24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengenang Bom Bali, Mengingat “Bali Black October” Karya Wayan Gawiarta

I Gede Made Surya Darma by I Gede Made Surya Darma
October 12, 2021
in Esai
Mengenang Bom Bali, Mengingat “Bali Black October” Karya Wayan Gawiarta

I Wayan Gawiarta bersama karya patung Bali Black October

12 Oktober 2021 ini kita memperingati tragedi Bom Bali, di mana terjadinya ledakan di Paddy’s Pub dan Sari Club (SC), Jalan Legian, Kuta, dan ledakan terakhir di Konsulat Jendral Amerika Serikat. Tragedi dinihari 12 Oktober 2002 itu menghilangkan nyawa warga negara asing dan lokal. Tercatat 203 korban jiwa dan 209 korban luka-luka. Peristiwa itu dianggap sebagai peristiwa terorisme yang paling parah dalam sejarah Indonesia.

Sekira setahun kemudian, seniman patung I Wayan Gawiarta, lulusan ISI Yogyakarta, terketuk hatinya untuk mengekspresiakan kesedihan itu dalam karya seni patung. Patung karyanya itu sempat dipamerkan dalam pameran 32 Tahun Sanggar Dewata Indonesia di Taman Budaya Yogyakarta, 2003.Karya itu muncul semasa Gawiarta menempuh pendidikan di Fakultas Seni Rupa Jurusan Seni Patung semester VI di ISI Yogyakarta.

Awalnya I Wayan Gawiarta makan di sebuah warung makan di dekat studio pelukis Bali, I Made Arya Palguna. Saat itu ia membaca dan mendengar berita duka yang melanda Bali. Suasana hatinya seketika kacau. Ia memikirkan keluarga dan teman-temannya di Bali. Apalagi adiknya yang masih SMA tinggal di Denpasar berdekatan dengan pristiwa terjadinya Bomb Bali.

Khawatir adiknya menjadi korban, dan mencoba menghubungi sanak keluarganya di Bali. Waktu orang punya HP belum sebanyak sekarang. Ia menelpon keluarga dengan meminjam HP pada Om Tembong yang adalah tuan rumah seniman Putu Sutawijaya.
Satu pun sanak keluarga dan temannya yang dihubungi tidak bisa nyambung. Suasana sedih dan duka mendalam menyaksikan berita di televisi membuat hancur suasana hati I Wayan Gawiarta.

Akhirny muncul ide untuk mengabadikan kejadian itu ke dalam sebuah karya seni patung. Karya seni patung itu diberi judul “Bali Black October”. Bahan yang digunakan karung goni dan resin. Dibuat sedemikian rupa seperti tiga sosok, yakni sosok perempuan, laki laki dewasa dan seorang anak. Sosok itu berjubah seperti penggabaran malaikat pecabut nyawa. Suasana kelam dan gelap serta kesediahan seakan terwujud dalam patung itu.

Di Bali, oleh warga Bali, kejadian kelam itu disikapi dengan melakukan upacara besar, mecaru. Tidak ada perlawanan, hanya melakukan intropeksi, doa bersama, dan berserah kepada yang Maha Kuasa, atas tindakan teroris yang tidak bermoral itu.

Karya patung I Wayan Gawiarta dipamerkan pada pameran 32 tahun Sanggar Dewata Indonesia, pada tahun 2003, di Gedung Taman Budaya Yogyakarta. Pameran itu diikuti oleh 91 seniman dan ada 100 karya yang dipamerkan.

Selain Gawiarta, beberapa seniman yang ikut dalam pameran tersebut adalah sejumlah tokoh seniman Sanggar Dewata Indonesia yang masih tinggal di Jogjakarta. Antara lain Pande Ketut Taman dengan karya sepeda ontel yang dikomposisikan sedemikan rupa secara artistik. Putu Sutawijaya dengan karya periode kontemplasi. Ia melukiskan sosok manusia dengan goresan spontan.

Lalu ada juga Made Sukadana, I Nyoman Sukarai dan I Made Toris Mahendra dengan lukisan abstraknya. Gusti Nengah Nurata dengan karya drawingnya yang melukiskan makhluk imajiner. Itu adalah karya dengan ciri khas surealisme yang biasa dianut Nurata.

Ada juga Nyoman Adiana dengan lukisan Dar Der Dor. Karya itu melukiskan manusia yang berjubah dengan komposisi sedemikian rupa: sosok saling berhadapan dengan memegang pistol. Begitu juga Made Arya Palguna, I Nyoman Sudarna Putra, I Gusti Ngurah Udiantara (Tantin), Nyoman Suyasa, I Made Sadnyana, I Wayan Wirawan, dan I Nyoman Triarta sebagai penggagas dan mempopulerkan karya-karya piguratif di Indonesia dengan persepsi barunya.

I Ketut Suwidiarta dengan lukisan sarkasme parodinya yang jenaka. Idabagus Punia Atmaja, I Made Bakti Wiyasa, I Made Widyadiputra, I Gusti Ngurah Udianata (karya patung sebelum periode bambu), Made Arya Dedok, Made Arya Sucitra, dan saya sendiri (I Gede Made Surya Darma) juga ikut terlibat dalam pameran itu.

Pameran Sanggar Dewata Indonesia waktu itu menampilkan keberagaman ekspresi. Setiap angkatan memunculkan kreativitas baru dan gaya berkesenian, dan selalu ingin berbeda dengan para pendahulu. Semangat kebersamaan antara junior dan senior sangat terjaga waktu itu, bergerak bergotong royong dalam mewujudkan pameran. Yang menarik, pameran selalu diselingi acara ngelawar.

Ketua panitia pameran waktu itu adalah Made Arya Parwita. Tema pameran bebas, sehingga masing-masing seniman secara bebas memberi isu-isu penting pada saat itu. Ada yang merespon isu sosial, politik, maupun budaya popular, dan ada yang merespon Bom Bali sebagaimana dilakukan I Wayan Gawiarta. Memang, dalam proses mewujudkan pameran tersebut, masing-masing punya cara untuk mengobati rasa rindu dengan kampung halaman di Bali.

Nama yang memang mencuri perhatian pada pameran itu tentu saja I Wayan Gawiarta dengan karyanya yang berjudul “Bali Black October” yang menggambarkan peristiwa kelam tragedi Bom Bali. Sejumlah media yang menuliskan pemeran 32 tahun Sanggar Dewata Indonesia, banyak yang menggunakan foto karya I Wayan Gawiarta. Karya Wayan Gawiarta itu seakan memberi refleksi sekaligus kebangkitan di tengah suasana sedih dan duka mendalam yang masih membekas setelah terjadinya Bom Bali. [T]

Tags: Bom BaliPameran Seni RupaSeni RupaTragedi Bom Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rahasia Madu untuk Kesehatan

Next Post

Ibudaya Festival | Tubuh yang Tegang, Marwah Jasmine Okubo

I Gede Made Surya Darma

I Gede Made Surya Darma

Pelukis. Lulusan ISI Yogyakarta. Founder Lepud Art Management

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Ibudaya Festival | Tubuh yang Tegang, Marwah Jasmine Okubo

Ibudaya Festival | Tubuh yang Tegang, Marwah Jasmine Okubo

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co