12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengenang Bom Bali, Mengingat “Bali Black October” Karya Wayan Gawiarta

I Gede Made Surya Darma by I Gede Made Surya Darma
October 12, 2021
in Esai
Mengenang Bom Bali, Mengingat “Bali Black October” Karya Wayan Gawiarta

I Wayan Gawiarta bersama karya patung Bali Black October

12 Oktober 2021 ini kita memperingati tragedi Bom Bali, di mana terjadinya ledakan di Paddy’s Pub dan Sari Club (SC), Jalan Legian, Kuta, dan ledakan terakhir di Konsulat Jendral Amerika Serikat. Tragedi dinihari 12 Oktober 2002 itu menghilangkan nyawa warga negara asing dan lokal. Tercatat 203 korban jiwa dan 209 korban luka-luka. Peristiwa itu dianggap sebagai peristiwa terorisme yang paling parah dalam sejarah Indonesia.

Sekira setahun kemudian, seniman patung I Wayan Gawiarta, lulusan ISI Yogyakarta, terketuk hatinya untuk mengekspresiakan kesedihan itu dalam karya seni patung. Patung karyanya itu sempat dipamerkan dalam pameran 32 Tahun Sanggar Dewata Indonesia di Taman Budaya Yogyakarta, 2003.Karya itu muncul semasa Gawiarta menempuh pendidikan di Fakultas Seni Rupa Jurusan Seni Patung semester VI di ISI Yogyakarta.

Awalnya I Wayan Gawiarta makan di sebuah warung makan di dekat studio pelukis Bali, I Made Arya Palguna. Saat itu ia membaca dan mendengar berita duka yang melanda Bali. Suasana hatinya seketika kacau. Ia memikirkan keluarga dan teman-temannya di Bali. Apalagi adiknya yang masih SMA tinggal di Denpasar berdekatan dengan pristiwa terjadinya Bomb Bali.

Khawatir adiknya menjadi korban, dan mencoba menghubungi sanak keluarganya di Bali. Waktu orang punya HP belum sebanyak sekarang. Ia menelpon keluarga dengan meminjam HP pada Om Tembong yang adalah tuan rumah seniman Putu Sutawijaya.
Satu pun sanak keluarga dan temannya yang dihubungi tidak bisa nyambung. Suasana sedih dan duka mendalam menyaksikan berita di televisi membuat hancur suasana hati I Wayan Gawiarta.

Akhirny muncul ide untuk mengabadikan kejadian itu ke dalam sebuah karya seni patung. Karya seni patung itu diberi judul “Bali Black October”. Bahan yang digunakan karung goni dan resin. Dibuat sedemikian rupa seperti tiga sosok, yakni sosok perempuan, laki laki dewasa dan seorang anak. Sosok itu berjubah seperti penggabaran malaikat pecabut nyawa. Suasana kelam dan gelap serta kesediahan seakan terwujud dalam patung itu.

Di Bali, oleh warga Bali, kejadian kelam itu disikapi dengan melakukan upacara besar, mecaru. Tidak ada perlawanan, hanya melakukan intropeksi, doa bersama, dan berserah kepada yang Maha Kuasa, atas tindakan teroris yang tidak bermoral itu.

Karya patung I Wayan Gawiarta dipamerkan pada pameran 32 tahun Sanggar Dewata Indonesia, pada tahun 2003, di Gedung Taman Budaya Yogyakarta. Pameran itu diikuti oleh 91 seniman dan ada 100 karya yang dipamerkan.

Selain Gawiarta, beberapa seniman yang ikut dalam pameran tersebut adalah sejumlah tokoh seniman Sanggar Dewata Indonesia yang masih tinggal di Jogjakarta. Antara lain Pande Ketut Taman dengan karya sepeda ontel yang dikomposisikan sedemikan rupa secara artistik. Putu Sutawijaya dengan karya periode kontemplasi. Ia melukiskan sosok manusia dengan goresan spontan.

Lalu ada juga Made Sukadana, I Nyoman Sukarai dan I Made Toris Mahendra dengan lukisan abstraknya. Gusti Nengah Nurata dengan karya drawingnya yang melukiskan makhluk imajiner. Itu adalah karya dengan ciri khas surealisme yang biasa dianut Nurata.

Ada juga Nyoman Adiana dengan lukisan Dar Der Dor. Karya itu melukiskan manusia yang berjubah dengan komposisi sedemikian rupa: sosok saling berhadapan dengan memegang pistol. Begitu juga Made Arya Palguna, I Nyoman Sudarna Putra, I Gusti Ngurah Udiantara (Tantin), Nyoman Suyasa, I Made Sadnyana, I Wayan Wirawan, dan I Nyoman Triarta sebagai penggagas dan mempopulerkan karya-karya piguratif di Indonesia dengan persepsi barunya.

I Ketut Suwidiarta dengan lukisan sarkasme parodinya yang jenaka. Idabagus Punia Atmaja, I Made Bakti Wiyasa, I Made Widyadiputra, I Gusti Ngurah Udianata (karya patung sebelum periode bambu), Made Arya Dedok, Made Arya Sucitra, dan saya sendiri (I Gede Made Surya Darma) juga ikut terlibat dalam pameran itu.

Pameran Sanggar Dewata Indonesia waktu itu menampilkan keberagaman ekspresi. Setiap angkatan memunculkan kreativitas baru dan gaya berkesenian, dan selalu ingin berbeda dengan para pendahulu. Semangat kebersamaan antara junior dan senior sangat terjaga waktu itu, bergerak bergotong royong dalam mewujudkan pameran. Yang menarik, pameran selalu diselingi acara ngelawar.

Ketua panitia pameran waktu itu adalah Made Arya Parwita. Tema pameran bebas, sehingga masing-masing seniman secara bebas memberi isu-isu penting pada saat itu. Ada yang merespon isu sosial, politik, maupun budaya popular, dan ada yang merespon Bom Bali sebagaimana dilakukan I Wayan Gawiarta. Memang, dalam proses mewujudkan pameran tersebut, masing-masing punya cara untuk mengobati rasa rindu dengan kampung halaman di Bali.

Nama yang memang mencuri perhatian pada pameran itu tentu saja I Wayan Gawiarta dengan karyanya yang berjudul “Bali Black October” yang menggambarkan peristiwa kelam tragedi Bom Bali. Sejumlah media yang menuliskan pemeran 32 tahun Sanggar Dewata Indonesia, banyak yang menggunakan foto karya I Wayan Gawiarta. Karya Wayan Gawiarta itu seakan memberi refleksi sekaligus kebangkitan di tengah suasana sedih dan duka mendalam yang masih membekas setelah terjadinya Bom Bali. [T]

Tags: Bom BaliPameran Seni RupaSeni RupaTragedi Bom Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rahasia Madu untuk Kesehatan

Next Post

Ibudaya Festival | Tubuh yang Tegang, Marwah Jasmine Okubo

I Gede Made Surya Darma

I Gede Made Surya Darma

Pelukis. Lulusan ISI Yogyakarta. Founder Lepud Art Management

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Ibudaya Festival | Tubuh yang Tegang, Marwah Jasmine Okubo

Ibudaya Festival | Tubuh yang Tegang, Marwah Jasmine Okubo

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co