2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berjaga Terus Pada Kawasan Sedih dan Haru

Ricko Wibawa by Ricko Wibawa
December 1, 2021
in Esai
Berjaga Terus Pada Kawasan Sedih dan Haru

Ricko Wibawa

Suatu hari saya bertemu dua anak, kakak-beradik, di wilayah Kabupaten Buleleng. Satu anak usianya 6 tahun, satu lagi 4 tahun. Mereka terinfeksi HIV. Dan betapa sedih saya melihatnya saat itu.

Di situ saya merasa begitu merasakan betapa si anak harus menerima status HIV dari perbuatan orang tuanya. Sungguh sangatlah tidak adil, apalagi usia mereka masih anak-anak, dan sedang ceria-cerianya menikmati permainan masa kecil.

Saya kerap mengajak dua anak itu bermain. Si anak tampak tanpa beban, tak paham apa yang sedang bersemayam di tubuh mereka. Itu membuat saya makin sedih. Dan yang lebih menyedihkan lagi, saat seharusnya si anak bisa menjalani harinya dengan ceria, justru hidupnya berakhir karena pada saat itu akses untuk melakukan pengobatan belum seperti saat ini, apalagi untuk seorang anak seusia mereka.

Itu adalah pengalaman pertama saya sejak menjadi aktivis pendampingan ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) di Buleleng. Pengalaman itu sangat membekas. Tidak membuat saya kapok, justru membuat saya semakin yakin bahwa apa yang saya kerjakan selama ini bukanlah pekerjaan sia-sia. Ada orang tak mampu mengungkapkan betapa ia memerlukan bantuan, dan orang itu memang harus dibantu.

Awal Mula Jadi Aktivis HIV/AIDS

Agustus 1998, saya bergabung dengan Yayasan Citra Usadha Indonesia (YCUI) setelah ikut melakukan kegiatan sosialisasi HIV/AIDS di Lovina. Saat itu saya merasa tertarik untuk ikut terlibat. Alasannya sederhana saat pelaksanaan kegiatan di lapangan saya bisa bertemu dengan teman-teman baru. Selain itu  saya merasa tertantang saja untuk ikut mensosialisasikan bahaya HIV.

Pekerjaan saya saat itu membagikan kondom. Itu menyenangkan.

Setelah terlibat dalam kegiatan sosialisasi, saya kemudian mengikuti kegiatan pelatihan Relawan HIV di tahun yang sama. Dalam pelatihan itu saya diberikan pembekalan pemahaman dan keterampilan serta starategi untuk melakukan kegiatan penyebaran informasi di kalangan remaja yang memiliki resiko terhadap penularan HIV.

Setahun mendapatkan pelatihan sebagai relawan kemudian dilibatkan dalam program untuk melakukan kegiatan penjangkauan dan  pendampingan pada kelompok-kelompok beresiko seperti kawan-kawan di komunitas gay/waria, para remaja beresiko yang sering berada di jalanan, warung-warung patokan dan kawan-kawan di lokasi prostitusi.

Di berjalannya program-program itu saya dipercaya sebagai Koordinator Pos atau Drop in Centre bernama POLENG (Pos Informasi AIDS Buleleng) yang berlokasi di Jalan Gajah Mada Singaraja.

Dalam pelaksanaan kegiatan sebagai koordinator pos informasi saya memiliki kewajiban untuk memberikan informasi di pos dengan tetap melakukan kegiatan penjangkauan ke lapangaan dan diberikan kebebasan untuk pengembangan-pengembangan program kegiatan sebagai penunjang kegiatan di pos.

Untuk melengkapi informasi di pos dan kegiatan lapangan saya kemudian melakukan kerjasama dengan dokter praktek swasta,  beberapa perawat dan bidan, untuk menjadi mitra rujukan penanganan penyakit kelamin yang pada waktu itu banyak ditemukan di lapangan. Selain itu saya bersama teman di POLENG memohon dukungan pada pemangku kebijakan untuk kemudahan melakukan kegiatan di lokasi lokasi tertentu.

