2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berjaga Terus Pada Kawasan Sedih dan Haru

Ricko Wibawa by Ricko Wibawa
December 1, 2021
in Esai
Berjaga Terus Pada Kawasan Sedih dan Haru

Ricko Wibawa

Suatu hari saya bertemu dua anak, kakak-beradik, di wilayah Kabupaten Buleleng. Satu anak usianya 6 tahun, satu lagi 4 tahun. Mereka terinfeksi HIV. Dan betapa sedih saya melihatnya saat itu.

Di situ saya merasa begitu merasakan betapa si anak harus menerima status HIV dari perbuatan orang tuanya. Sungguh sangatlah tidak adil, apalagi usia mereka masih anak-anak, dan sedang ceria-cerianya menikmati permainan masa kecil.

Saya kerap mengajak dua anak itu bermain. Si anak tampak tanpa beban, tak paham apa yang sedang bersemayam di tubuh mereka. Itu membuat saya makin sedih. Dan yang lebih menyedihkan lagi, saat seharusnya si anak bisa menjalani harinya dengan ceria, justru hidupnya berakhir karena pada saat itu akses untuk melakukan pengobatan belum seperti saat ini, apalagi untuk seorang anak seusia mereka.

Itu adalah pengalaman pertama saya sejak menjadi aktivis pendampingan ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) di Buleleng. Pengalaman itu sangat membekas. Tidak membuat saya kapok, justru membuat saya semakin yakin bahwa apa yang saya kerjakan selama ini bukanlah pekerjaan sia-sia. Ada orang tak mampu mengungkapkan betapa ia memerlukan bantuan, dan orang itu memang harus dibantu.

Awal Mula Jadi Aktivis HIV/AIDS

Agustus 1998, saya bergabung dengan Yayasan Citra Usadha Indonesia (YCUI) setelah ikut melakukan kegiatan sosialisasi HIV/AIDS di Lovina. Saat itu saya merasa tertarik untuk ikut terlibat. Alasannya sederhana saat pelaksanaan kegiatan di lapangan saya bisa bertemu dengan teman-teman baru. Selain itu  saya merasa tertantang saja untuk ikut mensosialisasikan bahaya HIV.

Pekerjaan saya saat itu membagikan kondom. Itu menyenangkan.

Setelah terlibat dalam kegiatan sosialisasi, saya kemudian mengikuti kegiatan pelatihan Relawan HIV di tahun yang sama. Dalam pelatihan itu saya diberikan pembekalan pemahaman dan keterampilan serta starategi untuk melakukan kegiatan penyebaran informasi di kalangan remaja yang memiliki resiko terhadap penularan HIV.

Setahun mendapatkan pelatihan sebagai relawan kemudian dilibatkan dalam program untuk melakukan kegiatan penjangkauan dan  pendampingan pada kelompok-kelompok beresiko seperti kawan-kawan di komunitas gay/waria, para remaja beresiko yang sering berada di jalanan, warung-warung patokan dan kawan-kawan di lokasi prostitusi.

Di berjalannya program-program itu saya dipercaya sebagai Koordinator Pos atau Drop in Centre bernama POLENG (Pos Informasi AIDS Buleleng) yang berlokasi di Jalan Gajah Mada Singaraja.

Dalam pelaksanaan kegiatan sebagai koordinator pos informasi saya memiliki kewajiban untuk memberikan informasi di pos dengan tetap melakukan kegiatan penjangkauan ke lapangaan dan diberikan kebebasan untuk pengembangan-pengembangan program kegiatan sebagai penunjang kegiatan di pos.

Untuk melengkapi informasi di pos dan kegiatan lapangan saya kemudian melakukan kerjasama dengan dokter praktek swasta,  beberapa perawat dan bidan, untuk menjadi mitra rujukan penanganan penyakit kelamin yang pada waktu itu banyak ditemukan di lapangan. Selain itu saya bersama teman di POLENG memohon dukungan pada pemangku kebijakan untuk kemudahan melakukan kegiatan di lokasi lokasi tertentu.

