6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Karangan Bunga dari Pembajak Buku

Akhmad Faozi Sundoyo by Akhmad Faozi Sundoyo
April 12, 2022
in Esai
Karangan Bunga dari Pembajak Buku

Foto hanya ilustrasi | tatkala.co

Di balik elusan lembut pada sampul buku kesayangan yang dinikmati perlahan sembari bersantai menyesap kopi, ada berlapis-lapis cerita dramatik. Buku, entah didapat dari toko buku, bingkisan orang terkasih, pinjaman teman atau perpustakaan, lahir dari meja kerja penerbitan, keringat kurir pengiriman, dan likuan-likuan pra serta pasca cetak yang tak pendek. Sekian tangan turut membentuk, mengelus, dan membungkusnya.

Melihat kawan sedang berpose dengan buku, hati saya senang sekaligus merinding. Senang karena buku masih diminati, dipilih sebagai latar potret (citra) diri. Merinding, juga miris, karena “jangan-jangan” buku-buku itu hanya sebagai pajangan saja. Citranya dipuja, isinya disia-sia. Kendati demikian, mentoknya mentok, saya rasa berpose dengan buku masih lebih—meminjam ungkapan andalan Agus Mulyadi—membuat mongkok daripada potret-potret berilustrasi santap makan mewah dan jalan-jalan di Cappadocia.

Perasaan senang bersanding merinding itu, mungkin sentimentalitas saya saja. Sentimen dari seorang “bakul buku online” yang terlanjur tercebur profesi.

Buku dan Profesi

Saya sering agak-agak rikuh ketika bertemu dan ngobrol dengan kenalan baru. Tepatnya ketika obrolan tiba pada pertanyaan, “kamu kerja apa?”. Biasanya momen itu terjadi ketika saya di posisi sebagai “Mister Nobodi”. Satu istilah yang diciptakan oleh Umar Kayam (Sugih Tanpa Banda, cet.4, 2012), merujuk pada kondisi saat kita bukanlah siapa-siapa. Tidak ada teman, tidak ada kenalan, sehingga setiap kontak pertemuan adalah orang asing versus orang asing. Biasanya saya akan menjawab, “saya bakul buku online”.

Obituari Pandemi | Sudut Pandang Kegembiraan

Saya selalu menjelaskan secara komplit tiga kata majemuk keprofesian itu, bakul-buku-online (BBO) kepada lawan bicara. Padahal kata-kata itu sering merepotkan. Saya harus menjelaskan jenis buku apa yang dijual, siapa yang membeli, sampai bagaimana peluangnya sebagai sandaran ekonomi. Tapi anehnya, kok selalu ada rasa mongkok itu tadi.

Rasa mongkok ketika menjelaskan profesi sebagai BBO itu sebenarnya ada filosofinya, walapun dengan standar filosofi ala kadarnya. Pertama, saya ingin mengenalkan dan menancapkan kata “buku” di alam bawah sadar lawan bicara. Saya ingin buku dikenali bukan sebatas benda mati, atau obyek foto selfie saja. Kedua, saya ingin menegaskan bahwa bakul buku online adalah sebuah profesi. Satu profesi yang tidak kalah mentereng dengan guru honorer, atau jenis pegawai bergaji rutin—di awal, tengah, dan akhir bulan.

Buku Bajakan dan Kabar Duka darinya

BBO adalah sebuah profesi. Sama seperti profesi lain, ia akan besar bila diseriusi dan dijalani dengan “hati”. Tetapi satu hal yang membedakannya dengan profesi lain adalah bahwa menjual buku, tidak sebatas tentang ketahanan dan kemapanan ekonomi pribadi. Berjualan buku, langsung bersentuhan dengan fakta persebaran literasi. Anda akan merasakan bangga bercampur haru—saya jelaskan di awal sebagai rasa mongkok tadi—ketika mengetahui bahwa, misalnya, ada lho remaja yang rutin membeli buku. Masih belum mati literasi sebagai gaya hidup.

Mendaras Puisi Emha: Ajari Aku Tidur

Saya pernah, dikunjungi saudara, mereka datang sebrayat. Anak saudara saya itu usia belasan (SMP-lah). Saya benar-benar merinding ketika melihat anak itu menenteng Sapiens-nya Noval Yuah Harari kemana-mana. Seakan buku tebal bermuka putih itu boneka kesayangannya. Sesekali ia membacanya, dengan mencari tempat duduk paling nyaman.

Rasa merinding berlanjut. Anak belasan tahun itu, ketika melihat koleksi buku-buku saya, ia asyik menyentuhi dan memilih buku dengan mata berbinar. Dengan masih mengempit Sapiens, tangan kiri mengambil otobiografi Mahatma Gandhi (berhalaman 700-an), tangan kanannya mengambil Mein Kampf yang juga tebal. Lantas, ia merengek ke ibunya, “Bu, beli ini ya. Ya…”. Ibunya mengecek kedua buku itu, menimbang-nimbang, “Satu dulu saja”. Dibelilah Mahatma Gandhi.  

