24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

NANGUN SHIT-KERTHI LOKA BALI – Mengubah SHIT menjadi SAT

Sugi Lanus by Sugi Lanus
May 9, 2022
in Esai
HINDU & KEJAWEN BERHALA?

1. Demikian mulia nilai-nilai pemulian alam yang dirumus-ajarkan dalam Nangun Sat Kerthi Loka Bali yang sedang menjadi slogan-koridor Gubernur Bali sekarang. Kemuliaan gerakan dan nilai-nilainya tidak perlu dipertanyakan. Sambutan masyarakat pun tidak kalah, tidak pernah tidak ramai dan guyub.

Saya mungkin salah satu orang Bali yang paling senang dengan slogan ini. Tetapi sekaligus paling waswas.

2. Teringat pengalaman membaca lontar-lontar, semenjak kuliah di Jurusan Sastra Bali-Jawa Kuno dari tahun 1992 sampai kini, masih mengambang pertanyaan ini: Adakah lontar-lontar yang membahas urusan sampah?

Pertanyaan itu diungkap oleh seorang penanya di sebuah diskusi. Yang bertanya sangat naive, polos.

Dulu tidak ada plastik dll. Jelas saja sampah plastik dan polusi tidak pernah menjadi isu atau topik dalam lontar Bali secara spesifik. Lontar-lontar Bali lebih banyak merupakan koridor nilai-nilai yang perlu dijabarkan dalam tupoksi kekinian dan secara teknis perlu diturunkan dalan juknis dengan masalah lingkungan yang sedang kita hadapi di Bali: Sampah plastik, pembakaran sampah, dan polusi udara, serta semua pengerusakan lingkungan.

Sekali lagi: Adakah lontar-lontar yang membahas urusan sampah?

Bukankah NANGUN SAT-KERTHI LOKA BALI sudah menjawab?

Tidak.

Jika kita baca semua lontar-lontar di Bali yang berkenaan dengan lingkungan hidup, isinya sebatas koridor nilai.

Dalam lontar memang terdapat berbagai petunjuk teknis ritus atau ritual penyucian niskala memang ada, tetapi teknis penyucian sekala tidak ada dalam lontar.

Tugas pemerintah, tugas krama Bali yang mesti menjawab dengan kearifan sikap dan ikut manut dengan teknologi pengelolaan sampah terbaik yang dipakai di dunia sekala sekarang menjadi jawabannya, bukan teknis ritus niskala.

3. GRIYA LUHU dan aplikasi Griya Luhu salah satu contoh bagaimana yang niskala itu dibawa ke tataran sekala.

Kalau boleh ditambahkan atau bercermin dari koridor nilai SAT-KERTHI, maka apa yang dikerjakan oleh GRIYA LUHU ini mengusung nilai SHIT-KERTHI.

Apa itu SHIT-KERTI?

Karena memang urusan sampah atau [maaf] tai alias yang dibuang mengotori SUBAK, TEBA, PARAHYANGAN, DANAU, SUNGAI-SUNGAI, dll. ini tidak ada secara teknis dan tertulis di lontar-lontar Bali.

Dulu orang Bali kuno ‘BAB’ di teba atau belakang rumah, dimakan anjing dan babi. Jadi gemuk dan berisi. SHIT daur-ulang secara hewani.

Dulu orang Bali kuno punya SHIT’ (sisan luhu tur indik tai) bersifat alami atau eco-friendly, yang selesai di teba atau belakang rumah, didaur ulang oleh cacing dkk. SHIT manusia Bali modern tidak bisa lagi diselesaikan di teba atau belakang rumah. Celakanya, prilaku membuangnya masih sama ke belakang rumah atau di sungai, sekalipun SHIT manusia modern sekarang bukan hanya yang organik, tapi kebanyakan plastik, pamper, botol plastik, aki, oli, kulkas rusak, dll, semua tidak bisa lagi diselesaikan oleh cicing-asu dan kucit-celeng.

Ida Bagus Mandhara Brasika, seorang pemuda desa yang berpikir bagaimana menjadikan SHIT ini sebagai yasa-kerthi, melakukan pembacaan dan pemutarbalikan yang sangat berani. Ia mengubah paradigma Griya yang dulu sebatas pusat puja-stawa, menjadi terlibat dan berurusan langsung dengan SHIT dan menjadikannya yasa-kerthi.

Ia membuat GRIYA LUHU: Manajemen Sampah Digital dan E-retribusi Kebersihan Pertama di Indonesia!

Keluarga Griya ini secara sangat serius menata kelola sampah. Mereka sediakan ladang dan teba untuk menampung luhu dan kelola secara serius, baik offline dan online.

Silahkan lihat: https://griyaluhu.org/id/home/

Ida Bagus Mandhara Brasika tentu tidak sendiri. Banyak anak-anak muda yang telah melakukan gerakan “NANGUN SHIT-KERTHI”.

Foto: Gede Ganesha di depan Bank Sampah Galang Panji

Di Buleleng ada Gede Ganesha dkk.

