sama persis seperti kota. Kondisi inilah yang menyebabkan adanya modernisasi terhadap desa. Perbandingannya adalah kota, sehingga pembangunan hingga tumpuan perekonomian desa menyesuaikan dengan lidah orang kota. Dalil kuat yang digunakan adalah memajukan desa agar mampu mandiri dan sejahtera. Dalil ini tentunya ada dukungan yang kuat dari beberapa teori, semisal teori dari WW. Rostow.

Sapi dan Kesetiaan Petani – Cerita dari Posko Pengungsian di Desa Les

Dalam teorinya, Rostow menjelaskan secara gamblang bahwa karakteristik masyarakat desa lebih kepada penggunaan alat yang sangat sederhana sehingga pekerjaan menjadi sangat lama dan tingkat produktifitasnya masih sangat rendah. Karena demikian, masyarakat desa yang biasanya menggantungkan hidupnya dalam pertanian, dipaksa beralih ke industri yang memanfaatkan teknologi tinggi, meninggalkan cara-cara tradisional, dan menanggalkan identitas kearifan lokalnya. Tapi, yakin semua pembangunan tersebut semata-mata untuk kepentingan masyarakat desa? Lalu, apa yang sebenarnya salah dari desa? Mengapa desa mesti didiskreditkan seperti itu?

Selama ini, pembangunan-pembangunan yang dilakukan di desa hanya menjadikan orang desa sebagai objek semata. Pembangunan tersebut belum sepenuhnya mengakomodir kebutuhan masyarakat desa. Ini tidak bisa ditampikan, karena kebanyakan dari mereka tidak mengenyam pendidikan tinggi, tidak memahami makna sesungguhnya dalam pembangunan, dan hanya menjadi entitas bagi sang subjek pembangunan.

Yang lebih menyakitkan lagi, pembangunan yang dilakukan merupakan kebutuhan personal namun dipakai sebagai kebutuhan publik. Doktrin kuat yang ada dalam pikiran masyarakat desa mengenai pembangunan hanya sebatas pembangunan fisik. Pemimpin desa dinyatakan berhasil memimpin apabila dia mampu menciptakan prasarana di desa. Tidak ada yang salah dengan pembangunan infrastruktur karena itu bagian yang penting juga terhadap kemajuan desa. 

Namun, ada satu hal yang lebih krusial untuk dibangun di desa, yakni pembangunan sumber daya manusianya. Membangun jalan di desa mungkin bisa dikerjakan hanya dalam rentang waktu beberapa bulan saja, tapi untuk membangun sumber daya manusia yang berkualitas butuh waktu yang bertahun-tahun. Lama, tapi sangat mungkin untuk dilakukan.

Gede Suryantara dari Desa Les | Menganyam Bambu, Menganyam Hidup, di Pondok Kecil Tepi Hutan

Pegangan erat dalam pembangunan sumber daya manusia terhadap masyarakat desa adalah nilai-nilai adiluhung yang sudah diwariskan oleh para tetua. Terkesan usang, tapi jika dikaji lebih dalam, ajaran para tetua yang diturunkan melalui budaya menyimpan nilai-nilai kebajikan dalam kehidupan. Ini menjadi pagar kuat masyarakat untuk membentengi arus negatif dari globalisasi. Nenek moyang telah merumuskan nilai tersebut dengan begitu apik sesuai dengan karakteristik daerah dan kepercayaan.

Nilai tersebut yang mestinya dipegang teguh, bukan malah malu mengakuinya. Contoh nasihat kecil yang sering diajarkan oleh masyarakat di desa yaitu melepaskan alas kaki ketika memasuki ruangan. Bagi masyarakat kota yang melihat ini, mereka akan menertawakan dan dicap ‘ndeso’. Ternyata, hal kecil yaitu melepas alas kaki ketika masuk ke ruangan memiliki nilai yang sangat mendalam yakni nilai saling menghargai.

Alas kaki sangat identik dengan kotor, jadi ketika memasuki ruangan yang sudah bersih dengan alas kaki yang kotor, maka kita tidak menghargai orang yang membersihkannya. Sedalam itu para tetua terdahulu memikirkan nilai-nilai kehidupan. Masih banyak sekali tauladan yang diwasiatkan oleh anak-cucunya. Seharusnya, menjadi orang desa adalah anugerah karena telah diberikan bekal berupa nilai-nilai kebajikan.

Perlu menjadi perhatian pula, budaya yang diwariskan hingga saat ini jangan sampai membuat masyarakat desa menjadi kaku dan anti terhadap perubahan. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi tetap diikuti untuk kemajuan pemikiran dan peradaban. Yang paling penting, masyarakat desa harus menjadi pelaku dalam perkembangan tersebut.