Sosialisasi ke kafe dan warung-warung tuak

Saya juga bekerjasama dengan radio dan kawan-kawan wartawan untuk penyebarluasan informasi HIV ke masyarakat. Juga memanfaatkan event-event  hiburan rakyat untuk membuka stand informasi dan  melakukan kegiatan bersama di lokasi lokasi yang ramai pengunjung.

Selain itu kami juga melakukan advokasi pada pemerintaha daerah dan menginisiasi pembentukan  klinik  IMS (infeksi Penyakit Kelamin) dan Klinik VCT di Singraja. 

Kasus HIV Pertama

Setelah setahun melakukan program sosialisasi, terjadilah kasus HIV pertama di Buleleng, tahun 1999. Kasus pertama itu membuat warga kaget. Beritanya di media massa terus dibicarakan.

Sebelumnya, saat melakukan sosialisai banyak sekali warga yang kurang percaya (meboye) akan kebenaran kasus HIV. Namun sejak terjadinya kasus pertama itu, warga lambat-laun menjadi percaya. Ini membuat kami sebagai penggiat semakin bersemangat untuk menyebarkan informasi di lapangan.

Pekerjaan kami pun bertambah. Bukan hanya sosialisasi, melainkan mulai belajar ketrampilan tambahan untuk bisa melakukan pendampingan pada orang orang dengan HIV.   Untuk pendampingan saya diberikan pelatihan sebagai buddies yang berperan untuk bisa melakukan kegiatan pendampingan pada Odha.

Dengan semakin meningkatkan jumlah kasus yang ada di Buleleng, kami di Yayasan Citra Usadha Indonesia juga dibekali dengan pelatihan konselor yang diselengarakan oleh Kementerian Kesehatan untuk membantu kelompok kelompok resiko tinggi yang memiliki keinginan untuk melakukan pemeriksaan darah HIV.

Nama POLENG pun mulai dikenal sebagai sumber informasi HIV di Kabupaten Bulelen. Untuk mendekatkan layanan informasi Pos POLENG dipindahkan ke lokasi prostitusi di Bungkulan. Di lokasi prostitusi ini, selain memberikan informasi pada pengunjung lokasi dan kawan kawan pekerja prostitusi POLENG juga rutin melakukan kegiatan pemeriksaan penyakit kelamin dan test HIV di lokasi, bekerjasama dengan Puskesmas Sawan I sebegai pemegang wilayah.

Selain sebagai petugas lapangan dan koordinator POLENG, setelah mendapatkan pelatihan konselor saya juga terlibat sebagai konselor tetap di Klinik VCT RSUD Singaraja, rumah sakit swasta yang ada di Singaraja, serta laboratorium swasta yang ada di Singaraja. Dan saya pun ditunjuk sebagai koordinator program Yayasan Citra Usadha Indonesia di wilayah program Buleleng.

Sosialisasi kepada mahasiswa dan masyarakat umum

Sampai saat ini saya sendiri masih terlibat dalam pelaksanaan kegiatan program Pencegahan dan Penanggulanagn HIV/AIDS di Kabupaten Buleleng sebagai petugas lapangan di YCUI dan KPA Kabupaten Buleleng untuk melakukan penjangkauan dan peningkatan pemahaman  pada kawan-kawan pekerja perempuan di warung tuak dan café. Saya terus memotivasi mereka untuk melakukan pemeriksaan darah HIV.

Selain itu saya juga melakukan konseling dan pendampingan pada kelompok-kelompok resiko dan masyarakat umum, memberikan pendampingan pada Odha, baik rujukan dari rumah sakit swasta, rujukan atau informasi dari teman serta melakukan koordinasi dengan kawan-kawan penggiat sosial lainnya untuk membantu pelaksanaan kegiatan bersama.