Gede Ganesha melakukan edukasi anak-anak dan telah bertahun-tahun melakukan dan menjalankan Bank Sampah di Desa Panji, Buleleng. Secara konsisten ia menjadi garda depan “NANGUN SHIT-KERTHI”.

Gede Ganesha sebagai Direktur Bank Sampah memang tidak mengelola uang berjibun-jibun.  Tapi tumpukan sampah warga dengan berbagai kekotoran dan kejijikannya yang memang SHIT!.

Bank Sampah Galang Panji didirikan Ganesha tahun 2014. Memiliki lebih dari 400 nasabah. Yang mengharukan, nasabahnya kebanyakaan adalah anak-anak di desa Panji. Saban minggu, beramai-ramai anak-anak di Desa Panji menabung sampah-sampah mereka. Mereka diajak memahami nilai-nilai “NANGUN SHIT-KERTHI” oleh Gede Ganesha. Mengubah derajat sampah menjadi berharga. Dari SHIT menjadi SAT.

4. Lontar-lontar Bali ketika membicarakan palemahan atau lingkungan, mirip seperti jargon belaka. Karena memang begitu, lontar-lontar etika lingkungan di Bali adalah koridor nilai-nilai. Tentu tidak berisi teknis mengurus plastik dan polusi asap. Maka, memang diperlukan sosok-sosok muda seperti Gede Ganesha dan Mandhara Brasika, dkk.

Lihat saja bagaimana Tri Hita Karana: Berhenti di tataran jargon.

NANGUN SAT-KERTHI LOKA BALI bisa berujung sama.

Harapan Bali memang sekarang terletak di tangan anak-anak muda yang memang bisa mengubah SHIT jadi SAT.

SHIT = tai, kotoran, buangan, limbah, luhu, dll.

SAT = mulia, suci, kebenaran.

Harapan Bali tidak di tangan pesolek di atas daun lontar seperti saya. Bukan pula di tangan ahli debat keagamaan di mimbar sosmed.

Harapan Bali tidak di tangan pemasang muka lima tahunan di atas baliho di simpang jalan.

Harapan Bali tidak di tangan kaum pembawa ajaran atau aliran keagamaan yang berada di awan-awan dengan janji mengantar krama Bali menuju langit surgawi tertinggi, tetap kenyataan sehari-hari tidak ada yasa-kerthi pengabdian memuliakan bumi dan palemahan nyama braya. Nol besar.

Harapan Bali tidak di spanduk dan regulasi mentereng yang dihasilkan oleh orang-orang di ruang berpendingin yang tidak pernah mengerti dan menyentuh SHIT.

Saya berterima kasih kepada Sdr Gede Ganesha dan semeton Ida Bagus Mandhara Brasika yang dengan tangan dan hidung sendiri mencium, meraba, mendaur, mengurus urusan SHIT dan menjadikannya SAT.

5. Kalau saya membaca spanduk dan baliho SAT-KERTHI, saya sering merunduk malu. Setiap kali diundang membedah atau mendiskusikan isi SAT-KERTHI yang beragam, jika kita merujuk sumber acuannya di lontar, saya menolak.

Saya menghindari untuk berdiskusi isi SAT-KERTHI secara literasi. Memang betul penting literasi lontar dan semua kemuliaan nilai-nilai lontar-lontar, tetapi pada akhirnya, semua kemuliaan nilai-nilai itu hanya omong kosong kalau tidak berani terjun menjalankan mengabdian di jalan NANGUN SHIT-KERTHI LOKA BALI seperti yang dicontohkan oleh Gede Ganesha dan Mandhara Brasika, dan saudara-saudari lainnya yang tidak bisa saya sebut satu persatu namanya.

Saya menyebut mereka PAHLAWAN SHIT-KERTHI. Bagaimana mereka melakukan yasa-kerthi (pengabdian kebumian dan kemanusiaan) di titik yang dianggap terbawah.

Orang-orang seperti saya, para pembaca lontar-lontar, atau mereka yang gandurung dan kodal berkonsep tinggi-tinggi, pada akhirnya harus legowo dan tulus menyerahkan dan mempercayakan bahwa kenyataan SAT-KERTHI hanya bertengger di alam imaji, alam pikir, abstraksi di menara gading. Kenyataan hidup di tanah Bali sejatinya hanya bisa diselesaikan dan dicarikan jalan keluar oleh para PAHLAWAN SHIT-KERTHI yang dengan laku-yasa-kerthi nyata sehari-hari memuliakan kehidupan dengan mengubah SHIT menjadi SAT. [T]

Tags: lontarSampahsampah plastikSugi Lanus
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Film Pendek “Putu, Berbeda Tetap Keluarga”: Merawat Tradisi, Menjunjung Toleransi

Next Post

Pesta Kesenian Bali 2022 Offline | Libatkan 200 Sanggar, 16.150 Seniman

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Pesta Kesenian Bali 2022 Offline | Libatkan 200 Sanggar, 16.150 Seniman

Pesta Kesenian Bali 2022 Offline | Libatkan 200 Sanggar, 16.150 Seniman

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co