2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

NANGUN SHIT-KERTHI LOKA BALI – Mengubah SHIT menjadi SAT

Sugi Lanus by Sugi Lanus
May 9, 2022
in Esai
HINDU & KEJAWEN BERHALA?

1. Demikian mulia nilai-nilai pemulian alam yang dirumus-ajarkan dalam Nangun Sat Kerthi Loka Bali yang sedang menjadi slogan-koridor Gubernur Bali sekarang. Kemuliaan gerakan dan nilai-nilainya tidak perlu dipertanyakan. Sambutan masyarakat pun tidak kalah, tidak pernah tidak ramai dan guyub.

Saya mungkin salah satu orang Bali yang paling senang dengan slogan ini. Tetapi sekaligus paling waswas.

2. Teringat pengalaman membaca lontar-lontar, semenjak kuliah di Jurusan Sastra Bali-Jawa Kuno dari tahun 1992 sampai kini, masih mengambang pertanyaan ini: Adakah lontar-lontar yang membahas urusan sampah?

Pertanyaan itu diungkap oleh seorang penanya di sebuah diskusi. Yang bertanya sangat naive, polos.

Dulu tidak ada plastik dll. Jelas saja sampah plastik dan polusi tidak pernah menjadi isu atau topik dalam lontar Bali secara spesifik. Lontar-lontar Bali lebih banyak merupakan koridor nilai-nilai yang perlu dijabarkan dalam tupoksi kekinian dan secara teknis perlu diturunkan dalan juknis dengan masalah lingkungan yang sedang kita hadapi di Bali: Sampah plastik, pembakaran sampah, dan polusi udara, serta semua pengerusakan lingkungan.

Sekali lagi: Adakah lontar-lontar yang membahas urusan sampah?

Bukankah NANGUN SAT-KERTHI LOKA BALI sudah menjawab?

Tidak.

Jika kita baca semua lontar-lontar di Bali yang berkenaan dengan lingkungan hidup, isinya sebatas koridor nilai.

Dalam lontar memang terdapat berbagai petunjuk teknis ritus atau ritual penyucian niskala memang ada, tetapi teknis penyucian sekala tidak ada dalam lontar.

Tugas pemerintah, tugas krama Bali yang mesti menjawab dengan kearifan sikap dan ikut manut dengan teknologi pengelolaan sampah terbaik yang dipakai di dunia sekala sekarang menjadi jawabannya, bukan teknis ritus niskala.

3. GRIYA LUHU dan aplikasi Griya Luhu salah satu contoh bagaimana yang niskala itu dibawa ke tataran sekala.

Kalau boleh ditambahkan atau bercermin dari koridor nilai SAT-KERTHI, maka apa yang dikerjakan oleh GRIYA LUHU ini mengusung nilai SHIT-KERTHI.

Apa itu SHIT-KERTI?

Karena memang urusan sampah atau [maaf] tai alias yang dibuang mengotori SUBAK, TEBA, PARAHYANGAN, DANAU, SUNGAI-SUNGAI, dll. ini tidak ada secara teknis dan tertulis di lontar-lontar Bali.

Dulu orang Bali kuno ‘BAB’ di teba atau belakang rumah, dimakan anjing dan babi. Jadi gemuk dan berisi. SHIT daur-ulang secara hewani.

Dulu orang Bali kuno punya SHIT’ (sisan luhu tur indik tai) bersifat alami atau eco-friendly, yang selesai di teba atau belakang rumah, didaur ulang oleh cacing dkk. SHIT manusia Bali modern tidak bisa lagi diselesaikan di teba atau belakang rumah. Celakanya, prilaku membuangnya masih sama ke belakang rumah atau di sungai, sekalipun SHIT manusia modern sekarang bukan hanya yang organik, tapi kebanyakan plastik, pamper, botol plastik, aki, oli, kulkas rusak, dll, semua tidak bisa lagi diselesaikan oleh cicing-asu dan kucit-celeng.

Ida Bagus Mandhara Brasika, seorang pemuda desa yang berpikir bagaimana menjadikan SHIT ini sebagai yasa-kerthi, melakukan pembacaan dan pemutarbalikan yang sangat berani. Ia mengubah paradigma Griya yang dulu sebatas pusat puja-stawa, menjadi terlibat dan berurusan langsung dengan SHIT dan menjadikannya yasa-kerthi.

Ia membuat GRIYA LUHU: Manajemen Sampah Digital dan E-retribusi Kebersihan Pertama di Indonesia!

Keluarga Griya ini secara sangat serius menata kelola sampah. Mereka sediakan ladang dan teba untuk menampung luhu dan kelola secara serius, baik offline dan online.

Silahkan lihat: https://griyaluhu.org/id/home/

Ida Bagus Mandhara Brasika tentu tidak sendiri. Banyak anak-anak muda yang telah melakukan gerakan “NANGUN SHIT-KERTHI”.

Foto: Gede Ganesha di depan Bank Sampah Galang Panji

Di Buleleng ada Gede Ganesha dkk.