Perasaan merinding lain, berkebalikan dengan mongkok, saya alami di lain waktu. Waktu itu saya sedang mengantar istri dan anak berbelanja alat tulis di toko tak jauh dari kampung kami. Naluri bakul buku membawa saya untuk menjelajah rak buku. Eh, beneran ada buku-buku bacaan dijual di sana. Saya amati judul per judul, saya perhatikan fisik buku. Ya Allah, ternyata buku-buku itu palsu, buku bajakan. Saya sudah bisa membedakan buku bajakan dengan buku asli sejak dari pandangan kedua dan ketiga. Lebih clear and distinct lagi ketika sudah memegangnya. Saya cek satu per satu, benar saja semua buku di toko itu bajakan. Lemas lunglai hati saya. Ternyata persebaran buku bajakan telah tiba di muka kampung-kampung dan perdesaan.

Pemakaman Harapan

Ada beberapa sebutan populer, merujuk pada buku bajakan. Kata “bajakan” sendiri jarang sekali (katakan tidak pernah) dipakai. Buku Ka-We, buku repro, buku non-ori, lebih sering digunakan secara bergantian. Jenis kertas dan kualitas penjilidan (binding) buku bajakan tak seragam. Beberapa buku bajakan bahkan lebih kokoh dari buku asli. Tetapi secara umum, buku bajakan dicirikan dengan ketajaman dan kejernihan cetakan yang acak adut seperti bercermin di ‘air keruh’. Penjilidan pun sama, ringkih. Tetapi sekali lagi, itu bukan jaminan. Satu-satunya kemampuan untuk dapat membedakan mana buku asli mana bajakan, hanyalah dengan sering-sering belanja, membaca dan merawat buku.

Jika boleh menyebut satu indikator terpenting untuk mengenali buku bajakan adalah dari sisi “harga”. Buku bajakan dibandrol dengan rumus penjumlahan kertas + tinta cetak + untung penjual. Alhasil, murahnya tak ketulungan. Sandingkan dengan kalkulasi harga buku resmi yang di luar bahan baku produksi, aliran uangnya harus mengairi desainer sampul, editor bahasa, editor isi, distributor resmi, royalti penulis, penjual dan seterusnya.

Rajah Gairah Selepas Percintaan Kata || Novel “Yang Tersisa Usai Bercinta”

Sebenarnya pelapak buku tidak bisa disalakan, walaupun nyatanya “salah”. Mereka sebatas untaian kedua terbawah dari hirarki rantai pembajakan. Untaian terakhir tentu saja pembeli. Mereka mencari untung paling banter lima sampai sepuluhan ribu dari penjualan per buku. Dan tak setiap saat laku. Bos sebenarnya adalah para godfather pembajakan yang menurut Muhidin M. Dahlan (mojok.co, 01/02/2019) beromset miliyaran rupiah. Bagaimana nasib para godfather itu? Sampai saat ini mereka masih leha-leha.

Beredarnya buku bajakan tidak hanya merugikan penulis buku dan penerbit saja, akan tetapi merembes ke seluruh galur perbukuan resmi. Pemerintah terkurangi pemasukan pajak, masyarakat termanipulasi cita rasa literasinya. Dan yang terpenting penulis buku, tersunat royalti karyanya.

Royalti sebuah “karya” adalah kebanggaan dan soko guru ekonomi penulis. Memang akan selalu ada penulis yang terus berkarya dengan tulus dengan atau tanpa kepastian royalti. Tetapi, jika mau realistis dan pragmatis, berapa orang serta sampai kapan mereka dapat bertahan?

Kendati demikian, harapan belum sepenuhnya bernisan. Para penggerak literasi, termasuk jaringan bakul buku selalu bergerak mengkampanyekan sadisnya buku bajakan. Mungkin akan menjadi wacana menarik bila tema “mengubur buku bajakan” diseriusi para politisi. Dibuatkan perangkat regulasi dan unit Satgas khusus anti buku bajakan. Tetapi, kemungkinan ini entah harus menunggu berapa generasi lagi.

Kritik Sastra “Pribumi”: Teoritisasi atau Cita Rasa?

Kalau mau membuat harapan serius, saya lebih berharap dibuat regulasi “subsidi literasi”. Harga kertas, kemudahan pameran, perluasan sosialisasi dan seluruh perabot percetakan buku diberikan ekosistem sendiri. Jika buku-buku bisa dijual murah, maka industri pembajakan akan menyusut dan tidak diminati lagi. Para godfather buku bajakan akan lebih bergairah berpindah ke bisnis minyak goreng, misalnya.

Iklim pembajakan buku, akan menyumbang munculnya berita-berita pemakaman penerbit dan toko-toko buku resmi. Lamat-lamat mulai hinggap rasa merinding, membayangkan akan berjejer karangan bunga dari para pembajak buku. Dengan ungkapan warna-warni, terbaca “Turut Berduka atas Meninggalnya Literasi Negeri Ini”. Ngeri ..

Tetapi bagaimana jika pilihannya hanya dua, membaca buku bajakan atau tidak membaca sama sekali? [T]

Tags: Bukubuku bajakanLiterasiminat bacapembajakan buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gél di Nusa Penida, Gélgél di Klungkung dan Gegélan di Bali

Next Post

Gurat Memoar | Tutorial Aplikasi “Pengerusan” ala Seniman Kamasan

Akhmad Faozi Sundoyo

Akhmad Faozi Sundoyo

Penulis adalah pembelajar Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram. S1 Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Momong anak lanang dan penikmat literasi. Domisili di Pundong, Bantul, Yogyakarta.

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Gurat Memoar | Tutorial Aplikasi “Pengerusan” ala Seniman Kamasan

Gurat Memoar | Tutorial Aplikasi “Pengerusan” ala Seniman Kamasan

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co