Wilayah Sedih dan Haru, Kadang Lucu

Pengalaman mengharukan saat bertemu dua anak sebagaimana cerita saya di awal tulisan adalah pengalaman pertama. Artinya, selama sekitar 23 tahun saya bergelut menjadi aktivis HIV/AIDS saya kemudian menmukan banyak cerita sejenis yang bahkan lebih mengharukan.  Misalnya ada satu keluarga putung, akibat semua anggota keluarga terkena HIV/AIDS.

Namun begitu, terdapat juga pengalaman menarik, kadang lucu, dalam menjalankan rutinitas sebagai penggiat HIV. Saat keluar masuk lokasi prostitusi dan tempat hiburan malam terkadang kita digoda oleh kawan-kawan pekerja malam yang belum mengenal aktivitas kita. Kita dikira pelanggan.

Kawan kawan dari kalangan gay/waria yang baru terlibat di komunitasnya juga terkadang menganggap kita sebagai calon pelanggan mereka. Ketika diberitahu oleh temannya yang sudah tahu siapa saya dan untuk apa datang ke lokasi mereka mangkal, barulah kawan-kawan gay/waria itu mengerti.

Beberapa teman yang tidak mengetahui kegiatan kita juga selalu menganggap kalau kita bagian dari kelompok yang berisiko dan teman yang sudah mengenal kita sering meminta dicarikan pekerja seks perempuan karena mereka menganggap kita seperti mucikari. Lucunya saat bertemu dengan teman di lokasi prostisusi banyak diantara mereka yang menghindar dan kalaupun terpaksa harus menyapa terkadang mereka menanyakan seakan-akan tak tahu apa-apa. “Tempat apa ini, Cko?” katanya seperti linglung.

Yang lucu lagi, saat melakukan sosialisasi ke desa maupun kelurahan yang ada di Kabupaten Buleleng beberapa orang malah mengira bukan kami yang akan memberikan sosialisai karena tampilan kami yang kurang meyakinkan. Maklum, penampilan saya sendiri memang apa adanya, karena memang tak ada apa-apa.

Ini sungguh menggelikan. Karena sering masuk ke layanan kesehatan, banyak teman yang saya ajak sebagai sesame penggiat dikira juga penderita HIV.

Satelit ARV di Puskesma

Ini info terbaru. Sejak tidak ditanggungnya jaminan kesehatan BPJS (untuk rujukan dan administrasi RS) untuk pengambilan obat ARV gratis di rumah sakit,  beberapa ODHA mengeluh karena tidak memiliki biaya untuk datang ke RS.

Sehingga akhirnya kawan-kawan penggiat menginisiasi untuk membuat satelit ARV di Puskesmas sebagai perpanjangan tangan RS untuk mengakses obat ARV tanpa biaya. Sebelum mendapatkan akses pengambilan obat ARV di Puskesmas ada ketentuan yang diwajibkan, salah satunya Odha sudah adderen (patuh minum obat tidak pernah terlambat) selama 6 bulan, dan mendapatkan rujukan pindahan dari RS ke Puskesmas tujuan untuk memudahkan pencatatan administrasi dan amprahan obat.

Jadi puskesmas berperan untuk melakukan amprah obat, pelaporan obat dan mendekatkan akses ARV pada ODHA. Jika ada keluhan terhadap pengobatan  Puskesmas berperan untuk memberikan rujukan ke RS untuk penangannya. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Memikirkan Kembali Tradisi, Adat Istiadat dan Budaya Bali dalam “Wanita Amerika Dibunuh di Ubud”

Next Post

Layar Terkembang Indonesian Dance Festival Kembali Mengarung!

Ricko Wibawa

Ricko Wibawa

Penggiat sosialisasi bahaya HIV/AIDS. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Layar Terkembang Indonesian Dance Festival Kembali Mengarung!

Layar Terkembang Indonesian Dance Festival Kembali Mengarung!

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co