Sosialisasi ke kafe dan warung-warung tuak

Saya juga bekerjasama dengan radio dan kawan-kawan wartawan untuk penyebarluasan informasi HIV ke masyarakat. Juga memanfaatkan event-event  hiburan rakyat untuk membuka stand informasi dan  melakukan kegiatan bersama di lokasi lokasi yang ramai pengunjung.

Selain itu kami juga melakukan advokasi pada pemerintaha daerah dan menginisiasi pembentukan  klinik  IMS (infeksi Penyakit Kelamin) dan Klinik VCT di Singraja. 

Kasus HIV Pertama

Setelah setahun melakukan program sosialisasi, terjadilah kasus HIV pertama di Buleleng, tahun 1999. Kasus pertama itu membuat warga kaget. Beritanya di media massa terus dibicarakan.

Sebelumnya, saat melakukan sosialisai banyak sekali warga yang kurang percaya (meboye) akan kebenaran kasus HIV. Namun sejak terjadinya kasus pertama itu, warga lambat-laun menjadi percaya. Ini membuat kami sebagai penggiat semakin bersemangat untuk menyebarkan informasi di lapangan.

Pekerjaan kami pun bertambah. Bukan hanya sosialisasi, melainkan mulai belajar ketrampilan tambahan untuk bisa melakukan pendampingan pada orang orang dengan HIV.   Untuk pendampingan saya diberikan pelatihan sebagai buddies yang berperan untuk bisa melakukan kegiatan pendampingan pada Odha.

Dengan semakin meningkatkan jumlah kasus yang ada di Buleleng, kami di Yayasan Citra Usadha Indonesia juga dibekali dengan pelatihan konselor yang diselengarakan oleh Kementerian Kesehatan untuk membantu kelompok kelompok resiko tinggi yang memiliki keinginan untuk melakukan pemeriksaan darah HIV.

Nama POLENG pun mulai dikenal sebagai sumber informasi HIV di Kabupaten Bulelen. Untuk mendekatkan layanan informasi Pos POLENG dipindahkan ke lokasi prostitusi di Bungkulan. Di lokasi prostitusi ini, selain memberikan informasi pada pengunjung lokasi dan kawan kawan pekerja prostitusi POLENG juga rutin melakukan kegiatan pemeriksaan penyakit kelamin dan test HIV di lokasi, bekerjasama dengan Puskesmas Sawan I sebegai pemegang wilayah.

Selain sebagai petugas lapangan dan koordinator POLENG, setelah mendapatkan pelatihan konselor saya juga terlibat sebagai konselor tetap di Klinik VCT RSUD Singaraja, rumah sakit swasta yang ada di Singaraja, serta laboratorium swasta yang ada di Singaraja. Dan saya pun ditunjuk sebagai koordinator program Yayasan Citra Usadha Indonesia di wilayah program Buleleng.

Sosialisasi kepada mahasiswa dan masyarakat umum

Sampai saat ini saya sendiri masih terlibat dalam pelaksanaan kegiatan program Pencegahan dan Penanggulanagn HIV/AIDS di Kabupaten Buleleng sebagai petugas lapangan di YCUI dan KPA Kabupaten Buleleng untuk melakukan penjangkauan dan peningkatan pemahaman  pada kawan-kawan pekerja perempuan di warung tuak dan café. Saya terus memotivasi mereka untuk melakukan pemeriksaan darah HIV.

Selain itu saya juga melakukan konseling dan pendampingan pada kelompok-kelompok resiko dan masyarakat umum, memberikan pendampingan pada Odha, baik rujukan dari rumah sakit swasta, rujukan atau informasi dari teman serta melakukan koordinasi dengan kawan-kawan penggiat sosial lainnya untuk membantu pelaksanaan kegiatan bersama.