Gerakan-gerakan dinamis mulai dibentuk dari kesadaran individu masyarakat, seperti pentingnya pendidikan di keluarga, pendidikan di sekolah, maupun pendidikan di masyarakat. Ketiga komponen ini terintegerasi dan saling mendukung satu sama lain dalam menciptakan generasi yang unggul. Generasi muda harapan desa mampu bersekolah tinggi bahkan sampai ke luar negeri, dengan kesadaran dan cita-cita nanti ketika mereka pulang, mereka telah membawa misi besar untuk membangun desa.

Mereka akan mengimplementasikan ilmu yang peroleh untuk memperbaiki sendi-sendi kehidupan di desa. Tentunya ini juga butuh dukungan kuat dari masyarakat desa. Jangan sampai ketika mereka pulang kembali ke desa, dianggap sebagai sebuah kegagalan, dianggap mereka tidak mampu beradaptasi di tempat lain, dan dianggap tidak mampu memperoleh pekerjaan yang baik di luar sehingga harus kembali ke desa. Kehadiran para diaspora desa adalah harapan untuk kemajuan desa serta bukti bahwa orang desa tidak bodoh dan mampu untuk bersaing.

Satu pihak yang juga berperan besar terhadap pembangunan sumber daya manusia untuk masyarakat desa, ialah pemerintah desa. Sebagai pembuat kebijakan publik, pimpinan desa memiliki wewenang untuk menciptakan program-program kerja yang mengarah pada pengembangan SDM. Kemampuan dasar yang menjadi bekal seorang pemimpin desa adalah mampu menentukan identifikasi permasalahan desa sehingga  mampu menempatkan prioritas program.

Apalagi semenjak diberlakukan Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 tentang desa. Desa diberikan ruang untuk berkembang (desentralisasi otonomi daerah), karena yang memahami terhadap desa adalah desa tersebut. Jadi melalui desentralisasi, setiap keputusan untuk pembangunan desa disepakati melalui musyawarah desa. Undang-Undang ini menjadi peluang besar untuk pemimpin desa dalam menyejahterakan masyarakatnya. Pemerintah desa harus memiliki komitmen kuat untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dengan pendekatan berbasis hak dalam roda kehidupan di desa.

Pembangunan berbasis hak berarti memahami dan meletakkan hak-hak dasar (asasi) sebagai cara dan sekaligus tujuan pembangunan. Pendekatan ini menempatkan manusia sebagai komponen terpenting dalam pengambilan keputusan terkait sumber daya alam dan komunitas.

Pendekatan berbasis hak diperlukan karena pembangunan desa selama ini dilakukan tanpa menempatkan manusia desa sebagai subyek pembangunan yang terlibat atau dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Kalaupun berbicara tentang manusia, pembicaraan itu condong dalam kerangka pendekatan amal/belas kasih atau sebatas memenuhi kebutuhan. Pendekatan tersebut jauh dari memadai karena tidak membuat warga berdaya hingga mampu terlibat dalam pengambilan keputusan di setiap tahap pembangunan.

Valentine, Menanam Pohon, dan Puisi Kasih Sayang dari Desa Pedawa

Pendekatan berbasis hak membantu pemegang hak dan pengemban kewajiban mengenali dinamika kekuasaan atas sumber daya dan proses pembangunan. Pendekatan ini tidak hanya mendorong proses pembangunan yang inklusif, tetapi juga membantu mengatasi ketidakadilan atau kesenjangan dan menjamin hasil pembangunan yang lebih berkelanjutan.

Pendekatan berbasis hak mendorong pengembangan program yang memberikan prioritas pada kelompok miskin, rentan, dan marjinal. Dengan pendekatan ini pengemban kewajiban didorong untuk tidak sekadar bertanya tentang apa yang harus dilakukan tetapi juga mengapa dan bagaimana itu dilakukan. Tidak sekadar menyediakan layanan dasar tetapi juga mengatasi ketidakadilan akibat minimnya akses.

Melalui kolaborasi antara masyarakat desa dan pemerintah desa yang kuat, maka segala cita-cita yang ingin dicapai bersama akan terwujud. Kesadaran dan rasa memiliki terhadap desa adalah factor utama yang mestinya mulai diterapkan pada masing-masing individu masyarakat desa. Berkembangnya desa akan berpengaruh besar terhadap perkembangan negara karena desa adalah basis terkecil dari negara. Pembangunan sumber daya manusia yang dimulai sejak dini, akan mengakhiri cerita kekalahan tentang desa di masa depan. [T]

Tags: desaPembangunanpembangunan desa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Konversi Agama, Jangan Anggap Biasa

Next Post

Buleleng Raih Opini WTP Kedelapan dari BPK RI | Bupati Suradnyana: Ini WTP Berkualitas

Ni Luh Sinta Yani

Ni Luh Sinta Yani

Perempuan dari Tejakula, Buleleng bagian timur. Aktivis KMHDI yang suka menulis

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Buleleng Raih Opini WTP Kedelapan dari BPK RI | Bupati Suradnyana: Ini WTP Berkualitas

Buleleng Raih Opini WTP Kedelapan dari BPK RI | Bupati Suradnyana: Ini WTP Berkualitas

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co