2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengenang Bom Bali, Mengingat “Bali Black October” Karya Wayan Gawiarta

I Gede Made Surya Darma by I Gede Made Surya Darma
October 12, 2021
in Esai
Mengenang Bom Bali, Mengingat “Bali Black October” Karya Wayan Gawiarta

I Wayan Gawiarta bersama karya patung Bali Black October

12 Oktober 2021 ini kita memperingati tragedi Bom Bali, di mana terjadinya ledakan di Paddy’s Pub dan Sari Club (SC), Jalan Legian, Kuta, dan ledakan terakhir di Konsulat Jendral Amerika Serikat. Tragedi dinihari 12 Oktober 2002 itu menghilangkan nyawa warga negara asing dan lokal. Tercatat 203 korban jiwa dan 209 korban luka-luka. Peristiwa itu dianggap sebagai peristiwa terorisme yang paling parah dalam sejarah Indonesia.

Sekira setahun kemudian, seniman patung I Wayan Gawiarta, lulusan ISI Yogyakarta, terketuk hatinya untuk mengekspresiakan kesedihan itu dalam karya seni patung. Patung karyanya itu sempat dipamerkan dalam pameran 32 Tahun Sanggar Dewata Indonesia di Taman Budaya Yogyakarta, 2003.Karya itu muncul semasa Gawiarta menempuh pendidikan di Fakultas Seni Rupa Jurusan Seni Patung semester VI di ISI Yogyakarta.

Awalnya I Wayan Gawiarta makan di sebuah warung makan di dekat studio pelukis Bali, I Made Arya Palguna. Saat itu ia membaca dan mendengar berita duka yang melanda Bali. Suasana hatinya seketika kacau. Ia memikirkan keluarga dan teman-temannya di Bali. Apalagi adiknya yang masih SMA tinggal di Denpasar berdekatan dengan pristiwa terjadinya Bomb Bali.

Khawatir adiknya menjadi korban, dan mencoba menghubungi sanak keluarganya di Bali. Waktu orang punya HP belum sebanyak sekarang. Ia menelpon keluarga dengan meminjam HP pada Om Tembong yang adalah tuan rumah seniman Putu Sutawijaya.
Satu pun sanak keluarga dan temannya yang dihubungi tidak bisa nyambung. Suasana sedih dan duka mendalam menyaksikan berita di televisi membuat hancur suasana hati I Wayan Gawiarta.

Akhirny muncul ide untuk mengabadikan kejadian itu ke dalam sebuah karya seni patung. Karya seni patung itu diberi judul “Bali Black October”. Bahan yang digunakan karung goni dan resin. Dibuat sedemikian rupa seperti tiga sosok, yakni sosok perempuan, laki laki dewasa dan seorang anak. Sosok itu berjubah seperti penggabaran malaikat pecabut nyawa. Suasana kelam dan gelap serta kesediahan seakan terwujud dalam patung itu.

Di Bali, oleh warga Bali, kejadian kelam itu disikapi dengan melakukan upacara besar, mecaru. Tidak ada perlawanan, hanya melakukan intropeksi, doa bersama, dan berserah kepada yang Maha Kuasa, atas tindakan teroris yang tidak bermoral itu.

Karya patung I Wayan Gawiarta dipamerkan pada pameran 32 tahun Sanggar Dewata Indonesia, pada tahun 2003, di Gedung Taman Budaya Yogyakarta. Pameran itu diikuti oleh 91 seniman dan ada 100 karya yang dipamerkan.

Selain Gawiarta, beberapa seniman yang ikut dalam pameran tersebut adalah sejumlah tokoh seniman Sanggar Dewata Indonesia yang masih tinggal di Jogjakarta. Antara lain Pande Ketut Taman dengan karya sepeda ontel yang dikomposisikan sedemikan rupa secara artistik. Putu Sutawijaya dengan karya periode kontemplasi. Ia melukiskan sosok manusia dengan goresan spontan.

Lalu ada juga Made Sukadana, I Nyoman Sukarai dan I Made Toris Mahendra dengan lukisan abstraknya. Gusti Nengah Nurata dengan karya drawingnya yang melukiskan makhluk imajiner. Itu adalah karya dengan ciri khas surealisme yang biasa dianut Nurata.

Ada juga Nyoman Adiana dengan lukisan Dar Der Dor. Karya itu melukiskan manusia yang berjubah dengan komposisi sedemikian rupa: sosok saling berhadapan dengan memegang pistol. Begitu juga Made Arya Palguna, I Nyoman Sudarna Putra, I Gusti Ngurah Udiantara (Tantin), Nyoman Suyasa, I Made Sadnyana, I Wayan Wirawan, dan I Nyoman Triarta sebagai penggagas dan mempopulerkan karya-karya piguratif di Indonesia dengan persepsi barunya.

I Ketut Suwidiarta dengan lukisan sarkasme parodinya yang jenaka. Idabagus Punia Atmaja, I Made Bakti Wiyasa, I Made Widyadiputra, I Gusti Ngurah Udianata (karya patung sebelum periode bambu), Made Arya Dedok, Made Arya Sucitra, dan saya sendiri (I Gede Made Surya Darma) juga ikut terlibat dalam pameran itu.

Pameran Sanggar Dewata Indonesia waktu itu menampilkan keberagaman ekspresi. Setiap angkatan memunculkan kreativitas baru dan gaya berkesenian, dan selalu ingin berbeda dengan para pendahulu. Semangat kebersamaan antara junior dan senior sangat terjaga waktu itu, bergerak bergotong royong dalam mewujudkan pameran. Yang menarik, pameran selalu diselingi acara ngelawar.

Ketua panitia pameran waktu itu adalah Made Arya Parwita. Tema pameran bebas, sehingga masing-masing seniman secara bebas memberi isu-isu penting pada saat itu. Ada yang merespon isu sosial, politik, maupun budaya popular, dan ada yang merespon Bom Bali sebagaimana dilakukan I Wayan Gawiarta. Memang, dalam proses mewujudkan pameran tersebut, masing-masing punya cara untuk mengobati rasa rindu dengan kampung halaman di Bali.

Nama yang memang mencuri perhatian pada pameran itu tentu saja I Wayan Gawiarta dengan karyanya yang berjudul “Bali Black October” yang menggambarkan peristiwa kelam tragedi Bom Bali. Sejumlah media yang menuliskan pemeran 32 tahun Sanggar Dewata Indonesia, banyak yang menggunakan foto karya I Wayan Gawiarta. Karya Wayan Gawiarta itu seakan memberi refleksi sekaligus kebangkitan di tengah suasana sedih dan duka mendalam yang masih membekas setelah terjadinya Bom Bali. [T]

Tags: Bom BaliPameran Seni RupaSeni RupaTragedi Bom Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rahasia Madu untuk Kesehatan

Next Post

Ibudaya Festival | Tubuh yang Tegang, Marwah Jasmine Okubo

I Gede Made Surya Darma

I Gede Made Surya Darma

Pelukis. Lulusan ISI Yogyakarta. Founder Lepud Art Management

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Ibudaya Festival | Tubuh yang Tegang, Marwah Jasmine Okubo

Ibudaya Festival | Tubuh yang Tegang, Marwah Jasmine Okubo

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co