Gede Ganesha melakukan edukasi anak-anak dan telah bertahun-tahun melakukan dan menjalankan Bank Sampah di Desa Panji, Buleleng. Secara konsisten ia menjadi garda depan “NANGUN SHIT-KERTHI”.

Gede Ganesha sebagai Direktur Bank Sampah memang tidak mengelola uang berjibun-jibun.  Tapi tumpukan sampah warga dengan berbagai kekotoran dan kejijikannya yang memang SHIT!.

Bank Sampah Galang Panji didirikan Ganesha tahun 2014. Memiliki lebih dari 400 nasabah. Yang mengharukan, nasabahnya kebanyakaan adalah anak-anak di desa Panji. Saban minggu, beramai-ramai anak-anak di Desa Panji menabung sampah-sampah mereka. Mereka diajak memahami nilai-nilai “NANGUN SHIT-KERTHI” oleh Gede Ganesha. Mengubah derajat sampah menjadi berharga. Dari SHIT menjadi SAT.

4. Lontar-lontar Bali ketika membicarakan palemahan atau lingkungan, mirip seperti jargon belaka. Karena memang begitu, lontar-lontar etika lingkungan di Bali adalah koridor nilai-nilai. Tentu tidak berisi teknis mengurus plastik dan polusi asap. Maka, memang diperlukan sosok-sosok muda seperti Gede Ganesha dan Mandhara Brasika, dkk.

Lihat saja bagaimana Tri Hita Karana: Berhenti di tataran jargon.

NANGUN SAT-KERTHI LOKA BALI bisa berujung sama.

Harapan Bali memang sekarang terletak di tangan anak-anak muda yang memang bisa mengubah SHIT jadi SAT.

SHIT = tai, kotoran, buangan, limbah, luhu, dll.

SAT = mulia, suci, kebenaran.

Harapan Bali tidak di tangan pesolek di atas daun lontar seperti saya. Bukan pula di tangan ahli debat keagamaan di mimbar sosmed.

Harapan Bali tidak di tangan pemasang muka lima tahunan di atas baliho di simpang jalan.

Harapan Bali tidak di tangan kaum pembawa ajaran atau aliran keagamaan yang berada di awan-awan dengan janji mengantar krama Bali menuju langit surgawi tertinggi, tetap kenyataan sehari-hari tidak ada yasa-kerthi pengabdian memuliakan bumi dan palemahan nyama braya. Nol besar.

Harapan Bali tidak di spanduk dan regulasi mentereng yang dihasilkan oleh orang-orang di ruang berpendingin yang tidak pernah mengerti dan menyentuh SHIT.

Saya berterima kasih kepada Sdr Gede Ganesha dan semeton Ida Bagus Mandhara Brasika yang dengan tangan dan hidung sendiri mencium, meraba, mendaur, mengurus urusan SHIT dan menjadikannya SAT.

5. Kalau saya membaca spanduk dan baliho SAT-KERTHI, saya sering merunduk malu. Setiap kali diundang membedah atau mendiskusikan isi SAT-KERTHI yang beragam, jika kita merujuk sumber acuannya di lontar, saya menolak.

Saya menghindari untuk berdiskusi isi SAT-KERTHI secara literasi. Memang betul penting literasi lontar dan semua kemuliaan nilai-nilai lontar-lontar, tetapi pada akhirnya, semua kemuliaan nilai-nilai itu hanya omong kosong kalau tidak berani terjun menjalankan mengabdian di jalan NANGUN SHIT-KERTHI LOKA BALI seperti yang dicontohkan oleh Gede Ganesha dan Mandhara Brasika, dan saudara-saudari lainnya yang tidak bisa saya sebut satu persatu namanya.

Saya menyebut mereka PAHLAWAN SHIT-KERTHI. Bagaimana mereka melakukan yasa-kerthi (pengabdian kebumian dan kemanusiaan) di titik yang dianggap terbawah.

Orang-orang seperti saya, para pembaca lontar-lontar, atau mereka yang gandurung dan kodal berkonsep tinggi-tinggi, pada akhirnya harus legowo dan tulus menyerahkan dan mempercayakan bahwa kenyataan SAT-KERTHI hanya bertengger di alam imaji, alam pikir, abstraksi di menara gading. Kenyataan hidup di tanah Bali sejatinya hanya bisa diselesaikan dan dicarikan jalan keluar oleh para PAHLAWAN SHIT-KERTHI yang dengan laku-yasa-kerthi nyata sehari-hari memuliakan kehidupan dengan mengubah SHIT menjadi SAT. [T]

Tags: lontarSampahsampah plastikSugi Lanus
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Film Pendek “Putu, Berbeda Tetap Keluarga”: Merawat Tradisi, Menjunjung Toleransi

Next Post

Pesta Kesenian Bali 2022 Offline | Libatkan 200 Sanggar, 16.150 Seniman

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Pesta Kesenian Bali 2022 Offline | Libatkan 200 Sanggar, 16.150 Seniman

Pesta Kesenian Bali 2022 Offline | Libatkan 200 Sanggar, 16.150 Seniman

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co