Wilayah Sedih dan Haru, Kadang Lucu

Pengalaman mengharukan saat bertemu dua anak sebagaimana cerita saya di awal tulisan adalah pengalaman pertama. Artinya, selama sekitar 23 tahun saya bergelut menjadi aktivis HIV/AIDS saya kemudian menmukan banyak cerita sejenis yang bahkan lebih mengharukan.  Misalnya ada satu keluarga putung, akibat semua anggota keluarga terkena HIV/AIDS.

Namun begitu, terdapat juga pengalaman menarik, kadang lucu, dalam menjalankan rutinitas sebagai penggiat HIV. Saat keluar masuk lokasi prostitusi dan tempat hiburan malam terkadang kita digoda oleh kawan-kawan pekerja malam yang belum mengenal aktivitas kita. Kita dikira pelanggan.

Kawan kawan dari kalangan gay/waria yang baru terlibat di komunitasnya juga terkadang menganggap kita sebagai calon pelanggan mereka. Ketika diberitahu oleh temannya yang sudah tahu siapa saya dan untuk apa datang ke lokasi mereka mangkal, barulah kawan-kawan gay/waria itu mengerti.

Beberapa teman yang tidak mengetahui kegiatan kita juga selalu menganggap kalau kita bagian dari kelompok yang berisiko dan teman yang sudah mengenal kita sering meminta dicarikan pekerja seks perempuan karena mereka menganggap kita seperti mucikari. Lucunya saat bertemu dengan teman di lokasi prostisusi banyak diantara mereka yang menghindar dan kalaupun terpaksa harus menyapa terkadang mereka menanyakan seakan-akan tak tahu apa-apa. “Tempat apa ini, Cko?” katanya seperti linglung.

Yang lucu lagi, saat melakukan sosialisasi ke desa maupun kelurahan yang ada di Kabupaten Buleleng beberapa orang malah mengira bukan kami yang akan memberikan sosialisai karena tampilan kami yang kurang meyakinkan. Maklum, penampilan saya sendiri memang apa adanya, karena memang tak ada apa-apa.

Ini sungguh menggelikan. Karena sering masuk ke layanan kesehatan, banyak teman yang saya ajak sebagai sesame penggiat dikira juga penderita HIV.

Satelit ARV di Puskesma

Ini info terbaru. Sejak tidak ditanggungnya jaminan kesehatan BPJS (untuk rujukan dan administrasi RS) untuk pengambilan obat ARV gratis di rumah sakit,  beberapa ODHA mengeluh karena tidak memiliki biaya untuk datang ke RS.

Sehingga akhirnya kawan-kawan penggiat menginisiasi untuk membuat satelit ARV di Puskesmas sebagai perpanjangan tangan RS untuk mengakses obat ARV tanpa biaya. Sebelum mendapatkan akses pengambilan obat ARV di Puskesmas ada ketentuan yang diwajibkan, salah satunya Odha sudah adderen (patuh minum obat tidak pernah terlambat) selama 6 bulan, dan mendapatkan rujukan pindahan dari RS ke Puskesmas tujuan untuk memudahkan pencatatan administrasi dan amprahan obat.

Jadi puskesmas berperan untuk melakukan amprah obat, pelaporan obat dan mendekatkan akses ARV pada ODHA. Jika ada keluhan terhadap pengobatan  Puskesmas berperan untuk memberikan rujukan ke RS untuk penangannya. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Memikirkan Kembali Tradisi, Adat Istiadat dan Budaya Bali dalam “Wanita Amerika Dibunuh di Ubud”

Next Post

Layar Terkembang Indonesian Dance Festival Kembali Mengarung!

Ricko Wibawa

Ricko Wibawa

Penggiat sosialisasi bahaya HIV/AIDS. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Layar Terkembang Indonesian Dance Festival Kembali Mengarung!

Layar Terkembang Indonesian Dance Festival Kembali Mengarung!

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co